pokerepublik
pokerlounge

Maxbet  Kaskus303
Indobokepz - Indonesian Movie and Picture Community
sarana99 855Online sarang303

 

 

RumahTaruhan88 Saranapoker idr77





Alpha4D Bola54
pokerace99 togelplus
AonCash AonCash
tglplus
pokerclub BandarJakarta
Royal188 Fairbet88
Royal188 raja303

 

Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 10 of 13
  1. #1
    Tukang Ngintip kurawa100's Avatar

    Join Date: Oct 2008

    Posts: 61

    Thanks: 0

    Thanked 163 Times in 25 Posts

    Thumbs up Biar Lambat, Asal ........... Nikmat

    Matahari bersinar sangat terik sekali siang ini. Farid baru saja membuka pintu gerbang, ingin secepatnya masuk ke dalam rumah yang sejuk. Ditutupnya kembali pintu gerbang, menuntun motor bebeknya, memarkirnya dengan rapi di garasi samping, segera m*****kahkan kaki ke pintu depan. Pintu depan terbuka, sepertinya ada tamu, Farid melihat bayangan orang sedang berbicara dari balik jemdela. Kurang jelas terlihat dari pagar sini. Sambil m*****kah masuk ia mengucapkan salam.

    ”Lho...ibu...kapan datang...? Kok nggak ngabarin ? Mana Ayah ?”
    ”Baru saja ibu sampai.Sengaja tak memberi kabar, sekalian kejutan.”

    Baru saja Farid hendak bertanya, budenya sudah memotong pembicaraan

    ”Sudah, kamu makan saja dulu. Nanti kan bisa ngobrol sama ibumu, sana kamu ganti baju dulu.”
    ”Iya bude.”
    ”Sekalian kamu bawakan tas ibumu ini...”

    Faridpun mengambil tas yang dibawa ibunya, banyak juga bawaannya. Tak seperti biasanya. Faridpun m*****kah masuk ke dalam. Masih bertanya – tanya, kan baru 2 bulan yang lalu ibu berkunjung kemari bersama ayah, kok sekarang sudah datang lagi. Nah sebelum pembaca bingung, ada baiknya dijelaskan dulu semuanya dari awal ya....

    Farid, awal 19 tahun, baru saja masuk kuliah tingkat 1 di sebuah Universitas Negeri di kota Yogyakarta, sebentar lagi bersiap masuk tingkat 2, Jurusan Tekhnik. Aslinya dia tinggal di Jakarta. Tapi karena kuliahnya sekarang, dia tinggal di rumah pakde dan budenya yang memang menetap di Yogyakarta.

    Ayahnya, Joko, 45 tahun, orang Jakarta asli, pegawai bank pemerintah, bekerja dari awal karir saat masih bujang, kini menduduki jabatan yang lumayan sebagai kepala bagian kredit di salah satu kantor cabang di Jakarta. Ibunya Lisna, 39 tahun, asli Yogyakarta, ibu rumah tangga. Walau ayahnya orang Jakarta, tetapi ibunya lebih terbiasa memanggil suaminya itu dengan sebutan Mas, bukan abang. Farid mempunyai satu orang kakak perempuan, Ningsih, 21 tahun, sudah menikah. Kini ikut suaminya yang bekerja di Kalimantan. Awalnya setelah lulus SMA, ayahnya menginginkan Ningsih kuliah, tetapi bang Husin, 24 tahun, masih tetangga mereka, yang telah memacari kakaknya dari awal kakaknya SMA melamar kakaknya. Orangtua bang Husin juga memaksa, akhirnya karena kak Ningsihnya juga tak keberatan, dan ayah juga sangat mengenal baik kedua orangtua bang Husin, mereka diijinkan menikah. Awalnya setelah menikah mereka masih tinggal di rumah, tetapi tak lama bang Husin dikirim perusahaan pusat ke Kalimantan. Awalnya bang Husin berangkat sendiri, setelah 3 bulan di sana, setelah merasa mantap, juga karena mendapatkan mess bagi karyawan yang menikah, ia meminta istrinya menyusul. Maklum penganten baru hehehehe. Tentu saja ayah dan ibu awalnya berat melepas anak mereka, tetapi sadar kini kak Ningsih telah menjadi tanggung jawab dan juga hak suaminya. Sedangkan Farid sendiri, sewaktu akhir kelas 3, dia mengikuti program masuk universitas negeri, mengambil jurusan tekhnik yang ia suka. Memilih kota Yogyakarta dan satu kota lain sebagai pilihannya, dan behasil lolos. Memang walau sepintas gayanya seperti malas, tapi otaknya cukup encer. Sebenarnya ayah dan ibunya keberatan, anak perempuannya sudah merantau dibawa suaminya, kini anak lelakinya harus kuliah di Yogyakarta. Tapi untuk menghargai usaha Farid yang bisa lolos dari ujian itu, dan karena di Yogya ada keluarga, maka akhirnya merestui.

    Awalnya Farid memang maunya kost saja, tapi ditolak ayahnya. Tak ada yang mengawasi katanya. Di Yogyakarta ini ada kakak ibu, bude Sri, 42 tahun. Suaminya Pakde Harno, 46 tahun, insinyur mesin, bekerja di perusahaan swasta yang bergerak di alat berat dan mesin industri. Perusahaan pusatnya di Jakarta. Pakdenya bekerja di cabang yang meliputi region Yogyakarta, Solo dan Jawa tengah. Anak mereka 2 orang, perempuan semua. Sebenarnya Farid juga tak asing lagi dengan mereka. Sudah sering berkunjung dan menginap di sana kalau saat libur sekolah atau hari raya. Pakdenya juga amat sangat senang menerima Farid, maklum tak punya anak lelaki. Anak pertamanya, Mbak Santi, 22 tahun, sudah menikah dan kini menetap di Sumatra, ikut suaminya. Suaminya itu pegawai bank swasta. Awalnya kerja di kantor cabang Yogyakarta. Atasannya menyukai dan senang dengan cara kerjanya. Sewaktu ada informasi mengenai posisi yang bagus di cabang Sumatra, atasannya mengajukan dirinya. Sifatnya optional, boleh diambil, boleh tidak, setelah berdiskusi dengan istri dan mertuanya, akhirnya ia mengambilnya, karena selain akan naik jabatan dan memperoleh fasilitas, juga yang menjadi pertimbangan utama..gajinya naik dalam jumlah yang signifikan. Berangkatlah mereka, rupanya sangat kerasan di sana, bahkan suaminya dibajak sebuah bank di sana, mendapatkan fasilitas dan juga rumah dinas yang baik, sepertinya bakalan berkarir penuh selamanya di sana. Anak Pakdenya yang kedua, mbak Sinta, 20 tahun, baru menikah 2 bulan yang lalu, di mana ayah dan ibu Farid juga datang menghadiri acaranya. Menikahnya masih sama tetangga sekomplek. Hampir serumah sama kak Ningsih dulu, pacarnya ngebet minta kawin. Jadilah walau mbak Sinta masih kuliah, namun tetap menikah. Kini tinggalnya cuma beda beberapa blok saja dari sini.Suaminya pegawai Pemda. Mbak Sinta juga tentu saja tetap melanjutkan kuliah. Nah Farid ini menempati kamar mbak Santi, sebenarnya Farid sangat tak enak, karena kamar tersebut sangat bagus dan komplit. Ceritanya sewaktu baru menikah dulu suami mbak Santi merombak sedikit kamar itu. Di bagian luar ada kelebihan lebar sekitar 1.5 meter, ia membuat kamar mandi di dalam, mungkin biar praktis dan nyaman, tak perlu mondar – mandir ke kamar mandi luar. Ternyata tak lama ia bertugas di Sumatra. Jadilah Farid beruntung menempati kamar 4 x 4 dengan kamar mandi di dalam. Pakde dan Budenya, juga mbak Santi, sudah nyaman dengan kamarnya masing – masing dan tak mau menempati kamar mbak Sinta.

    Setelah menikah, kamar mbak Sinta tentunya kosong, Pakde Harno yang memang ingin mempunyai ruang kerja juga perpustakaan mini, akhirnya merombak kamar itu. Toh mbak Sinta tinggal hanya beberapa blok saja dari sini, jadi kalaupun datang tak mungkin menginap. Ia meminta bantuan Farid, dikerjakan kalau hari libur, santai saja. Farid tentu saja senang membantu, peralatan kerja Pakdenya juga komplit, mengerjakannya juga santai saja tak buru - buru, setelah beberapa lama mengerjakan jadilah rak – rak untuk buku juga beberapa meja. Farid sebenarnya agak heran kok banyak juga mejanya, tetapi Pakdenya bilang, ruang ini juga untuk Farid. Dan yang lebih menyenangkan Pakdenya memasang internet dan mengganti komputer yang lama dengan yang baru, komplit sama scanner dan printernya, memang untuk mendukung pekerjaan Pakdenyanya juga. Lumayan pikir Farid, nggak perlu ke warnet lagi. Kasur yang lama disimpan di gudang. Pakdenya hanya berpesan, ruang ini boleh Farid pakai, tetapi di luar waktu khusus Pakdenya. Semua anggota keluarga sudah paham mengenai waktu khusus ini. Baik hari biasa atau libur, Pakdenya setiap jam 7 sampai jam 9 malam, rutin meluangkan waktu untuk dirinya sendiri, baik untuk membaca atau bekerja, dan tak ada yang boleh mengganggu. Dan kini makin asik saja setelah mempunyai ruang khusus. Farid sih tak masalah, toh ia bisa memakainya di luar waktu itu.

    Ayah dan ibu mengantar Farid ke Yogyakarta, sekalian mengurus pendaftaran dan administrasi kuliahnya, dan meminta ijin ke saudaranya. Awalnya sewaktu meminta ijin supaya Farid bisa menetap di situ, ayah bermaksud membayar uang tinggal, ya, karena ini kan bukan seperti kunjungan saat liburan. Tentu saja Pakde Harno keberatan, agak tersinggung, katanya ke ayah saat itu. Apa –apaan kau Joko, Farid ini keponakanku, seperti anakku, tinggal saja, tak usah kau malu hati sampai mau membayar uang sewa, memangnya ini kost – kostan. Dan memang Pakdenya ini sangat senang, seperti dapat teman ngobrol sejiwa, maklum nggak punya anak laki, kini dia punya teman diskusi, teman nonton bola saat malam. Memang Pakde dan Farid maniak bola, dulu Pakde kalau nonton malam hanya sendiri, baru bisa mendiskusikannya besok saat ketemu teman di kantor, kini ada Farid yang menemani. Kehadiran Farid seperti anak lakinya sendiri saja.

    Untuk uang kiriman bulanan, Farid benar – benar bisa berbahagia, sangat – sangat lebih dari cukup. Ya, maklumlah, ayahnya kan kini berkurang kewajibannya, sudah tak membiayai kakaknya, Ningsih. Jadi bisa melebihkan jatah Farid. Buat makan, paling Farid keluar uang saat di kampus saja, selebihnya dia makan di rumah Pakdenya. Paling ia membeli kopi, susu, gula, dan makanan kecil dalam jumlah agak banyak yang sebagian akan ditaruhnya di lemari dapur, buat keluarga Pakdenya. Selebihnya buat rokok dan bensin. Ayahnya juga membelikan motor bebek, walau bukan baru dan bukan terbitan tahun muda, tapi Farid senanglah, daripada berangkot ria. Pendeknya buat masalah uang, Farid benar – benar makmur, setiap akhir bulan selalu bersisa lumayan banyak, juga bisa lumayan sering traktir temannya.

    Normalnya Farid pulang tiap libur semester atau kadang hari raya, kalau ayah dan ibunya tak berhari raya di Yogyakarta. Memang biasanya orangtuanya rolling, tahun ini hari raya di Jakarta dengan keluarha ayah, tahun besok di Yogyakarta keluarga ibu. Ibu hanya 2 bersaudara dengan budenya, orangtuanya sudah tiada, tapi saudara dan kerabat masih lumayan banyak di Yogyakarta dan sekitarnya. Setelah Farid kuliah di sana orangtuanya kadang menjenguknya, ayahnya biasa ijin atau cuti sehari, berangkat kamis malam, nanti kembali Minggu pagi, naik bis atau kereta, kalau lagi banyak rejeki, naik pesawat. Dahulu kalau ayah ibu datang, maka ayahnya akan tidur di kamar Farid, sedang ibunya sekamar dengan mbak Sinta. Jutru ini, sekarang kan kamar itu sudah dirombak, Farid baru ingat hal itu saat ia membawa tas ibunya. Ia terdiam, berbalik kembali ke ruang tamu. Terakhir 2 bulan lalu saat ayah ibunya datang menghadiri kawinannya mbak Sinta, kamar itu masih belum dirubah.

    ”Eh, bude, kan kamarnya mbak Sinta sudah jadi ruang kerja Pakde...”
    ”Oh iya, bude lupa...iya Lis, mas Harno sudah merubah kamarnya Sinta buat ruang kerjanya dan juga buat Farid...ya wislah, kamu tidur di kamar Farid sja, tak masalah kan...?”
    ”Ng..iya deh mbak, di mana saja juga tak masalah.”

    Farid segera membawa tas ibunya, kasur peninggalan mbak Santi ukuran besar, maklum kasur ukuran suami istri. Farid memakainya tanpa menggunakan kayunya, cukup di lantai dialas karpet tipis. Biar nanti dia tanya ibu, kalau memang ibu mau sendiri, dia akan ambil kasur yang di gudang, ngegelar di sebelahnya atu di pojokan kamar. Farid segera mengganti baju dan ke kamar mandi bersih – bersih. Saat ia keluar dari kamar mandi, ibunya sudah di kamar.

    ”Bu..anu..kalau ibu maunya tidur sendiri, biar nanti Farid ambil kasur yang di gudang buat Farid.”
    ”Ya..ndak usahlah Rid, kasur ini juga besar, kamu nanti di pinggir sana saja.”
    ”Ya...sudah kalau begitu. Oh ya bu, jadi bagaimana ceritanya nih sampai ibu kemari tanpa pemberitahuan ? Ayah ke mana ? Terus berapa lama ibu nginapnya...?”
    ”Duh nanyanya satu – satu dong, tolong nyalain kipas anginnya Rid, ibu gerah nih...”

    Farid segera menyalakan kipas angin kecil, memang ibunya tak tahan gerah, sudah kayak udang rebus saja saat ini karena cuaca siang ini memang lumayan panas. Dia menunggu ibunya mendinginkan diri sebentar. Setelah sudah agak adem ibunya memulai menjelaskan.

    ”Ibu memang sengaja tak beritahu kamu. Jadi ceritanya ayahmu itu lagi ada dinas luar, agak lama 2 bulan, di Sulaiwesi. Karena memang cuma 2 bulan dan sayang ongkos, maka ayahmu memutuskan sekalian saja terus disana. Nah ibu kan sendirian di rumah, daripada tak ada kerjaan juga tak ada yang menemani, maka ibu usul ke ayahmu agar selama ia di sana, ibu tinggal di rumah budemu saja. Ayahmu tak keberatan, bahkan mendukung.”
    ”Oh begitu, sekarang di rumah siapa yang tinggalin bu? Terus memangnya ayah dinas apaan, tumben, biasanya cuma seminggu atau 2 mingguan saja.”

    Ibunya menjelaskan, rumah mereka di Jakarta ditunggui sama Mang Jaka, adik ayahnya. Ibu lalu menjelaskan, di kantor cabang Sulaiwesi, tempat bank ayahnya bekerja, telah terjadi masalah, ada kebocoran serius ( Bahasa halusnya buat korupsi ). Pimpinan dan pegawainya banyak yang dipecat. Dari pusat memutuskan untuk merekrut atau mempromosikan tenaga baru dari daerah itu, tapi tetap harus ditraining dan dibina oleh orang pusat. Juga sekalian membenahi pembukuannya yang sudah disulap sana – sini. Maka ayahnya dan beberapa orang lainnya dikirim ke sana. Nantinya tinggal di mess milik Perusahaan. Ayahnya mau, uang dinasnya lumayan kata ibu...hehehe dasar. Jadi begitulah ceritanya sampai ibunya datang tanpa pemberitahuan. Ya sudah, farid sih senang – senang saja dengan kehadiran ibunya. Tak lama bude memanggil mengajak makan, Farid keluar duluan, ibunya ganti baju dulu lalu menyusul.

    Setelah makan, Farid masuk kamar, mau rebahan sebentar, tadi mbak Sinta baru saja datang ditelepon bude yang mengabarkan kedatangan ibu, kini asik mengobrol sama ibunya dan Bude. Farid segera berbaring sambil mulai berpikir. Agak aneh juga nanti harus tidur sama ibunya. Farid memang sayang sama ayah dan ibunya. Ibunya juga sangat sayang padanya, karena Farid anak bontotnya. Ibunya walau begitu, selalu menjaga diri dengan baik, tak pernah sembarangan kalau mengganti baju, tak pernah bebas membiarkan Farid melihatnya. Farid sendiri termasuk anak yang baik dalam hal perilakunya selama ini, tak pernh menyusahkan atau terlibat masalah serius, sekolah juga tak pernah bikin masalah, namun seiring umurnya tentu saja ia juga sudah mengenal dan melewati tahap pubernya. Bahkan untuk urusan seks juga Farid bukanlah anak kemarin sore lagi. Di SMA dulu, sering melakukannya dengan pacarnya, sayang hubungannya putus. Di kuliahan sekarang, ia juga akrab bergaul, beberapa anak mahasiswi di kampusnya kini mulai dalam tahap seleksinya. Dan jujurnya, memang Farid mengagumi dan mengakui kecantikan ibunya. Dan seperti anak remaja yang dalam tahap berkembang, dulu juga sering ia berkhayal mengenai ibunya. Tapi tak lebih dari itu. Farid juga remaja yang normal, sering membayangkan gadis remaja seusianya.

    Sewaktu tinggal di Yogyakarta, memang Farid mengakui kalau kedua kakak sepupunya cantik dan Farid juga nggak munafik sering mengagumi dan mengkhayalkan mereka. Namun Farid mendapati dirinya justru lebih menyenangi dan lebih bergairah pada budenya, Sri. Walau usianya sudah 42 tahun, tetapi bodinya tetap yahud. Bahkan tanpa ragu Farid berani berkata bahwa bodi budenya jauh...jauh lebih nafsuin dan jauh lebih mendebarkan dibandingkan kedua kakak sepupunya itu. Pantatnya besar, teteknya apalagi besar dan masih kencang, selalu membuat Farid ngaceng setiap melihat tonjolan kembar itu di balik dasternya. Yang paling menyenangkan Farid, budenya ini suka sekali memakai daster yang belahan lengannya lebar, memang kadang tetap memakai BH, tetapi kalau hari panas atau malam menj***** tidur, umumnya Bude akan melepas BHnya, dan kalau budenya mengangkat tangannya agak tinggi, maka Farid dari samping bisa melihat pinggiran tetek budenya yang besar itu, kadang bebas, kadang terbungkus BH yang ketat, juga pangkalan lengannya yang berketek rimbun. Dan budenya juga entah tak ngeh atau memang tak peduli, cuek saja. Memang sih Farid sebisa mungkin mencuri lihat dengan tak terlalu bernafsu, tak pernah ketangkap basah sedang memandang, jadi tak ketara. Yang paling Farid ingat, waktu siang dia sudah pulang kuliah, setelah istirahat, budenya yang lagi membereskan kamar mbak Sinta yang baru menikah, memanggilnya. Budenya berdiri di atas kursi, menurunkan kardus – kardus di atas lemari, tadinya Farid menawarkan diri menggantikan, tapi nggak usah kata budenya. Budenya berdiri di atas kursi, menjulurkan tangan mengambil kardus, yang agak ke belakang letaknya. Farid menunggu untuk menerima kardus itu. Matanya sangat melotot seakan mau lepas, menyaksikan belahan lengan daster budenya, bagian samping sebelah tetek budenya sangat jelas terlihat, karena budenya rada mencondongkan badan. Besar, walau sedikit turun, tapi sangat seksi terlihat, pentilnya juga besar dari samping. Mungkin karena gerah mengangkat – ngangkat, bude tak memakai BH. Karet CD atasnya juga terlihat Belum lagi keteknya kehitaman dan rimbun, sangat erotis. Kont01 Farid sangat keras sekali saat itu, untung celana pendeknya yang model lebar, kalau nggak bisa tengsin. Mana kardusnya lumayan banyak, agak lama jadinya memindahkannya, sangat memuaskan mata Farid menatap keindahan di balik belahan lengan daster itu, juga sekaligus menyiksa, celananya sangat sesak rasanya. Yang pasti kalau lagi seru bermasturbasi, Farid senang sekali membayangkan budenya itu. Tapi ya itu tadi, cuma bisa berkhayal saja. Tak mungkin berbuat lebih.

    Sehari sudah ibu menginap.Ternyata ibunya mengalami sedikit masalah, biasanya kan kalau menginap ibunya selalu tidur di kamar mbak Sinta. Kini ibunya mempunyai masalah, kalau mau ganti baju, dia tak nyaman melakukannya di depan Farid. Farid yang memang tak mempunyai pikiran apapun, awalnya tak menyadari, tetap saja cuek di kamar. Barulah saat ibunya menyuruhnya keluar, Farid sadar...duh repot pikir Farid. Memang tak setiap saat, hanya kalau saat Farid sudah di rumah, tapi lumayan mengganggu. Dari sisi Farid sendiri, ia mengalami masalah juga, baru kali ini di usianya yang sekarang ini ia tidur lagi bersama ibunya. Dulu masih kecil sih sering, tapi itu dulu waktu masih kecil dan belum kenal namanya wanita dan seks. Memang ibunya tidur memakai daster yang besar, atau kadang daster model kaos dan celana pendek. Ibunya tidur di pojokan dekat tembok, dia di sisi satunya. Awalnya sih biasa saja, tapi kala ia melihat ibunya yang tertidur tak urung matanya jadi jelajatan, walau saat itu ibunya tidur dalam balutan busana yang sopan, tapi melihat tonjolan teteknya yang sangat busung itu, tetap saja membuat Farid bereaksi. Membuatnya berkhayal, seperti apakah keindahan di balik daster itu. Untunglah ia mampu mengendalikan dirinya.

    Dua hari pertama, ibunya banyak melewati hari mengobrol sama budenya, atau kadang jalan keliling ke saudara. Farid kuliah seperti biasa. Di hari ketiga saat mandi pagi harinya, Farid sedang asik nongkrong sambil merokok, ritual rutin pagi harinya. Ibunya sudah di depan membantu budenya menyiapkan sarapan. Matanya menangkap BH ibunya yang tergantung di gantungan tembok kamar mandi, Farid menatapnya, mulai berpikiran ngeres, ia bangun dan segera mengambilnya, besar juga pikirnya...size 38, Farid mendekatkan hidungnya, aromanya sangat lembut dan wangi, kont01nya mulai mengeras, sesekali ia gesekkan kont01nya ke BH ibunya. Dan tak lama ia sudah asik main sabun, mengocok kont01nya sambil tetap menciumi BH ibunya, sungguh sangat merangsang dirinya. Setelah lumayan lama kont01nya pun ngecret, agak memerah. Farid menaruh kembali BH itu. Farid kini mulai terobsesi untuk benar – benar dapat melihat tubuh telanjang ibunya, bagaimanapun caranya, biar sebentar atau sekali saja, ia harus bisa. Berjuanglah...Farid menyemangati dirinya sendiri. Farid berpikir sambil memandang sekeliling ruangan kamar mandi itu, mata Farid memandang pintu alumunium kamar mandi, pintunya rapat sekali...tapi untuk saat ini saja pikirnya. Memang kalau buat urusan ngeres, otak kadang – kacang bisa menjadi sangat kreatif dan inovatif hehehe. Ia segera mengambil handuk, menutupi tubuh bagian bawahnya, keluar sebentar, ibunya masih di luar, ia segera membuka laci meja di kamarnya, mengambil obeng model double, ia kembali ke kamar mandi, menutup pintunya, melepas handuknya dan memulai kreatifitasnya. Mengukur posisi yang pas buat matanya, agak tinggi di tengah, biar tak perlu terlalu membungkukkan badan, juga sudut pandangan harus luas dan maksimal. Dengan mata obeng kembang, ia mulai mengendorkan beberapa mur, tak perlu terlalu kendor. Setelah kelar, ia balik mata obeng, memakai mata obeng min, ia mulai mencongkel sela sekat alumunium, perlahan dan pelan saja, terciptalah celah yang lumayan nyaman dan tak mencolok mata, kalaupun ada yang melihat tak akan curiga itu sengaja dibuat. Obeng ia taruh di pinggir bak mandi. Ia mengarahkan matanya, mencoba mengintip, nampak ruangan kamarnya dengan jelas. Pas....pikirnya. Apalagi bagian belakang pintu kamar mandi ini tak digunakan untuk menggantung handuk. Ia segera mulai mandi sambil bersiul - siul dengan gembira. Setelah selesai mandi dan berpakaian, ia tutup pintu amar mandi dari luar, mengetes sebentar, sangat jelas...hatinya bersorak. Ups...hampir lupa, ia segera mengambil obeng dan membereskannya. Lalu ia keluar kamar, siap sarapan dan berangkat kuliah. Di luar Pakdenya sudah duduk, minum kopi sambil makan roti. Farid mengucapkan salam, lalu duduk ikut sarapan. Bude dan ibunya nampak sedang asik sarapan sambil menonton acara gosip di TV.

    ”Hey Rid...nanti malam ada siaran langsung nih..Milan lawan MU, temanin Pakde nonton ya.”
    ”Iya Pakde, pastilah, seru sih, nanti Farid temanin. Sekalian nanti sore Farid beli cemilan. Megang mana Pakde ?”
    ”Pasti Milanlah. Kuliah jam berapa Rid..?”
    ”Nanti jam 9an. Kelar jam 1.”
    “Oh gitu…ya sudah, nanti malam ya. Pakde pulangnya mungkin agak malam, maklum di kantor sini lagi sibuk. Pusat baru saja dapat kontrak awal rencana kerjasama dengan Perusahaan pertambangan, sekarang lagi sibuk banget, seleksi tenaga terbaik buat dikirim ke sana. Kalau Pakde sih rasanya berat kepilih, maklum sudah tua, mungkin jatah yang muda.”
    ”Iya Pakde. Oh iya Pakde, itu komputernya sudah selesai Farid install program - program yang Pakde minta, nanti kalau sempat dicek saja ya.”
    ”Iya...iya, bagus tuh, Pakde memang butuh program itu, bakal membantu kerjaan Pakde. Sengaja pinjam CDnya sama teman Pakde, sayang Pakde sulit installnya, nggak kayak biasa sih. Rada gaptek.”
    ”Nggaklah...nanti Farid ajarin deh, nggak beda sama yang biasa, Cuma perlu penyesuaian sedikit.”

    Memang Pakde Harno tak terlalu menguasai komputer, kalau install program sebenarnya dia bisa, tapi ya itu, kalau program yang benar dan sesuai, tinggal klik, next, klik, next, finish. Kalau program – program yang seperti ia minta Farid installin memang ia tak paham. Maklum program bajakan. Pakde nggak paham memakai cracknya. Takut salah katanya. Padahal sih tinggal copy exe.nya ke directorynya atau masukin patchnya sesuai direktori installnya. Ya sudahlah Farid sih senang saja membantu Pakdenya yang sudah baik padanya. Dia sendiri juga tak begitu paham program – program yang Pakdenya minta install, lebih ke program buat mesin dan perhitungan yang rumit. Belum ia pelajari di kuliahnya. Akhirnya Pakde dan Farid kelar sarapan dan segera berangkat.

    Di kampus Farid sama sekali tak konsentrasi. Pikirannya terlalu penuh bayangan mesum. Setelah jam pertama selesai, ia memutuskan bolos saja mata kuliah selanjutnya nitip absent saja. Mau pulang nggak enak, masih pagi, ya sudah ia kini asik nongkrong di kios – kios dekat kampusnya. Mengobrol sama beberapa anak jurusan lain yang ia kenal. Biasalah, mengobrol ngalor – ngidul sambil merokok bareng, Farid memesan kopi susu. Menawarkan kepada yang lain, yang dengan tanpa sungkan menerima. Ya, betapa rokok dan minuman ringan dapat menjadi media yang menjembati dan menghasilkan persahabatan. Sekitar jam 12 kurang, matanya menangkap sosok cantik yang sudah lama ia suka. Kakak seniornya, Yuni, anak hukum tingkat 4. Sudah beberapa kali Farid mencuri kesempatan mengajak bicara. Awalnya kaku, tapi karena Farid cukup luwes dan juga muka badak, akhirnya mulai akrab. Juga mendapat nomor HP-nya, sesekali Farid kirim SMS. Tapi Farid tetap waspada, selalu berusaha mengajak ngobrol kalau Yuni sedang sendiri. Bukan apa, takut anak hukum pada ngamuk, biar gimana kan dia sudah menjamah lahan dan propertinya anak hukum, bisa dituntut pasal berlapis, pidana dan perdata. Nah itu Yuni sedang foto copy. Farid permisi sebentar sama anak – anak, bilang ke si Joe yang punya warung, nanti dia bayar,nanti dia balik lagi. Farid m*****kah dengan pasti, melirik dulu ke sekeliling, takut ada anak senior dari hukum, oke tampaknya aman.

    ”Hei Yun..”
    ”Eh...kamu Rid, nggak masuk ?”
    ”Sudah tadi, tapi mendadak bosan, ya sudah titip absent saja.”
    ”Dasar..entar ketinggalan lho.”
    ”Hehehe. Lagi apa Yun..?”
    ”Oh ini, aku lagi fotocopy bahan kuliah, minjam di perpus.”
    ”Oh gitu, kamu nggak ada kuliah..?”
    ”Ada sih, nanti jam 1, Hari ini cuma satu saja, jam berikutnya malas, habis yang masuk asisten dosen doang. Nanggung sih benarnya.”

    Farid masih asik mengobrol, akhirnya fotocopyan Yuni selesai, ia membayarnya. Maksudnya Yuni yang bayar, bukan Farid dong hehehe. Farid melirik jam duabelas seperapat, nekad sajalah...

    ”Yun..eh..sudah makan belum ? Eh anu..kalau belum, mau nggak sekalian sama aku. Aku traktir deh, makan bakso saja di pengkolan, mau nggak..?”
    ”Duh..gimana ya, aku sebenarnya mau balikkin buku lagi ke perpust...eh tapi enak juga nih kalau ditraktir. Ya sudah deh.”
    ”Nah gitu dong. Kamu tunggu sebentar ya. Aku ambil motorku dulu.”

    Farid bergerak cepat, kembali ke warung minuman, membayarnya, sekalian pamit sama anak – anak, ada bisnis katanya. Anak – anak yang sempat melihat Farid mengajak Yuni mengobrol di kejauhan, hanya memberi semangat sambil bertoast ria dengannya. Iyalah anak kuliahan juga norak, kalau temannya ada yang usaha dekati anak senior, mereka juga ikut senanglah. Setelah beres, Farid ke parkiran. Tak sampai 4 menit ia sudah membonceng Yuni ke warung bakso. Nggak terlalu jauh juga tak terlalu dekat sih, tapi sangat enak dan murah, sering dikunjungi anak – anak kuliahan. Agak ramai siang ini, karena pas jam makan siang, setelah menunggu, akhirnya mereka berdua sudah asik menikmati pesanannya. Farid makan dengan grogi, ya pastilah...nggak nyangka bisa ngajak Yuni. Mereka makan sambil mengobrol. Ngalor ngidul yang penting ngobrol. Sudah kelar Farid membayar dan mengantarkan Yuni kembali. Berhenti sedikit jauh dari gerbang kampus...

    ”Kok di sini berhentinya Rid..”
    ”Eh..sori Yun, nggak enak sama angkatan kamu, ngerti kan..”
    ”Iya juga sih hehehe....ya sudah..makasih ya Rid sudah ditraktir.”
    ”Bukan apa – apa kok, cuma bakso. Ya sudah aku permisi, selamat kuliah ya.”

    Yuni tersenyum, Farid segera melaju, hatinya senang sekali. Nyengir terus sepanjang perjalanan pulang, hampir keserempet angkot...kebanyakan nyengir sih. Tak lama ia sampai ke rumah, jam 1 lewat dikit. Sepi pikirnya, saat mengetok pintu. Diketoknya pintu, tak ada sahutan...sekali lagi, juga sama. Dia mengeluarkan kunci serep jatahnya dari tas, membuka pintu sambil berusaha menelepon HP budenya. Tak lama budenya menyahut, minta maaf lupa SMS Farid. Katanya dia, ibunya, sama mbak Sinta lagi jalan – jalan ke pasar klewer sebentar. Suami mbak Sinta minta dibelikan baju batik buat kerja. Ya sudahlah...Farid mengucapkan salam, mematikan HP. Ia lalu menutup pintu, menguncinya. Setelah ganti baju dan bersih – bersih, ia masuk ke ruang kerja. Ya, mendingan juga browsing. Farid dengan sangat berkonsentrasi asik membuka situs – situs porno kesayangannya, mengamati dengan berdebar model – model yang bertetek besar, bikin ngaceng saja pikirnya...dasar si Farid, kalau ngelihat situs porno ya ngacenglah, kalau mau ketawa ya lihat situs humor hehehe. Jam 3 lewat, karena sudah terlalu pusing dan terlalu keras anunya, Farid mematikan komputer, tak lupa menghapus tracknya. Masuk ke kamar rebah – rebahan. Ia pun tertidur. Rasanya belum lama ia tertidur, bahunya serasa ada yang menggoncang – goncang...duh ganggu saja pikirnya, ia membuka mata. Ibunya, sudah memakai daster, rupanya sudah pulang.

    ”Hei...bangun dulu sana. Tuh ibu belikan makanan. Kamu belum makan ya ? Kasihan...maaf deh, habis ibu keasikan jalan. Yuk bangun dulu, sekalian temani ibu makan.”
    ”I..iya bu, bentar, masih ngantuk. Ibu duluan deh. Farid cuci muka dulu.”
    ”Ya sudah. Cepat ya...”

    Tak lama Farid sudah di meja makan. Ibunya membuka bungkusan makanan yang dia beli. Mereka pun mulai makan.

    ”Bude ke mana Bu...?”
    ”Tidur..kecapekan katanya.”
    ”Oh...tadi ke mana saja...?”
    ”Oh itu...mbakmu Sinta minta diantarin nyari kemeja batik buat suaminya, ya sudah sekalian sajalah, ibu tadi lihat – lihat, sayang tak ada yang bagus buatmu.”
    ”Nggak bagus apa kemahalan bu hehehe...”
    ”Hush...kamu ini.”
    ”Ayah belum telepon bu...?”
    ”Belum,mungkin repot. Biar nanti ibu yang telepon. Kamu ingatkan ya, takut ibu lupa.”

    Setelah makan, Farid membawa piring dan mencucinya. Ibunya duduk di sofa, menyalakan TV. Hobi banget sih nonton acara gosip. Padahal mah itu kebanyakan setingan selebritis saja, buat mengatrol popularitas. 80% seperti itu, yang benarnya cuma 20% saja. Paling malas Farid nonton acara kayak gitu, nggak mutu dan nggak ada manfaatnya pikirnya. Yang untung cuma si seleb saja. Tapi karena saat itu tak ada kerjaan, juga mau tidur lagi tanggung, ia duduk menemani ibunya. Sesekali menyahut menjawab ibunya yang mengomentari berita yang ada. Emangnya gue pikirin pikir Farid, mengenai seleb yang mencalonkan diri jadi bupati. Gila saja yang nyalonin apalagi milih pikir Farid. Akhirnya setelah beberapa berita yang penuh balutan kebohongan, acara selesai. Ibunya menanyakan apakah Farid mau terus nonton, Farid menggeleng, bilang mau ke ruang kerja main internet. Ibunya mematikan TV.

    ”Ya sudah, jangan sampai terlalu sore main komputernya. Duh sudah sore gini tapi tetap panas. Gerah sekali sih, ya sudah ibu sekalian mandi saja dulu baru istirahat. Kamu tolong kunci pintu rumah dulu ya sebelum main komputer.”

    Farid mengunci pintu, lalu menyusul masuk kamar, sengaja tak menutup pintu. Ibunya yang sedang mengambil baju di lemari melihatnya sambil bertanya.

    ”Lho, katanya kamu mau internetan Rid..?”
    ”Iya...ini mau ambil USB dulu, ada data yang mau Farid lihat.”
    ”Oh gitu...wislah...ndak paham ibu.”

    Ibunya segera mengambil baju dalam salin, lalu masuk dan menutup pintu kamar mandi. Farid buru – buru menuju pintu kamarnya, pura – pura menutup pintu itu, suaranya sengaja ia keraskan, cukup untuk membuat yakin ibunya kalau ia sudah keluar dari kamar. Ketika pintu kamarnya tertutup, secepat kilat ia mengendap menuju pintu. Ia sudah yakin, ibunya tak bakalan keluar lagi, toh semuanya sudah dibawa ibunya ke kamar mandi. Dengan cepat matanya sudah menempel di lobang yang ia buat itu. Nampak ibunya masih berdiri di kamar mandi, memutar keran air, mungkin menunggu airnya agak banyak. Agak menyamping posisinya. Tak lama ibunya menatap kembali bak mandi lalu mulai bergerak....

    Jantung Farid mulai berdetak lebih cepat dari seharusnya, ibunya mulai memegang bagian bawah dasternya, mengangkatnya sedikit, nampak pahanya yang putih mulus, lalu angkat lagi, tampak CD putih yang tebal, lalu perutnya yang rata, lagi...wowww....teteknya yang besar bergantungan dengan indah sekali, kont01 Farid langsung tanpa malu – malu segera mengeras. Teteknya sangat besar dan sekal, masih tinggi, pentilnya coklat dan besar. Mata Farid tak lepas menatap ke tubuh ibunya. Tangan ibunya mulai terangkat, melepaskan daster melewati lehernya, astaga...keteknya sama kayak bude, lebat juga, Farid meneguk ludahnya. Perlahan Farid menurunkan celananya. Walau sedang sangat keras...tapi Farid masih berlogika, ia mengambil kaos kotornya, meletakkan dekat kakinya, buat tatakan nanti. Tangannya mulai mengocok batang kont01nya. Di dalam kamar mandi, ibunya mulai menurunkan CD putihnya...gila...tebal sekali m3mek ibunya, rimbunan hitam nan lebat makin menambah pesona keindahannya. Kocokan Farid makin cepat.

    Di dalam ibunya nampak memegang sebentar teteknya, membuat tetek besar itu berguncang. Mungkin melihat apakah ada kotoran yang menempel, sambil nunggu air bak penuh. Ibunya bergerak lagi, mengambil sikat gigi dan menaruh odol. Sesaat kemudian ia mulai menyikat giginya, gerakannya secara otomatis membuat teteknya yang besar itu bergoyang dengan sangat nafsuin. Farid tak melepaskan pandangannya. Akhirnya ibunya kelar menggosok giginya. Tak lama ia mulai mengambil gayung, menyiramkan air ke tubuhnya. Ibunya lalu mengambil sabun, mulai mengusapkannya, di daerah teteknya, kini teteknya nampak mengkilap, licin dan bersabun, makin menambah pesonanya di mata Farid. Farid mengurut – ngurut kont01nya, jantungnya berdebar keras. Nampak ibunya memijat dan menyabuni pentilnya, membuatnya makin mancung saja. Sangat erotis sekali melihat gunung kembar itu bergoyang dan bergerak lincah saat disabuni, licin seperti belut yang mau ditangkap. Lalu ibunya mulai menyabuni pangkal lengannya, bulu keteknya nampak berbuih karena sabun, Farid meneguk ludahnya, terangsang berat dia. Setelah itu ibunya mulai menyabuni bagian perutnya yang rata, lalu punggungnya. Setelah kelar dengan bagian atas, ibunya mulai menyabuni daerah s*****kangannya, jembutnya seakan menggumpal karena buih busa sabun, tangannya mulai menyabuni belahan m3meknya sampai ke lobang pantatnya, mata Farid menangkap, daerah belahan pantatnya nampak ditumbuhi jembut yang halus. Farid makin asik saja mengocok kont01nya, sekali – kali ia mengelus kepala kont01nya. Saat ibunya menyabuni kakinya, ia mengangkat satu kakinya bergantian, meletakkannya di pinggiran bak. Farid mengocok kont01nya sangat kuat saat ia menyaksikan belahan m3mek ibunya yang kini mengangkang lebar, memperlihatkan lobang m3mek yang kemerahan bercampur buih sabun, sungguh membuat nafsunya naik ke ubun – ubun. Sangat cepat ia mengocok kont01nya, sesat ia merasakan denyut nikmat menjalar di batang kont01nya, dengan cepat ia mengambil kaos kotornya, menaruhnya di kepala kont01nya...pejunya segera muncrat tak tertahankan. Farid diam sebentar, kont01nya masih tegang, ia masih terus mengintip, menyaksikan ibunya mulai menyiram kembali tubuhnya, seluruh tubuhnya nampak berkilat oleh air, menambah tinggi sensualitasnya. Namun Farid juga paham, walau tak rela tapi sudah waktunya ia cabut. Dengan cepat ia menaikkan celana pendeknya, mengambil kaos bekasnya, menjejalkannya di belakang lemari. Perlahan sekali ia membuka pintu kamarnya, lalu menutupnya kembali dengan perlahan.

    Sesampainya di ruang kerja, ia tak menyalakan komputer, hanya duduk saja, jantungnya masih berdebar. Baru kali ini ia melihat tubuh telanjang ibunya, dan sangat – sangat mengguncangnya, tubuh ibunya sangat seksi sekali, tak menampakkan usianya yang sudah 39. Bahkan Farid berani membandingkan dengan budenya, tampaknya keduanya sama – sama menawan. Beda – beda tipislah. Pesona wanita dewasa yang sudah matang yang sangat memabukkan. Kalau awalnya ia hanya terobsesi melihat tuuh telanjang iunya, kini di otaknya mulai timbul pemikiran liar lainnya, yang ia sendiri tahu, bahwa pemikiran ini amat sangat tak mungkin ia lakukan. Mengintip adalah satu hal, tapi kalau lebih lagi, itu mustahil pikirnya. Bisa habis ia dimaki ibunya. Lama Farid melamun jorok, akhirnya jam 5 lewat ia keluar, budenya sudah bangun, sedang menonton TV, Farid menegurnya berbasa – basi. Ia masuk kamarnya. Nampak ibunya sedang tidur, menghadap tembok, istirahat. Farid memperhatikan sebentar, lalu ia mengambil kaos bekasnya tadi, membawanya ke kamar mandi, mau ia bilas sekalian mandi.

    Malamnya jam 7, Pakdenya belum pulang. Farid baru kelar makan bersama ibu dan budenya. Kini mereka sedang santai mengobrol. Farid ke kamarnya, mengganti celana dan memakai jaket lalu keluar lagi. Ibunya menanyakan mau kemana.

    ”Mau ke mana Rid...?”
    ”Eh mau beli makanan kecil buat nanti nonton bola sama Pakde.”
    ”Eh Rid sekalian saja antar ibu. Ibu kepingin minum wedang jahe, sudah lama nih tak minum.”
    ”Ya sudah, ibu ganti baju dulu, Farid tunggu.”

    Ibunya lalu berbicara sebentar dengan bude.

    ”Mbak, aku pergi sebentar ya. Mbak mau..? nanti aku belikan sekalian.”
    ”Ya sudah. Rid kamu beli yang di dekat pasar saja, enak tuh, sudah pernah ke sana kan..?”

    Farid hanya mengangguk. Pakdenya sering mengajaknya ke sana. Semenjak Farid tinggal di sana, kalau malam dan senggang Pakdenya memang sering minta dibonceng keliling cari makanan. Pakdenya malas kalau harus keluarin mobil, jadi lebih sering pergi sama Farid naik motor, sekalian buat teman ngobrol. Farid sih oke – oke saja, sekalian jadi tahu buat referensi tempat makanan yang enak. Ibunya sudah berganti pakaian, kini mereka sudah di jalan. Farid ke mini market dahulu beli cemilan. Setelah itu baru mereka ke sana. Karena sudah malam dan dingin, ibunya duduknya agak rapat. Farid merasakan ada yang empuk – empuk kenyal sedikit menempel di punggungnya. Jadi sedikit bereaksi kont01nya. Tak lama mereka pun tiba. Farid menyalakan rokok, Lisna agak kurang suka sebenarnya, sayangnya suaminya mengijinkan anak ini merokok setelah masuk kuliah, memang suaminya juga merokok. Mereka duduk menunggu pesanan diantar, ibunya memulai percakapan.

    ”Gimana kuliahmu..?”
    ”Biasa saja bu.”
    ”Ya...yang penting kamu tekun saja. Ayah dan ibu pasti mendukung. Ngomong – ngomong sudah hampir setahun kamu kuliah, jangan – jangan sudah punya pacar nih...”
    ”Ah ibu bisa saja, tadi katanya Farid musti tekun kuliah.”
    ”Bukan begitu, kalau memang ada yang kamu suka ya jalankan saja kalau memang itu jodohmu.”
    ”Belum bu, belum...masih mencari yang tepat dan sesuai.”

    Pesanan mereka diantarkan, mereka meminumnya sambil ngobrol ringan. Setelah selesai ibunya memesan lagi 2 bungkus buat pakde dan bude. Jam hampir jam 9 kurang saat mereka tiba. Pakde sudah pulang, lagi di ruang kerja. Farid mengantarkan wedang jahe lalu keluar lagi. Ke kamarnya baca buku. Ibu dan bude masih asik ngobrol. Tak lama ibunya masuk kamar, sebelum tidur ibunya menelepon ayah. Farid hanya mendengarkan saja. Setelah selesai ibunya langsung tidur. Farid masih asik membaca buku. Lumayan banyak halaman yang ia sudah baca, matanya sudah penat, ia segera menaruh bukunya. Ia melihat ibunya, nampak sudah terlelap. Sungguh sangat dilematis bagi Farid. Setelah ia mengintip ibunya tadi sore, kini dirinya menyimpan hasrat yang baru, yang jauh melebihi dari sekedar mengintip. Wajah ibunya nampak sangat cantik, Farid memandang dasternya, sayang daster tidur yang saat ini ibunya kenakan yang model besar dan longgar. Lama Farid memandangnya, sambil berkhayal jorok.....ah sudahlah, sudah jam 1 kurang, lebih baik keluar, menunggu bola. Farid pun keluar kamarnya, takut kalau di kamar terus otaknya akan pusing tujuh keliling. Di luar ia menyalakan rokok sambil menonton TV. Masih menonton Film, setelah agak lama, acara siarang langsung siap dimulai. Baru saja ia mau membangunkan Pakdenya, Pakdenya sudah keluar dari kamar. Akhirnya mereka mengobrol sambil menonton bola sambil menikmati kopi dan cemilan. Pertandingannya juga seru. Silih berganti menyerang. Farid dan Pakdenya sesekali berteriak kalau ada moment seru. Sesudah selesai Farid masuk kamar, ngantuk berat langsung tidur. Untunglah pikirnya...jadi nggak ngeres nih otak.

    Paginya ia sudah bangun, memang sudah terbiasa, walau nonton bola sampai larut, tapi tetap di pagi hari ia bangun. Setelah selesai sarapan, ia berangkat kuliah. Pulang siang, langsung tidur pulas. Sorenya ia bangun, didengarnya suara air di kamar mandi, segera saja ia berdiri, mengintip, kembali ia terpesona dengan tubuh telanjang ibunya. Tapi tak lama ia mengintip, langsung kembali pura – pura tidur. Ibunya memakai daster model kaos dan celana pendek. Malamnya semuanya asik berkumpul menonton TV, sambil bersantai Sekitar jam 10...byar...pet...lha mati lampu. Ibunya nampak terpekik. Untung tak sampai berapa detik lampu emergency menyala. Memang selain tak tahan gerah, ibunya juga paling takut sama gelap. Kalau gelap biasa saja, yang masih mendapat cahaya dari ruang lain ibunya tak begitu takut, tapi kalau gelap total seperti ini, ibunya sangat takut. Katanya saat kecil dulu, waktu mati lampu, ibu pernah ditakuti sama para sepupunya yang menyamar pakai sprei putih. Ibu menjerit histeris saat itu, makanya ibu samapi sekarang paling takut sama gelap. Mau pakai lilin satu tak masalah, yang penting ada cahaya.

    Farid dan Pakde lalu mengobrol sambil merokok di teras, ibu dan bude tetap di dalam. Lama juga mati lampunya, hampir 2 jam kini, belum nyala. Ibu dan budenya sudah masuk kamar. Di kamar Farid juga ada lampu emergency. Farid menyalakan sebatang rokok lagi, kembali mengobrol. Setengah jam kemudian Pakdenya juga mengantuk, akhirnya mereka masuk, Farid mengunci pintu dan jendela. Farid masuk kamarnya, ibunya nampak sudah tidur di pojokan, memeluk guling, agak gelap. Lampu emergencynya di atas lemari sudah agak lemah pancarannya. Farid melihat jendela juga dibuka sama ibunya. Farid segera berbaring di ujung satunya. Sebelum lupa, ia pencet tombol kipas angin, biar pas listrik nyala, kipas angin langsung nyala. Hampir satu jam ia berbaring, susah tidur, gerah, kampret nih pikirnya...bayar listrik saja yang mahal, sekalinya mati, lama benar, sudah hampir 4 jam mati lampu, nanti sekalian saja deh ajak teman kampus demo. Mungkin makiannya berguna juga, tak berapa lama listrik menyala...baguslah pikirnya. Ia segera bangun menutup jendela, takut banyak nyamuk, juga kipas angin sudah menyala. Dan pas ia berbalik mau ke tempat tidur, ia terpana, tadi karena lampu emergency yang tak terlalu terang, ibunya yang tidur di pojokan yang agak gelap dan terhalang guling, matanya tak begitu jelas melihat. Kini setelah lampu terang, ia melihat ternyata ibunya tidur dengan melepas bagian atas dasternya, hanya ber BH saja, mungkin saking gerahnya, tadinya mungkin ia menggunakan daster yang ia lepas sebagai penutup, juga menutupinya dengan memeluk guling, kini setelah terlelap beberapa lama, gulingnya sudah tak ia peluk lagi, dan dasternya sudah lepas. Farid meneguk ludahnya. Pemandangan yang dilihatnya sangat merangsang nafsunya.Tangan ibunya satu terangkat ke belakang kepala, sebagai bantal kepalanya, memperlihatkan rimbunan keteknya, juga teteknya yang besar di balik bungkusan BH yang ketat, sontak kont01nya langsung meronta. Ibunya sudah terlelap, apalagi kini kipas angin sudah menyala. Mulai nyaman dan sejuk. Walau begitu nampak tubuh ibunya masih sedikit menyisakan keringat. Membuatnya berkilat dan mempesona..

    Perlahan Farid naik ke tempat tidur, berbaring. Matanya terus menatap pemandangan menggoda di hadapannya. Ampun....pikirnya. 15 menit pertama ia hanya memuaskan diri dengan melihat, celananya sudah sesak sekali. Belahan tetek ibunya sangat jelas sekali. Bahkan Farid bisa melihat pentilnya yang terceplak samar di balik BH yang agak tipis itu. Farid mulai goyah, akhirnya dengan sangat perlahan ia mendekat. Dengan agak gemetar, hidungnya mulai menciumi pangkal lengan ibunya, aroma yang harum dan menggelitik nafsunya mulai tercium. Tangannya terjulur, mulai membelai bulu ketek ibunya, keset dan tebal. Setelah puas, ia beralih...tangannya dengan gemetar memegang BH putih ibunya, terasa keras dan empuk. Sesekali jarinya menyentuh belahan tetek ibunya yang sangat dalam itu. Lama ia menyentuhnya, pentilnya terasa juga walau dibalik BH, ibunya nampak masih tertidur pulas. Makin lama makin timbul keberanian Farid, nekad deh pikirnya, tingal lihat nanti saja, paling kalau tengsin cuma diomelin. Jari jemarinya dengan terampil dan perlahan mulai mengangkat bagian bawah BH ibunya, agak sulit di awalnya, cukup ketat membungkus tetek ibunya, lalu BH itu mulai kendor, dan diangkatnya penutup BH itu...jantung Farid berdetak dengan sangat tidak normal kini. Bahkan Farid merasa ia bisa mendengar dentuman detak jantungnya yang berdebar. Tetek besar itu kini terpampang bebas, sangat kencang dengan pentil mengacung sempurna, dihiasi lingkaran kecoklatan yang agak lebar. Tepat saat ia masih mengagumi, ibunya bergeser, kini tidur dengan tubuh miring.

    Farid dengan perlahan mulai berbaring, kepalanya tepat di depan tetek ibunya itu. Jarinya mulai menyentuh pentilnya, keras juga empuk, tak lama ia menyentuhnya, ia punya agenda lain. Mulutnya mulai bergerak, pentil itu mulai ia jilati, aroma wangi sabun dan sedikit keringat karena ibunya tadi kegerahan sungguh menimbulkan sensasi wangi yang menaikkan birahinya. Lidahnya mulai menggoyang – goyang pentil ibunya. Lalu ia mulai mengulumnya, menghisapnya lembut, nampak tubuh ibunya sedikit bergerak, tapi masih tertidur. Kont01nya sudah sangat keras saat ini. Satu tangannya menyusup ke balik celananya, memainkan kont01nya. Farid asik sekali mengulum dan menghisap kedua pentil itu bergantian, ibunya masih pulas tertidur, bahkan sesekali ibunya mendesah, membuat Farid makin terangsang, sedikit makin berani, ia mulai meremas tetek ibunya. Saking semangatnya ia menghisap pentilnya dengan kuat. Ibunya tentu saja kelojotan dan segera terbangun, nampak kaget dan terkejut, Farid juga terkejut segera melepaskan mulutnya dari pentil ibunya. Tangannya yang tadi meremas kont01 juga sudah ia keluarkan. Ibunya segera merapikan BH-nya, menutupinya dengan daster. Suara ibunya pelan saat berbicara takut terdengar keluar, namun nada marahnya tak bisa disembunyikan. Farid memasang muka bersalah dan menyesal.

    ”FARID..A..apa yang kamu lakukan.”
    ”Se...sebelumnya Farid minta maaf bu. Ta...tapi tadi saat lampu menyala, Farid melihat ibu yang hanya tidur memakai BH, Fa...Farid jadi ingin merasakan ba..bagaimana rasanya menetek sama ibu. Ma...maafkan Farid bu.”
    ”Duh...nak, kamu ini sudah besar, sudah tak pantas lagi seperti itu. Ini juga salah ibu, karena gerah makanya tidur hanya seperti ini.”
    ”Bu...Farid benar – benar menyesal, tapi sungguh tak ada niat lain. Farid hanya mau merasakan menetek saja. Maaf ya bu.”
    ”Sudah...ibu sebenarnya marah, tapi kali ini ibu maafkan, ingat kamu sudah sebesar ini, sudah tak pantas lagi menetek sama ibu, ada – ada saja kamu.”
    ”Ya...ya bu...eh...boleh nggak Farid menetek sebentar lagi, tanggung bu.”
    ”Nggak...nggak...sudah kamu tidur sana.”

    Ibunya menunggu Farid pindah ke ujung ranjang, saat Farid berbalik, ibunya segera memakai dasternya, berbaring menghadap tembok, sungguh...Lisna sangat terkejut dengan apa yang Farid perbuat. Macam – macam saja pikirnya. Tapi anak itu tak salah sepenuhnya, salah Lisna juga tidur dengan hanya ber BH saja. Wajarlah anak seusia Farid tergoda. Lisna kemudian kembali memejamkan matanya, ia merasakan m3meknya sedikit basah.

    Farid berbaring memunggungi ibunya...nyaris pikirnya. Ia memang sudah memperhitungkan resikonya, dan memang ibunya hanya marah saja. Tak mungkin sampai mengadu ke ayahnya. Farid memang menyesal....sangat menyesal karena tak bisa ke tahap lebih jauh.

    Esoknya sikap ibunya sudah seperti biasa. Hanya Farid yang sedikit canggung. Tapi tak urung malamnya Farid meminta untuk menetek sama ibunya, biar bagaimanapun setelah merasakan. Tentu Farid ingin merasakannya lagi, tentu saja ditolak mentah – mentah oleh ibunya. Farid tidur sambil merengut. Pantang menyerah saat tidur esok harinya ia kembali meminta, kali ini dengan rayuan maut dan ancaman. Lisna hanya berbaring saja mendengarkan ocehan anaknya ini.

    ”Bu...ayo dong...kasih deh, satu kali saja.”
    ”Nggak...kamu ini sudah bangkotan begini, minta yang aneh – aneh saja.”
    ”Bu...ibu nggak sayang nih sama Farid.”
    ”Rid...ibu sayang sama kamu, tapi kalau kamu minta yang aneh kayak gini, tak ada kaitannya sama soal kasih sayang ibu.”
    ”Ah pokoknya memang ibu tak sayang.”

    Lisna hanya diam saja. Walau ia sayang sama anak lelaki bontotnya ini, tentu ada batasnya, nggak mungkin ia mengabulkannya. Lisna memilih diam saja, biar saja pikirnya, nanti juga kalau didiamin, anak itu akan anteng dengan sendirinya. Lagian sudah lama nih bocah nggak pernah kolokan berlebihan, kok sekarang sudah sebesar ini dia mulai lagi. Farid kembali merengek.

    ”Baik kalau ibu tak mau, nanti Farid nggak akan pernah mau pulang ke Jakarta.”
    ”Rid...jangan begitu. Tapi kalau kamu tak mau pulang ya nggak apa, ibu juga bisa ngirit jadinya hehehe.”
    ”Tuh..ibu malah bercanda. Sudah kalau ibu tak mau, biarin nanti Farid bayar perempuan saja buat ngerasain netek. Iya...Farid bakal lakukan itu.”
    ”Rid...jangan...bahaya tahu, kamu bisa kena penyakit.”
    ”Biarin...lagian kalau netek doang mana ada sih kena penyakit. Besok Farid mau lakukan deh.”
    ”Rid kamu ini kelewatan ya. Kamu mikir dong. Aduh nggak tahu deh ibu musti ngomong apalagi.”

    Lisna hanya diam saja, berpikir. Susah punya anak laki paling kecil. Kalau sudah maunya suka aneh – aneh. Dia pikir nggak ada resikonya apa bayar perempuan...duh nih anak. Dibilangi malah bisa saja jawabnya, kalau netek saja nggak bahaya. Lisna menghela nafas menatap Farid yang merengut.

    ”Eh..baiklah, ibu akan turuti, dengan dua syarat.”

    Wajah Farid langsung berubah cerah. Dengan agak nyengir ia segera menjawab, ibunya jadi sedikit kesal melihat cengirannya.

    ”Ya sudah...apa syaratnya bu ?”
    ”Pertama...ingat ini hanya karena ibu sayang sama kamu maka ibu ijinkan itu juga hanya kali ini aja, tak ada yang lain kali, mau kamu ngambek atau ngapain kek, ibu nggak bakalan kasih lagi.”
    ”Oke...terus apa lagi bu...?”
    ”Kedua...jangan pernah kamu membayar perempuan buat hal – hal yang aneh. Jangan, ingatlah ibu dan kakakmu yang juga wanita. Lagipula resikonya Rid. Ibu perlu menekankan hal ini, kamu biar bagaimanapun jauh dari pengawasan ayah dan ibu.”
    ”Iya bu.”

    Lisna lalu diam sejenak, agak ragu, ia mengenakan daster panjang berbahu, mau menurunkan dasternya lewat bahu jelas tak bisa, terlalu sempit, karena belahan lehernya tinggi dan rapat. Dengan sungkan akhirnya ia mengangkat roknya, Farid sekilas bisa melihat pahanya yang mulus juga CD-putihnya yang tebal, Lisna segera menutupi daerah s*****kangannya dengan bantal. Ia kembali mengangkat dasternya, memperlihatkan perutnya yang rata dan mulus, sedikit lagi, nampak bagian bawah teteknya, akhirnya teteknya yang besar terlihat bebas, tanpa BH. Farid menatapnya tanpa berkedip, Lisna sedikit risih jadinya.

    ”Sudah..nggak perlu dilihatin terus sampai melotot begitu, kalau mau netek cepat, kalau sudah, kamu cepat tidur.”
    ”I..iya bu, bukan melihati, hanya mengamati lebih jauh dulu.”
    ”Alah...apa bedanya Rid. Kalau kamu tak mau ya sudah, ibu turunin lagi daster ibu. Ibu juga mau tidur.”

    Farid tentu saja tak mau ibunya mengurungkan niatnya, segera ia berbarig sejajar dekat ibunya. Mulutnya segera menghisap pentil ibunya. Pentil itu masih setengah mekar saat ini. Lidahnya segera menjilati dan memainkannya. Lisna agak terkejut jadinya, tak menyangka anaknya akan memainkan pentilnya, namun ia hanya diam saja. Ya...sebenarnya para pembaca juga pasti sudah pahamlah niat dan agenda terselubung si Farid sebenarnya. Farid masih asik memainkan pentil ibunya bergantian. Dia ingat sekali, dulu waktu SMA dia sering ngewek sama pacarnya. Dan pacarnya selalu terangsang setiap kali Farid memainkan tetek dan pentilnya. Padahal saat itu tetek pacarnya tak begitu besar, masih dalam tahap pertumbuhan. Dan kini saat ia melakukannya pada tetek ibunya yang besar ternyata efeknya lebih dashyat. Farid merasakan sesekali suara ibunya mendesah tertahan, mungkin tak mau anaknya mendengar, kedua pentilnya sudah sangat besar dan mekar mengacung, terasa nikmat sekali dikulum oleh lidahnya. Farid menghisapnya bervariasi, pelan lembut lalu kuat, berulang – ulang, bahkan ibunya diam saja tak melarang saat Farid makin berani, tangannya kini meremas kuat tetek milik Lisna sambil menghisap pentilnya kuat. Desahannya kini sudah terdengar jelas di telinga Farid.

    ”Ssshh...Ooohh...sudaaaahhh...yaaa...Rid...”
    ”Aaahhh...Riddd...sudaaaahhh.....ibuuuu...”
    ”Ughhh....taaakk......tahhaaaaannnnnn......”

    Bantal yang menutupi CDnya terlepas saat Lisna mengangkat pantatnya, mengejang dan menyemburkan orgasme. Sungguh bahkan dengan suaminyapun ia tak pernah mengalami orgasme hanya dengan dimainkan teteknya atau pentilnya. Mungkin karena suaminya itu, kalau sudah puas main sama teteknya dan ngacengnya sudah keras akan segera menyodok m3meknya. Tapi anaknya ini, Farid amat sangat membuatnya terangsang, lidahnya begitu menggelitik pentilnya, dan mungkin karena yang melakukannya Farid, anaknya sendiri, yang seharusnya tak boleh malah makin membuatnya bergairah, hisapannya yang kuat, sudah begitu Farid sudah lumayan lama menetek padanya. Hampir setengah jam lebih, bukan hanya menetek tepatnya, dibarengi remasan dan permainan lidah yang agresif pada pentilnya. Lisna benar – benar merasakan sekujur tubuhnya dibanjiri kenikmatan. Ia sebenarnya sudah mau menyuruh Farid stop, sudah cukup, pasti anak itu juga sudah puas, tapi ia tak bisa, masih merasakan nikmatnya saat teteknya yang besar ini dimainkan dan diremas sama anaknya ini. Biarkan sebentar saja lagi deh pikirnya toleran.

    Farid merasakan betapa sesaknya celana pendeknya, tanpa ibunya sadari, satu tangannya perlahan menurunkan celana dan kolornya sebatas paha, membebaskan kont01nya dari sengsara. Ia masih asik mengulum pentil ibunya, kini pentil itu sudah sangat keras dan kemerahan karana Farid terus menghisapnya dengan kuat. Farid menyadari bantal yang tadi menutupi CD- ibunya kini sudah entah di mana, juga entah ibunya sadar atau tidak. Yang pasti kont01nya yang bebas kini tepat menghadap CD yang kelihatan tebal itu. Perlahan ia geser pantatnya, sedikit demi sedikit, akhirnya kepala kont01nya menyentuh CD ibunya.

    Lisna masih menikmati hispan pada pentilnya, makin kuat Farid menghisapnya, membuat badan Lisna serasa melayang. Lalu ia menyadari, sepertinya ada sesuatu yang sudah amat familiar sekali menyentuh permukaan CD-nya. Ya..ampun ini kan..ini kan...ujung kont01 anaknya. Lisna agak kaget, tapi ia berpikir, mungkin Farid sudah sangat ngaceng, jadi menurunkan celananya karena merasa sesak. Dan karena posisi mereka berdekatan saat Farid menetek, maka wajarlah kalau ujung kont01nya menyentuh permukaan CD-nya, itu bukan kesengajaan. Lisna memutuskan membiarkan saja. Tapi makin lama ia meraasakan sentuhan itu makin cepat, sudah menyerupai gesekan yang konstant, bahkan saat ia agak merenggangkan kakinya karena sedikit pegal dan untuk menyamankan kembali CD-nya yang sudah agak basah menempel, kont01 Farid dengan cepat merangsek masuk menempel di antara kedua pangkal pahanya, tepat di bawah CD-nya. Biarkan saja pikir Lisna, mungkin saat ia agak merenggangkan kakki, tak sengaja kont01 anaknya meleset masuk ke antara pahanya. Maka kini kont01 Farid berada di antara jepitan pangkal s*****kangannya. Lisna bahkan hanya diam saja saat kont01 itu mulai bergerak maju mundur....wajar saja, Farid lagi menetek, Lisna agak menggerakkan badannya sesekali, mungkin ia menyesuaikan ritme badannya dengan tetekku yang bergoyang. Lisna sedikit terkejut juga, menyadari besarnya benda yang sedang menempel di pangkal pahanya. Besar dan cukup panjang. Ia merasakan bagian bawah CD-nya terelus dengan nyaman seiring kont01 yang maju mundur di jepitan pahanya. Tak urung ia merasakan m3meknya makin basah saja Saat ini ia merasakan sensasi yang tak biasa. Jujurnya, suaminya sendiri amat memuaskan dirinya. Selalu bisa membuatnya menikmati dan mengalami orgasme setiap berhubungan. Mungkin kini sedikit berkurang frewkensinya, karena usia suaminya tak mudah lagi, namun secara kemampuan, Lisna merasakan cukup dan terpuaskan. Namun saat ini ia merasakan sesuatu yang lain. Ada kenikmatan tersendiri yang menjalari tubuhnya.

    Farid menyadari ibunya hanya diam saja, tahap demi tahap, secara perlahan Farid bergerak, kini bahkan kont01nya sudah berada di jepitan pangkal paha ibunya, di bawah s*****kangannya, ibunya tak melarang, tetap diam, juga saat ia memaju mundurkan memompa kont01nya. Makin PeDe saja Farid, masih tetap menetek, satu tangannya kini meluncur turun ke bawah, dan mulai diletakkan di atas CD ibunya. Hanya diletakkan, menunggu reaksi ibunya, tak ada reaksi. Farid mendiamkan saja dahulu, merasakan ketebalan dan nyamannya CD itu. Lalu setelah agak lama, Farid makin nekad saja, tangannya mulai menyusup ke balik CD ibunya. Saat itu Lisna tersadar. Ia melarang anaknya, suaranya direndahkan sepelan mungkin. Kont01 Farid masih di jepitan pahanya.

    ”Farid...cukup nak. Jangan kau m*****kah lebih jauh lagi.”
    ”Ta...tapi bu...”
    ”Cukup...tadi juga kau hanya minta menetek saja kan, nah sudah ibu berikan, sekarang sudah, cukup, jangan m*****kah terlalu jauh. Kita sudahi dan tidur.”
    ”Ibu...ibu sebenarnya curang, kalau memang dari awalnya ibu hanya mengijinkan Farid menetek, kenapa ibu tak melarang saat kont01 Farid mulai menyentuh CD ibu, bahkan saat berada di jepitan paha ibu, ibu mendiamkan saja.”
    ”Bu...bukan begitu nak...”
    ”Memang BEGITU bu. Sekarang saat Farid sudah dalam kondisi BEGINI, ibu malah menghentikan, makanya Farid bilang ibu curang.”
    ”Te..terus maumu bagaimana...?”
    ”Paling tidak biarkan Farid menyelesaikannya bu, sampai keluar. Sekali in saja”
    ”APA..? TIDAK...ibu belum gila nak.....ta..tapi baiklah karena kamu bilang ibu curang, ibu bantu kamu sampai tuntas, tetap dengan posisi ini, di jepitan paha. Ingat, pertama dan terakhir kalinya.”

    Farid tak menyahut, sebagai jawaban ia mulai menggerakkan pantatnya, memaju mundurkan kont01nya. Perlahan saja, juga menyerang kembali pentil ibunya dengan hisapan dan kuluman yang kuat. Lama – lama gerakan kont01nya makin cepat, sedikit membuat paha Lisna berkeringat, Lisna sendiri sebenarnya mulai merasakan terangsang, namun mana bisa pikirnya. Tak boleh dan tak mungkin. Karena desakan tubuh Farid, makin lama tubuh Lisna makin mepet ke tembok, sedikit banyak menghambat gerakannya dan justru membuat Farid makin leluasa menekannya. Kont01 Farid bergerak cepat, karena terlalu cepat jepitan paha Lisna makin renggang, bahkan sangat renggang, kont01 Farid terlepas. Baru saja Lisna hendak menyuruh Farid membetulkannya, anaknya ini sudah bertindak cepat, sangat cepat, tubuh atas Farid menempel ke teteknya, menekannya kuat, tangannya di bawah tak bisa bergerak, satu tangannya di atas dipegang kuat oleh Farid. Sementara entah bagaimana caranya dan cepatnya, satu tangan Farid yang lain sudah mengangkat bagian penutup CD-nya merenggangkannya, dan karena m3meknya memang sudah basah dan mekar, dengan cepat dan mudah kont01 anaknya itu sudah menerobos masuk ke dalam lobang m3meknya, tubuh Lisna bergetar saat kont01 Farid menghujam masuk. Ia mau protest dan marah, tapi bibirnya sudah di ciumi dengan kuat oleh anaknya itu. Lisna berusaha memberontak, tapi sia – sia, Farid sudah mulai memompakan kont01nya, tangannya yang tadi mengangkat CD-nya sudah beralih fungsi, kini sambil memainkan it1lnya. Farid merasakan nikmat sekali m3mek ibunya ini, masih terasa rapat dan hangat. Kont01nya menyodok dengan mantap, keluar masuk tanpa jeda. Lisna masih berusaha melepaskan ciuman Farid, tapi sulit. Sodokan Farid makin kuat saja, tanpa ampun, saat menusuk ke dalam, ia sodokkan sedalam mungkin, belum lagi jemarinya sangat aktif menggelitik it1lnya. Lisna lambat laun mulai merasakan gelombang kenikmatan menghantam dirinya. Sejujurnya sewaktu Farid belum nekad memasukkan kont01nya secara paksa, Lisna juga sudah mulai tak tahan, ia sudah merasakan sangat terangsang dengan gesekan kont01 Farid di pahanya. Memang Lisna mudah sekali bangkit birahinya, sedikit rangsangan yang pas akan membuatnya panas. Saat Farid masih memompa kont01nya pada jepitan pahanya, Lisna juga sudah mulai berpikir...entah berapa lama lagi ia mampu menahan gairahnya, ini bukan lagi masalah hubungan ibu – anak, ini masalah gairahnya sebagai wanita. Dan tanpa ia duga, justru saat ia sedikit kendor, anak itu dengan cepat memanfaatkannya. Bukan salah anak itu sepenuhnya, lelaki manapun pasti tak sabar dan merasa puas hanya dengan jepitan paha saja saat lelaki itu sudah sangat terangsang.

    Dan kini Lisna mulai menikmati, pantatnya bahkan ikut bergoyang sesekali mengimbangi. Farid juga merasakan perubahan bahasa tubuh ibunya ini, namun ia belum mau melepaskan ciumannya yang sekaligus mencegah ibunya berteriak. Tidak sampai saat yang tepat pikir Farid. Maka ia segera mempercepat sodokannya, makin mempercepat permainan jarinya di it1l ibunya. Badan Lisna mulai bergerak liar, desahannya tertahan mulut Farid. Sodokan kont01 anaknya sangat mantap, belum lagi it1lnya yang geli – geli enak. Tak butuh waktu lama tubuh Lisna akhirnya mengejang, menyemburkan orgasmenya. Setelah ibunya keluar, Farid memperlambat pompaannya, perlahan ia lepas ciumannya. Lisna nampak lega, sedikit mengambil nafas...

    ”Gila kamu Farid....apa...apa yang...”
    ”Bu...sudahlah, tubuh ibu nggak nolak kan..”
    ”Bukan itu, tapi kan kamu nggak perlu sekasar tadi.”
    ”Bu...ini juga karena ibu sendiri, sebenarnya mau tapi belagak nolak. Lagian mana bisa tahan Farid, sudah sejauh ini, juga salah ibu yang paling besar adalah...tubuh ibu terlalu seksi...sungguh sangat merangsang.”
    ”Ya sudahlah, mau bagaimana lagi, kamu sudah masukin ke dalam m3mek ibu, sekalian saja...tuntaskan sampai selesai, keluarin saja di dalam, nggak kenapa. Tapi ingat karena kamu sudah melakukannya juga karena kamu mengakui sendiri kalau kamu terangsang sama tubuh ibu......sebaiknya kamu melakukannya sebaik mungkin, atau ibu tak akan memaafkanmu.”
    ”Beres...anggap saja sudah dilaksanakan. Bu...celana dalamnya dibuka ya, biar nggak ribet, sekarang agak mengganggu nih...”
    ”Duh kamu ini, tadi waktu maksa nyodok pertama tadi, nggak ada masalah, setelah ibu melunak, malah ngelunjak, ya sudah cabut dulu kont01mu,biar ibu buka celana dalam ibu.”

    Farid mencabut kont01nya, ibunya masih berbaring segera menurunkan CD-nya, Farid kembali terpesona melihat m3mek ibunya, jembutnya sangat menggiurkan, dan walau m3mek ibunya sudah sangat basah, juga lobangnya kini melebar karena baru ia sodok, tetap terlihat menawan, bahkan lobangnya yang kemerahan itu makin mempesona. Sementara Lisna baru sekarang melihat dengan jelas kont01 anaknya ini, sedari tadi hanya menerka dari merasakannya saja. Matanya menatap dengan kagum, sedikit lebih besar dari punya suaminya, juga masih penuh tenaga dan semangat muda. Saat ia masih menatap terpesona, Farid malah sudah asik memainkan m3meknya, pakai mulut dan lidahnya...

    ”Rid...aduh jangan...kan basah...Rid...”
    ”Farid...ibu...risiiiiihhh...aaaahhhh...”

    Dan Farid memang tak peduli, walau sudah basah dan baru saja ia sodok, tetapi m3mek itu terlalu menggodanya, aromanya harum dan khas. Bahkan sedikit asin rasanya karena cairan ibunya tadi. Lidahnya asik sekali memainkan it1l ibunya, menggoyangnya ke sana kemari. Lobang m3mek ibunya ia sodok, sekaligus pakai jari telunjuj dan jari tengahnya. Lisna mendesah nikmat.

    Tak mau kalah, juga tak kuat menahan gairah yang sangat enak, Lisna sedikit mengubah posisi tubuhnya, kini tangannya menggenggam kont01 anaknya itu, meremasi biji peler Farid. Tangannya mengocok kont01 anaknya yang agak lengket karena cairan m3meknya. Setelah itu tanpa ragu lidahnya mulai menjilati kont01 Farid yang kini terasa asin dan gurih. Menjilatinya dengan ganas, bertekad membalas semaksimal mungkin, bukan hanya anaknya yang bisa membuat puas....aku juga bisa. Lidahnya bergerak lincah, kini kont01 yang tadinya lengket itu sudah kembali normal, basah oleh jilatannya dan kembali terasa tawar. Lidahnya menggelitik kepala kont01 Farid, membuat anaknya sedikit menggoyangkan pantatnya. Lalu hup...perlahan mulutnya mulai mengulum dan menelan kont01 itu, amblas sampai batas maksimal mulutnya mampu menelan, saat sudah masuk semua ke mulutnya, ia segera mengemut dan menghisapnya kuat, kontan Farid kelojotan, gilaaaa....ternyata ibu sangat hebat untuk urusan ini pikir Farid yang sementara ini sedang asik memainkan m3mek Lisna. Kont01nya terasa dikulum dan dipompa dengan cepat, enaknya saat bersentuhan dengan bibir Lisna yang tebal menggoda itu. Belum lagi saat mengulum dan menghisap, lidah ibunya tetap aktif menggelitik. Mana tahaaaannnnn......

    Lidah Farid masih saja menggoyangkan it1l yang lumayan besar itu, sesekali menghisap dan menariknya lembut. Jarinya juga makin cepat saja menyodok lobang m3mek ibunya itu. Terasa basah dan lengket pada kedua jarinya itu. Dengan gemas ia menarik lembut it1l ibunya, Lisna kelojotan, kembali Farid menggoyangkan it1l itu secepat dan selincah mungkin, lidahnya bergerak tanpa henti.

    Kunjungan ibu ini benar – benar menyenangkan sekali, hampir tiap malam kini Farid menyodok ibunya, bebagai macam gaya dan variasi. Kadang pagi sebelum kuliah, ia dan ibunya akan mengunci pintu kamar untuk secara cepat melakukannya seronde saja. Ibunya juga jujur mengakui, ayahnya masih oke dan kompeten dalam menunaikan tugasnya memuaskan ibunya, tapi ibunya menikmati sensasi yang berbeda saat melakukannya dengan Farid, bahkan ibunya mengakui kalau ia lebih sering dan mudah orgasme bersama Farid, entahlah...mungkin karena merasakan rangsangan tersendiri dari hal yang seharusnya tak boleh. Setelah satu bulan, Farid mendapat kesempatan hanya berduaan saja sama ibunya. Kok bisa...? Iya, Pakde dan Budenya harus pergi menghadiri kondangan keluarga besannya, mertuanya mbak Sinta. Mereka pergi naik mobil Pakde. Pakde, Bude, mbak Sinta dan suaminya beserta kedua besannya. Yang kawin itu anak adik besannya, karena waktu mbak Sinta kawin mereka datang dan membantu, tentu saja sekarang Pakde merasa wajib hadir. Lokasinya lumayan jauh, sudah dekat kota Semarang. Mereka pergi Jumat sore, rencananya balik minggu malam. Tadinya ibu diajak, tapi ibu beralasan ia tak terlalu kenal dan tak berkepentingan, juga harus menunggui Farid. Dan kini mereka hanya berdua saja. Sepanjang hari rumah Pakde terkunci, jendelanya tertutup rapat.

    Ibunya baru saja selesai mengirim SMS ke ayahnya. Menanyakan kabar. Menaruh HP-nya di tepi meja. Ia dan Farid tak berbusana....nggak mau repot, toh hampir tiap saat mereka melakukannya, kalaupun istirahat dan mengobrol, maka tak lama setelah merasa segar dan sama – sama terangsang, mereka akan melakukannya lagi, di mana saja, selama 2 hari ini rumah ini bebas menjadi milik mereka. Dan baru saja ia bersandar, Farid sudah memeluknya dari samping, mendesaknya, sedikit mendorong pantatnya ke atas, kini Farid masuk menyelinap. Farid yang kini duduk bersandar di sofa. Ibunya kini di pangkuan pahanya, memunggunginya. Farid segera saja, mulai merangsang ibunya, meremas teteknya dan memilin pentilnya, lembut lalu kuat, setelah bosan memakai tangannya, anak itu agak mencodongkan miring badannya, mulai menghisap pentilnya, sementara tangannya melebarkan kaki ibunya. Tangannya mulai mengelus jembutnya, memainkannya, sesekali menarik – nariknya dengan gemas, akhirnya jarinya mulai melebarkan belahan m3meknya, jarinya mulai memainkan it1lnya, jari tangan yang lain mulai menyodok m3meknya. Kont01 Farid sendiri sudah ngaceng, tapi masih ia letakkan dengan manis di belahan pantat ibunya. Lisna mulai merasa terangsang saat jari anaknya memainkan lobang m3meknya, tangannya terangkat, mengapit bagian belakang kepala Farid. Kepalanya bersandar di bahu Farid. Farid dengan ganas mulai menciumi dan menjilati keteknya yang rimbun, sesekali menarik bulu halus itu lembut dengan mulutnya. Anak itu suka sekali sama ketek ibunya ini, sangat merangsang katanya, bukannya terlihat jorok, malah sangat seksi, kontras, menambah daya tarik tubuh mulus dan putih ibunya. Bergantian rambut di pangkal lengan Lisna ia jilati, sampai agak basah jadinya. Sementara it1l Lisna semakin menjadi – jadi ia mainkan, membuat Lisna mendesah dan kelojotan....Aaahhhhh...dengan cepat Lisna menggapai orgasmenya....bandit cilik ini selalu membuatku sangat terangsang dan mudah mendapat orgasme pikir Lisna. Farid melepaskan tangannya yang tadi mengerjai it1l ibunya itu, membiarkan ibunya memegang kendali.

    Tangan Farid segera mendorong belahan pantatnya ke atas, Farid memegang batang kont01nya. Ibunya lalu mulai perlahan menurunkan pantatnya.....blesss....dengan sangat terkendali dan mulus, lobang m3mek itu mulai turun menelan kont01nya, Farid sedikit meringis kegelian...lalu ibunya mulai menggoyangkan pantatnya, naik turun, kiri kanan, memompa dan memberikan kenikmatan pada kont01 Farid, Farid hanya bersantai saja menikmati, tangannya saja yang masih asik meremas tetek besar ibunya itu. Lisna menggerakkan pinggulnya perlahan lalu cepat, kini bahkan saat naik, sengaja ia naik sampai batas kepala kont01 Farid, lalu bless ia turun lagi, naik lagi dengan posisi yang sama, makin lama makin cepat. Farid sampai merem – melek menahan nikmatnya sensasi dan rasa geli yang teramat sangat pada kont01nya. Guna meredam agresifitas ibunya, kini jemari tangannya segera memainkan kembali it1l ibunya, menggoyangkan dan menjepit seskali it1l itu dengan jarinya. Ibunya sedikit banyak teredam agresifitasnya, kenikmatan yang seimbang bagi keduanya. Kini ibunya mulai mendesah sesekali, apalagi saat Farid memilin agak kuat dan menarik - narik it1lnya lembut.

    Lagi enaknya bermain, HP-ibunya berbunyi, panggilan masuk. Karena dekat, maka tangan Lisna menjangkaunya, mengambil HP di tepi meja itu, Ia melihat layar, membaca siapa yang menelepon, ia melihat lalu menunjukkannya ke Farid. Dari suaminya, ayah Farid. Sebenarnya Lisna enggan menjawab sekarang, nanti saja ia telepon lagi, tapi tangan Farid malah dengan cepat sudah menekan tombol jawab. Mau tak mau Lisna berbicara, karena dekat dengan kupingnya, Farid bisa mendengar suara ayahnya. Lisna kini berhenti menggoyangkan pinggulnya, eh malah Farid yang bergerak menyodok kont01nya, satu tangannya memegang kuat kedua paha Lisna, menyebabkan Lisna tak bisa menghentikan gerakan Farid, tangan yang lain masih memainkan it1lnya.

    ”Ya...mas, tadi aku SMS ke kamuuuu...”
    ”Oh iya, tadi mas lagi pergi keluar sama teman, HP-nya mas tak bawa, Caru makan sekalian beli rokok di warung. Gimana kabar di sana Lisna...?”
    ”Baiiikk maasss...”
    ”Si Farid gimana kabarnya...?”
    ”Baik Jugaaaa....Ahh...sehat, mas sendirii..?”
    “Baik…eh kamu kenapa si dari setadi kok nafasnya terengah begitu...?”
    ”Iniii...akuu lagi beresin kamaar si Fariiid. Nggak enak kan sama Mbak Sriii, kotor banyaakk debunya, maklum anak laki malass...hidungkuu banyak kemasukaaann debu.....susah nafas agak tersumbaaattt, mana berat ngangkatin barang sendiriaannn...aaahhh..sori mas sambil ngangkat barang nih. Gimana kerjanya..?”
    ”Baik, lancar, memang sedikit sulit melacak transaksi yang terlanjur dimanipulasi itu...butuh waktu mentrace ulang.”

    Lisna agak memiringkan kepalanya, melotot ke Farid, nih anak bukannya diam malah makin kuat saja nyodoknya, belum lagi tanganya mainin it1lnya. Farid malah nyengir tanpa rasa bersalah. Lisna baru mau melotot lagi memberi tanda menyuruh Farid berhenti dulu, suara suaminya sudah terdengar...

    ”Eh...memangnya pada ke mana semuanya...”
    ”Mbak sama suaminya kondangan, si Farid ngelayaaap, ya sudah...aku sendiriannnn..”
    ”Oh gitu...Las...aku kangen nih sama kamu...”
    ”Aku juga maaas...”
    ”Pingin cepat ketemu, mau ngerasain itu kamu yang enak.”
    ”Hehehe...samaaa...aku juga kangen sama anunya maas...”
    ”Las..aku lagi di kamarku di mess ini, sendirian. Jadi bebas saja ya, aku kangen nih sama tubuhmu, desahanmu...duh...tuh kan...jadi bereaksi deh.”
    ”Samaaa maasss....maasss, Lisna hibuur sama desahan Lisna yaaa...”
    ”He eh...yang seksi dan nafsuin ya....kan kamu juga lagi sendirian di sana.”
    ”Aaaaahh.....Oooohh...uggghhh....”
    ”Aww....Sssstt......Auhhhh....Yesssss”
    ”Duh Las, makin kangen aku jadinya....”

    Sebenarnya Lisna memanfaatkan kesempatan, mumpung omongan suaminya mengarah sekalian saja deh, gila nih si Farid, mainin it1lnya kagak kira – kira sampai kelojotan dia. Setengah mati nahan orgasme, juga desahannya....untung saja saat ia keluar tadi berbarengan dengan permintaan suaminya....sinting nih si Farid. Suara mas Joko kembali terdengar...

    ”Persis banget kayak aslinya Las, kamu segitu kangennya ya sama aku...kasihan...”
    ”Iyaaaa...mas...aduuhhhh...Ooohhh...makanya akuuuu sengaajaaa kasiiihhh desahaaannn yaaang paling hoottt buat mas.”
    ”Iya..makasih, buat ngobatin kangen nih...”
    ”Iya maaass...sudah duluu yaahh, lagi repot nih lagiii ngurusin peraboootaaan si Farid. Nanti telepon lagi yaaaa...”
    ”Iya deh Las...sampai nanti, salam kangen dan rindu ya...”
    ”Yaaa...Oooohhhh....”

    Lisna buru – buru mematikan HP. Segera menghentikan kegiatan Farid. Ia bahkan mencabut kont01 Farid dari m3meknya. Duh...padahal sedikit lagi nih...gerutu Farid dalam hati. Ia lalu dengan gusar duduk di samping Farid...

    ”Rid..kamu ini sudah edan ya, gimana kalau ayahmu curiga ?”
    ”kenyataannya nggak kan bu...? Lagian aku lucu saja dengar percakapan tadi. Nggak nyangka ayah yang kelihatannya kaku, bisa jadi kolokan sama ibu. Memang tubuh ibu bisa membuat siapa saja kangen....duh...aku kangen nih sama kamu....”
    ”Kamu ini...malah bercanda...”
    ”Nggak...nggak bu, memang lucu kok huahahaha...hehehe.”

    Walau awalnya kesal, tapi mau tak mau akhirnya Lisna tertawa juga, memang benar sih kata Farid tadi, jarang banget suaminya kolokan seperti tadi. Jadi lucu kedengarannya. Lisnapun tertawa lepas, kemarahannya menguap begitu saja. Farid yang masih nanggung, segera merebahkan Lisna di sofa. Satu kaki Farid menginjak lantai, satunya dilipat di sofa, segera saja ia menyodokkan kont01nya ke lobang m3mek ibunya itu. Kembali memompanya dengan cepat dan kuat, menebus sedikit rasa tanggung yang masih tersisa. Kont01nya menyodok dengan cepat membuat tetek ibunya bergoyang lincah tak terkendali, makin menambah rangsangannya, ia benamkan sedalam dan sekuat mungkin, menggelitik bibir bibir kemaluan ibunya itu setiap kali kont01 itu bergerak. Tangannya memegang dan meremas erat tetek ibunya itu. Pompaan kont01nya sudah sangat maksimal, menghujani lobang m3mek yang sudah basah dan licin itu, menggelitik semua bagian dinding pada lobang nikmat tersebut. Ibunya juga sudah mulai kembali enjoy, bahkan pantatnya juga mengimbangi sodokan Farid. Mulutnya kembali mendesah nikmat. Wajahnya sangat menikmati, tergambar jelas sekali, yang makin membuat Farid nafsu saja saat melihat ekspresi penuh mesum di wajah canti ibunya itu. Jleb...jleb...plook...plook....makin cepat dan kuat....Ooohh....desahan makin nyaring....dan akhirnya...crooot...crooot.....nikmatnya. Kedua insan ini terkulai lemas dan bahagia.

  2. The Following 8 Users Say Thank You to kurawa100 For This Useful Post:


  3. #2
    Tukang Ngintip kurawa100's Avatar

    Join Date: Oct 2008

    Posts: 61

    Thanks: 0

    Thanked 163 Times in 25 Posts

    Default

    Akhirnya masa – masa menyenangan Farid pun harus berakhir. Dua bulan sudah medekati akhir. Kemarin malam ayahnya menelepon ibunya, katanya 2 hari lagi pulang, pesawat yang siang, tak langsung ke rumah, mampir sebentar ke kantor. Besoknya ibunya meminta Farid mengantarnya beli oleh – oleh, bolos saja kuliah kata ibu. Bude sebenarnya mau mengantar, tapi ibu menolak, katanya sekalian mau belikan Farid baju. Ya sudah pagi – pagi kami sudah jalan. Tujuannya, nggak langsung belanja, ke hotel kelas melati yang agak di pinggiran. Memuaskan moment terakhir. Baru jam satu kami keluar dan pergi belanja. Petugas hotelnya nyengir nyebelin, dipikirnya mungkin ada tante lagi main sama brondong. Sambil beli oleh – oleh, ibu sekalian membeli tiket pesawat buat besok pagi. Sesekali naik pesawat saja kata ibu, lebih cepat. Ibu membeli oleh –oleh buat saudara ayah di Jakarta dan tetangga. Juga buat pakde dan bude. Malamnya kembali kami mereguk kenikmatan bersama untuk terakhir kali pada kunjungan ibu ini, kata ibu setelah ini libur dulu, nanti kalau aku libur kuliah dan pulang ke Jakarta, toh bisa bebas lagi melakukannya sesukaku, sepanjang pagi sampai sorekan ayah di kantor. Esoknya Pakde dan bude mengantar ibu ke airport, aku tak ikut kuliah, kemarin sudah bolos sih. Ya...dua bulan yang menyenangkan dan penuh sensasi itu sudah berakhir. Walau terlambat memulainya, tapi bagiku tak masalah. Biar agak telat aku memulainya, namun akhirnya tetap sama...nikmat. Bahkan makin enak, karena di usianya sekarang ini, ibu makin matang dan makin merangsang.

    Hampir 3 bulan sudah kini berlalu. Kehidupan berjalan seperti biasa dan datar saja. Setelah kenangan indah bersama ibu mulai mereda, kembali aku mulai memikirkan bude Sri, yang sedikit tersisihkan dari otak kotorku saat kehadiran ibu, makin hot saja budeku ini. Nggak beda jauh sama ibu, bahkan bodinya sedikit lebih montok dan padat, mungkin karena bude tak setinggi ibu. Tapi tetap saja, tak bisa berbuat lebih jauh. Pendekatanku sama Yuni sedikit bergerak lebih maju, SMS dan telepon makin sering, mulai sering jalan ke mall atau ke tempat jajanan yang enak dan asik. Tapi belum pernah ke rumahnya atau ngapel, biarlah, slow saja toh arahnya sudah positive. Yuni sendiri dari pengamatanku sejauh ini sepertinya belum punya pacar, Pernah waktu lagi makan di mall, Yuni ke toilet meninggalkan HP-nya di meja, aku iseng membuka, tak ada SMS atau nama ID yang mengindikasikan pacarnya. Bahkan aku kaget karena ID namaku dia buat...Yayang Farid...wah ini sih bisa segera ditembak...tinggal tunggu moment yang greget saja.

    Tapi sudahlah, cerita Yuni lain kali saja. Sekarang aku juga lagi sibuk ujian. Melelahkan, baik teori dan praktek, untung akhirnya kelar.Sambil menunggu hasil, aku jadi jarang kuliah dulu, toh lebih banyak santainya saja kalau ke kampus. Aku sering menghabiskan waktu browsing internet di rumah, Seperti pagi ini, Pakde kerja seperti biasa, bude lagi ke rumah mbak Sinta, kayaknya mbak Sinta menunjukkan gejala hamil nih.Aku bersantai saja, membuka jendela, maklum sambil merokok. Karena santai aku juga tak terburu – buru bahkan buka situs apa juga aku nggak nentuin dulu, saat aku ketik satu huruf awalan situs degan awalan k, seperti biasa di address browser suka muncul history address yang pernah dikunjungi sebelumnya yang awalannya k, mataku menangkap alamat konsultasikesehatan, perasaan nggak pernah buka situs ini, paling pakde, iseng aku klik saja deh. Halaman segera loading...tak lama...lho apaan nih...kok isinya artikel tentang ejakulasi dini sih, karena penasaran aku buka menu history. Aku sendiri kalau habis browsing selalu rajin menghapus jejakku, beda sama pakde yang agak awam. Kulihat semua adress history, rata – rata situs konsultasi kesehatan dan seksiologi, satu persatu kubuka...ejakulasi dini lagi...sama ini juga...itu juga ejakulasi dini dan cara mengatasinya...semua sama. Otakku yng tadinya mau bersantai browsing situs jorok akhirnya mau nggak mau berpikir...apakah pakdeku sedang mengalami masalah ejakulasi dini alias baru nyodok atau nempel dikit sudah langsung ngecret...sambil berpikir aku juga jadi prihatin. Akhirnya karena merasa dipikirkan juga itu bukan masalahku, Pakde juga tak mungkin cerita hal ini padaku, aku segera memulai kesibukkanku browsing situs – situs porno idolaku.

    Malamnya Pakde memanggilku, bude juga ada di situ, ada apa ini..? Pakde segera memulai percakapan.

    ”Rid...ada yang Pakde mau omongin ke kamu.”
    ”Iya Pakde..ada apa...?”
    ”Gini, Pakde kan pernah cerita, kantor pakde belum lama ini sedang dalam tahap awal kerjasama dengan Perusahaan tambang batubara di Kalimantan dan Sumatra. Perusahaan itu bermaksud melakukan peremajaan besar – besaran pada mesin – mesinnya.”
    ”Ya...lalu apa hubungannya sama Farid..?”
    ”Bukan sama kamu hehehe. Nah Perusahaan tempat Pakde bekerja tentu tak mau menyiakan kesempatan emas in, sulit melobi perusahaan pertambangan itu samapi bisa berhsil teken kontrak. Kami bermaksud menjalin hubungan jangka panjang. Juga bagus buat kredibilitas Perusahaan sat menawarkan mesin ke tempat lain. Nah singkatnya kontrak sudah ditandatangani, mesin – mesin sebagian sudah dikirim. Nah di awal ini kantor pusat sudah menargetkan tak boleh ada kesalahan, walau tak diwajibkan dalam kontrak, tapi sudah diputuskan menyeleksi dan mengirimkan para insinyur mesin terbaik, baik dari pusat atau kantor cabang guna mengawasi kinerja mesin – mesin baru itu selama 3 bulan ke depan. biaya Perusahaan Pakde sendiri. Tadinya Pakde nggak berharap atau yakin bakalan terpilih, ya sudah tua, masih banyak yang muda, tapi dari pusat ternyata memasukkan nama Pakde untuk bertugas di sana selama 3 bulan ini.”
    ”Wah, selamat Pakde. Memang Pakde itu insinyur mesin yang jempolan. Masih diperhitungkan atasan.”
    ”Ah bisa saja kamu muji Rid, jadi GeEr nih Pakde. Tapi bukan itu masalahnya, masalahnya Pakde harus meninggalkan rumah 3 bulan ini, memang minimal sebulan sekali Pakde dapat jatah tiket pesawat buat pulang. Tapi budemu sendirian dirumah. Tak mungkin Sinta di sini terus, suaminya juga terkadang dinas luar. Lagian mbakmu itu lagi hamil muda, harus istirahat. Jadi baik di sini dan yang di sana sama – sama tak bisa menginap, nggak ada yang jagain rumah. Nah kamu kan sebentar lagi libur kuliah, Pakde minta tolong, kamu jangan pulang ya, jagain budemu, nanti Pakde akan telapon ayah ibumu mereka pasti akan mengerti...bagaimana...?”
    ”Ya...ba..baiklah Pakde.”
    ”Nah...kamu memang bisa diharapkan. Pakde telepon ayahmu dulu.”
    ”Kalau begtu Farid balik ke kamar dulu deh Pakde, bude...”

    Walau Pakde merendah saat mengatakan ia terpilih, tapi Farid tahu Pakdenya senang dan bangga bisa terpilih, hidungnya saja sampai kembang kempis saat menceritakan hal tadi. Farid pun balik ke kamar. Jujurnya Farid nggak sepenuhnya menyanggupi, mengingat hal istimewa yang bakalan ia dapat dari ibu saat ia pulang. Tapi mau nolak, nggak enak, Pakde sudah sangat baik menerimanya, bahkan membiarkan aku memakai fasilitas internet dan ruang kerjanya. Lagipula...ehem...siapa tahu aku bisa memancing di air jernih....lho nggak salah Rid ? Bukannya memancing di air keruh ? Nggak...nggak salah kok, kalau situasinya Pakde pergi dinas, dan aku hanya tinggal berdua saja, maka namanya itu sudah air jernih hehehe.

    Akhirnya memang orangtuaku tak keberatan, bahkan kata ayah, kalaupun Pakde tak minta dan ayah tahu budeku sendirian, pasti ia juga akan menyuruhku tetap tinggal di sana untuk menemani. Alasan ayah sama denganku, karena mereka sudah berbaik hati mau menerimaku. Ibu bahkan dengan teganya menggodaku saat meneleponku di HP...katanya..Kasihan anakku...libur lagi nih ye....huah...hiks. Nilai ujianku keluar, nilainya lumayan oke, Nilai C nya Cuma satu, sisanya B dan A, tak ada yang mengulang, aku naik tingkat 2.

    Seminggu terakhir menj***** keberangkatan Pakde dan juga karyawan lain yang dikirim mendapat libur seminggu penuh dari kantornya. Kebijakan Perusahaan, buat berkumpul bersama keluarga. Sekalian lembur ngejatah bini...pikir Farid ngeres. Seminggu itu juga Farid yang kini banyak waktu senggang, sibuk membantu Pakdenya men-scan sketsa – sketsa diagram mesin, buku panduan dan catatan atau gambar penting lainnya, lumayan banyak. Pakdenya menyimpannya di USB, biar praktis dan mudah menemukannya kalau dibutuhkan nanti. Akhirnya Pakde berangkat. Selama awal liburan aku paling keluyuran kalau siang, sesekali aku ijin bude meminjam mobil Pakde, keliling agak jauhan sedikit, ngajak temanku atau Yuni, sekalian melumasi mesin mobil karena jarang dipakai. Bude mengijinkan. Tapi setelah seminggu bosan juga keluyuran, aku mulai banyak di rumah, membaca atau nonton film, main internet, juga menemani bude ngobrol. Belum melihat adanya kesempatan memancing di air jernih, mau nekad bisa panjang urusannya. Aku kini lagi asik menemani bude ngobrol di dapur, duduk di bangku kecil, bude lagi asik mencuci dan memotong sayuran. Sambil ngobrol juga nyuci mata ngeliatin lobang lengan daster bude yang lebar itu.

    ”Kamu bosan ya Rid..?”
    ”Ah nggak ko Bude.”
    ”Ah ndak usah bohonglah kamu. Paling kamu lagi mikirin enaknya libur di Jakarta.”
    ”He he...sedikit sih bude, tapi benar kok nggak kenapa. Toh bude sama pakde sudah baik sama Farid selama ini.”
    ”Bude perhatikan kalau malam mingguan, kamu jarang keluar toh, memangnya belum punya gacoan ?”
    ”Belum, masih nyari kok. Belum ada yang nyantol.”
    ”Oh gitu, apa karena kamu sudah punya pacar di Jakarta Rid...?”
    ”Nggak juga...memang belum dapat kok.”
    ”Ya wis...padahal kamu tampangmu bagus juga lho. Kalau kamu mau nanti bude bilangin mbak Sintamu itu, suruh dia nyomblangi kamu.”
    ”Ah...ndak usah toh bude. Biarin saja, nanti juga kalau sudah waktunya pasti ketemu.”

    Ngobrol sih ngobrol, kont01ku sudah ngaceng, ngelihat ketek sama bagian pinggir tetek bude, mana bude nggak pakai BH lagi. Mungkin terasa panas dan pengap kalau dipakai sambil memasak di dapur. Nanggung ah, bude juga nggak tahu. Aku asik saja mengobrol dan mengamati.

    ”Pakdemu kalau ngomong sama bude selalu saja mengatakan senang dengan adanya kamu di sini Rid, maklumlah dari dulu nggak kesampaian pingin punya anak laki. Makanya Pakdemu sudah menganggap kamu sebagai anak lelakinya.”
    ”Farid juga menganggap Pakde sebagai ayah kok.”
    ”Pakdemu itu sebenarnya senang sekali bisa dipercaya dikirim ke Kalimantan. Bude juga tak keberatan. Cuma memang setahun belakangan ini Pakdemu kerjanya terlalu giat, sampai...”
    ”Sampai apa bude...”
    ”Ah..ng..nggak, nggak kenap...lho kamu sedang lihatin apa Rid ?”

    Sebenarnya aku penasaran bude mau ngomong sampai apa sih Pakdeku itu, tapi penasaranku sambil memandangi belahan lengan dasternya. Memang sih bude saat itu lagi mengambil panci dalam lemari atas, otomatis saat lengannya terjulur lobang di lengan daternya makin lebar, nyaris menampakkan sebelah teteknya. Sialnya bude yang salah tingkah karena hampir kelepasan ngomong jadi menoleh tepat saat mataku sedang menatap dengan sangat fokus. Tengsin. Bude memandangku lalu menyadari ke mana arah pandanganku. Harus bisa berkelit nih.

    ”Kamu lihat apa toh Rid...?”
    ”Maaf bude nggak sengaja dan nggak bisa...eh ditolak. Habis mau gimana lagi, awalnya sih Farid berusaha melihat ke bawah, mau bilang bude nggak enak. Tapi lama – lama kan nggak enak ngobrol sambil lihat lantai terus. Tapi benar kok, Farid nggak bermaksud melihat..eh..itu dari lengan daster bude.”
    ”Ya wis..bude paham, memang bukan salah kamu, bude memang nyaman pakai daster begini, adem. Lagian kamu ngapain juga ngelihatin bude yang sudah tua. Masih banyak kok perempuan muda yang cakep.”

    Farid merasa mendapat angin sejuk saat ini, mulai berani ngomongnya.

    ”Ya..awalnya memang tak sengaja kok bude...eh...tapi..anu...maaf..bude jangan marah ya..duh..nggak enak Farid ngomongnya....”
    ”Ngomong saja Rid, nggak kenapa, Bude nggak akan marah kok.”
    ”I..iya...anu i..itu lho...bude masih cantik kok, masih seksi kok. Eh..a..anu...tadi nggak sengaja terlihat, te...tetek bude juga masih bagus, besar dan kencang...ben...benar masih menarik dan seksi. Bude belum tua kok, masih menarik.”
    ”Duh kamu ini bisa saja mujinya. Bude sudah tua begini dibilang cantik, teteknya juga sudah kendor dan turun.”
    ”Ng...nggak kok.”
    ”kamu ini kalau bude bilangin. Ya sudah deh nih coba kamu lihat...”

    Dan budenya dengan santai menarik lengan dasternya ke tengah, memperlihatkan sebelah teteknya...buset...besar banget pikir Farid, pentilnya juga sudah mengacung, kecoklatan, belum lagi lingkaran sekelilingnya yang agak lebar, teteknya sedikit turun tapi masih sangat sangat kencang. Kont01 Farid tak terkendali. Tapi budenya sudah menutup peluang...kembali merapikan dasternya.

    ”Nah percaya kan. Wong bude sudah tua kok. Sudah mandi sana, nggak usah merasa bersalah ya Rid, memang kamu nggak sengaja kok, nemanin bude ngobrol, daster bude saja yang lengannya kelebaran, jadinya kamu serba salah. Sana mandi.”
    “I…iya bude..tapi benar kok,bude masih cantik hehehe.”
    ”hush...kamu ini, cepat mandi sudah siang.”

    Sementara Farid ke kamarnya, budenya hanya nyengir sambil menggelengkan kepala, ada – ada saja anak itu pikirnya. Apa yang membuat dia tertarik sama budenya yang sudah tua ini. Dia lalu ingat, suaminya pernah berkata sambil lalu sewaktu di kamar, di awal Farid baru tinggal sama mereka. Kata suaminya...Sri, kamu sebaiknya mengganti model dastermu, nggak enak ada si farid, diakan sudah besar, takutnya gimana gitu, sungkan sama kamu. Tapi Sri menjawab, nggak kenapa, toh Farid keponakannya, lagian dia ogah ganti model daster, sudah lama menyenangi dan nyaman memakai model begini, adem dan lebih sejuk, dapat angin banyak. Suaminya akhirnya mendiamkan saja dan tak membahas lagi, apalagi suaminya juga tak pernah melihat mata Farid jelajatan. Terus ia berpikir kembali, kalau sekarang murni si Farid nggak sengaja, sulit bagi anak itu mengobrol tanpa melihat....salahku yang lebih besar pikir Sri lagi meneruskan kesibukannya memasak.

    Farid masuk kamarnya, sebenarnya dia bisa saja nekad tadi, tapi belum yakin dengan reaksi budenya, dia juga yakin tadi kalau budenya sebenarnya bermaksud ngomong pakdenya bekerja terlalu giat sampai berpengaruh pada daya seksualitasnya, mengakibatkan stress dan lelah, salah satu faktor penyebab ejakulasi dini. Tapi paling nggak Farid akhirnya bisa dapat melihat tetek budenya, bahkan budenya secara sukarela memperlihatkannya, mulai ada peluang pikir Farid. Ia pun segera mandi, tentu saja sebelumnya ia ber onani ra, melepaskan desakan pada kont01nya. Siangnya budenya memanggilnya untuk makan, budenya bahkan masih memakai daster itu, walau sudah tahu tadi Farid melihat dengan mata melotot isi di balik lengan dasternya. Nampaknya mmang budenya serius hanya menganggap itu suatu hal yang tak disengaja dan tak kuasa dihindarkan. Farid makan dengan sedikit rada canggung. Budenya bersikap netral. Selesai makan budenya bilang mau istirahat sebentar, Farid membawa piring kotor dan mencucinya. Setelah selesai ia mengunci pintu depan, maklum siang begini sepi, takut ada maling, sering kejadian...juga Farid punya agenda lain. Tak lama ia mengetuk pintu kamar budenya. Budenya menyuruhnya masuk Nampak budenya lagi tiduran telentang, Farid duduk di pinggir ranjang. Farid memasang muka menyesal, sambil memijat kaki budenya. Budenya tak melarang, karena memang suka meminta Farid memijat betisnya kalau lagi pegal. Bahkan budenya senang karena saat ini Farid memijat kakinya tanpa ia minta.

    ”Eh..anu..bude..”
    ”Kenapa Rid...kok kayak orang nggak enak hati gitu sih. Kenapa..? Ngomong saja..”
    ”I..itu..tadi...Farid masih merasa bersalah, sudah melihat eh itu tuh...menyesal sekali.”
    ”Ah...sudahlah...kan kamu tadi sudah jujur menerangkan, memang tak kuasa untuk tak melihat. Bude juga punya andil, daster bude memang modelnya begitu.”
    ”I..iya..Farid benar – benar minta maaf.”
    ”Sudahlah Rid, tak masalah. Bude tak marah kok. Lagian apa sih yang menarik dari bude.”

    Farid sengaja diam, menggantung suasana. Ia masih asik memijit betis mulus budenya, memijatnya seenak mungkin, bahkan kini sudah sampai sendi lutut budenya. Farid kembali bicara.

    ”Kalau Farid boleh terus terang, bude nggak marah kan...?”
    ”Ya nggaklah Rid. Ngomong saja. Mau ngomong sama bude saja kok pakai ijin segala.”
    ”I..iya...anu bude, sebenarnya bude memang menarik kok..eh..maaf ya bude, buktinya saat tadi Farid tak sengaja melihat, Farid..eh a..anu...jadi bangun...itu kan membuktikan bude menarik. Eh pahanya mau dipijat sekalian bude ?”
    ”A..apa Rid...ya...ya pijat saja sekalian.”

    Farid lalu agak menaikkan daster budenya, mulai memijat paha montok budenya yang putih bersih. Budenya sendiri sedang memikirkan kata – kata keponakannya ini, makanya tadi agak kaget waktu Farid bertanya soal memijat pahanya. Pikir budenya...kayaknya si Farid lagi merayunya. Iyalah, budenya juga nggak bego – bego amat. Budenya kembali berpikir, memang belakangan ia banyak kecewa. Suaminya, Harno, memang baik dan sayang sama dia. Tapi belakangan ini setiap berhubungan seks selalu saja begitu masalahnya. Baru juga nempel atau goyang sebentar sudah keluar, tak seperti dulu, sangat memuaskan. Ibarat hidangan, makanan pembuka alias rangsangannya bagus, mampu membangkitkan selera, masuk ke hidangan utama...buruk, Hidangan penutup ? Apalagi, hidangan utamanya saja tak memuaskan. Sedikit banyak Sri terganggu juga. Tak bisa lagi menuntaskan gairahnya. Lalu keponakannya ini, nampak sekali sedang berusaha meraih sesuatu, Sri pernah membaca di majalah, memang ada anak muda yang tergila – gila pada wanita dewasa atau paruhbaya, bukan berarti mereka tak suka wanita seusianya, apakah Farid keponakannya ini termasuk salah satunya, tentunya di sini Sri memikirkan tanpa melibatkan masalah hubungan kekeluargaan, murni dari sisi personal. Sri lama menimbang. Dan keponakannya itu juga menarik, tinggi, tegap dan lumayan imut. Jujurnya dia memang belakangan jadi sering sakit kepala, hasrat yang tak tuntas membuatnya mudah uring – uringan, gelisah, pusing. Maafkan aku msa Harno, bukannya aku berkhianat, tapi kalau kau tak tahu, toh tak akan jadi masalah, lagian aku bukannya mencari lelaki asing sama sekali. Kalau sama Farid, terus terang saja Sri bisa mempertimbangkannya sebagai opsi untuk menuntaskan masalahnya belakangan ini. Baiklah Sri membulatkan tekad. Farid, kamu sudah melepas umpan, kini bude akan menangkapnya, tapi bude akan bersenang – senang sedikit, ngerjain kamu.

    ”Eh...tadi kamu bilang apa Rid ? Apanya yang bangun..? Bude nggak paham..?”
    “A..anu..ah nggak deh bude, malu aku…”
    “Sudah ngomong saja…eh sekalian pantat bude kamu pijit, belakangan sering pegal. Pijitan kamu enak dan berasa.”
    ”I..iya bude..eh bude yakin mau tahu apa yang bangun.”
    ”Iya...apaan sih..?”
    ”Itu...eh anu Farid..eh kont01 Farid...maaf ngomongnya kasar.”
    ”Oh itu...nggaklah nggak kasar kok ngomongnya, memang namanya kont01 kan. Eh, kurang berasa pijitannya, kamu angkat saja daster bude...ndak kenapa.”

    Ampun...batin Farid...rejeki nih. Dengan genetar ia singkapkan daster budenya, nampaklah bongkahan pantatnya yang besar, terbungkus CD putih yang ketat. Farid mulai memijatnya, meremasnya sih kalau mau lebih tepat. Tangannya jahil, sehingga ”Tak sengaja” belahan pantat budenya jadi tersingkap dari CD nya. Farid nyaris melotot sampai matanya mau copot, belahan pantat itu dihiasi jembut lebat yang nampaknya menyambung dari bagian m3meknya. Gilaaaa....kont01 Farid nyut – nyutan. Budenya kembali bicara.

    ”Memangnya kalau kont01 kamu bangun, mau kamu apain Rid..? tidurin lagi dong, biar anteng.”
    ”Maunya sih bude, tapi sulit...habis sudah melihat bodi bude yang seksi...bangunnya jadi lama banget.”
    ”Masa sih...? Sekarang masih bangun...? Mana sini coba bude sentuh.”

    Wow...this is too good too be true sorak Farid dalam hati. Budenya masih telentang Nampak menjulurkan tangannya, Farid segera pasang posisi untuk memudahkan tangan budenya menyentuh tonjolan di balik celana pendeknya itu. Sri menjulurkan tangannya, awalnya ia mengira hanya akan menyentuh kont01 keponakannya yang standart – standart sajalah. Tentunya standart menurut jualifikasinya Sri sendiri. Perkakas suaminya juga lumayan mengesankan.Lha..Sri saja doyan banget sama perkakas suaminya. Tapi saat ia menyentuh tonjolan di balik celana keponakannya itu, merabanya, mengira – ngira sizenya, Sri agak bergidik dan bergairah....gilaaaa...ini sih lebih dari standart. Ia hanya memegangnya sebentar, lalu melepasnya lagi, masih senang menggoda Farid.

    ”Iya...memang bangun Rid. Kamu nggak kasihan apa..?”
    ”Maksud bude...? kasihan apaan...?”
    ”Iya...sesak dong itu kont01 kamu, sudah keras begitu, disekap terus dalam celana. Dikasih udara segar dong.”
    ”Ah,,,nggaklah bude, nanti saja, malu sama bude.”
    ”Kamu ini...ngomongnya nggak malu. Sudah bebaskan saja...nggak kenapa, sama bude saja malu. Kayak bude belum pernah lihat kont01 saja sebelum ini. Sana, kamu bebaskan dulu. Sama bude sendiri kok malu.”

    Farid segera melepas celananya, kolornya, melemparnya ke lantai. Kont01nya yang sudah ngaceng mengacung bebas dan tegar berkibar. Budenya masih teletang kembali menjulurkan tangannya, menyetuh perkakas keponkannya yang sudah bebas itu, kini saat tak tertutup celana, Sri merasakan kont01 keponakannya bahkan sangat mengesankan. Ia meraba dan mengelusnya. Farid tentu saja tak merasa perlu protest. Sri melanjutkan percakapan...

    ”Eh...kayaknya kont01 kamu gede juga ya...bude boleh lihat nggak..?”
    ”Boleh saja bude...sama keponakan sendiri saja kok malu hehehehe.”
    ”Ngebalas omongan bude nih ceritanya...dasar nggak mau kalah ya kamu.”

    Budenya segera berbalik, matanya menatap terpesona melihat kont01 Farid. Kini Sri teringat saat ia melihat adiknya Lisna yang wajahnya sangat ceria di pagi itu, waktu ia menginap di sini. Sebenarnya Sri berpikir, kok wajah adiknya ceria seperti wajah istri yang semalam baru dipuaskan suaminya secara maksimal. Kalau melihat kapasitas kont01 si Farid sih, wajar saja kalau adiknya itu ceria. Ia dan naluri kewanitaannya sangat yakin kalau adiknya itu telah melakukan hal itu dengan Farid. Tapi ia tak akan menanyakan atau menegurnya. Apa bedanya dia dengan adiknya. Posisinya saat ini juga sedang mengarah ke sana. Apa yang adiknya lakukan, itu urusannya. Kembali ia berucap

    ”Gede amat...eh bude boleh..eh menghisapnya...sebentar saja....penasaran eh ngerasain.”
    ”Lama juga boleh kok bude.”

    Gong...Farid sudah sangat yakin, this is show time baby...yeah, soraknya dalam hati. Nggak mungkin meleset. Farid segera bergeser bersandar di kepa ranjang. Budenya bangkit, kini posisinya agak menungging, masih mengenakan dasternya. Budenya Nampak masih memandangi kont01nya sebentar. Tangannya lalu mulai menjulur, memainkan dan meremasi biji peler keponakannya itu. Enak dan lihai…biji peler Farid terasa sangat nyaman saat budenya memijatnya, sedikit kuat namun lembut juga dan tak menyakitkan. Benar – benar patent, kalu tak ahli benar, yang ada bisa sakit kalau biji kita diremas kuat. Tapi ini beda, budenya meremasnya kuat sampai batas minimumnya saja. Benar – benar membuat biji peler Farid berdenyut nikmat bahkan saat tangan bibinya sudah tak meremasnya lagi.Tak menunggu jeda, biji pelernay sudah dikenyot dan dikulum sama mulut budenya, sementara tangan bude mengocok kont01nya....buset...ganas juga bude pikir Farid. Asik rasanya saat merasakan biji pelernya seakan mau melesat dari kuluman di ujung bibir budenya itu, geli – geli penuh sensasi yang gimana gitu....

    Puas menservis bijinya, kini lidah bude mulai menjilati kepala kont01nya, memulasnya dengan gerakan melingkar, sesekali menusuk lobang pipisnya. Lidahnya juga mulai menjilati batang kont01nya, tak satu bagianpun terlewatkan. Lambat saja, namun penuh tekanan tenaga pada tiap jilatannya. Akhirnya mulutnya pun mulai menelan kont01nya, kulumannya lembut dan erotis, hisapannya maksimal, juga mulutnya mengocok dengan sangat mantap. Gilllaaaa...ibunya saja sudah sangat enak saat menghisap kont01nya....budenya malah jauh lebih edaaan....mulut budenya mulai ganas, sambil memompa kont01 Farid, tangannya juga meremas dan mengocoki pangkal batang kont01nya. Bibirnya sangat terampil menyentuh bagian kont01nya, memberikan raa basah, geli dan nikmat...campur aduk jadi satu.

    Farid mendesah, tangannya segera membuka kaosnya, ia lalu agak mencondongkan badannya, nggak mau tinggal diam, ia singkap dster budenya, menampakkan kembali bongkahan semok pantatnya itu, dengan kasar ia turunkan CD budenya sampai ke pahanya. Kepalanya mendekat, memandang belahan m3mek budenya yang tebal. Mulutnya segera menciumi belahan m3mek itu, jarinya membelainya, m3mekarkannya. Terasa m3mek bude mulai basah, bude makin hot saja posisi nunggingnya, farid mengagumi keindahan jembut yang menghiasi belahan pantat budenya, juga lobang pantat budenya, tapi nggak terlalu memikirkannya. Ia lalu mulai menjilati dan memainkan lidahnya, sama panasnya dengan permainan budenya. Lobang m3mek yang kemerahan itu makin mekar, farid tanpa ragu langsung menusukkan 3 jari sekaligus, menyodok – nyodok m3mek budenya, yang makin hot saja menggoyangkan pantatnya. Lidahnya agak sulit mencari posisi it1l budenya yang sedng nungging itu...nah ketemu, sudah besar dan maksimal, digoyangkannya dengan cepat dan lincah ke sana kemari. Ketiga jarinya makin cepat dan sudah lengket saat menyodok – nyodok m3mek budenya. Sesekali terdengar desahan budenya yang tertahan aksi hisapan kont01nya. Farid merasakan nikmat menjalar saat mencium aroma wangi yang khas dari m3mek budenya, juga hisapan pada kont01nya makin ganas, seiring makin cepatnya sodokan jari dan permainan lidah Farid di it1l budenya itu.Lama mereka berdua saling menyerang, memberikan kepuasan, akhirnya...budenya mengejang, mengeluarkan orgasmenya. Farid juga nyaris klimaks. Beruntung budenya saat itu menghentikan hisapannya.

    Farid sudah tak sabar, bersiap membaringkan budenya, tapi budenya keburu berdiri, menurunkan celana dalamnya, melemparkannya ke atas tempat tidur. Budenya berucap.

    ”Rid...sabar dulu ya...5 menit saja. Bude ada perlu siapin diri...sabar ya tahan sebentar...”
    ”Duh....tanggung nih bude....”
    ”Iya...iya bude tahu...bude juga sama, tapi nahan 5 menit tak apakan, toh waktu kita masih sangat panjang. Lagian ini juga buat enaknya kamu kok. Bude janji deh...5 menit saja ya.”

    Budenya keluar dari kamar, Farid hanya berbaring rada BeTe, tapi lumayanlah bisa menetralkan kont01nya yang hampir ngecret. Iseng ia ambil CD budenya, menciumi aromanya dengan hidungnya, sambil sesekali mengocok pelan kont01nya. Terdengar suara air di kamar mandi luar....duh bude pikir Farid...padahal tak perlu mandi segala, sudah nanggung juga. Untungnya tak lama budenya kembali, tapi nggak seperti habis mandi...sebodohlah...habis ngapain kek...yang penting farid sudah nggak tahan.

    Baru juga budenya sampai di pinggir tempat tidurnya., Farid sudah menarik lengannya, merebahkannya, dengan gansa farid menciumi bibir dan leher budenya, tangannya meremasi tetek besar budenya, terasa pentil yang mengacung, tak sabar Farid berusaha melucuti dasternya, budenya nyengir melihat ketidaksabaran farid, segera membantu melepaskan daster. Mata Farid menatap rimbunan keteknya saat budenya melepas dasternya adi, segera ia rebahkan kembali budenya, mengangkat lengannya, dan mulai menciumi keteknya, menjilati sambil seseklai menarik – nariknya lembut. Bergantian kiri dan kanan, sangat seksi dan merangsang sekali buat Farid. Lalu akhirnya mulutnya mulai bergerilya di tetek besar yang sudah lama ia idamkan, pentilnya jelas sudah keras dan mengacung, gillaaaa....besarnya, sangat berasa sat lidahnya memainkannya, budenya kelojotan saat ia menghisap pentilnya bergantian dengan kuat.

    Dan budenya juga sudah tak tahan ingin merasakan kedashyatan kont01 keponakannya ini, ia merenggangkan kakinya, lalu tangannya mengarah ke s*****kangan Farid yang masih asik menghisapi pentilnya. Digenggamnya kont01 Farid, membimbingnya menuju lobang m3meknya, blesss,,,kont01 Farid mulai menerobos....budenya nampak bergetar, menikmati kesan yang mendalam saat kont01 Farid sudah amblas seluruhnya. Farid pun sama, diam sejenak menikmati kehangatan m3mek budenya. Lalu ia mulai bergerak memompakan kont01nya...perlahan lalu cepat, tangannya bertumpu menopang tubuhnya, matanya menikmati tetek besar yang bergoyang itu, pompaannya makin cepat...semenit...dua menit...tiga menit...budenya sudah kerap mendesah....

    ”Riiiiddd....Auwww.....Soddoookkkkk....”
    ”Yessss.....Sssttttttt.......Gilaaaaa.....”
    Ooohh......Aaahhhh....”

    Budenya mengejang kuat sekali, bahkan Farid merasakan betapa kont01nya seperti disirami rasa hangat yang besar saat budenya menyemburkan orgasmenya.Farid segera berhenti menyodok, mencabut kont01nya. Dengan cepat ia berbaring sejajar di belakang budenya. Memiringkan tubuh budenya. Budenya yang tahu keinginan keponakannya ini, lalu mengangkat stu kakinya agak ke atas, membuka jalur buat kont01 Farid....dan blessss, kembali Farid memompa kont01nya, kali ini budenya memberikan perlawanan, mennoyangkan pantatnya berlawanan dengan gerkan sodokan Farid, membuat kont01 Farid serasa dibetot. Sodokannya makin kuat.
    Satu tangannya memegang panhkal lengan budenya, mengelus dan memainkan rimbunan keteknya. Tangan yang lain membelai mesra dan meremasi tetek besar budenya itu, bibirnya asik berciuman dengan ganas. Sementara budenya menambah kepuasannya sendiri dengan memainkan it1lnya menggunakan jarinya sendiri. Nggak ku ku deh.....kurang apalagi enaknya hidup ini pikir Farid. Makin kuat saja ia menyodokkan kont01nya, desahan budenya seperti penyiram energi bagi nafsu mereka, keringat mereka mulai mengalir, tapi tak mengurangi sedikitpun keasikan mereka. Kont01nya menerobos lancar keluar masuk, menghantam lobang m3mek budenya, bahkan gerakan pantat budenya makin heboh memberikan perlawanan, Farid memang sudah lama terobsesi sama budenya, makanya di saat pertama ini ia benar – benar sulit mengatur emosinya yang menggelora, sodokannya sangat cepat, dan akhirnya berbarengan dengan budenya yang mencapai klimaks....ia pun mencapai puncaknya juga, terkulai lemas. Diam sejenak, ia cabut kont01nya. Berdua berbaring dalam diam agak lama. Kont01nya sudah pulih dan mengacung lagi. Dia hanya melihat budenya membuka laci, mengambil handuk dan botol berisi cairan bening. Budenya lalu menyeka bersih kont01nya juga m3meknya, lalu mulai berbicara...

    ”Pintar kamu Rid...lagipula sekarang sudah bangun lagi hehehe.”
    ”Ya...semangat muda bude, masih menggelora, juga budenya memang hot sih.”
    ”Yuk lanjut...tapi bude mau kamu sodok dari pantat...”
    ”Pantat...?”
    ”Iya...memangnya kamu belum pernah...?”
    ”Be..belum...”

    Budenya nyengir saja, mengambil botol yang ternyata baby oil. Budenya lalu melanjutkan pembicaraan.

    ”Tenang saja, sama saja kok enaknya dengan lobang m3mek. Nah saat melihat kont01 kamu tadi tadi itu, bude nggak bisa nahan diri...bude pikir pasti enak kalau kont01 kamu nyodok pantat bude. Juga sudah agak lama bude nggak disodok pantatnya sama Pakdemu. Makanya tadi bude keluar sebentar ke kamar mandi buat bersihin daerah itu,biar kamunya enak dan juga lancar nyodok tanpa gangguan. Yuk...mau nyobain nggak...?”
    ”Ma...mau dong bude.”
    ”Nah sekarang kamu mainin dulu sambil siramin baby oil ini ke lobang pantat bude, tenang saja sudah bersih. Kalau ndak dikasih oil, bude agak sakit pas disodok.”

    Tentu saja Farid tak menyiakan kesempatan ini, ia belum pernah sih menyodok dari lobang pantatnya. Dengan pacarnya dulu, ia juga sudah cukup puas menyodok lobang m3meknya. Kini budenya mulai berbring, lalu melipat kedua kakinya, dan melebarkannya, pantatnya terangkat tinggi, menampakkan lobang m3meknya tang memerah bekas disodok tadi, juga lobang pantatnya yang masih kecil. Agak ragu Farid mendekatkan mulutnya, nampak jembut sedikit menghiasi sekelilingnya, ternyata tak berbau, malah wangi sabun. Farid mulai menjilatinya dengan lidahnya, lobang itu kelamaan menjadi mekar...setelah agak lama budenya kembali mengarahkannya.

    ”Sodok – sodok pakai jari kamu Rid. Jangan lupa disirami baby oil...Ughhhh...”

    Farid segera menusukkan jari engahnya, bude Sri agak mengerang, membuat ragu Farid, tap mata budenya segera meyakinkannya untuk terus, ia buka tutup baby oil, menyiramnya sebanyak mungkin ke lobang pantat dan jarinya. Jari tengahnya mulai menyodok dengan lancar, lobang pantat bude mulai mekar, sesekali bude nampak enggoyangkan pantatnya, Farid makin menyukai hal baru ini, ia tuangkan lagi baby oil, kini bahkan ia menyodok lobang pantat budenya dengan jari tengah dan jari telunjuk sekaligus, lobangnya makin lebar, desahan budenya makin kuat. Lama sekali ia menyodok lobang pantat budenya...budenya kembali berucap...

    ”Ayoooo Riiid...masukkin...pakaiiii....kontoooolllmuuu...A ww....”

    Farid segera melepaskan jarinya, secara naluriah ia menyiramkan baby oil ke kont01nya, ia tutup botol itu, dilemparnya sembarang. Kaki budenya yang terlipat makin lebar saja mengangkan, lobang pantatnya sudah mulai merekah lebar kemerahan. Farid memposisikan diri...sekali meleset, kedua sama saja...budenya membantu...digenggamnya kont01 keponakannya itu, diarahkan ke lobang pantatnya, perlahan kepala kont01 Farid menerobos...perlahan namun pasti...

    ”Aaaahhh....Auhhh...Gilaaaa...Terusssss saaajjaaa...Riiiiddd...”

    Ekspresi wajah budenya agak mengernyit sedikit, sementara kont01 Farid sudah amblas seluruhnya, Farid mendiamkan, rasanya kont01nya dicengkram dengan sangat kuat. Akhirnya ia mulai memompa, masih seret di awalnya, juga budenya agak mengerang...lama – lama seiring lobang pantat bude yang makin mekar, kont01nya dapat memompa dengan leluasa.....sumpaaahhh, Farid membatin, enak banget, mesti praktekkin sama ibu nih.Kont01nya menyodok kuat dan cepat, bibinya mendesah tak eruan, matanya merem melek, Farid makin nafsu dan makin cepat menyodok....budenya sesekali menggiyangkan pantatnya, akhirnya mengejang...orgasme lagi, farid masih asik saja menyodok pantat itu, kini bisa leluasa mendekatkan tubuhnya ke tubuh budenya, tangannya kembali meremas dengan kuat tetek budenya. Sebagai variasi ia cabut kont01nya, menyodoknya ke lobang m3mek budenya yang sudah menganga lebar, disodok dengan kuat dan dalam, sampai –sampai bude Sri merasa agak sesak namun nikmat...lumayan lama ia menyodok m3mek budenya, ia cabut lagi, mengarahkan kont01nya kembali ke lobang pantat budenya. Kali ini mudah saja, karena lobang pantat itu juga sudah menganga lebar. Terasa hangat dan penuh cengkraman pada kont01nya. Ia maju mundurkan pantatnya, memompa dan menyodok dengan cepat dan stabil, bibirnya kembali menciumi bibir budnya yang membalasnya dengan tak kalah ganas. Plok...plok...bunyi pahanya yang beradu dengan belahan pantat montok budenya sat ia menyodok ke dalam makin menambah tinggi suasana penuh rangsangan ini. Keringat nampak mengaliri wajah Farid, tapi ia belum klimaks, ia makin ganas saja menyodok...lagi...dan lagi...dan.....lagi.....akhirnya denyut nikmat pada kont01nya menandakan ia mendekati klimaks, ia peluk kuat budenya, menciumnya dengan hangat, satu sodokan kuat ke lobang pantat bude Sri mengakhiri semuanya...crooot....crooot. pejunya memuncrat membasahi lobang pantat budenya. Farid mencabut kont01nya, lalu berbaring lemas. Budenya segera mendekati kont01nya, menjilati sampai bersih sisa peju yang menempel. Puas banget si Farid. Setelah suasana mulai adem, budenya membuka kembali percakapan...

    ”Jadi...gimana Rid...masih berpendapat budemu ini masih cantik dan seksi...?”
    ”Pastilah bude. Bahkan untuk selanjutnya juga Farid nggak bakalan bosan nyodokin bude...itu juga kalau bude mau hehehe...”
    ”Ya wislah...tapi ingat...”
    ”Iya...iya Farid tahu...jangan sampai Pakde tahu kan...beres deh.”
    ”Hehe...pintar kamu. Sebenarnya tadi bude lupa blang, tapi juga nggak masalah sih.Kamunya juga sudah bgecret di dalam. Memang tak bakalan masalah. Bude sudah tak bakalan hamil kok hehehe.”

    Mereka masih asik berbicara sambil bercanda. Sepanjang hari itu dan juga hari – hari esoknya mereka habiskan dengan saling bergumul memuaskan pasangannya. Tentu saja ada hambatan, kadang kalau siang mbak Sinta suka datang berkunjung ke ibunya, untung setiap kali ngewek pintu selalu terkunci. Jadi mbak Sinta akan menunggu sampai pintu dibuka entah oleh farid atau bude Sri yang memasang muka seperti orang habis tidur. Di kedepannya untuk kenyamanan, bude Sri meminta agar mbak Sinta sebelum datang menelepon dulu ke Hpnya, takutnya di sini pada tidur siang, jadi telepon dulu, supaya saat kamu datang, sudah dibukakan pintu, itu alasan bude, dan mbak Sinta tak curiga sedikitpun.

    Pakde Harno memang pulang di akhir bulan, dapat jatah pulang seminggu. Saat pakdenya tiba, Farid memutuskan ijin pulang ke jakarta, akan balik saat Pakdenya berangkat kembali. Ia kangen sama ayahnya...terutama ibunya. Lagipula Farid mau memberikan waktu pada Pakdenya. Mungkin belakangan ia sudah santai, tak stress atau mengalami tekanan pekerjaan sehingga bisa membaik dari ejakulasi dininya. Sebagai insinyur mesin, kini saatnya ia turun mesin, membenarkan perkakasnya sendiri. Farid memutuskan menemui Lisna, ibunya, sekaligus mempraktekkan beberapa gaya yang ia dapat dari bude Sri. Toh nanti kalau ia balik ke Yogya, dan mulai kuliah lagi, sepanjang siang sampai sore bude Sri bisa ia garap sepuasnya.

    Bude Sri sendiri menikmati babak baru kehidupan seksnya sama keponakannya Farid. Memang akhirnya suaminya bisa membaik, ternyata suaminya dulu mengalami ejakulasi dini karena stress memikirkan apakah dirinya akan terpilih atau tidak untuk proyek kerjasama dengan perusahaan pertambangan. Walau suaminya sudah membaik, bude Sri sudah kadung doyan sama kont01nya Farid, makin banyak makin nikmat...itu prinsipnya. Juga sama sekali tak bertanya pada adiknya Lisna atau Farid mengenai apakah mereka juga sudah melakukan hubungan seks. Apa bedanya sih sama aku pikir Sri. Toh Lisna juga sama...mencari sedikit tambahan kenikmatan.

    Farid sendiri tetap melanjutkan kuliahnya, lalu hubungannya dengan Yuni..? Ah biarlah, slowly but sure, itu bagian cerita lain dalam hidupnya. Toh saat ini ada ibu dan bude yang sudah cukup menguras energinya. Farid tak menyesali aksinya yang rada terlambat...biar bagaimanapun...Biar Lambat Asal....Nikmat.

  4. #3
    Virgin bb04's Avatar

    Join Date: Oct 2009

    Posts: 5

    Thanks: 0

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default yeah

    bagus juga ne ceritanya

  5. #4
    Virgin mbeling's Avatar

    Join Date: Jun 2011

    Posts: 20

    Thanks: 0

    Thanked 3 Times in 3 Posts

    Default milf lover

    toooooooooooooops abiiiiiiiiiiiiiz nih cerita . Lanjuuuuuuuuuuuut booooz . Ceritanya .

  6. #5
    Tukang Ngintip theguy's Avatar

    Join Date: Jun 2011

    Posts: 75

    Thanks: 24

    Thanked 1 Time in 1 Post

    Default

    oke bgt nih ceritanya, sesuai judulnya biar lambat asal nikmat hehehe

  7. #6
    Tukang Ngintip cacads's Avatar

    Join Date: Jun 2009

    Posts: 50

    Thanks: 3

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    mantap nih cerita
    biar lambat yg penting nikmat

  8. #7
    Penjahat Kelamin TheAlfonso's Avatar

    Join Date: Feb 2011

    Location: dunia maya

    Posts: 1,617

    Thanks: 490

    Thanked 186 Times in 40 Posts

    Default

    lanjutkan dong.........heheheh

  9. #8
    Virgin didikur's Avatar

    Join Date: Jul 2011

    Posts: 10

    Thanks: 0

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    Imaginatif....ngeceng abisss....

  10. #9
    Just Married bokepers's Avatar

    Join Date: Apr 2008

    Posts: 307

    Thanks: 269

    Thanked 38 Times in 30 Posts

    Default

    incest ....
    mantap banget

  11. #10
    Tukang Ngintip putrariot's Avatar

    Join Date: Jun 2010

    Posts: 51

    Thanks: 14

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    ngaceng ane gan.. hahah

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •