pokerlounge
Maxbet  Kaskus303
Indobokepz - Indonesian Movie and Picture Community
royalwin

 

Sundulbet

 

RumahTaruhan88 Saranapoker idr77



ZonaJudi



Bola54
Alpha4D bola24
pokerace99 togelplus
AonCash AonCash
MacauOnlineBet tglplus
pokerclub BandarJakarta
Royal188 Fairbet88
Royal188 raja303

 

Results 1 to 2 of 2

Thread: Ibu-Ibu Arisan

  1. #1
    Penjahat Kelamin invoker's Avatar

    Join Date: Apr 2008

    Posts: 1,400

    Thanks: 292

    Thanked 10,811 Times in 874 Posts

    Arrow Ibu-Ibu Arisan

    Awal mula dari cerita ini adalah ketika saya baru saja tinggal di sebuah
    daerah perumahan yang relatif baru di daerah pinggiran kota - maaf, nama daerah
    tersebut tidak saya sebutkan mengingat untuk menjaga nama baik dan harga diri
    keluarga terutama suami dan kedua anak saya. Saya tinggal di situ baru sekitar 6
    bulanan.
    Karena daerah perumahan tersebut masih baru maka jumlah keluarga yang
    menempati rumah di situ masih relatif sedikit tetapi khusus untuk blok daerah
    rumah saya sudah lumayan banyak dan ramai. Rata-rata keluarga kecil seperti
    keluarga saya juga yaitu yang sudah masuk generasi Keluarga Berencana, rata-rata
    hanya mempunyai dua anak tetapi ada juga yang hanya satu anak saja.
    Sudah seperti biasanya bila kita menempati daerah perumahan baru, saya
    dengan sengaja berusaha untuk banyak bergaul dengan para tetangga bahkan juga
    dengan tetangga-tetangga di blok yang lain. Dari hasil bergaul tersebut timbul
    kesepakatan di antara ibu-ibu di blok daerah rumahku untuk mengadakan arisan
    sekali dalam sebulan dan diadakan bergiliran di setiap rumah pesertanya.
    Suatu ketika sedang berlangsung acara arisan tersebut di sebuah rumah yang
    berada di deretan depan rumahku, pemilik rumah tersebut biasa dipanggil Bu Soni
    (bukan nama sebenarnya) dan sudah lebih dulu satu tahun tinggal di daerah
    perumahan ini daripada saya. Bu Soni bisa dibilang ramah, banyak ngomongnya dan
    senang bercanda dan sampai saat tulisan ini aku buat dia baru mempunyai satu
    anak, perempuan, berusia 8 tahun walaupun usia rumah tangganya sudah 10 tahun
    sedangkan aku sudah 20 tahun. Aku menikah ketika masih berusia 22 tahun.
    Suaminya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan kehidupannya juga bisa dibilang
    kecukupan.
    Setelah acara arisan selesai saya masih tetap asyik ngobrol dengan Bu Soni
    karena tertarik dengan keramahan dan banyak omongnya itu sekalipun ibu-ibu yang
    lain sudah pulang semua. Dia kemudian bertanya tentang keluargaku, "Jeng Mar.
    Putra-putranya itu sudah umur berapa, sih, kok sudah dewasa-dewasa, ya?" (Jeng
    Mar adalah nama panggilanku tetapi bukan sebenarnya) tanya Bu Soni kepadaku.
    "Kalau yang pertama 18 tahun dan yang paling ragil itu 14 tahun. Cuma yaitu Bu,
    nakalnya wah, wah, waaaaaaa.....aaah bener-bener, deh. Saya, tuh, suka capek
    marahinnya."
    "Lho, ya, namanya juga anak laki-laki. Ya, biasa lah Jeng."
    "Lebih enak situ, ya. Anak cuma satu dan perempuan lagi. Nggak bengal."
    "Ah, siapa bilang Jeng Mar. Sama kok. Cuma yaitu, saya dari dulu, ya, cuma satu
    aja. Sebetulnya saya ingin punya satu lagi, deh. Ya, seperti situ."
    "Lho, mbok ya bilang aja sama suaminya. Eeee...siapa tahu ada rejeki, si putri
    tunggalnya itu bisa punya adik. Situ juga sama suaminya 'kan masih sama-sama
    muda."
    "Ya, itulah Jeng. Papanya itu lho, suka susah. Dulu, ya, waktu kami mau mulai
    berumah tangga sepakat untuk punya dua aja. Ya, itung-itung mengikuti program
    pemerintah, toh, Jeng. Tapi enggak tau' lah papanya tuh. Kayaknya sekarang malah
    tambah asik aja sama kerjaannya. Terlalu sering capek."
    "O, itu toh. Ya, mbok dikasih tau aja kalau sewaktu-waktu punya perhatian sama
    keluarga. 'Kan yang namanya kerja itu juga butuh istirahat. Mbok dirayu lah
    gitu."
    "Wah, sudah dari dulu Jeng. Tapi, ya, tetep susah aja, tuh. Sebenernya ini, lho,
    Jeng Mar. Eh, maaf, ya, Jeng kalo' saya omongin. Tapi Jeng Mar tentunya juga tau
    donk masalah suami-istri 'kan."
    "Ya, memang. Ya, orang-orang yang sudah seperti kita ini masalahnya sudah
    macem-macem, toh, Bu. Sebenarnya Bu Soni ini ada masalah apa, toh?"
    "Ya, begini Jeng, suami saya itu kalo' bergaul sama saya suka cepet-cepet mau
    rampung aja, lho. Padahal yang namanya istri seperti kita-kita ini 'kan juga
    ingin membutuhkan kenikmatan yang lebih lama, toh, Jeng."
    "O, itu, toh. Mungkin situ kurang lama merayunya. Mungkin suaminya butuh variasi
    atau model yang agak macem-macem, gitu."
    "Ya, seperti apa ya, Jeng. Dia itu kalo' lagi mau, yang langsung aja. Saya
    seringnya nggak dirangsang apa-apa. Kalo' Jeng Mar, gimana, toh? Eh, maaf lho,
    Jeng."
    "Kalo' saya dan suami saya itu saling rayu-merayu dulu. Kalo' suami saya yang
    mulai duluan, ya, dia biasanya ngajak bercanda dulu dan akhirnya menjurus yang
    ke porno-porno gitulah. Sama seperti saya juga kalo' misalnya saya yang mau
    duluan."
    "Terus apa cuma gitu aja, Jeng."
    "O, ya tidak. Kalo' saya yang merayu, biasanya punya suami saya itu saya
    pegang-pegang. Ukurannya besar dan panjang, lho. Terus untuk lebih
    menggairahkannya, ya, punyanya itu saya enyot dengan mulut saya. Saya
    isep-isep."
    "Iiiii....iiih. Jeng Mar, ih. Apa nggak jijik, tuh? Saya aja membayangkannya
    juga udah geli. Hiiiii............."
    "Ya, dulu waktu pertama kali, ya, jijik juga, sih. Tetapi suami saya itu selalu
    rajin, kok, membersihkan gituannya, jadi ya lama-lama buat saya enak juga.
    Soalnya ukurannya itu, sih, yang lumayan besar. Saya sendiri suka gampang
    terangsang kalo' lagi ngeliat. Mungkin situ juga kalo' ngeliat, wah pasti
    kepengen, deh."
    "Ih, saya belon pernah, tuh, Jeng. Lalu kalo' suaminya duluan yang mulai
    begimana?"
    "Saya ditelanjangi sampai polos sama sekali. Dia paling suka merema-remas
    payudara saya dan juga menjilati putingnya dan kadang lagaknya seperti bayi yang
    sedang mengenyot susu." , kataku sambil ketawa dan tampak Bu Soni juga tertawa.
    "Abis itu badan saya dijilati dan dia juga paling suka menjilati kepunyaan saya.
    Rasanya buat saya, ya, enak juga dan biasanya saya semakin terangsang untuk
    begituan. Dia juga pernah bilang sama saya kalo' punya saya itu semakin enak dan
    saya disuruh meliara baik-baik."
    "Ah, tapi untuk yang begituan itu saya dan suami saya sama sekali belum pernah,
    lho, Jeng. Tapi mungkin ada baiknya untuk dicoba juga, ya, Jeng. Tapi tadi itu
    masalah yang situ dijilatin punyanya. Rasa enaknya seperti apa, sih, Jeng."
    "Wah, Bu Soni ini, kok, seperti kurang pergaulan aja, toh."
    "Lho, terus terang Jeng. Memang saya belon pernah, kok."
    "Ya, geli-geli begitulah. Susah juga untuk dijelasin kalo' belum pernah
    merasakan sendiri." Lalu kami berdua tertawa.
    Setelah berhenti tertawa, aku bertanya, "Bu Soni mau tau rasanya kalau
    gituannya dijilati?"
    "Yah, nanti saya rayu, deh, suami saya. Mungkin enak juga ya." Ucapnya sambil
    tersenyum.
    "Apa perlu saya dulu yang coba?", tanyaku sambil bercanda dan tersenyum.
    "Hush!! Jeng Mar ini ada-ada aja, ah", sambil tertawa.
    "Ya, biar tidak kaget ketika dengan suaminya nanti. Kita 'kan juga sama-sama
    wanita."
    "Wah, kayak lesbian aja. Nanti saya jadi ketagihan, lho. Malah takutnya lebih
    senang sama situ daripada sama suami saya sendiri. Ih! Malu' akh.", sambil
    tertawa.
    "Atau kalo' nggak mau gitu, nanti saya kasih tau gimana membuat penampilan bulu
    gituannya biar suaminya situ tertarik. Kadang-kadang bentuk dan penataannya juga
    mempengaruhi rangsangan suami, lho, Bu Soni."
    "Ah, Jeng ini."
    "Ee! Betul, lho. Mungkin bentuk bulul-bulu gituannya Bu Soni penampilannya
    kurang merangsang. Kalo' boleh saya lihat sebentar gimana?"
    "Wah, ya, gimana ya. Tapiiiii.......ya boleh, deh. Eh, tapi saya juga boleh liat
    donk punyanya situ. Sama-sama donk, 'kan kata Jeng tadi kita ini sama-sama
    wanita."
    "Ya, 'kan saya cuma mau bantu situ supaya bisa usaha untuk punya anak lagi."
    "Kalo' gitu kita ke kamar aja, deh. Suami saya juga biasanya pulang malam. Yuk,
    Jeng."
    Langsung kita berdua ke kamar Bu Soni. Kamarnya cukup tertata rapi, tempat
    tidurnya cukup besar dan dengan kasur busa. Di dindingnya ada tergantung
    beberapa foto Bu Soni dan suaminya dan ada juga foto sekeluarga dengan anaknya
    yang masih semata wayang. Saya kemudian ke luar sebentar untuk telepon ke rumah
    kalau pulangnya agak telat karena ada urusan dengan perkumpulan ibu-ibu dan
    kebetulan yang menerima suamiku sendiri dan ternyata dia setuju saja.
    Setelah kita berdua di kamar, Bu Soni bertanya kepadaku, "Bagaimana Jeng?
    Kira-kira siap?"
    "Ayolah. Apa sebaiknya kita langsung telanjang bulat aja?"
    "OK, deh.", jawab Bu Soni dengan agak tersenyum malu. Akhirnya kita berdua mulai
    melepas pakaian satu-persatu dan akhirnya polos lah semua. Bulu jembut Bu Soni
    cukup lebat juga hanya bentuknya keriting dan menyebar, tidak seperti miliku
    yang lurus dan tertata dengan bentuk segitiga ke arah bawah. Lalu aku menyentuh
    payudaranya yang agak bulat tetapi tidak terlalu besar, "Lumayan juga, lho, Bu."
    Lalu Bu Soni pun langsung memegang payudaraku juga sambil berkata, "Sama juga
    seperti punya Jeng." Aku pun minta ijin untuk mengulum kedua payudaranya dan dia
    langsung menyanggupi.
    Kujilati kedua putingnya yang berwarna agak kecoklat-coklatan tetapi
    lumayan enak juga. Lalu kujilati secara keseluruhan payudaranya. Bu Soni nampak
    terangsang dan napasnya mulai memburu. "Enak juga, ya, Jeng. Boleh punya Jeng
    saya coba juga?"
    "Silakan aja.", ijinku. Lalu Bu Soni pun melakukannya dan tampak sekali kalau
    dia masih sangat kaku dalam soal sex, jilatan dan kulumannya masih terasa kaku
    dan kurang begitu merangsang. Tetapi lumayanlah, dengan cara seperti ini aku
    secara tidak langsung sudah menolong dia untuk bisa mendapatkan anak lagi.
    Setelah selesai saling menjilati payudara, kami berdua duduk-duduk di atas
    tempat tidur berkasur busa yang cukup empuk. Aku kemudian memohon Bu Soni untuk
    melihat vaginanya lebih jelas, "Bu Soni. Boleh nggak saya liat gituannya? Kok
    bulu-bulunya agak keriting. Tidak seperti milik saya, lurus-lurus dan lembut."
    Dengan agak malu Bu Soni membolehkan, "Yaaa.....Silahkan aja, deh, Jeng." Aku
    menyuruh dia, "Rebahin aja badannya trus tolong kangkangin kakinya yang lebar."
    Begitu dia lakukan semuanya terlihatlah daging vagina yang memerah segar dengan
    bibirnya yang sudah agak keluar dikelilingi oleh jembut yang cukup lebat dan
    keriting. Mmmmm....cukup merangsang juga penampilannya.
    'Ku dekatkan wajahku ke vaginanya lalu aku katakan kepada Bu Soni bahwa
    bentuk kemaluannya sudah cukup merangsang hanya saja akan lebih indah
    pemandangannya bila jembutnya sering disisir agar semakin lurus dan rapi seperti
    miliku. Lalu kusentuh-sentuh daging vaginanya dengan tanganku, empuk dan tampak
    cukup terpelihara baik, bersih dan tidak ada bau apa-apa. Nampak dia agak
    kegelian ketika sentuhan tanganku mendarat di permukaan tititnya dan dia
    mengeluh lirih, "Aduh, geli, lho, Jeng."
    "Apa lagi kalo' dijilat, Bu Soni. Nikmat, deh. Boleh saya coba?"
    "Aduh, gimana, ya, Jeng. Saya masih jijik, sih."
    "Makanya dicoba.", kataku sambil kuelus salah satu pahanya.
    "Mmmmm.....ya, silakan, deh, Jeng. Tapi saya tutup mata aja, ah."
    Lalu kucium vaginanya sekali, chuph!! "Aaa...aah.", Bu Soni mengerang dan
    agak mengangkat badannya. Lalu kutanya, "Kenapa? Sakit, ya?" Dia menjawab, "Geli
    sekali." "Saya teruskan, ya?" Bu Soni pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
    Kuciumi lagi vaginanya berkali-kali dan rasa geli yang dia rasakan membuat kedua
    kakinya bergerak-gerak tetapi kupegangi kedua pangkal pahanya erat-erat.
    Badannya bergerinjal-gerinjal, pantatnya naik turun. Uh! Pemandangan yang lucu
    sekali, aku pun sempat ketawa melihatnya. Saya keluarkan lidah dan saya
    sentuhkan ujungnya ke bibir tititnya berkali-kali. Oh! Aku semakin terbawa
    napsu. Kujilati keseluruhan permukaan vaginanya, gerakanku semakin cepat dan
    ganas. Oh, Bu Soni, vaginamu nikmaaaaa...aaat sekali.
    Aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Semua terkonsentrasi pada pekerjaan
    menjilati titit Bu Soni. Emmmm....Enak sekali. Terus kujilati dengan penuh
    napsu. Pinggir ke tengah dan gerakan melingkar. Kumasukan lidahku ke dalam celah
    bibir vaginanya yang sudah mulai membuka. Ouw! Hangat sekali dan cairannya mulai
    keluar dan terasa agak asin dan baunya yang khas mulai menyengat ke dalam lubang
    hidungku. Tapi aku tak peduli, yang penting rasa vagina Bu Soni semakin lezat
    apalagi dibumbui dengan cairan yang keluar semakin banyak. Kuoleskan ke seluruh
    permukaan tititnya dengan lidahku. Jilatanku semakin licin dan seolah-olah semua
    makanan yang ku makan pada saat acara arisan tadi rasanya tidak ada apa-apanya.
    Badan Bu Soni bergerinjal semakin hebat begitu juga pantatnya naik-turun dengan
    drastis. Dia mengerang lirih, "Aaaaa.......ah, eeeee...eekh, eeee...eekh,
    Jeee.....eeeng, auw, oooo....ooooh. Emmmmm....mmmh. Hah, hah, hah,.....hah." Dan
    saat mencapai klimaks dia merintih, "Aaaaaa....... aaaaaa.......
    aaaaa.....aaaaa....aaaaah." Cairan vaginanya keluar agak banyak dan deras. OK,
    nampaknya Bu Soni sudah mencapai titik puncaknya.
    Tampak Bu Soni terlentang lemas dan 'ku tanya, "Bagaimana? Enak? Ada rasa
    puas?"
    "Lumayan enak, Jeng. Situ nggak jijik, ya."
    "'Kan sudah biasa juga sama suami." Kemudian aku bertanya sembari bercanda,
    "Situ mau coba punya saya juga?"
    "Ah, Jeng ini. Jijik 'kan.", sembari ketawa.
    "Yaaa....mungkin belon dicoba. Punya saya selalu bersih, kok. 'Kan suami saya
    selalu mengingatkan saya untuk memeliharanya." Kemudian Bu Soni agak berpikir,
    mungkin ragu-ragu antara mau atau tidak. Lalu, "Boleh, deh, Jeng. Tapi saya
    pelan-pelan aja, ah. Nggak berani lama-lama."
    "Ya, ndak apa-apa. 'Kan katanya situ belum biasa. Betul? Mau coba?" tantangku
    sembari senyum. Lalu dia cuma mengangguk. Kemudian aku menelentangkan badanku
    dan langsung 'ku kangkangkan kedua kakiku agar terlihat tititku yang masih OK
    punya. Tampak Bu Soni mulai mendekatkan wajahnya ke vaginaku lalu berkata, "Wah,
    Jeng bulu-bulunya lurus, lemes dan teratur. Pantes suaminya selalu bergairah."
    Aku hanya tertawa.
    'Tak lama kemudian 'ku rasakan sesuatu yang agak basah menyentuh tititku.
    Kepalaku 'ku angkat dan terlihat Bu Soni mulai berani menyentuh-nyentuhkan ujung
    lidahnya ke memekku. Kuberi dia semangat, "Terus, terus, Bu. Saya merasa enak,
    kok."
    Dia hanya memandangku dan tersenyum. Kurebahkan lagi seluruh tubuhku dan
    kurasakan semakin luas penampang lidah Bu Soni menjilati titit saya. Oh! Aku
    mulai terangsang. Emmm.....mmh. Bu Soni sudah mulai berani. Oooooo.....oooh
    nikmat sekali. Sedaaa...aap. Terasa semakin lincah gerakan lidahnya, 'ku angkat
    kepalaku dan kulihat Bu Soni sudah mulai tenggelam dalam kenikmatan, rupanya
    rasa jijik sudah mulai sirna. Gerakan lidahnya masih terasa kaku, tetapi ini
    sudah merupakan perkembangan. Syukurlah. Mudah-mudahan dia bisa bercumbu lebih
    hebat dengan suaminya nanti.
    Lama-kelamaan semakin enak. Aku merintih nikmat, "Emmmm....mmmh. Ouw.
    Aaaaa....aaaah, aaaaa......aaaah. Uuuuu......uuuuh. Te.....te....rus.
    Teruuuu.....uuus." Bibir memekku terasa dikulum oleh bibir mulut Bu Soni. Terasa
    dia menciumi tititku dengan napsu. Emmm.....mmmh, enaknya. Untuk lebih enak Bu
    Soni kusuruh, "Pegang dan elus-elus paha saya. Enak sekali Bu." Dengan spontan
    kedua tangannya langsung mengayunkan elusannya di pahaku. Dia mainkan sampai
    pangkal paha. Bukan main! Sudah sama layaknya aku main dengan suamiku sendiri.
    Terlihat Bu Soni sudah betul-betul asyik dan sibuk menjilati memekku. Gerakan ke
    atas-ke bawah melingkar keseluruh vaginaku. Seolah-olah dia sudah mulai
    terlatih.
    Kemudian 'ku suruh dia untuk menyisipkan lidahnya ke dalam memekku.
    Dahinya agak berkerut tetapi dicobanya juga dengan menekan lidahnya ke lubang di
    antara bibir memek saya. Aaaaa.....aaakh! Nikmat sekali. Aku mulai naik untuk
    mencapai klimaks. Kedua tangannya terus mengelus kedua pahaku tanpa henti. Aku
    mulai naik dan terasa lubang tititku semakin hangat, mungkin lendir memekku
    sudah banyak yang keluar. Akhirnya aku pun mencapai klimaks dan aku merintih,
    "Aaaaaa.......aaaaah, uuuuuuh". Sialan Bu Soni tampaknya masih asik menjilati
    sedangkan badanku sudah mulai lemas dan lelah. Bu Soni pun bertanya karena gerak
    kaki dan badanku berhenti, "Gimana, Jeng?" Aku berkata lirih sambil senyum
    kepadanya, "Jempolan. Sekarang Bu Soni sudah mulai pinter." Dia hanya tersenyum.
    'Ku tanya kembali, "Bagaimana? Situ masih jijik nggak?"
    "Sedikit, kok.", jawabnya sembari tertawa, dan akupun ikut tertawa geli.
    "Begitulah Bu Soni. Mudah-mudahan bisa dilanjutkan lebih mesra lagi dengan
    suaminya, tetapi jangan bilang, lho, dari saya."
    "Ooo..., ya, ndak, toh, Jeng. Saya 'kan juga malu. Nanti semua orang tahu
    bagaimana?"
    "Sekarang yang penting berusaha agar putrinya bisa punya adik. Kasihan, lho,
    mungkin sejak dulu dia mengharapkan seorang adik."
    "Ya, mudah-mudahan lah, Jeng. Rejeki akan segera datang. Eh! Ngomong-ngomong,
    Jeng mau nggak kalo' kapan-kapan kita bersama kayak tadi lagi?"
    "Naaaa........., ya, sudah mulai ketagihan, deh. Yaaaaa, itu terserah situ saja.
    Tapi saya nggak tanggung jawab, lho, kalo' situ lantas bisa jadi lesbian juga.
    Saya 'kan cuma kasih contoh aja.", jawabku sembari mengangkat bahu dan Bu Soni
    hanya tersenyum.

  2. The Following 3 Users Say Thank You to invoker For This Useful Post:


  3. #2
    Virgin bhieveth27's Avatar

    Join Date: Sep 2011

    Posts: 11

    Thanks: 0

    Thanked 1 Time in 1 Post

    Default

    croootttt ahhhhh

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •