pokerepublik
pokerlounge

Maxbet  Kaskus303
Indobokepz - Indonesian Movie and Picture Community
sarana99 855Online sarang303

 

 

RumahTaruhan88 Saranapoker idr77





Alpha4D Bola54
pokerace99 togelplus
AonCash AonCash
tglplus
pokerclub BandarJakarta
Royal188 Fairbet88
Royal188 raja303

 

Page 1 of 8 123 ... LastLast
Results 1 to 10 of 72
  1. #1
    Tukang Ngocok kebon's Avatar

    Join Date: Jan 2010

    Location: Pondok Jilbab

    Posts: 214

    Thanks: 1

    Thanked 3,235 Times in 112 Posts

    Talking Saya Tidak Bertanggung Jawab Jika Kalian Sampai Onani

    Adik Angkat Yang Seksi

    aku 3 bersaudara cowok semua.Jadi kadang-kadang aku pengen juga punya ade cewe.Tapi pengalamanku yang satu ini, bener-bener ga aku kira.Dan aku bersyukur banget walaupun ga dapat perawan.
    Sebut aja ade angkatku ini namanya yeyen.Gadis imut yang kalo ke kampusnya aja pake jilbab. itupun dengan pakaian yang ketat membentuk bodynya yang bener-bener seksi menurutku.
    Klo boleh aku deskripsikan si yeyen ini,kalo udah buka jilbab,kaya Cinta Laura. dengan kulit putih mulus dan bibir yang merekah basah.Body kecil imut,persis kaya bebek,entah jalan kaki ato naek sepeda motor, selalu aja nungging. Terus terang penisku sangat tegang, ngebayangin bisa ngentot dia "doggy style"
    Satu hari aku ketemu dengan yeyen di jalan. Dia lagi nganter cucian ke Laundry.Dengan jilbab coklat, melilit di leher, dan baju hangat ketat lengan panjang,motif coklat,putih,garis-garis gitu.
    "halo,gimana kabarnya nih,lama ga ketemu?" sapaku
    "baek aja kak,kakak kemana aja,kangen nih" balasnya
    "biasa de, sibuk kerjaan nih"
    "ka, jalan yuk,ade bete nih"
    "Boleh" Sahutku
    Pikiranku langsung aja nih ke kos-kosanku.
    "De,kita ke kosan kaka aja yuk ada film rame nih"
    "terserah kaka aja lah"
    Kami pun memacu motor masing-masing ke kos-kosanku.
    "Masuk de" Kataku, begitu kami sampai do kosanku
    "Ga papa ya ka? Tanyanya ragu
    "Ga papa kok,ntar pintunya di buka aja kalo mau" Jawabku
    Tapi yang namanya laki-laki ya tetap aja aku tutup pintunya,hehe..
    langsung aku putar Film Semi, yang memang aku koleksi, ceritanya sih tentang action, yang jagoannya cewe,tapi dientot terus sama musuhnya,hehe...
    Dia duduk di karpet depan tivi,sementara aku duduk disebelahnya..
    Kulihat yeyen mulai gelisah,
    "Ka, kaka suka ya liat film beginian?" tanyanya
    "Yah kadang-kadang sih,namanya juga sudah dewasa, kan gapapa de" Jawabku sekenanya
    Sambil kudekati dia dan kulingkarkan tanganku di pinggangnya
    "eh ka, kok kaka meluk ade?" tanyanya
    "habis kaka kangen nih,lama ga ketemu sama ade" Jawabku asal aja
    Tanpa kuduga yeyen langsung memeluk leherku dengan kedua tangannya melingkar di leherku.
    bibir merah basahnya langsung nempel di bibirku..
    kami pun berciuman dengan ganasnya, kadang-kadang lidahnya menelusur masuk mulutku, aku pun juga mengisap lidahnya yang basah..
    "Aaahhh..kaka harus tanggung jawab nih, kaka mau kan bercinta sama ade? ade lagi pengen nih ka?" pintanya di sela-sela ciuman kami
    "Kaka selalu siap kapan aja ade mau sayangku..ehmmm cup cup"sahutku
    Kurebahkan tubuhnya, di kasurku
    sambil menindihnya kuciumi bibr merah basahnya dengan penuh nafsu, sambil terkadang aku atau yeyen saling menghisap lidah masing-masing. Kurasakan dadanya yang empuk dengan ukuran Bra 34, di dadaku yang bidang.lidahku mulai menciumi sekujur waja cantiknya yang putih mulus,pipi,bibir,mata,dahi,dagu (yang ga ketutup jilbabnya), ga ada yang luput dari ciuman dan hisapan bibirku.
    Tanganku mulai memarik baju ketatnya yang model sweater ketat itu,ke kiri dan kanan bahunya, sehingga nampaklah bahunya yang puti mulus. Kuangkat sedikit jilbabnya, sehingga lidahku dapat menjilati dan mencium,juga mencupangi sepanjang leher putih mulusnya si yeyen..terus turun ke sepanjang bahu putih mulusnya..dari kiri ke kanan,begitu terus bolak-balik, ga ada bosan-bosannya aku menciumi dan mencupangi sepanjang leher dan bahu putih mulus yeyen itu...
    Kurasakan tangannya yang memang putih mulus dan lentik itu mulai menelusuri ke bawah perutku,tangan yang lentik dan halus itu masuk lewat celanaku dari bawah pusarku, masuk ke dalam meremas lembut,dan mengocok batang penisku yang sudah tegang dari tadi..
    Aku pun merasa keenakan dengan tangan lentik nan halusnya yang meremas dan mengocok batang penisku di dalam celanaku..hasilnya aku pun makin ganas menciumi wajah ,leher,dan bahunya...bisa aku liat semuanya memerah karena cupanganku,selain kulitnya yeyen memang putih mulus,sehingga gampang memerah,tapi aku yakin bekas cupanganku ini ga kan hilang 2 minggu,hehe...
    Saat aku dan Yeni berduaan di dalam kamar. Kami kemudian saling berdekatan badan.
    Entah siapa yang memulai. Kami telah saling berciuman dengan ganasnya sambil saling melepasi pakaian masing-masing.
    Begitu Yeni mau membuka jilbabnya
    "Jangan dibuka,kamu seksi kalo pake jilbab"kataku

    Yeni hanya menjawab dengan senyum manisnya dan langsung kedua tangannya memeluk leherku dan kami pun lanjut saling berciuman dengan sudah sama-sama telanjang tanpa sehelai benang pun. kecuali jilbab yang masih menutupi kepalanya.

    Dengan perlahan kuciumi bibirnyaa,mukanay terus menuruni lehernya yang putih mulus.

    Yeni pun menengadah sambil memejamkan matanya sambil dari mulutnya terus mengeluarkan desahan-desahan nikmat.

    aku yang tidak sabar langsung saja.menindihnya dari atas dan memasukkan penisku yang sudah tegang dari tadi,menembus vaginanya yang masih perawan.

    "Ka, pelan aja ya..."katanya
    "Iya sayang" Jawabku

    Pelan tapi pasti penisku masuk kepalanya ke dalam vaginanya
    "sakit de? tanyaku
    "dikit ka, terus ja,keperawanan ade untuk kaka sayang aja"
    jawabnya..

    Mendenganr itu aku pun dengan buas langsung menghujamkan penisku hingga masuk seluruhnya ke dalam vaginanya..

    "Uuuhhkk...Sakit...kaaa"Rintihnya
    Aku yang merasakan darah perawan mengalir deras pun memelankan irama sodokan penisku ke vaginanya

    "Tahan ya sayang,sakitnya bentar aja kok" Jawabku, sambil tetap kusodok vaginanya pelan-pelan

    Tak Lama kurasakan dia merespon sodokanku...
    Aku pun tak mau ketinggalan dengan irama yang kencang dan teratur kusodok-sodok dengan ganasnya vaginanya dengan penis besarku...

    "Ahh..ohh...enaaak kaaaa....terus sodok vagina ade kaka sayaaaanggg..."
    "Rasakan kejantanan kaka yaaa adeku sayanggg.." Jawabku, sambil aku pun mengerang merasakan betapa ketatnya vagina perawan yang menjepit kuat penisku..
    "Iya kaka sayang..jantanin ade terus kaaaa...kaka jantaaan banget..."

    kulihat wajah cantik nya yang tertutup jilbab dan pandangan matanya yang sayu, sementara payudaranya berayun-ayun mengikuti irama sodokanku.

    Kemudian kusuruh dia menungging, dan kusodok dia dengan gaya anjing kawin sambil tanganku memegangi kedua bongkah pantatnya yang bahenol.

    "kaka punya kaka enak banget..."
    "Iya sayang,mau kan kaka sodok terus tiap hari..?
    "maauuu sayang..uuuhh ahhhh...enaaak kaaa..kaka jantan banget"

    Tak lama sekitar 1 jam kemudian aku pun orgasme dengan menumpahkan air maniku sebanyak-banyaknya ke dalam vaginanya..kurasakan dia pun menjepit penisku dengan kuat dan bergetar menahan puncak kenikmatannya..

    kami pun saling tidur berpelukan samapi besok paginya.


    Tamat.
    Last edited by kebon; 01-08-2010 at 10:58 PM.
    >>> Jilbab Lover <<<
    Do not forget to say thanks ...


  2. #2
    Tukang Ngocok kebon's Avatar

    Join Date: Jan 2010

    Location: Pondok Jilbab

    Posts: 214

    Thanks: 1

    Thanked 3,235 Times in 112 Posts

    Thumbs up Namaku Nur Aida

    Namaku Nurul Aida, umurku sekarang 20 tahun. Aku ingin berbagi kisah tragis yang pernah aku alami. Aku berasal dari keluarga yang taat beragama. Hal inilah yang membentuk kepribadianku berbeda dengan gadis-gadis lainnya di desaku. Dari cara berpakaianku, aku senantiasa tertutup. Dengan jilbab yang panjang, jubah yang panjang pula, dengan kaki yang selalu tertutupi kaos kaki krem. Hal ini membuat banyak pemuda di desaku yang mencoba mendapatkan hatiku. Namun semuanya itu kutolak. Alasannya karena aku tidak ingin pacaran dan aku tidak ingin tubuhku disentuh oleh lelaki manapun kecuali kepada suamiku kelak.

    Setamat dari Madrasah Tsanawiyah aku kemudian meneruskan ke sebuah pesantren di luar daerah. Disana kepribadianku semakin keras. Bahkan diriku sempat menggukan cadar. Namun akhirnya kulepas karena kyaiku mengatakan bahwa cadar tidak wajib.

    Setahun kemudian pada saat libur, aku pulang ke kampungku. Ternyata itulah awal musibah yang menimpaku. saat itu jalan Raya begitu macet membuatku tiba di kampungku hingga larut malam. Setelah tiba di depan pintu masuk kampungku, dengan berjalan kaki aku menyusuri jalan setapak yang sepi dan gelap. Pada saat itulah sesuatu memukul tengkukku dari arah belakang. Seketika aku tidak sadarkan diri.

    Aku terbangun dari tidurku yang panjang. Aku berharap apa yang tadi ku alami adalah mimpi. Kurasakan aku terbaring disebuah tempat tidur yang empuk, tanganku terentang bebas keatas, demikian pula kakiku terentang Tubuhku tertutup sebuah selimut tebal hingga kebetisku. Kesadaranku mulai pulis sedikit-demi sedikit. Aku melihat sekelilingku begitu asing. Dalam sebuah kamar entah kamar siapa.

    Kemudian aku mencoba menggerakan tanganku yang terentang bebas diatas kepalaku.. ooh tidak bisa bergerak. Aku mencoba mendongakan kepalaku untuk melihat tanganku. Ternyata tanganku terikat pada sebuah tali yang ditambatkan di kaki ranjang. Kemudian aku mencoba menggerakan kakiku ternyata sama. Kakiku juga terikat pada tali-tali yang ditambatkan di kaki ranjang. Sadar diriku dalam keadaan terikat. Kemudian aku mencoba berteriak, namun yang keluar dari mulutku, “mmmggghh..mmgghhh”.. oh mulutku ternyata disumbat dengan Plester. Persis di film-film. Kini tubuhku seperti huruf X yang tidak dapat berbuat apa-apa, meskipun hanya sekedar berbicara.

    Berikutnya aku meronta-ronta sambil meraung-raung berharap ada yang mendengar suara pekikku yang tersumbat. Namun ternyata seseorang masuk kedalam kamar. Dari wajahnya aku sangat mengenal dia. Namanya Irwan seorang yang terkenal gigih mencoba mendapatkan hatiku dulu.

    “sayang, sudah bangun ya.. “ katanya sambil mengejeku. “Aida.. udah sip belum...?? lau sudah siap kita mulai ya..???

    “mmmgghhh... mmgghhh aku menjerit karena aku terkejut Irwan menyentakan selimut yang menutupi tubuhku. Aku begitu terkejut. Ternyata dibalik selimut itu aku sudah telanjang bulat. Kini yang tersisa hanya jilbab coklatku yang panjang dan kaos kaki krem yang menutupi kakiku.

    “mmmgghhh...mmgghhh..” Aku kembali menjerit ketika Irwan meraih payudaraku dan meremas-remasnya dengan keras cukup lama ia meremas payudaraku hingga payudaraku terasa pedas dan memerah. Kemudia irwan melepas seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat. Terlihatlah tubuh Aidawan yang besar dan penisnya yang menegang dan besar. Membuatku ngeri. Aku tidak pernah membayangkan bahwa aku akan mengalami musibah seperti ini. Disaat keperwananku akan direngut oleh orang yang tidak pernah kucintai dan kuridhoi.

    Aku mengangis sejadi-jadinya tubuhku gemetar.. sementara mulutku terus menjerit tertahan melihat pemandangan yang mengerikan yang sebentar lagi aku alami.

    Irwan mulai menindihku, tubuhku terasa sesak akibat ditindih tubuhnya yang besar, tangan Aidawan meraih wajahku. Dan keningku dikecupnya.. “mmgghh.. aku kembali menjerit ketika tangan kirinya meremas payudaraku..

    “Aida cantik.... aku ambil keperwananmu ya.. ya...”

    Dan..”mmmgggggghhhh....mmmmmgggghhhhh.....” aku menjerit sejadi-jadinya ketika penis irwan melesat masuk kedalam vaginaku yang belum tersentuh... “mmmggghhh...mmggghh” aku menjerit menahan sakit karena irwan terus menekan masuk kevaginaku yang sempit.. dan aku merasakan ada sesuatu yang sobek di dalam vaginaku. Rasa perih terasa dan menjalar keseluruh tubuhku ketika penis irwan telah berhasil membobol keperwananku.. darah keperawananku mengucur keluar.

    Aku terus menangis dan merintih kesakitan. Akibat payudaraku yang terus di remas-remas. “Aida ternyata vaginamu sempit ya.. enak ohh..oh.. yes ..” kata Irwan mendesah.

    Kemudian irwan mulai mengocok vaginaku pelan-pelan. Aku pun menyambutnya dengan jeritan tertahan akibat perih yang kurasakan.

    Kulihat vaginaku megap-megap akibat kocokan dari Irwan. Lama-kelamaan kocokan penisnya semakin cepat dan kuat membuat vaginaku terasa perih tanpa henti. Tiap kali irwan mengocok penisnya setiap kali itu pula aku menjerit. Suara jeritanku yang tertahan justru menambah kenikmatan bagi irwan. Semakin aku meronta menahan sakit semakin kuat pula Irwan mengocok vaginaku. aku hanya bisa pasrah menahan sakit jangankan mencegah atau melawan, berteriak saja aku tidak bisa apalagi dalam kondisi tangan kaki terikat seperti ini. Ingin rasanya aku pingsan saja untuk segera melewati tragedi ini. Tapi aku tidak bisa pingsan. Vaginaku terasa perih sekali, ditambah lagi payudaraku yang terus diremas dengan kuat.

    Irwan terus mengocokan penisnya dengan keras hingga tubuhku terguncang-guncang. Dan tempat tiddur bergetar hebat. Kocokannya seakan-akan ingin menembus vaginaku.. “mmgghhh... mmmghh.. hanya jeritan tertahan yang bisa aku lakukan berharap ada yang mendengar dan mencari tahu sebab jeritan itu.

    Irwan terus mengicok dengan keras kurasakan sebentar lagi irwan akan mencapai klimaksnya. Irwan kemudian mendekap leherku kemudian menarik leherku dengan keras untuk menekan penisnya. kemudian ia berkata, “Aida manis sekarang aku bikin kamu hamil ya.. ya.. nih ambil.. sedetik setelah Irwan berbicara spermanya pun menyembur kerahimku.. crot..crott..crot.. irwan mendesahdan tubuhnya mengejang kenikmatan....

    Seketika pandanganku kosong, aku takut hamil. Apalagi hamil akibat perkosaan ini. Belum habis penderitaanku akbat keperawananku yang direngut, sudah ditambah lagi dengan ketakutan akan hamil..
    >>> Jilbab Lover <<<
    Do not forget to say thanks ...

  3. #3
    Tukang Ngocok kebon's Avatar

    Join Date: Jan 2010

    Location: Pondok Jilbab

    Posts: 214

    Thanks: 1

    Thanked 3,235 Times in 112 Posts

    Thumbs up Azira Kena Lagi

    Hari itu ustazah azira meneruskan pelajaran seperti biasa walaupun pantatnya masih di penuhi dengan air mani ku yang telah melanyaknya di dalam bilik kelab bahasa arab. Ustazah azira tidak sempat ke tandas memandangkan dia tiba ke perhimpunan. Sebenarnya ustazah azira masih lagi stim. Pantat nya terkemut2 menahan gelodah nafsu yang masih terbendung. Dalam pada itu amir masih lagi tidak percaya dengan apa yang baru sahaja di lihatnya semasa melalui bilik kelab bahasa arab tadi. Pandangannya pada ustazah azira telah berubah dan dia juga ingin menikmati tubuh mungil ustazah azira yang telah lama di idamkan. Dia terus memikirkan cara bagaimana hendak meratah tubuh ustazah azira itu. tiba2 amir melakarkan senyuman penuh makna di bibirnya. Amir berumur sebaya dengan ku seorang yang gemuk dan salah seorang AJK untuk kelab bahasa aab."hari ini aku akan dapat merasa tubuh kau ustazah ku sayang" getus hati amir. Dia telah mendapat cara bagaimana dia akan dapat meratah tubuh ustazah azira yang sudah lama di idamkan itu.
    "Malik ke sini sebentar" amir memanggil seorang junior yang melalui di hadapan blok di tempat bilik kelab berada."ada apa abang?"Tanya malik."Hmm sampaikan pesanan pada ustazah azira, minta dia datang berjumpa dengan aku pada jam dua di bilik kelab.katakan pada dia ada hal penting yang perlu dibincangkan." Pesan amir. Malik terus mencari ustazah azira dan menyampaikan pesanan amir itu tadi. "apa pula yang budak tu nak ni?"getus hati ustazah azira. Dia yang baru pulih dari penangan batang ku tadi itu masih lagi terkejut dengan kejadian yang menimpa dirinya tadi. Tepat jam dua ustazah azira berjalan seorang diri ke bilik kelab sementara pelajar-pelajar sedang sibuk meninggalkan sekolah kerana telah tamat waktu belajar. Sudah tentu tidak ada orang lagi di sekolah memandangkan semua pelajar sudah pulang ke rumah masing². Ustazah azira mengetuk pintu bilik kelab dan terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk. Setelah ustazah azira masuk ke dalam bilik tersebut dia tidak melihat amir di mana-mana dan tiba² pintu ditutup dan dikunci dari dalam. Ustazah azira berpusing dan melihat amir mengunci pintu tersebut dan menyimpan kunci di dalam seluarnya. "Eh apa ni mir? Kenapa kunci pintu tu?" Tanya ustazah azira dengan ketakutan. "haha ustazah jangan risau saya ada perkara penting nak di bincangkan dengan ustazah." Kata amir. Belum sempat ustazah azira bersuara, amir terus memeluknya dan meraba seluruh badannya. Ustazah azira menolak amir dengan kuat hingga menyebabkan amir tersandar ke dinding. "Apa yang cikgukamu buat ni?saya akan adukan ke pihak sekolah dan pihak polis!" marah ustazah azira pada amir.
    Amir hanya tersenyum.."cakaplah saya tak kisah,saya akan beritahu suami ustazah tentang perkara pagi tadi." Ugut amir. Ustazah azira terkejut dan tertanya² bagaimana amir tahu tentang perkara itu. "bagaimana kamu tahu tentang hal pagi tadi?" Tanya ustazah azira.."saya tenampak ketika dalam bilik kelab tadi tadi.Jadi kalau ustazah tak mahu perkara ini sampai ke pengetahuan suami ustazah, ustazah mesti ikut cakap saya hahahahaha!!" Ujar amir. Meleleh air mata ustazah azira mendengar kata² amir itu. Dia terduduk di kerusi di hadapan amir dan nyata dia tidak dapat berbuat apa² dan hanya menyerahkan pada keadaan. Amir maju menuju ke arah ustazah azira dan memegang buah dada ustazah azira dari luar. "wah besarnya buah dada ustazah. keras batang saya di buatnya berapa saiz buah dada ustazah ni yer?" Tanya cikgu zam. Kemerah-merahan wajah cikgu hayati apabila di ajukan pertanyaan seperti itu dan hanya mendiamkan diri. Lalu amir menengkingnya. "kalau kau xnak aku bagitahu suami kau baik kau ikut saja kata aku!" terkejut cikgu haustazah azira apabila ditenking sbegitu dan dengan suara yang lemah dan tersedu² dia menjawab 36C. "hahaha…besarnya!"amir memuji dan dengan rakus menanggalkan butang kebaya ustazah azira dan terserlah lah dua gunung idaman bersalut bra hitam menjadi tatapan mata cikgu amir. Amir meramas² dengan kasar dan kuat sehingga usazah azira mengeluh diperlakukan begitu. Amir kemudia menyingkap bra hitam ustazah azira dan tersembullah dua gunung pejal itu. Putting berwarna pink itu sangat menarik perhatian amir "wah beruntungnya suami kamu ya dapat putting pink mcm kamu ni. Tapi hari ini aku pulak lah yang merasanya hahaha!!"ketawa amir. Tetek putih dan besar lagi pejal itu di ramas dan dijilat amir seperti bayi yang menyusu ibunya. Basah dibuatnya tetek ustazah azira. Sementara itu ustazah azira mula merasakan sensasi akibat dihisap sebegitu. Jemari kasar amir menaikkan lagi nafsu nya dan semakin lama putingnya makin mengeras.pantatnya mula mengeluarkan air dengan banyak.
    Tangan amir mula menjalar turun ke bawah dengan perlahan-lahan…Ustazah azira cuba menahannya tapi apalah yang ada pada kekuatan seorang perempuan berbanding lelaki yang lebih besar dari nya maka dia hanya membiarkan saja amir membuat apa saja pada dirinya. "wah dah basah rupanya haha." Amir ketawa gembira. "hari ni aku akan ratah kau secukupnya." Kata hati kecil amir. Dia begitu gembira kerana dapat ikan baru yang muda. Jari kasar amir meramas² pantat ustazah azira yang tidak berbulu dan dicukur rapi itu. Ustazah azira mula mengeluarkan bunyi teransang. "Aaahh..aahhh…tolonglah mir, jangan buat saya mcm ni,saya dah bersuami." Rayu ustazah azira. Namun rayuannya hanya sia² malah amir memasukkan dua jarinya ke dalam pantat ustazah azira. "aaaaahhhhhh…." Terangkat punggung ustazah azira bila dua jari kasar besar itu masuk ke dalam pantat nya. Amir mengangkat ustazah azira dan meletakkannya di atas mejanya dan mengangkangkan kaki ustazah azira. Merah muka ustazah azira diperlakukan begitu.wajahnya yang putih menampakkan lagi kemerahan di raut wajahnya. Amir menanggalkan seluar dalam hitam custazah azira "waahh cantiknya pantat ustazah..beruntungnya aku hari ni!" Amir trus menyembamkan mukanya ke pantat ustazah azira yang masih berkebaya dan bertudung itu. Amir menjilat dan menghisap pantat dan menggigit bibir pantat ustazah azira. Terjerit kecil ustazah azira dan mendesah dengan suara yang mengghairahkan. Ternyata kini dia sudah karam oleh nafsu dan mula menekan kepala amir kearah pantatnya. Melihatkan keadaan itu amir seolah2 mendapat lampu hijau dan meneruskan aktiviti nya dengan rakus. "aaaahh … aahhhh…a aaahh.." hanya itu yang keluar dari mulut ustazah azira.
    Tiba² amir berdiri dan membuka zip seluarnya. "kemari,keluarkan hadiah untuk kau hari ini." Arah amir pada ustazah azira. Seperti lembu yang diikat pada hidungnya ustazah azira menurut kata amir dan mengeluarkan batang amir. Hampir tergelak ustazah azira bila melihatkan batang amir yang kecil comel, tapi sudah menegang dengan kerasnya. Tanpa sempat ustazah azira bersuara, amir terus menekan kepala ustazah azira ke batangnya dan menyuruh ustazah azira menghisap batangnya. Ustazah azira hanya menurut kata amir. Dengan bertudung ustazah azira menjilat dan menghisap seluruh batang amir. Oleh kerana batang amir agak kecil dia dapat memasukkan seluruh batang amir ke dalam mulutnya. Amir semakin ghairah melihat tindakan ustazah azira yang masih bertudung wardina itu menghisap batangnya, bibir mungil merah merekah ustazah azira benar² menaikkan nafsunya. Tangan amir tidak henti² meramas dua gunung pejal yang kenyal milik ustazah azira. Dia sungguh bangga kerana impiannya tercapai, telah lama air mani itu bertakung di dalam kantungnya dan hari ini dia akan melampiaskan nya dengan sepuas-puasnya. Sambil memegang kepala ustazah azira, Amir mengasakkan batangnya ke dalam mulut ustazah azira. Hampir termuntah ustazah azira bila batang amir mengenai anak tekaknya. Amir nampak asyik dengan batangnya di dalam bibir mungil ustazah azira. Dalam pada itu ada sepasang mata yang sedang memerhatikan perbuatan terkutuk mereka. Rupa²nya ia adalah Pak Saad iaitu pekebun sekolah tempat ustazah azira bekerja. Dia berumur 63 tahun dan sudah bercucu seramai 19 orang. Dia terdengar bunyi bising ketika melalui kawasan blok itu dan cuba menyiasat apa yang sedang berlaku dan seterusnya melihat pemandangan yang mengghairahkan itu. Dia amat terperanjat dengan apa yang dilihatnya tapi kemudian hanya tersenyum dan melihat sahaja kedua-dua orang itu bersetubuh. Batangnya sendiri yang telah lama tersimpan mula mengeras dan merembeskan cecair putih jernih dari kepala takuknya. Dengan mengurut² batangnya yang sudah keras itu dia terus melihat dengan penuh minat.
    Sementara itu, setelah puas amir berhenti dan mendirikan ustazah azira lalu mencium bibir ustazah azira dan menghisap lidah ustazah yang comel itu sepuas-puasnya. Ustazah azira yang karam dalam permainan itu hanya membalasnya dengan ghairah kerana aksi pagi tadi turut menaikkan syahwatnya. Dengan sebelah tangan lagi Amir mengorek² pantat ustazah azira dengan kasar dan menjoloknya dalam². Tiba² ustazah azira mengeluh dan memeluk amir dengan rapat. Rupa²nya ustazah azira telah klimaks untuk kali pertama. Setelah reda, amir berkata " sekarang giliran aku pula haha". Amir meletakkan ustazah azira ke atas meja dan mengangkangkan kaki ustazah azira dan memasukkan batangnya ke dalam pantat ustazah azira. Maka bermula lah aksi sorong tarik. Tidak susah untuk memasukkan batangnya kedalam pantat ustazah azira kerana ustazah azira baru saja di lanyak oleh ku yang berbatang lebih besar dari amir. Dengan laju amir menyorong tarik batangnya keluar masuk dari pantat ustazah azira yang penuh dengan air mazinya dan air mani ku tadi. "aaahh….ahhhhh,,,aaaahhh!!" ustazah azira mengerang mengikut rentak sorong tarik amir dan tiba2 ustazah azira mengepit dengan erat pinggang amir menggunakan kedua belah kakinya tanda . Kemudian amir menunggingkan ustazah azira dan memasukkan batangnya dari arah belakang. Ustazah azira makin khayal nyatalah dia juga menikmati permainan ini walaupun pada awlnya dia tidak rela. "hebat jugak budak ni" getus hati kecil ustazah azira.. tiba² amir mengeluarkan batangnya dan memasukkan batangnya ke dalam lubang dubur ustazah azira. Terjerit ustazah azira apabila amir memasukkan batangnya ke dalam lubang dubur ustazah azira. "aaahh ketatnya lubang dubur ustazah" kata amir. Amir dengan ganaznya menala dubur ustazah azira semakin lama semakin laju dan tiba² Amir memusingkan badan ustazah azira dan memancutkan air maninya dengan banyak ke muka ustazah azira.
    Terjelepuk ustazah azira ke lantai akibat keletihan yang amat. Sudah lah pagi tadi dia dilanyak dek ramu aku petang pula dia di lanyak oleh amir kawan baik ku. Kakinya dah terasa lemah longlai dan dia merasakan amat penat. Ustaah azira mengelap mukanya dengan tisu yang ada di atas meja dan 5 minit selepas itu barulah dia sedar tentang apa yang telah terjadi. Air matanya meleleh lagi kerana dia telah di perkosa oleh amir dan buat kali kedua hari ini oleh lelaki yang bukan suaminya. Pak Saad yang sedari tadi melihat perlakuan itu cepat² meninggalkan tempat itu dengan hati yang gembira. Entah apa yang ada dalam kepala orang tua itu pon xtahu lah. Ustazah azira membersihkan mukanya dan bersiap² untuk balik ke rumahnya kerana dia sudah tidak tahan dengan apa yang telah berlaku. Dengan perasaan marah dia berkata kepada amir "sampai hati kamu buat saya begini…tapi tolonglah jangan beritahu pada suami saya tentang apa yang telah berlaku. Amir hanya tersenyum memandang Ustazah azira. "Baiklah tapi ustazah kena ikut segala kata saya. Bila saya mahukan ustazah, ustazah kena turuti kata saya faham!?" balas amir. Ustazah azira terperanjat mendengar apa yang dikatakan oleh amir dan hanya mengangguk perlahan kerana dia tidak mempunyai pilihan lain selain dari menurut segala kata cikgu zam demi menyelamatkan rumah tangganya. "budak sial! Jahanam kau!" jerit hati kecil ustazah azira dan kemudian ustazah azira bergegas keluar dari bilik itu dengan tergesa² dan berharap tidak ada orang yang nampak kejadian itu. Kini pantatnya bertambah lecak dengan air maninya dan dua orang lelaki yang berlainan yang dapat merasa keenakan tubuhnya. Air matanya hanya mengalir laju mengenangkan nasib malangnya namun dia tahu yang dia tidak dapat berbuat apa².
    >>> Jilbab Lover <<<
    Do not forget to say thanks ...

  4. #4
    Tukang Ngocok kebon's Avatar

    Join Date: Jan 2010

    Location: Pondok Jilbab

    Posts: 214

    Thanks: 1

    Thanked 3,235 Times in 112 Posts

    Thumbs up Ustazah Rohana

    Ustazah Rohana, berusia 26 tahun, baru m*****sungkan perkahwinan. Turut tinggal bersamanya, Atan… adik bongsunya yang diamanahkan oleh orang tuanya di kampung untuk menj****ya dan memberi peluang mendapat pendidikan di Bandar. Seperti biasa, Ustazah Rohana pergi dan pulang mengajar di sekolah berhampiran rumahnya. Sehingga pada suatu petang selepas pulang dari sekolah. Ustazah Rohana mandi seperti biasa. Kemudian setelah selesai berpakaian, dia menuju ke dapur. Dia terbau keharuman kopi panas dari arah dapur. Memang tadi dia telah menjerang air untuk minum petang tetapi dia kehairanan dengan bau kopi itu. Dia terdengar bunyi pintu peti sejuk di tutup. Ustazah Rohana separuh berlari ke arah dapur. 'Atan……Atan………' Laung perlahan Ustazah Rohana, menyangkakan adiknya Atan pulang. Di pintu dapur Ustazah Rohana terperanjat besar. Seorang pemuda yang tidak dikenalinya sedang duduk di meja sambil menghirup kopi. 'Sia……siapa kamu?' Pemuda itu kelihatan seperti samseng jalanan. Usianya awal dua puluhan. Orangnya bertubuh sederhana berkulit cerah dan memakai pakaian serba hitam. Rambutnya pendek berduri-duri ala komando dan dia juga berkaca mata hitam. Ustazah Rohana menggeletar tetapi dia cuba mengawal dirinya supaya pemuda itu tidak tahu yang dirinya di dalam ketakutan. Pemuda itu tidak menjawab pertanyaannya. Dengan perlahan dia meletakkan tangannya di atas meja dan terus menghirup kopi yang panas itu. Ustazah Rohana cuba menggertak sambil membetulkan cermin matanya untuk melihat pemuda itu dengan lebih jelas, 'Lebih baik kamu keluar…..kalau tidak!' Ustazah Rohana cuba menunjuk garang walaupun sebenarnya manik-manik keringat yang dingin kerana ketakutan mulai kelihatan di dahinya. 'Ustazah Rohana ye!' 'Siapa kau?' Ustazah Rohana semakin takut apabila namanya disebut oleh pemuda itu. 'Siapa saya? Itu tak penting ustazah…….yang penting adik ustazah, Atan berhutang dengan saya.' 'Atan? Berhutang?…..Apa yang kamu buat dengan dia? Di mana dia sekarang? 'Dia okay ustazah, jangan bimbang.' Mata Ustazah Rohana melirik ditelefon di dinding dapur rumahnya. Dia berlari dan mengangkat g****g telefon itu tetapi telefon itu tidak lagi mempunyai nada dail. Waktu itu pemuda itu mulai ketawa. 'Tak payah telefon mana-mana le ustazah oiiii, saya dah putuskan talian telefon ustazah semasa ustazah sedang mandi tadi.' Ustazah Rohana tidak tahu untuk membuat apa-apa lagi. Seorang pemuda yang tidak dikenalinya berada di dalam rumah. Dia cuba bersikap tenang tetapi ketakutan telah menguasai dirinya, dia mulai menangis. Pemuda itu bangun dan berjalan menghampiri Ustazah Rohana. 'Ustazah, saya tak nak kecoh-kecoh…….saya cuma nak barang saya saja. Ustazah kasi saya pil-pil tu, saya janji kalau ustazah kasi saya pil-pil tu saya akan keluar dan akan beritahu kawan-kawan saya supaya lepaskan Atan.' 'Pil-pil tu….pil-pil tu saya dah buang…saya dah buang kesemuanya, tak…tak…tak ada lagi…..saya buang di dalam longkang besar di belakang rumah!' Pemuda itu tidak berkata apa-apa, dia hanya menundukkan kepalanya menahan marah, kemudian dia mendongak dengan wajahnya yang merah padam dan menerkam ke arah Ustazah Rohana. Leher Ustazah Rohana dicekak dengan keras. 'Celaka betul……Atan beritahu aku kau buang barang tu di dalam longkang. Aku tidak percaya, sangkakan dia menipu!" Kasar bahasa pemuda itu, mulai menunjukkan b*****nya yang sebenar. Tangan lelaki itu masih mencengkam leher Ustazah Rohana dan tubuhnya yang lampai itu terhimpit ke dinding dapur. Terbayang oleh Ustazah Rohana kejadian dua hari sudah apabila Atan berulang kali menyebut, '…matilah Atan kak…..matilah Atan……'. Ustazah Rohana tidak mengerti maksud adiknya itu sehinggalah bila dia berada di dalam situasi yang menakutkan itu. 'Lepaskan saya …..lepaskan…….pil-pil tu tak ada dengan saya, saya dah buang!' Pemuda itu menapak setapak ke belakang dan menampar kuat muka Ustazah Rohana. Tamparan itu menggegarkan seluruh tubuhnya. Cermin matanya senget dan segera dibetulkan semula. Seumur hidupnya, Ustazah Rohana tidak pernah ditampar. Sakitnya bukan kepalang. Dia cuba menolak pemuda itu untuk melepaskan dirinya tetapi tangan pemuda itu memegang kuat tangannya. 'Ustazah jangan naikkan darah saya, saya cuba berlembut dengan ustazah…..beri saja barang saya tu……jangan nak berbohong,……. ingat ustazah, Atan ada dengan kami.' 'Apa yang kau mahu lagi ha?….Mau apa lagi? Saya dah cakap, saya dah buang benda-benda tu ke dalam longkang…..tak ada lagi!' Pemuda itu mulai menyinga semula, Ustazah Rohana dapat merasainya dari sinar mata pemuda itu dan apabila melihat dia mengetap giginya. 'Kau buang barang tu ya….bodoh! Atan sepatutnya menghantar barang tu kepada seseorang dan hantar lima ribu ringgit kepada aku……..ustazah buang ke dalam longkang ye!' 'Sekarang ustazah berhutang lima ribu ringgit dengan saya, saya tidak akan pergi selagi ustazah tak bayar saya lima ribu ringgit.' Ustazah Rohana bagaikan tidak percaya yang perkara itu boleh berlaku di dalam rumahnya sendiri. Dia ketakutan dan masih terisak-isak menangis. Telinganya masih berdesing-desing kesan tamparan pemuda itu tadi. 'Saya tak ada wang sebanyak itu, kalau ada pun…….bagaimana sayah akan tahu yang kau tak akan apa-apakan saya dan adik saya.' 'Dengar sini ustazah, saya tidak peduli tentang ustazah dan adik ustazah. Saya cuma nak wang saya sebanyak lima ribu ringgit sekarang.' Ustazah Rohana tahu suaminya ada menyimpan wang tunai lebih kurang enam ribu ringgit di dalam bilik. Katanya, untuk tujuan kecemasan jika berlaku sesuatu yang memerlukan wang tunai dengan segera. Pemuda itu menarik rambut Ustazah Rohana. Dia mengugut Ustazah Rohana yang dia akan menelefon kawan-kawannya dan menyuruh mereka memukul Atan jika dia tidak memberikannyanya lima ribu ringgit. Waktu itu Ustazah Rohana mengalah dan memberitahu yang dia mempunyai wang sebanyak itu di dalam bilik di tingkat atas rumahnya. Pemuda itu memegang tangan Ustazah Rohana dan berkata, 'Jom, kita ambik.' Mereka berdua naik ke bilik tidur, pemuda itu tidak melepaskan tangan Ustazah Rohana. Ustazah Rohana mengambil sampul yang berisi wang itu, kemudian mereka turun semula ke ruang dapur. Ustazah Rohana menyerahkan sampul wang kepada pemuda itu. Dia memberitahu pemuda itu supaya mengambil kesemua wang itu dan segera beredar dari rumahnya. Pemuda itu menyergah Ustazah Rohana dan menyuruhnya menutup mulut. Dia merenung wajah Ustazah Rohana dengan satu pandangan yang tajam. Pemuda itu mengira wang tebal itu dengan pantas. Setelah cukup lima ribu ringgit, dia memasukkan wang itu ke dalam kocek seluarnya dan baki wang itu dimasukkan semula ke dalam sampul dan diletakkan di atas meja. 'Sekarang tolong call kawan-kawan kamu………..kamu dah dapat duit yang kamu nak, beritahu kawan-kawan kamu supaya lepaskan Atan.' Pemuda itu berkata, 'Ok ustazah, betul tu……saya akan call kawan-kawan saya, tapi….selepas ustazah hisap batang saya dahulu. ' 'Apa????" Ustazah Rohana tidak percaya dengan apa yang didengarnya, dia memikirkan di dalam keadaannya yang ketakutan itu membuatkan dia tersilap dengar. Pemuda itu dengan tenang mengulangi apa yang dikatakannya tadi. 'Ustazah dengar tak, hisap batang saya dulu….kemudian saya akan pergi. Ustazah tak faham ye! Ustazah tak ada pilihan, ustazah mesti hisap batang saya. Ustazah tak tahu betapa tensionnya saya dua hari ini kerana perbuatan ustazah dan adik ustazah.' Ustazah Rohana cuba membantah. 'Jangan kurang ajar….jaga sikit cakap tu……..' Sebelum sempat Ustazah Rohana menyambung cakapnya, pemuda itu menghayun tangannya ke muka Ustazah Rohana dengan kuat. Terjerit Ustazah Rohana dengan tamparan itu. Tersandar dia di dinding dapur, buah dadanya bergegar di sebalik baju kurungnya. 'Ustazah, kalau ustazah tak mau hisap batang saya…….tahulah saya mengajar ustazah!' Kemudian pemuda itu tanpa segan-silu melondehkan seluar dan seluar dalamnya sehingga berderap ke lantai. Batangnya yang keras terpacak ke atas. 'Ya tuhan…………….'Hanya itu yang terpacul daripada mulut Ustazah Rohana. 'Tolong ja….jangan buat saya macam ni, saya dah beri kamu duit……..tolonglah!' 'Ustazah tolong dengar, saya tak punya banyak masa ni………ustazah mesti hisap batang saya, kalau tidak……….' Ustazah Rohana menggeletar dan tidak tahu apa yang perlu dilakukan di saat-saat begitu. Pemuda itu memeluk tubuh lampai Ustazah Rohana dan mendakap rapat ke tubuhnya. Dia berbisik ke telinga Ustazah Rohana. 'Ustazah takut ye?' 'Mmmmm………..' terketar-ketar Ustazah Rohana bersuara dengan air matanya yang berlinang. 'Ustazah jangan takut, buat saja apa yang saya suruh……..saya tidak akan apa-apakan ustazah.' Ustazah Rohana terisak-isak, buah dadanya yang sederhana besar terpenyek di dada pemuda itu. Batang keras pemuda itu menujah pehanya. Pemuda itu terus berbisik di telinganya. 'Ustazah tolong buat apa yang saya cakap, saya tidak akan apa-apakan ustazah kalau ustazah ikut cakap saya.' 'Tolong, tolonglah dik…….' 'Tolong jangan panggil saya adik, ………kawan-kawan panggil saya Roy' Semasa berbisik itu pemuda itu menggesel-gesel batangnya di peha Ustazah Rohana. Ustazah Rohana dapat merasakan yang batang itu telah bertambah keras. 'Roy, dengarlah kata saya ni…..,saya tak pernah buat benda tu.' Sambil bercakap Roy memaut pinggang Ustazah Rohana. Dia memaut dagu Ustazah Rohana dan menyapu air matanya. Ustazah Rohana tidak percaya dengan apa yang sedang berlaku ke atas dirinya di dapur rumahnya. Ustazah Rohana ingin berkata-kata tetapi Roy meletakkan jarinya di atas bibir Ustazah Rohana. 'Shhhhhhhhh……ustazah jangan cakap banyak.' 'Ustazah……ustazah cantik tau, geram saya……. Roy melabuhkan tangan ke punggung pejal Ustazah Rohana dan meramas- ramas punggung yang berbalut kain itu. Ustazah Rohana semakin takut, bertambah takut apabila membayangkan apakah yang akan berlaku selanjutnya. 'Ustazah rasa tak……..ustazah dapat rasa tak batang saya yang keras ni?' Roy menggesel-gesel batangnya ke peha Ustazah Rohana sambil memaut rapat tubuh wanita itu. Dia merenggangkan seketika tubuhnya daripada tubuh Ustazah Rohana untuk membuka jaket kulit hitamnya, mendedahkan tubuh tegapnya berbalut t-shirt merah. Kemudian dia memeluk erat kembali tubuh Ustazah Rohana. Ustazah Rohana hilang arah, rasanya dia ingin menjerit sekuat-kuat hatinya tetapi dia takut Roy akan bertindak lebih ganas. Roy mahukan dia menghisap batangnya jika Ustazah Rohana mahu dia beredar dari situ. Ustazah Rohana terasa tangan Roy di atas bahunya. 'Ustazah Rohana, saya nak ustazah hisap batang saya………..ustazah melutut di depan saya dan masukkan batang saya ke dalam mulut ustazah.' Ustazah Rohana kelu membisu. Dia merenung mata Roy menerusi kaca mata hitam yang Roy pakai. Ustazah Rohana hanya mengalirkan air mata sebagai tanda rayuan supaya tidak diperlakukan begitu. Ustazah Rohana dapat melihat wajah sayu dan ketakutannya pada cermin mata hitam Roy. Roy tidak berkata apa-apa lagi, tangannya menekan bahu Ustazah Rohana supaya melutut di hadapannya. Setelah melutut, Ustazah Rohana berhadapan dengan batang Roy yang tegang keras, panjang dan kembang berkilat kemerah-merahan. Hanya Rohana mendongak memandang Roy yang tersenyum melihatnya. Dia begitu malu, malu dengan apa yang Roy paksa dirinya untuk lakukan. Ustazah Rohana tunduk memandang lantai. 'Apa nak dimalukan ustazah…..ustazah mesti buat untuk adik ustazah……ustazah sayangkan Atankan?' Ustazah Rohana tidak berani menatap wajah Roy lagi. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan. 'Jangan bimbang ustazah, tak de siapa yang akan tahu……..sekarang buka mulut ustazah dan saya janji Atan takkan di apa-apakan.' Ustazah Rohana tidak ada pilihan lagi, dia mengangkat perlahan wajahnya sehingga selari dengan batang Roy. Roy memegang batangnya dan menggesel-geselkan batangnya itu ke bibir Ustazah Rohana. Ustazah Rahidah menyangkakan yang Roy akan menghentak batangnya ke dalam mulutnya tetapi Roy mengusap-usap belakang kepalanya yang berambut lebat itu. Ustazah Rohana merasakan batang itu keras menggesel-gesel bibirnya. Dengan perlahan Roy menekan kepala Ustazah Rohana ke batangnya. Ustazah Rohana dapat merasakan tangan Roy menolak kepalanya ke batang kerasnya itu. Ustazah Rohana tidak ada pilihan lagi, dia menutup matanya dan merenggangkan bibirnya. Ustazah Rohana cuba mengimbangkan dirinya dengan memegang peha Roy. Roy mengeluh nikmat apabila batangnya memasuki mulut Ustazah Rohana yang licin itu. 'Aggghhhhh, ustazah………mmmmmm………hisap batang saya ustazah.' Tubuh Roy mulai kekejangan. Namun dengan perlahan dia menarik batangnya perlahan sehingga ke bibir Ustazah Rohana dan dengan perlahan juga menolak masuk batangnya semula. Dia melakukannya berulang-ulang dengan gerakan perlahan pinggangnya sehingga batangnya semakin dalam meneroka ruangan mulut Ustazah Rohana. Ustazah Rohana dapat merasakan batang keras dan panas itu berdenyut-denyut dan bergerak-gerak di dalam mulutnya. 'Ohhh, ustazahkkkk……….sedapnya mulut ustazah, hisap lagi ustazah……..Mmmmm tangannya ustazah…….ta….tangan …….pegang dan lancap batang saya.' Ustazah Rohana menurut seperti apa yang disuruh kerana ini adalah pengalaman pertamanya, dia menggenggam batang Roy dan melancapkan batang yang keluar masuk dari mulutnya itu. Batang Roy keras dan licin dik air liurnya sendiri. Roy tidak melepaskan kepala Ustazah Rohana. Dia mengusap-usap lembut kepala Ustazah Rohana ketika batangnya dihisap dan dilancapkan. unversiti.. Ustazah Rohana sungguh malu melakukan perbuatan itu. Dia dipaksa menghisap batang Roy. Dia terpaksa melakukannya demi keselamatan adiknya Atan. Buat pertama kalinya dia merasakan dirinya seolah-olah seorang perempuan murahan yang cukup hina. 'Yeahhhhh…….Mmmmmm…….sedap ustazah, pandai ustazah hisap batang.' Roy terus mengeluh dan mendesah sambil terus mengarahkan Ustazah Rohana bagaimana menghisap batangnya. 'Yeah…….Mmmmmmm sedapnya ustazahkkkkkkkk……….terus hisap ustazah……'Roy mendesah dan mengeluh sambil terus menggalakkan Ustazah Rohana menghisap batangnya. Ustazah Rohana terus menghisap dan melancapkan batang Roy. Dia dapat merasakan peluh dingin berkumpul di atas keningnya. Sambil mengulum batang Roy, dia membuka matanya, membetulkan cermin matanya dan mendongak melihat pemuda yang sedang menghenjut-henjut batangnya itu keluar-masuk mulutnya. Tangan Roy tetap memegang kepala Ustazah Rohana dengan matanya mulai terpejam dan mulutnya sedikit ternganga dengan keluhan nafas yang kasar. Roy seperti berada di awan-awangan. Gerakan pinggangnya semakin rancak. Ustazah Rohana mulai merasakan kelainan itu dan tubuhnya menjadi seram-sejuk memikirkan yang Roy akan terpancut air maninya sedangkan batangnya masih berada di dalam mulutnya. 'Dahh….dahhhhh……ddahhh……dah ustazah…….saya tak ta….tahannn ni'Roy seakan-akan menggelepar sambil menarik batangnya dengan cepat keluar dari mulut Ustazah Rohana. Kepala batang Roy berkilat dengan air liur Ustazah Rohana dan lendir nikmatnya sendiri. Ustazah Rohana terbatuk-batuk dan terasa meloya, tekaknya terasa masam. Dia menyapu mulutnya dengan tangannya.Namun ketakutan mulai menyelubungi dirinya apabila terasa kedua-dua tangan Roy memaut tubuhnya supaya berdiri. Setelah berdiri, tubuh lampai Ustazah Rohana didakap erat oleh Roy. 'Saya dah…dah buat apa yang kamu suruh, tolong keluar dari sini……tolonglah.' Roy dengan cepat memusingkan tubuh Ustazah Rohana menghadap meja. Dia memeluk tubuh Ustazah Rohana dari belakang, memaut pinggangnya erat. Ustazah Rohana dapat merasakan batang keras Roy menujah keras punggungnya yang besar dan pejal. 'Jangan le gitu ustazah……pandai tau ustazah hisap batang, tak percaya pulak saya yang ustazah tak pernah hisap batang sebelum ni…….Hmmmmm hampir terpancut saya dalam mulut ustazah tau.' Ustazah Rohana terasa dirinya teraniaya, pujian-pujian yang diberikan oleh Roy terhadap perlakuannya itu amat menjijikkan. Tiba-tiba, Roy menyeluk ke bawah baju kurungnya dan kedua-dua tangannya memegang buah dadanya yang sederhana besar itu. Kedua-dua tangan Roy meramas-ramas buah dada Ustazah Rohana yang masih berbungkus bra. Perlakuan Roy cukup pantas dan Ustazah Rohana terkapai-kapai. Tidak cukup dengan itu, Roy menyeluk ke bawah bra dan meramas geram buah dada yang pejal itu, puting buah dada Ustazah Rohana yang kecil dan panjang itu digentil-gentilnya. 'Tolonglah Roy, jangan buat macam ni pada saya…….saya dah hisap tadi……pergilah dari sini.'Ustazah Rohana berbisik perlahan cuba memujuk. Wajahnya berkerut menahan perlakuan jari-jemari Roy pada kedua-dua buah dadanya. Roy mengucup dan menjilat-jilat leher Ustazah Rohana sambil terus menguli buah dadanya. Ustazah Rohana menggeleng-geleng kepalanya untuk melarikan lehernya dari diperbuat begitu. Muka Ustazah Rohana berkerut menahan perbuatan Roy menguli buah dadanya. Tangan Roy menarik zip dan membuka cakuk kain Ustazah Rohana. Perlahan-lahan menarik kain itu ke bawah. Dia menyelak baju kurung Ustazah Rohana, terpampanglah punggung gempal yang putih berbalut panties berwarna pink. Panties itu juga direntap turun, Ustazah Rohana terpekik halus dan dia dapat merasakan batang keras Roy berada di alur punggungnya. 'Jaa……..jaaangan, jangan buuu…..buat cam tu………tolonglahhhhhh.' 'Ustazah tak suka? Alaaaaaa sikit-sikit je, tak kan tak boleh…..geram ni tau.' 'Sudahhhh lah.'Rayu Ustazah Rohana di dalam nafasnya yang tercungap-cungap. 'Ok ustazah……ok, saya akan stop kat sini, saya akan pergi dan tidak akan ganggu ustazah dan adik ustazah lagi……..tapi dengan satu syarat.' Sambung Roy lagi, 'Saya akan pergi kalau celah peha ustazah kering…….tapi kalau kat celah peha ustazah basah…….saya akan…….mmmmm ustazah faham-faham sajakan!" Ustazah Rohana seperti tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Tangannya Roy meluncur ke perut Ustazah Rohana. Ustazah Rohana merayu-rayu supaya Roy menghentikan perbuatannya itu apabila merasakan jari-jemari Roy merayap turun ke celah pehanya. 'Kenapa buat saya macam ni, Roy ……….dahlah Roy, tak baik!" Roy tidak menjawab, Ustazah Rohana hanya merasa kepanasan nafas Roy yang terputus-putus sedang tangannya menghampiri celah peha Ustazah Rohana. Roy berbisik ke telinganya, 'Baik ke tak baik ke, saya tidak peduli ustazah………….saya janji ustazah, kalau celah peha ustazah kering, saya akan berhenti dan pergi dari sini. Tapi ustazah, kalau celah peha ustazah basah………saya nak benda tu, tak peduli samaada ustazah nak atau tidak, saya nak ustazah punya………Sekarang saya sentuh ustazah punya ye ustazah, bolehkan!' Takdir telah menentukan segalanya. Apa yang berlaku di dapur rumahnya bukanlah kehendak Ustazah Rohana. Dia menahan nafas ketika jari-jemari Roy bermain-main dan mengusap-usap bulu ari-arinya yang tumbuh halus. Dia tidak berupaya menahan kemahuan Roy. Dia juga tahu yang Roy akan tetap menurut kehendak nafsu serakahnya. Kemudian Ustazah Rohana mulai merasakan tangan Roy meluncur dan menyentuh cipapnya dan jarinya menjolok-jolok lubang keramat cipap tembamnya, bagaikan membalas gerakan jari Roy itu, cipap Ustazah Rohana mulai berair lendir. Kaki Ustazah Rohana terasa lemah longlai dan dia terhoyong-hayang. Roy terasa tubuh Ustazah Rohana bagaikan orang yang hendak pitam, dia memeluk erat tubuh Ustazah Rohana dengan tangannya mencekup celah peha Ustazah Rohana yang mulai berair. 'Mmmmm…..lubang ustazah berairrrr…' Jari Roy keluar-masuk berulang kali ke dalam lubang cipap Ustazah Rohana yang telah licin itu. Ustazah Rohana sungguh malu, apatah lagi dengan tindakbalas lubang cipapnya yang di luar jangkaan itu. Berkerut muka Ustazah Rohana, dia seolah-olah terkhayal seketika. Dia menundukkan mukanya memandang permukaan meja makan yang dilapisi kain penutup meja berwarna kuning berbunga-bunga. Sudah beribu kali meja makan itu menjadi tempat dia dan keluarganya berkumpul menjamu selera, namun tidak pernah dia berdiri di situ dengan jari seorang pemuda yang tidak dikenalinya berada di dalam lubang cipapnya. Roy terus menjolok-jolok jarinya ke dalam lubang cipap Ustazah Rohana. Jari itu di tarik keluar dan dibawa ke hadapan wajah Ustazah Rohana. Bau air berahi lubang cipapnya sendiri menyedarkan Ustazah Rohana dari khayalannya. Roy berbisik ke telinga Ustazah Rohana, 'Tengok…tengok ustazah……..buka mata dan tengok…….jari saya berlendir dengan air dari lubang ustazah, ustazah dapat baunya tak……..dari sini saya dapat bau, sedap!' Ustazah Rohana tidak terkata apa-apa lagi, malunya bukan kepalang dan berkali-kali hatinya tertanya-tanya mengapakah itu harus berlaku sedangkan ianya adalah di luar kerelaannya. Jari Roy berkilat dibaluti dengan air berahinya yang cair jernih. Roy tersenyum kemenangan. Roy mulai menekan bahu Ustazah Rohana, memaksanya supaya menonggeng di hadapan meja. 'Jaaaa…….jangan……..tolong, tolong saya kali ni………..jangan buat macam ni Roy.' Ustazah Rohana merayu minta dikasihani. Ternyata Roy tidak peduli dengan rayuan Ustazah Rohana, dia mengacu-acukan kepala zakarnya di lubang cipap Ustazah Rohana dari belakang. Ustazah Rohana mengoyang-goyangkan punggungnya dengan kasar untuk mengelakkan batang Roy menceroboh lubang keramatnya itu sambil terus merayu supaya tidak diperlakukan begitu. Roy menampar kuat punggung pejal dan putih Ustazah Rohana sambil menengking, 'Ddiiiiiiiammmmmmm ustazah!!!!' Itulah perkataan yang terakhir menerjah masuk ke dalam telinga Ustazah Rohana serentak dengan terjahan batang Roy ke dalam lubang cipapnya. Hentakan Roy cukup kuat dan perkasa sehinggakan tubuh Ustazah Rohana terdorong ke depan dan meja makan berkeriut. Ustazah Rohana terpekik. Tujahan batang Roy ke dalam cipapnya sungguh kuat dan Ustazah Rohana terasa kedua-dua kakinya terangkat. 'Awwwhhhhh…..sempitnya ustazah, licinnnnnn…..!!!!!' Roy mengeluh kasar apabila batangnya tertanam dari belakang di dalam lubang cipap Ustazah Rohana. Tangan Roy mencekak rambut Ustazah Rohana dan memeluk pinggangnya ketika pinggangnya mulai bergerak menghayun lubang cipap Ustazah Rohana. 'Sedapnya ustazah……tahan ye ustazah….tahan ye.' Ustazah Rohana mengetap bibirnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Roy terus menghentak cipapnya dari belakang. Pakuan Roy cukup keras dan pantas dan terasa amat dalam. Ustazah Rohana tidak terdaya lagi. Seorang pemuda yang tidak dikenalinya menceroboh rumahnya dan melakukan perbuatan terkutuk itu ke atas dirinya di dapur rumahnya sendiri. 'Sedap tak ustazah…..,ustazah enjoy tak?' Roy terus mengomel di dalam keluhan berahinya sendiri. Ustazah Rohana hanya menangis terisak-isak dan sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya. Air matanya menitis ke atas meja. Kedua-dua tangannya menekan permukaan meja. Sesekali Roy mencium-cium leher jinjangnya dan meramas-ramas buah dadanya yang terbuai-buai itu. 'Ustazah tak suka ye……relax ustazah….kejap saja…..kejap saja lagi.' Roy terus menghayunkan pinggangnya dengan kuat sementara lubang cipap Ustazah Rohana semakin licin dan berair. Setiap kali peha Roy berlaga dengan punggung Ustazah Rohana, punggung itu bergegar-gegar. Bunyi perlagaan antara peha Roy dan punggung Ustazah Rohana menjadi satu irama yang hanya mereka berdua sahaja yang mendengarnya di ruang dapur itu. Ustazah Rohana mendesah halus setiap kali batang Roy semakin dalam menerjah lubang cipapnya. Kemudian Roy terhenti, dia membaringkan Ustazah Rohana di atas lantai. Kain dan panties Ustazah Rohana direntapnya dan dilemparkannya. Kaki Ustazah Rohana dikangkangkan seluas-luasnya. Sebelum Ustazah Rohana sempat berkata apa-apa, dia kembali menghunjamkan batang kerasnya semula ke dalam cipap Ustazah Rohana. 'Arrrrrgggggghhhhhhh………….' Ustazah Rohana mendesah, menahan tujahan batang Roy. Baju kurungnya diselak oleh Roy, bra berwarna biru yang dipakainya pada waktu itu dikuak ke atas dada. Terpampanglah sepasang buah dadanya yang putih berputing panjang di hadapan mata Roy. Roy terus menyembamkan mukanya ke lurah buah dada Ustazah Rohana sambil terus menghentak cipapnya. 'Roykkkkk…….argggghhhh.' Hanya keluhan yang keluar dari mulut Ustazah Rohana dengan mata yang terpejam. Cermin mata yang dipakainya dicabut oleh Roy dan diletakkan di sisi tubuh separuh bogelnya. 'Dahhhhhh…….sudahhhhhhh.'Tubuh Ustazah Rohana menggeletar menerima hentakan demi hentakan batang Roy. Akhirnya sesuatu di luar jangkaan berlaku, tubuh Ustazah Rohana menggelepar, nafasnya kasar. Dia mencapai kemuncaknya. 'OOOoohhhhh……….' Nafas Ustazah Rohana tersekat-sekat, tangannya didepakan, lesu. Dadanya berombak-ombak. Dia kelelahan. Roy tersenyum. Bunyi hentakan Roy pada cipap Ustazah Rohana makin perlahan dan akhirnya terhenti. Air berahi Ustazah Rohana keluar dengan banyaknya. Perkara ini amat aib bagi Ustazah Rohana, dia mencapai puncak di luar kerelaannya. 'Ustazah dah dapat climax ye…….jangan tipulah ustazah, saya tahu!' Otot-otot cipap Ustazah Rohana mencengkam semula batang Roy apabila dia mulai menghayun laju cipap itu. 'Giliran saya pula ustazah…………..' Ustazah Rohana tersedar dari kelesuan, entah kenapa dia terasa dirinya amat jijik. Dia meronta-ronta untuk melepaskan diri. Semua itu hanyalah sia-sia sahaja malah membuatkan Roy marah. Dakapannya pada tubuh Ustazah Rohana semakin erat. Hentakannya pada cipap Ustazah Rohana semakin ganas. Daripada deraman dan dengusan Roy, Ustazah Rohana tahu yang Roy juga akan sampai ke puncak kepuasan. 'Dekat dahhhh ustazah…..dekat dah…..arggggghhhhhh.' Gerakan pinggang Roy semakin kencang, mukanya merah dan peluh berahi mengalir di dahinya. Buah dada Ustazah Rohana dicekak geram dan diramas-ramas. Kepala Ustazah Rohana tergeleng-geleng ke kiri dan ke kanan dengan rambut yang mengerbang dan mulut yang tercungap-cungap. Kedua-dua tangannya menekan dada Roy untuk menyerap hempapan tubuh Roy ke atas tubuhnya yang lampai dan bergegar itu. Roy terus menghempap-dan menghempap, 'Yeeearrrrrrrrgggggggghhhhhhhhhhhhh………………' Roy menekan batangnya se dalam-dalamnya di dalam lubang cipap Ustazah Rohana, pancutan demi pancutan lahar panas air berahi menerpa likat ke dalam lubang cipap Ustazah Rohana. Bibirnya diketap dan dia tersembam ke atas buah dada Ustazah Rohana sambil melepaskan keluhan yang kasar. Ustazah Rohana sendiri terkulai layu sambil melepaskan nafas perlahan-lahan. Kedua-dua tubuh mereka bersatu dan terkaku seketika. 'Sedapnya ustazahkkkk…..ustazah besttt!'Bisik Roy ke telinga Ustazah Rohana. Dengan lemah longlai Roy terbaring di tepi tubuh Ustazah Rohana. Batangnya masih terpacak dan berkilat. Ustazah Rohana tercungap-cungap dengan dada berombak. Tangannya di atas dahi. Buah dadanya turun naik selaras dengan pernafasannya. Ustazah Rohana menyangkakan yang semuanya telah berakhir setelah maruahnya tercemar tetapi ternyata anggapannya itu tersilap kerana tiba-tiba Roy berdiri dengan batang yang masih mencadik. Dia menarik tangan Ustazah Rohana sehingga terbangun dan melutut di depannya. 'Ustazah, sebelum saya pergi, saya nak kasi souvenir kat ustazah. Telan air mani saya.' 'Haah????' Roy tidak menunggu jawapan lagi. Dia memegang kepala Ustazah Rohana yang melutut di depannya itu dan menariknya ke batangnya yang keras berlendir. Ustazah Rohana membuka mulutnya, mengulum batang Roy. Dia hanya mahukan semuanya itu segera berakhir. 'Hisap ustazah…….saya nak pancut dalam mulut ustazah…….' Hayunan Roy ganas. Ustazah Rohana mengerutkan muka dan menutup matanya rapat ketika batang Roy keluar masuk mulutnya. 'Ustazah telan semua air mani saya tau!' Roy menarik batangnya keluar dan tergopoh-gapah melancapkan batangnya di hadapan muka Ustazah Rohana. Sebelah tangannya mencekak rambut Ustazah Rohana supaya muka Ustazah Rohana terdongak di hadapan batangnya. 'Argggghhh…….telan ustazah..telan……buka mulut ustazah.' Dia menderam dengan suara yang tertahan-tahan ketika pancutan panas air berahinya terpancut ke muka Ustazah Rohana. 'Hisap ustazah….hisap batang saya.'Roy mengeluh dan mendesah ketika satu lagi pancutan air berahinya terpancut mengenai pipi Ustazah Rohana yang putih gebu itu. Ustazah Rohana mengulum kembali batang berlendir Roy yang terangguk-angguk melepaskan pancutan demi pancutan air mani. Dia hanya mahu segala-galanya segera berakhir dan Roy akan meninggalkannya. Roy memegang kepala Ustazah Rohana dan menekan batangnya ke kerongkong Ustazah Rohana. Seluruh tubuh Roy kejang, menggeletar dengan kakinya terangkat-angkat ketika pancutan-pancutan air maninya terus memasuki kerongkong Ustazah Rohana. 'Telan ustazah….hhhaaahhhh….telan semuanya…..hhaaaaahhhh……hisap ustazah.' Ustazah Rohana menelan air mani Roy tetapi kemudiannya merasa geli dan jijik dan meluahkan bakinya. Namun begitu dia dapat merasakan air berahi Roy yang likat itu mengalir turun di dalam kerongkongnya. Baki air berahi Roy mengalir lemah keluar dari tepi bibir Ustazah Rashisah dan turun ke dagunya. Tompokan air berahi Roy di pipi dan mukanya mulai mengalir turun perlahan ke baju kurungnya. Ketika Ustazah Rohana merasakan semuanya telah berakhir tiba-tiba dia terdengar suara di pintu dapur. Dia berpaling ke arah suara itu dengan batang Roy masih dikulum di dalam mulutnya. Dia melihat adiknya Atan berdiri di pintu dapur dengan dua orang pemuda yang kelihatan seperti samseng memegang lengannya. 'Kakak!!!!!!!'Mulut Atan ternganga, matanya terbeliak. 'Apa yang telah kau buat dengan kakak aku?' Atan terlopong melihat kakaknya, Ustazah Rohana di dalam keadaan melutut dengan air berahi likat pekat dimukanya dan batang Roy berada di dalam mulutnya. Roy menolak kepala Ustazah Rohana dari batangnya dan mulai ketawa. 'Kakak kau best le Atan……kau sendiri tengokkan, pandai hisap batang.' Atan tunduk melihat Ustazah Rohana yang menangis terisak-isak. Dia meronta dan melepaskan diri daripada dua orang samseng yang memegangnya dan meluru ke arah Roy. 'Aku bunuhhhhhhhhh kau Roy.' Tengking Atan menerpa bagaikan harimau lapar dengan tangan tergenggam. Ustazah Rohana memang mengharapkan Atan melanyak Roy yang telah mengaibkan dirinya tetapi dia pun tahu Roy bukanlah lawannya. Atan kurus lampai, seperti dirinya, sedangkan Roy jauh lebih tua dan berbadan tegap. Roy melepaskan satu tumbukan padu ke muka Atan ketika Atan menerpa ke arahnya sehingga Atan terhoyong-hayang dan tersungkur di lantai. Ustazah Rohana bangun dan memangku adiknya. 'Sudah…….sudahhhhhh……ambillah semua duit tu, tinggalkan kami…..tolonglah pergi dari sini.' Rayu Ustazah Rohana. Roy merenung kedua beradik itu. Atan menangis di dalam pangkuan emaknya, darah pekat mengalir keluar melalui hidungnya. 'Nasib baik saya hormatkan ustazah, kalau tidak…….tahulah saya mengajar budak berhingus tu.' 'Pergi….pergiiiiiii…tinggalkan kami.' Dengan perlahan Roy berpakaian semula. Selepas selesai, dia mengambil baki wang di dalam sampul di atas meja dan memberikannya kepada kedua-dua orang kawannya. Mereka bertiga tersenyum, berpelukan dan ketawa. Seorang daripada kawan Roy berkata, 'Atan, jangan lupa ucap terima kasih dengan kakak kau, Roy cakap kakak kau ada class........kalau tidak kerana kakak kau….mampuslah kau hari ni.' Mereka bertiga keluar dari dapur meninggalkan kedua adik beradik itu. Ustazah Rohana memangku adiknya. Atan mendongak melihat wajah kakaknya. Wajah yang masih bertompok dengan air berahi yang berlendir. 'Kak……maafkan Atan kak…..apa yang dia telah buat dengan kak?' Tentu sekali Ustazah Rohana tidak tahu apa yang harus dijawab kepada adiknya. Dia mendiamkan diri. Air matanya mengalir sebagai jawapan kepada pertanyaan Atan, adiknya. Ustazah Rohana lega kerana segala-galanya berakhir. Sebahagian dari dalam dirinya bersyukur kerana Atan selamat tetapi sebahagian lagi membenci adiknya Atan kerana menyebabkan semua itu berlaku. Kasih kakak akan sanggup berkorban apa saja demi adiknya, dia juga berharap Atan insaf dengan apa yang telah menimpa mereka berdua.
    >>> Jilbab Lover <<<
    Do not forget to say thanks ...

  5. #5
    Tukang Ngocok kebon's Avatar

    Join Date: Jan 2010

    Location: Pondok Jilbab

    Posts: 214

    Thanks: 1

    Thanked 3,235 Times in 112 Posts

    Thumbs up Petaka Bus Malam

    Bus malam Executive class itu melaju dengan cepat di sekitar kota Brebes. Waktu sudah menunjukkan jam 23.45 WIB. Seorang gadis cantik berjilbab lebar warna putih dan kaos lengan panjang warna coklat, sewarna dengan rok panjang yang dikenakannya bernama Latifah duduk di bangku paling belakang, hanya seorang diri. Ia terlihat sudah amat mengantuk. Sementara para penumpang lain sudah tidur dengan nyenyak. Hanya alunan musik santai terdengar lembut. Di tengah kegelapan bus yang lampu ruangannya dimatikan nampak sang kondektur bus itu tengah berjalan santai menuju bagian belakang bus. Kebetulan bus hanya ditumpangi 10 orang. 9 orang berada di bagian depan hingga lima bangku di belakangnya. Dari tengah ke belakang otomatis kosong.
    Pak kondektur bernama Joni Item, karena tubuhnya memang hitam legam, berjalan santai ke belakang. Tiba-tiba matanya
    tertumbuk pada sesosok tubuh yang terbalut jilbab lebar warna putih dan kaos lengan panjang dengan rok panjang warna coklat. Gadis itu terlihat mengangguk-anggukkan kepala karena mengantuk. Melihat kesendirian gadis itu, ditambah pakaiannya yang baginya sedang kesepian membuat sang kondektur kontan terkesiap. Dadanya berguncang, birahinya
    tergugah. Ia membayangkan bagaimana bentuk tubuh mulus di balik pakaian serba tertutup namun agak ketat itu.
    Membayangkan bagaimana kalau mulut gadis berjilbab itu mengulum penisnya. Oh, kontan penisnya menegang keras sekali.
    Segera didekatinya Latifah lalu tangannya merogoh kantung celananya, mengambil sebilah belati kecil yang memang selalu
    dibawanya.
    Latifah, si gadis berjilbab itu sontak terbangun kaget sekali, ketika merasakan bagian lehernya terasa sakit. Ternyata sebilah belati sedang ditodongkan ke lehernya, bahkan sudah terasa ujungnya yang tajamnya menusuk kulit leher, menembus jilbab putihnya. Matanya mendelik penuh ketakutan. "Turuti kemauan saya, kalau kamu tidak mau mati konyol.", ancam si Joni Ireng.
    Latifah yang sedang dikuasai perasaan ketakutan dan kaget yang amat sangat nampak hanya bisa terdiam dengan tubuh gemetar dengan wajah tang penug kecemasan. Jantungnya terasa seakan mau copot karena berdegup kencang. Sesat kemudian dengan suara seakan tercekik karena tercekat ketakutan gadis berjilbab putih itu bertanya,”Mmau..apaa..Pak??”.
    "Pokoknya turuti saja, kalau tidak kamu saya bunuh sekarang.",ancam pria itu lagi.
    Latifah membungkam. Ia tidak berani berbuat apa-apa, ketika tangan kanan lelaki itu yang masih menganggur mulai menyusup kebalik jilbab lebar yang dikenakannya dan mulai meremas-remas payudaranya dari luar kaus lengan panjang yang membalut tubuh Latifah . Ia hanya mampu merintih-rintih. "Tolong pak, jangan lakukan itu.", pinta gadis jilbab itu memelas dengan nafas yang mulai tidak teratur. Namun Joni tidak perduli. Tangannya semakin ganas meremas payudara montok gadis berjilbab yang berusia dua puluh enam tahun itu.
    Saat dirasa penisnya mulai semakin tegang, ia segera membuka resleting celananya sendiri dan mengeluarkan penisnya yang cukup besar dan panjang, berdiameter 4 cm dan panjang 22 cm. Mata Latifah semakin melotot melihat barang lelaki yang selama ini belum pernah dilihatnya, bahkan belum pernah dibayangkannya. Sembari bangkit dari duduknya, pria itu lalu menyodorkan penisnya itu kehadapan wajah Latifah . "Hayo emut dan kulum dengan lembut.", perintahnya.
    Latifah menolak paksaan pria itu dengan memalingkan wajahnya dari pemandangan yang baginya menjijikkan. Tetapi otomatis belati Joni makin terasa menusuk di lehernya, sehingga terpaksa dengan perasaan takut akan keselamatan hidupnya dengan terpaksa dan malu sekali, ia mulai membuka mulut dengan mata terpejam sembari kemudian menjilat-jilat penis besar Joni yang berwarna hitam legam. Lidahnya terlihat indah seperti mengelus-elus penisnya. Mata Joni terlihat mulai mendelik keenakan. Tak lama kemudian ia mulai mengulum-ngulumnya meski dengan perasaan jijik. Kepala gadis berjilbab putih lebar itu pun mulai bergerak maju-mundur.
    Dari jauh, hanya terlihat Joni menghadapkan badannya ke arah Latifah. Ia merasakan kenikmatan tiada tara. Tak pernah
    dibayangkan bahwa seorang gadis berjilbab mengulum-ngulum penisnya seperti itu. Kuluman Latifah semakin ganas.
    Tampaknya gadis itu mulai tergugah juga birahinya. Benar-benar hal itu menjadi sensasi besar baginya. Selama ini matanya selalu terjaga, tidak pernah memandang aurat laki-laki, apalagi kemaluannya. Kini batang penis Joni yang panjang, besar, hitam dan kokoh berada dalam mulutnya, dengan wajahnya yang cantik berhiaskan jilbab putih lebar. Bagi pria itu, inilah sensasi yang tak pernah dibayangkannya sama sekali.
    Joni kemudian melepaskan penisnya dari mulut indah gadis berjilbab itu. Nampaknya pria itu tertarik dengan hal lain.
    "Diam, jangan bergerak.", hardik Joni dengan suara pelan. Ia mulai menarik jilbab lebar Latifah dan menyelempangkan ke bahu gadis itu. Kemudian dengan agak tergesa-gesa, ia menyingkap kaos lengan panjang Latifah keatas hingga sedada.
    "Tolong mas, jangan. Nanti dilihat orang, saya bisa malu sekali.", pinta gadis jilbab itu dengan suara lirih. Joni tidak perduli.
    "Kalau ada yang melihat, kita berhenti sebentar. Kamu kan bisa menutup jilbabmu lagi."

    Beberapa saat kemudian, terkuaklah tubuh bagian dada gadis berjilbab putih lebar itu. Dua bongkah payudara yang sudah mulai montok, terlihat membusung, masih tertutup oleh BH-nya yang berwarna hitam, tetapi agak ketat. Tangan Joni mulai menggerayangi benda antik Latifah itu dengan nafsu tak tertahan lagi. Bahkan sebentar kemudian, ia sudah menarik paksa BH gadis alim itu hingga copot dan dilemparkannya ke lantai bus. Terlihatlah dua bukit kembar milik Latifah yang amat putih sekali, indah dan montok. Tampaknya Latifah cukup memelihara tubuhnya meski berpakaian rapat.
    Tangan Joni semakin gencar meremas-remas payudara gadis jilbab itu dengan cukup keras, sehingga warna payudara itu berubah kemerahan.Air mata Latifah sudah bercucuran deras. Ia merasa terhina dan dilecehkan sekali. Semua orang di bus itu bisa menyaksikan kejadian yang memalukan itu, termasuk supirnya. Tapi tampaknya yang beruntung cuma sang kondektur keparat itu saja.

    Masih belum puas dengan hasil karyanya itu, Joni meminta Latifah berdiri dan menaikkan sendiri rok panjang warna coklat yang dikenakannya dari bagian bawah. Serta merta Latifah menolak dengan menggeleng-gelengkan kepalanya yang berjilbab, tetapi itu semua sia-sia karena Joni mengancam akan menggorok lehernya sembari menghunus belati, sehingga Latifah ketakutan. Ia mulai mengangkat rok panjang yang dikenakannya itu sedikit demi sedikit. Mulailah terlihat sepasang kaus kaki putih panjang hamper selutut menghiasi betisnya yang indah, akhirnya kedua bongkah pahanya yang putih montok, mulus dan menggairahkan.
    'Terus angkat lagi.",hardik Joni.
    Akhirnya Latifah dengan sangat malu sekali, takut kalau ada penumpang yang melihatnya, mulai mengangkat lagi rok panjangnya. Oh, sungguh beruntung sekali nasib Joni.
    Matanya melotot bulat begitu melihat celana dalam Latifah yang membungkus ketat kemaluannya yang menggunduk amat indah dan menggiurkan. Gadis berjilbab itu terlihat amat menakjubkan dengan wajahnya yang cantik berhiaskan jilbab putih lebar, namun kaus lengan panjangnya tersingkap keatas memaparkan sepasang bukit kembar nan kenyal nampak membusung indah dan dari bagian pinggang ke bawah hampir telanjang, hanya terbalut celana dalam saja!!! Tangan jahil Joni mulai meremas-remas kemaluan gadis berjilbab itu, sehingga Latifah merintih agak keras. Bahkan tangannya mulai merayap ke dalam celana dalam Latifah, sehingga gundukan kemaluan dengan bulu-bulu kemaluan halus itu berhasil diremas oleh Joni.
    Mata Latifah terlihat mendelik, bahkan bagian hitamnya sedikit menghilang menahan kenikmatan yang sebenarnya tidak diinginkannya. Joni terlihat menyeringai gembira melihatnya.

    Selanjutnya, sembari tubuhnya bergerak kenawah mulut Joni juga mulai menciumi kemaluan Latifah yang masih terbalut celdam ketat itu. Bau kemaluan wanita berjilbab itu yang cukup unik namun menggairahkan itu, terhirup oleh Joni, sehingga
    ia makin kesetanan.
    Tiba-tiba nafsu Joni menggelegak. Godaan aroma tubuh yang keluar dari gadis berjilbab itu begitu terasa menggairahkan. Dengan menahan birahi yang menggelegak, dicengkeramnya kedua lengan Latifah sembari memaksa dan menyuruh sang gadis berjilbab itu untuk berdiri berbalik membelakanginya. Dengan takut Latifah menurutinya.
    Saat tubuh itu berbalik membelakanginya menghadap ke arah jok bangku panjang di belakang bus itu, Joni langsung memegangi rok panjang gadis jilbab itu yang sudah tersingkap sampai sepinggang, sehingga Joni langsung bisa melihat kemulusan paha Latifah berikut celana dalam putihnya. Tanpa sabar Joni dengan tangan kanannya yang kekar menurunkan paksa celana dalam gadis jilbab itu, sehingga terlihatlah kulit pantat dan pinggul gadis alim itu, berikut kemaluannya dari arah belakang, seperti kue martabak yang terlipat, indah dan menggairahkan. Pinggul gadis alim itu terlihat membukit indah sekali.
    Sembari meregangkan kedua paha mulus Latifah dengan tangan kanannya, tangan kirinya membimbing penis yang sudah tegak mengacung kearah kemaluan gadis jilbab itu, mencari-cari lubang kemaluannya agar tidak melenceng, karena ia khawatir ada penumpang yang terbangun.

    Digesek-gesekkannya kepala penis itu di belahan vagina Latifah yang sudah basah itu. Perlahan didorongnya masuk menembus belahan sempit vagina yang masih perawan itu. Awalnya sulit karena sering meleset namun akhirnya ia berhasil. Kepala penisnya mulai mendesak masuk ke belahan kemaluan gadis jilbab yang naas itu. “Aakkkhh…!”,pekiknya tertahan saat kemaluan besar itu perlahan menerobos masuk vagina miliknya. Sembari kedua lengan Latifah bertumpu diatas sandaran kepala kursi bus mulutnya menggigit ujung jilbab putihnya. Dengan wajah tertunduk menahan sakit, malu terhina bercampur aduk dengan mata terpejam, perlahan dari bibirnya mulai terdengar isak tangis nan lirih. Joni tidak menyia-nyiakan kesempatan, dengan keras ia menekan penisnya. Sedikit sedikit akhirnya ia berhasil membenamkan penisnya dalam-dalam sampai menyentuh ujung rahim milik gadis jilbab itu. Nampak penis pria itu tidak sepenuhnya tertanam dikarenakan ukurannya yang panjang. Terlihat pula cairan kental bercampur darah nampak menetes keluar dari bibir vagina itu.
    Keperawanan sang gadis berjilbab putih lebar itu telah bobol. Lalu sesaat setelah mengatur nafas Joni mulai menggenjot tubuh gadis jilbab itu dari belakang.
    Tangannya yang satu mencengkeram dan meremas-remas payudara Latifah. Sementara yang satunya lagi mencengkeram erat pinggul bahenol itu. Penisnya maju mundur perlahan menikmati kemaluan gadis berjilbab putih lebar itu,”Oohh..emmhh..sshh…seret banget memiawmu ssayyyanggh ohh..!”, desah dan racauan Joni. Rasa nikmat tiada tara terasa menjalar sampai ke ubun-ubun sang kondektur. Sama sekali tidak bisa dibandingkan pada saat ia menyetubuhi
    para pelacur langganannya. Kini ia terlihat perkasa dan amat bangga sekali mampu mempermalukan gadis jilbab yang selama ini selalu menjaga auratnya itu. “Kecepak..plak..plakk…!”, bunyi yang timbul saat s*****kangan pemerkosa itu beradu dengan bongkahan pantat nan padat milik Latifah sang gadis berjilbab putih lebar berulang-ulang.
    Sedangkan gadis berjilbab putih lebar hanya bisa merintih dan mendesah pelan sembari tubuhnya terguncang-guncang menerima sodokan demi sodokan penis pemerkosanya itu yang semakin lama semakin cepat. “Emmmhh…uukhh…hehh..”, rintih pelan Latifah sembari kepalanya yang terbungkus jilbab putih lebar itu mengangguk-angguk pelan menahan nikmat sekaligus sedikit sakit karena baru kali inilah ia berhubungan seks.

    Begitulah, di tengah laju bus malam itu, penis pemerkosa itu benar-benar membongkar habis kemaluan gadis berjilbab putih lebar itu sampai lebih dari 1 jam!! Sampai-sampai gadis jilbab itu mencapai tiga kali orgasme!!
    Dan akhirnya tepat jam 1.00 dini hari,”Sshhh…shhhh…oohhh aku kelluarr..ssayanggggghh…ahhhh”, pekik Joni tertahan saat ia mencapai klimaks sembari membenamkan penisnya dalam-dalam dan memeluk tubuh Latifah erat-erat dari belakang seraya memuncratkan seluruh air maninya ke dalam rahim Latifah, gadis berjilbab yang malang itu. Tubuh gadis berjilbab itu langsung terduduk dan terkulai lemas tatkala kondektur jahanam itu melepaskan pelukannya dari belakang sembari mencabut penis miliknya. Tangisnya meledak, karena keperawannya amblas.
    Menyesal, kenapa ia tidak berangkat satu bus saja dengan teman-teman sekantornya.
    Sementara Joni yang telah menggagahinya nampak terduduk setengah telanjang dengan wajah penuh kepuasan ia duduk disamping Latifah sedang menangis tersedu-sedu. Sesaat kemudian dengan senyum penuh kemenangan tangan kanannya meraih kepala berjilbab Latifah yang sedang terduduk lemas disamping kanannya. Lalu dengan penuh nafsu dicium dan dilumatnya bibir gadis berjilbab putih lebar yang pakaiannya sudah serba tersingkap itu dengan rakus. “Mmmhh…emmm...cepok…cepok!”,bunyi mulut yang beradu diiringi suara tangis Latifah yang tertahan.
    Setelah puas, pria itu melepaskan ciumannya sembari berujar,”Terima kasih sayang. Abang belum pernah main seks dengan cewek macam kamu. Luar biasa nikmat.”. “Perjalanan kita masih beberapa jam lagi. Nanti pas bus berhenti di persinggahan, abang pengen ngegenjot lagi memiaw nikmat milikmu ini”,kata Joni tersenyum sembari tangan kirinya mengelus-elus vagina Latifah. Wajah cantik gadis berjilbab putih lebar yang sudah kusut itu nampak terlihat lesu dan pasrah diiringi isak tangis dan cucuran air mata dari matanya yang terpejam.

    Dan benar saja, beberapa jam kemudian saat bus berhenti di di sebuah restoran, di tengah kekosongan bus yang ditinggal penumpangnya untuk makan dan minum, dari sudut paling belakang bus yang gelap (karena dimatikan lampunya), nampak sesosok gadis berjilbab putih lebar berwajah cantik dengan pakaian dan rok panjangnya yang tersingkap keatas sedang ditindih dan digenjot seorang pria berbadan kekar dan berkulit hitam. Pahanya terkangkang lebar karena dipegangi pria itu. Sedangkan penis pria itu dengan ganasnya menyodok keluar masuk vagina gadis jilbab itu. Tidak ada lagi isak tangis dari mulut Latifah. Yang ada tinggal desahan lirih menahan nikmat genjotan Joni sang kondektur bus. Benar-benar malang nasib Latifah si gadis berjilbab itu. Perjalanan yang semula dikira akan berjalan biasa telah mengubah dirinya untuk selamanya.
    >>> Jilbab Lover <<<
    Do not forget to say thanks ...

  6. #6
    Tukang Ngocok kebon's Avatar

    Join Date: Jan 2010

    Location: Pondok Jilbab

    Posts: 214

    Thanks: 1

    Thanked 3,235 Times in 112 Posts

    Thumbs up Perkosaan Jilbaber

    Noruyuni adalah seorang ibu rumah tangga berwajah cantik yang berkulit putih bersih baru berusia 25. Perkahwinannya dengan Rahim baru berlangsung kira-kira 6 bulan yang lalu. Walaupun sibuk guru sebuah sekolah menengah di S*****or, wanita ini memang pandai menjaga kehormatan dirinya. Noruyuni sentiasa mengenakan tudung labuh serta baju kurung. Penampilannya kelihatan begitu anggun ditambah lagi dengan wajah dan senyuman yang bolah menggetarkan hati lelaki. Pada suatu petang, selepas tamat sesi persekolahan pagi, Noruyuni telah didatangi Saiful, seorang rakan sekerja di pejabat suaminya. Pada hari itu, Noruyuni mengenakan tudung labuh berwarna cream dan berbaju kurung sutera berwarna biru laut. Penampilan yang cukup untuk membuatkan lelaki berasa ingin untuk membelainya. Saiful telah datang ke rumah untuk menghantar dokumen yang perlu ditandatangani Rahim dengan segera. Memandangkan Rahim yang ketika itu berada di Serawak dan hanya akan sampai di rumah kira-kira jam 10.00 malam disebabkan masalah flight delay, maka kerjasama Saiful telah diminta untuk menghantarkan dokumen itu ke rumah agar dapat diteliti dahulu pada malam harinya sebelum menurunkan tandatangan. Saiful sememangnya sering kali mencari-cari apa sahaja cara asalkan dia dapat meletakkan pandangan matanya pada Noruyuni biarpun untuk sedetik cuma. Kelembutan gerak-geri serta kemulusan kulit Noruyuni dalam beberapa pertemuan sebelum ini, sering kali menjadikannya hilang kawalan. Acapkali dia membayangkan situasi di mana Noruyuni menjadi miliknya. Justeru, peluang untuk ke rumah Noruyuni ini memang satu peluang yang amat dinanti-nantikannya Sebagai seorang isteri yang pandai menjaga kehormatan diri dan nama baik suami, Noruyuni menerima kedatangan Saiful dengan hanya menemuinya di meja bulat di halaman rumahnya sahaja. Saiful hanya tersenyum melihat tindak- tanduk Noruyuni yang agak kekok dan sedikit keliru apabila dia menerangkan kepada Noruyuni mengenai situasi di pejabat untuk disampaikan kepada suaminya. Sememangnya itu adalah taktik Saiful untuk melihat Noruyuni dengan lebih dekat dan lebih lama lagi. Saiful sedar Noruyuni tidak akan menjemputnya masuk ke dalam rumah lebih-lebih lagi dengan ketiadaan suaminya. Tiba-tiba angin petang yang agak kencang bertiup ke arah mereka telah menyebabkan tudung labuh yang dipakai Noruyuni terangkat lalu menutup mukanya sendiri. Dengan segera Noruyuni menurunkan kembali tudung labuhnya ke posisi asal dan sedikit menekan hujung tudung tersebut dengan tangan kirinya agar peristiwa tersebut tidak berulang lagi. Muka Noruyuni memerah menahan malu apabila menyedari ada lelaki selain suaminya yang mungkin telah melihat apa yang selama ini tersembunyi di sebalik tudung labuhnya itu. Lantas, Noruyuni meminta Saiful kembali meneruskan penerangannya mengenai keadaan syarikat agar dia boleh meminta Saiful pulang. Biarpun peristiwa itu hanya beberapa saat namun, pemandangan buah dada Noruyuni yang begitu gebu dan menarik bentuknya itu telah merangsang nafsu Saiful dengan mendadak. Biarpun masih ditutupi baju kurung suteranya, namun kegebuannya jelas terserlah. Saiful yang mula di asak nafsu mula menyedari bahawa hanya mereka berdua yang berada di halaman rumah yang agak jauh dari rumah jiran-jiran. Dia mula memikirkan bagaimana untuk dia dapat menikmati tubuh dan kemulusan kulit Noruyuni yang cukup sempurna ini. Bau minyak wangi yang dipakai Noruyuni juga cukup membuka nafsunya. Saiful sedar dia perlu bertindak bijak agar dia tidak menyesal di kemudian hari. Saiful tiba-tiba batuk seolah-olah seperti tekaknya sangat kering. Selepas beberapa ketika Saiful pun meminta sekiranya Noruyuni boleh menghidangkannya segelas air suam. Noruyuni tanpa ragu-ragu terus meminta Saiful untuk tunggu sebentar bagi membolehkannya masuk ke dapur untuk mendapatkan air suam. Saiful hanya tersenyum lebar melihat lenggok Noruyuni yang bergegas ke dapur. Saiful sedar inilah peluangnya untuk menikmati tubuh Noruyuni. Suasana rumah Noruyuni memang sangat sunyi memandangkan mereka hanya tinggal berdua.Di dapur, Noruyuni tengah asyik menyiapkan minuman tetamu suaminya yang tengah menunggu di ruang tamu. Tangan isteri muda ini sedang sibuk mengelap gelas yang baru di ambil dari almari pinggan mangkuknya tanpa disedarinya, laki-laki tamu suaminya yang semula menunggu di halaman rumah telah menyelinap ke dapurnya Noruyuni terjerit kecil, ketika dirasakannya tiba-tiba ada tangan yang memeluknya dari belakang. Wanita bertudung labuh lebar ini menjadi sangat terperanjat ketika menyedari yang memeluknya adalah Saiful yang ditinggalkan di halaman rumahnya tadi. Noruyuni sedaya-upaya meronta-ronta untuk melepaskan diri dari pelukan Saiful untuk mempertahankan kehormatan dirinya. Tangan kiri Saiful terus menutup mulut Noruyuni bagi menghalangnya daripada menjerit manakala tangan kanannya terus mempamerkan sebilah pisau di hadapan muka Noruyuni. Noruyuni menggigil ketakutan. Saiful mendekatkan mulutnya ke telinga Noruyuni yang masih sempurna bertudung labuh, “Maaf, Noruyuni, Saiful terpaksa. Kamu begitu begitu cantik dan menggairahkan, Saiful harap kau jangan melawan atau berteriak atau Saiful akan berbuat sesuatu yang tidak Saiful inginkan. Saiful hanya ingin untuk bersama dengan mu bukan untuk mencederakanmu.” desis Saiful dalam membuat Noruyuni gementar dan buntu untuk melakukan apa-apa. Tubuh ibu muda bertudung labuh yang alim ini seolah-olah mengejang ketika dia merasakan kedua tangan Saiful itu menyusup ke balik tudung labuhnya lalu meramas-ramas lembut kedua payudaranya yang tertutup dengan baju kurung suteranya. Saiful mula hilang kewarasan lalu mula membelai payudara itu dengan penuh bernafsu sekali. Ciuman-ciuman manja mula diberikan di belakang kepala Noruyuni terus ke pipi kirinya. Harum tubuh Noruyuni benar-benar merangsang. Noruyuni hanya mampu meronta-ronta membantah apa yang terjadi ini. Selepas bermain dengan payudara Noruyuni, tangan Saiful mula turun ke arah kemaluan Noruyuni dan mula mengelus kemaluan Noruyuni dari luar baju kurung suteranya. Lantas salah satu tangan lalu turun ke arah s*****kangannya, meremas-remas kemaluannya dari luar jubah yang dipakainya. “Jangaan.. Saiful..hentikan tolong….”desah Noruyuni dengan ketakutan. Noruyuni mula menggeliat-geliat dengan perbuatan Saiful ini. “Jangaan.. Saiful….lepaskan Saiful… ini salah.” desah Noruyuni masih dengan wajah ketakutan sambil berharap Saiful akan melepaskannya… Saiful kini semakin berani lantas menyusupkan tangannya ke dalam kain baju kurung sutera yang dipakai Noruyuni lalu terus menyentuh kemaluannya tanpa berlapik. Jari-jemari Saiful terus bermain kemaluan Noruyuni dan sekali menyentuh klitoris dan cuba mengacah-ngacah untuk masuk ke kemaluannya. Lama-kelamaan, Saiful mula merasakan kemaluan Noruyuni mulai basah dan mula sayup-sayup kedengaran suara Noruyuni mendesah perlahan. Melihatkan yang Noruyuni kini telah jatuh ke dalam penguasaannya, Saiful lantas berhenti dan mencempung tubuh harum Noruyuni yang kini mula terangsang ke bilik tidunya. Sungguh Saiful tidak menyangka begitu mudahnya untuk mendapatkan Noruyuni yang masih berpakaian lengkap dengan tudung labuh dan baju kurung suteranya yang kini rebah terlentang di atas katil. Saiful melorot buas ketika Noruyuni yang terbaring. Noruyuni masih lagi cuba untuk membantah meronta-ronta untuk dilepaskan namun Saiful cukup cekap mengawal mangsanya ini. Pisau tersebut turut dibawanyadan diletakkan di sebelah katil itu agar boleh dicapai pada bila-bila masa sahaja. Dengan birahi menggelegak, Saiful naik ke atas ranjang berhampiran kaki Noruyuni yang terlentang. Sesaat kemudian, tangannya meraih kedua kaki Noruyuni yang masih ditutupi kain baju kurungnya dan terus melepaskannya ke lantai kamar.Mata Saiful membesar ketika melihat kaki telanjang Noruyuni berkulit putih mulus ini cukup indah putih kemerahan. Kakinya yang halus dengan otot yang kebiruan terlihat sangat indah dan merangsang nafsunya lantas membuatnya tergerak untuk mengelus-elusnya. Noruyuni hanya meronta-ronta pasrah di atas katilnya itu dan hanya mampu menantikan tindakan seterusnya dari Saiful sambil bergenang air mata. Tangan Saiful meraba-raba merasakan kemulusan betis Noruyuni yang kenyal dan terasa hangat dan lembut. Bibir dan lidah Saiful pun kian liar menjilati untuk menikmati kemulusan kaki Noruyuni kian ke atas. Betis putih yang mulus dan ditumbuhi bulu-bulu nan halus ini dalam basah kuyup oleh jilatan dan ciuman Saiful sambil tangan mula merayap ke pehanya yang bulat dan padat. Saiful semakin bernafsu merasakan kemulusan paha putih yang kencang serta padat tersebut. Baju kurung yang dipakai Noruyuni kian tersingkap hingga ke pinggang membuatkan bahagian bawah tubuh isteri muda ini telanjang. Saiful melotot penuh nafsu melihat pemandangan yang menggiurkan di depannya. Bayangkan Seorang ibu muda alim yang bertudung labuh kini dalam keadaan setengah telanjang. Bahagian atas Noruyuni masih lagi rapi dengan tudung labuh lebar yang membalut wajahnya, yang kini kemerah-merahan menahan malu dan melawan kebangkitan nafsunya. Noruyuni hanya mampu menoleh ke kanan dan ke kiri bagi mempamerkan bantahannya terhadap apa yang berlaku padanya kini. Tangan Saiful mula mengusap kemaluan Noruyuni yang kelihatan membukit itu, Kemaluannya kini hanya ditutupi seluar dalam putih satin. Tangan Saiful terus telah menikmati kekenyalan bukit kemaluan Noruyuni. Saiful memperhatikan wajah Noruyuni yang terlentang di depanku ini. Wajah ayu berbalut tudung labuh mula bertambah kemerah-merahan. Wajah ibu muda ini mula memperlihatkan ekspresi wanita yang tengah dilanda birahi. Tidak sabar lagi, Saiful terus menarik pertahanan terakhir Noruyuni lantas membenamkan wajahnya di kemaluan Noruyuni. Lidah Saiful terjulur menjilati kelentit yang menonjol di antara bibir kemaluan Noruyuni. Saat lidahknya mulai menyapu kelentit Noruyuni tiba-tiba pinggulnya menggelinjang diiringi desahan ibu muda bertudung labuh ini. “Ahh…ahhhhh..ahhh” desah Noruyuni yang membuat nafsu Saiful semakin menggelegak. Setiap kali lidah Saiful menyapu permukaan kemaluan Noruyuni atau bibirnya dicium dengan penuh nafsu, Noruyuni yang berkulit putih ini menggelinjang dan mendesah-desah penuh birahi. Belahan bibir kemaluan Noruyuni dengan kelentit yang menonjol di tengahnya, terlihat semakin nampak jelas. Bulu-bulu kemaluan yang tercukur rapi di bukit kemaluan ibu muda ini juga terlihat semakin jelas. Melihat pemandangan indah di s*****kangan Noruyuni, membuat Saiful menjadi semakin tidak sabar. Bibir kemaluan Noruyuni terlihat merekah kemerahan dengan kelentit menonjol kemerahan di tengahnya. Saiful menjadi sangat terangsang melihat hal ini. Dengan bernafsu, Saiful menghirup dan menjilati cairan kenikmatan Noruyuni yang menetes dari kemaluannya. Saiful merasa paha Noruyuni bergetar lembut ketika lidah Saiful mulai menjalar mendekati s*****kangannya. Noruyuni menggeliat kegelian ketika akhirnya lidah itu sampai di pinggir bibir kewanitaannya yang telah terasa menebal. Ujung lidah Saiful menelusuri lepitan-lepitan di situ, menambah basah segalanya yang memang telah basah itu. Temengah-mengah, Noruyuni mencengkeram rambut Saiful dengan satu tangan, seolah-olah cuba menghalang Saiful dari meneruskan perbuatan itu. Saiful segera menjilat di daerah yang paling sensitif milik Noruyuni . Noruyuni mengeliat hebat ketika lidah dan bibir Saiful menyusuri sekujur kemaluan ibu muda ini. Mulut wanita ini mendesah-desah dan merintih-rintih saat bibir kemaluannya di kuak lebar-lebar dan lidah Saiful terjulur menjilati bagian dalam kemaluannya. Ketika lidahnya menyapu kelentit Noruyuni yang telah mengeras itu, Noruyuni merintih hebat dan tubuhnya mengejang sehingga terangkat. “Ahhhhh….jangan ahhhhhh….ahhhhh” rintih Noruyuni dengan disertai tubuh yang mengejang. Saiful terus mengunyah-ngunyah kemaluan Noruyuni beberapa saat yang membuat ibu muda bertudung labuh ini mengerang dan merintih. Mata Saiful kini terarah pada sepasang payudara gebu milik Noruyuni yang masih tersembunyi di balik tudung labuh dan baju kurung yang dipakai Noruyuni. Tangan Saiful meraih tudung labuh tersebut lantas menyingkap hingga ke lehernya, kemudian dengan lincah jari-jari tangan Saiful meramas payudara Noruyuni yang kelihatan gebu dan lembut sekali. Dirasuk nafsu, Saiful terus merentap dan mengoyakkan baju kurung sutera Noruyunidan mencampakkannya ke atas lantai. Perlahan kelihatan kulit mulus Noruyuni yang kini hanya ditutupi tudung labuh dan bra. Noruyuni tidak mampu berbuat apa-apa dan hanya menanti tindakan Saiful.

    Saiful lantas menarik bra yang menghalang pandangannya pada payudara Noruyuni. Buah dada Noruyuni nampak sangat montok dan indah. Buah dada yang putih mulus dengan puting susu yang kemerahan membuat Saiful segera mengunyahnya secara bergantian. Puting susu yang telah tegak mengeras itu dihisap dan digigit-gigit kecil membuat Noruyuni terpekik kecil menahan kenikmatan birahinya. Saiful sudah tak tidak dapat menahan nafsuku meneruskan hisapan-hisapan di payudara tersebut tanpa menanggalkan tudung labuh Noruyuni. Noruyuni hanya mampu mengerang dan masih lagi merayu agar segera dihentikan perbuatan ini. “Jangaan..saiful..hentikaaan…cukuplah ” pinta Noruyuni dengan suara bergetar menahan tangis ketika wanita alim ini melihat Saiful mula menanggalkan pakaiannya dan mula menindih dan mula menciumnya. Saiful memeluk Noruyuni erat. Memeluk seorang wanita bertudung labuh secantik Noruyuni dengan keadaan dirinya hanya bertudung labuh memang mengasyikkan Saiful. Kehangatan tubuh Noruyuni membuat nafasnya kian kencang. Saiful mula menggeselkan batangnya pada kemaluan Noruyuni. Noruyuni masih lagi cuba merayu meskipun tahu ia tidak akan berhasil. Perlahan-lahan Saiful menekan batang ke ruang yang terasa hangat dan sempit itu. Kemaluan Noruyuni telah pun cukup basah untuk memulakan hubungan seksual. Saiful menekan perlahan-lahan dan menarik kembali. Tindakan Saiful itu diiringi dengan keluhan daripada Noruyuni. “Ahhh..Ahh…” rintih Noruyuni dengan nafas tersekat sekat. Sememangnya kemaluan Noruyuni terasa sempit sekali seperti anak gadis. Saiful semakin garang lantas membenamkan keseluruhan batangnya ke dalam kemaluan Noruyuni. Noruyuni tersentak dan cuba sedaya upaya untuk menyediakan dirinya dengan kemasukan batang yang berlainan saiz dari milik suaminya ini. Tudung labuhnya kian berkedut akibat ditindih Saiful. Saiful mula mengenjut kemaluan Noruyuni dengan perlahan pada mulanya dan semakin lama semakin laju. Dengusan dan keluhan Noruyuni semakin kuat. Gesekan antara batang Saiful dengan kelembutan dinding dalam kemaluannya membuatnya tewas pada keasyikan berhubung badan. Saiful kini menindih dan memeluk Noruyuni dan memberikannya ciuman penuh bernafsu. Payudara Noruyuni yang begitu gebu ini terasa begitu nikmat ditindih dengan dadanya. Peluh yang membasahi dua tubuh ini seolah-olah hanya melincirkan lagi pelayaran mereka. Wajah Noruyuni yang masih bertudung labuh ini kelihatan begitu terangsang sekali. Gerakan demi gerakan oleh Saiful semakin laju. Tangan Noruyuni mula meremas-remas kain cadar satin putihnya dan mula merintih kenikmatan. Tangannya mula memeluk Saiful dan mula mencakar belakang Saiful. Meskipun terasa sakit Saiful, terus menerus mengenjut dan menekan sedalam-dalamnya kerana menyedar yang Noruyuni akan sampai ke puncaknya. Kemaluan Noruyuni terasa semakin basah dan semakin sempit. Kehangatannya membuatkan Saiful tidak lagi mampu mengawal lantas menghamburkan pancutan air maninya di dalam kemaluan Noruyuni. Noruyuni juga mengalami orgasmanya pada waktu yang sama. Kedua-duanya berpelukan erat dengan nafas termengah-mengah. Saiful merasa cukup nikmat namun masih lagi belum buas dan masih lagi menindih tubuh mulus itu. Noruyuni mula serba salah di atas apa yang berlaku dan cuba untuk bangun dari katil. Namun Saiful lebuh pantas menahannya dan terus menciumnya dan berpelukan di atas katil. Bersetubuh dengan wanita alim seperti Noruyuni yang hanya memakai tudung labuh benar-benar merangsang nafsunya. Noruyuni cuba membantah namun Saiful berkeras untuk terus memeluk dan terus mencumbuinya. Saiful melihat jam pada dinding di bilik tidur tersebut baru menunjukkan jam 8 malam. Masih ada 2 jam sebelum flight Rahim mendarat di KLIA. Saiful bercadang untuk menggunakan masa yang ada itu dengan sebaik-baiknya….
    >>> Jilbab Lover <<<
    Do not forget to say thanks ...

  7. #7
    Tukang Ngocok kebon's Avatar

    Join Date: Jan 2010

    Location: Pondok Jilbab

    Posts: 214

    Thanks: 1

    Thanked 3,235 Times in 112 Posts

    Thumbs up Fitria yang Lugu

    Pasti hari ini , gua di pangil ke kantor kepsek lagi ? pikirnya . Dia terus berjalan memasuki ruang kelasnya . Wajahnya yang putih , tampak cantik dengan jilbab putihnya yang bersih .

    Bel tanda di mulainya pelajaran berbunyi . Tak lama seorang guru , memasuki kelas dimana gadis itu duduk . ? selamat pagi , pak ? sapa murid murid nya serempak .
    pagi ..? jawab guru itu . Guru itu melihat satu persatu anak didiknya .

    Ummi ..? suara guru itu menghentak gadis cantik berjilbab itu . ? ya ..pak ? Jawab Ummi.
    kamu di panggil ke ruang kepala sekolah ? Kata guru itu .

    Ummi sudah tahu sebelumnya , sudah telat satu minggu dia belum melunasi SPP nya.Apa lagi bulan lalu dia masih menunggak .Dengan gontai Ummi bangun dari kursinya dan berjalan ke luar ruang kelasnya . Beberapa pasang mata , teman temannya melihatnya .

    tok tok ?? suara ketukan pintu di ruang kepsek terdengar . ? masuk ? begitu jawaban dari dalam ruang itu . Ummi membuka pintu ruang kep sek itu . ? selamat pagi pak ? sapa Ummi kepada kepala sekolahnya .

    Kepala sekolah itu menatap Ummi , gadis cantik , kelas 1 SMU yang selalu berjilbaba . Di usianya yang baru enam belas tahun , tercermin kecantikan dan ke elokan di wajahnya.
    hemm , apa yang ada di balik rok abu abu panjang , yang eloe pakai Ummi..? guman kep sek itu dalam hati .

    begini Ummi , soal pembayaran SPP ..? kata kep sek itu . ? maaf , pak .. orang tua saya belum punya uang..? jawab Ummi . ? yah , tapi peraturan , Ummi tidak bisa begitu , kamu sudah menunggak , dan sekarang juga belum bayar , kamu akan di keluarkan dari sekolah ini ..? kata kep sek itu . ? tolong pak , beri saya waktu ..? iba Ummi .

    ehm .. saya tahu , kamu murid yang pandai , sayang kalau sampai putus sekolah ..? jawab kep sek itu. ? tolonglah pak ?? iba Fitri lagi . Mata kepsek itu dengan jalang , menatap Ummi . Dia tersenyum dan berkata ? Ummi , kamu sudah punya pacar?? .

    Ummi agak tercengang dengan pertanyaan kepala sekolahnya yang tidak relevan ini .
    Ummi menjawab ? tidak saya tidak punya pacar pak ? jawab Ummi . ? bagus. .. bagus..? jawab kep sek itu .

    Kamu akan terus di sekolah ini , tidak usah bayar SPP , asal kamu mau bercinta dengan saya..? kata kep sek itu . Kuping Ummi terasa panas mendengar kata kata kep sek itu . ? pak , maksud bapak apa ? ? kata Ummi .

    ha ha ha , saya rasa kamu tahu , maksud saya , apa perlu saya perjelas ..? kata kep sek itu lagi . Ummi mengeleng ? pak saya tidak bisa?? jawab Ummi. ? kalau begitu , kamu di keluarkan dari sekolah ini sekarang juga..? bentak kep sek itu .

    tapi ?tapi ?pak ..tolong jangan keluarkan saya?? iba Ummi. Kep sek itu tersenyum ? Ummi saya tidak sejahat itu , saya cuma ingin bersenang senang dengan kamu , sayang??.

    Ummi diam menundukkan kepalanya , di hatinya berkecamuk segala macam pikiran .
    Ummi , kalau kamu mau saya malah bisa , memberi kamu uang jajan setiap harinya ..? kata kep sek itu lagi .

    Ummi hanya bisa diam , mulutnya tak mampu untuk berbicara . Dan Kep sek itu mulai mendekatinya , dan tiba tiba mencium bibir Ummi . Saat itu Ummi meronta ? jangan pak ?jangan ?saya tak mau ?? . Ummi lalu berlari ke arah pintu , tapi Kep sek itu lebih sigap ,

    Pintu di ruangan itu berhasil di tahan oleh Kep sek itu . Dan Kep sek itu menraik tangan Fitri menjauh dari pintu itu , lalu mengunci pintu ruang itu . Ummi terus meronta , tapi kepsek itu menampar pipinya . ? aduh ? jerit Ummi , dengan sebagian wajah cantiknya tertutup jilbab putih yang di kenakannya.

    Lalu dengan kuat tubuh imut ABG itu di hempaskan ke sofa di ruang itu .? elo jangan macem macem , lebih baik turuti kemauan gua..atau gua akan memyiksa eloe ? ancam Kep sek itu . Fitri mulai panik . ? jangan saya tidak mau ..lepaskan?? jeritnya . ? plak ?? kep sex itu kembali menampar wajahnya , meninggalkan bekas memerah di pipinya .

    ampun pak ? jangan..sakit?? erang Ummisambil memegang pipinya . ? diam jangan cerewet loe..? kata Kep sex itu yang sudah di kuasi nafsu birahinya .

    Tangan kep sek itu dengan cepat melepas kancing baju seragamnya , satu persatu . juga bra yang di kenakannya . Buah dadanya yang baru tumbuh itu menjadi santapan liar mata kep sex itu . Putting susunya yang kecil di sentuhnya , Fitri kembali merota ? jangan pak ..jangan ..saya malu ?? .

    diam , mau gua tabok lagi loe ..yah?? bentak kep sek itu . Ummi terdiam , air matanya mulai mengalir . Tiba tiba , putting susunya di cubit dan di tarik kepsek itu . ? aduh..sakit?jangan..sakit..ampun ?? erang Fitri . Kepsek itu menyeringai , ? yah terus menjerit , gua suka mendengarnya ??

    Kepsek itu terus mencubit , dan memilin milin putting susu imut milik ABG itu , membuat Ummi merasa kesakitan . Lalau dia berhenti , dan mejilati putting susu Fitri .dan menyusui di buah dada ABG itu . ? ih ..eh..jangan pak ?ahh?? erang Ummi .

    Rok panjang yang di kenakannya , mulai di naikkan ke atas terus sebatas pinggulnya . Ummi kini tak bisa berbuat apa apa , hanya pasrah , memperlihatkan ke mulusan pahanya .
    Tangan kepsek itu pun mengelus elus , paha mulus dan licin itu , sambil matanya menatap selakanganan anak didiknya , yang masih terbungkus celana dalam pinknya itu .

    benar benar bikin nafsu ..? ujar kep sek itu . Kemudian kedua belah kaki Fitri di buka lebar oleh Kepsek itu . Hidung Kepsek mendekati s*****kangan celana dalam itu , dan menghirup aromanya ? hmmm , benar benar aroma perawan ? puji Kepsek itu dengan menyeringai .Tangan Kepsek lalu melepas celana dalam pink itu . dan kembali melebarkan kedua belah kaki Fitri.

    Mata Kepsek terbelak , menyaksikan vagina Fitri yang masih muda itu . Belahanya masih terasa sempit . Dengan bulu bulu halus yang baru tumbuh di bukit vaginanya .
    Dengan dua jarinya Kepsek membelah bibir vagina itu , dan menemukan klitorisnya yang merah , serta liang vaginanya yang tampak rapat .

    Lidah Kepsek pun menjulur , menjilati vagina Fitri. ? ihhhh?.ihhh?jangan pak ..geli .. ?.? erang Fitri, dengan tubuh yang mengeliat . Lidah Kepsek terus saja , menyapu vaginanya . bergerak cepat di klitorisnya yang terlihat semakinn tegang. Fitri pun terus menerus mengeliat , dan mengerang .

    Tanpa terasa , birahi ABG itu pun terusik , dia merasakan nikmat yang baru pertama kali di rasakannya . Dari liang vaginanya yang perawan , terasa mulai di basahi oleh lendir birahinya .

    Lidah Kepsek semakin liar menyapu vagina Fitri, dan Birahi Fitrisudah birahi .? ahhh sudah pak ahhh?sudah?ahh??? erang Fitri. . Kepsek itu menghentikan jilatannya dan memandang wajah cantik ABG berjilbab itu . ? sudah ..yang benar .. jangan pura pura , gua tahu eloe suka di jilatin ..? kata Kepsek itu .

    Wajah Fitri memerah . Lidah kepsek itu tiba tiba menjilati lagi klitorisnya . ? ehhhh?.ahhhh?. ahhh?? Fitri kembali mengerang . Lidah itu terus menyapu dengan liar . tak lama kepsek itu kembali bertanya pada Fitri , sambil menatap wajah cantik ABG berjilbab iitu . ? enak engak Fitri sayang ..? .

    Fitri tak menjawab dia memejamkan matanya . ? eh kalau di tanya jawab dong , enak engak?? kepsek itu mengulangi pertanyaannya . Fitri menjawab singkat ? enak ..? , sambil menutup wajah cantiknya dengan jilbab putihnya ..

    ahhh?ahh.. pak? ? erang Fitri ketika kembali merasakan lidah kepsek itu menyapu vaginanya . Dan kepsek itu terus menstimulasi klitoris Fitri yang tampak sudah semakin membesar karena birahinya . Liang vaginanya terus mengeluarkan lendir birahinya .
    Tubuh Fitri terus mengeliat , merasakan kenikmatan . Kenikmatan yang baru pertama kali dirasakannya .

    Tanpa sadar birahinya semakin memuncak , orgasme semakin mendekati , ada suatu desakan dalam tubuh Fitri . Lidah kepsek itu bergerak terus , dan Tubuh Fitri tiba tiba kejang , lalu mengejet beberapa kali . ? ahhh?.enak sekali?.? erang Fitri , tak bisa lagi menyembunyikan perasaannya .

    Kepsek itu tahu jelas Fitri baru saja orgasme . Dia berhenti , dan membiarkan Fitri menikmati orgasmenya .

    Entah mimpa apa Kepsek semalam , tapi dia merasa sangat beruntung , bisa menikmati tubuh muda belia gadis ini . Dengan segera Kepsek melepas celananya sekaligus kolor hitamnya . Penisnya langsung mencuat , tegang sekali .

    Kepsek menyodorkan penis itu di mulut Fitri. Tapi Fitri membuang muka , merasa jijik dengan benda asing , yang baru pertama kali dilihatnya itu . ? Fitri , ayo gantian dong ?? bujuk kepsek itu . Kepsek itu memegang tangan Fitri , dan membawanya ke batang penisnya yang sudah tegang itu .

    Fitri meraba raba penis itu . Mata Kepsek merem melek , ketika batang penisnya di remas jari jari lembut Fitri. ? ahhh? ? ahh..enak?.? erang Kepsek . Tangan Fitri terus meremas batang penis kepsek itu . Fitri pun merasakan sensasi nya .

    Fitri sayang , jilat in dong ..ayo ..? pinta kepsek itu . Tapi Fitri terluhat ragu sekali . Tapi kepsek itu terus membujuknya . Akhirnya Fitri menjulurkan lidahnya , dan menjilati batang penis itu .

    Karena Fitri belum pengalaman , maka kepsek itu segera menarik penisnya .Kepsek itu yang sudah bernafsu segera mengarahkan penis itu ke vagina Fitri. Kepala penis itu , menempel di liang vagina Fitri. Perlahan , penis yang besar itu di tekan masuk ke dalam liang vagina Fitri .

    awww?. Sakit pak?ampun ?setop .. ? jerit Fitri, ketika penis Kepsek yang besar itu ,menerobos masuk liang vaginanya , merobek selaput daranya .

    Fitri mengigit bibirnya menahan rasa sakit di vaginanya , dan Kepsek itu terus menekan , hingga penisnya mentok di dalam liang vagina Fitri. Perlahan Kepsek , menarik keluar penisnya dari liang vagina Fitri, disertai erangan Fitri.

    gila , enak bener m*m*k eloe sayang ?? Kepsek melenguh , sambil terus mengerakkan penisnya dalam vagina Fitri.. Kepsek itu merasa nikmat sekali , tapi Fitri merasakan kesakitan sekali .

    Vaginanya yang perawan , di lukai oleh penis kepsek itu yang cukup besar . Tangan Fitri mengcengkram ujung sofa kulit di ruang itu . Dari mulutnya terdengar erangan kesakitan. Raut mukanya meringis ringis menahan sakit dan pedih di vaginanya.

    Sementara kepsek itu terus mengerakkan batang penisnya keluar masuk laing vagina ABG itu penuh nafsu . Nafasnya ngos ngosan , keringat membahasi dahinya .
    Penis itu terus menusuk nusuk liang vagina Fitri . ? aduh ..sakit ..sudah pak ?sakit sekali ?? erang Fitri . Tapi kepsek itu tidak peduli , hasratnya harus terpenuhi .

    Tubuh Fitri menjadi lemas , saat sata mendekati ejakulasinya , gerakan kepsek itu semakin liar , Penis itu di hentak hetakan dalamliang vagina Fitri . Fitri menjerit setiap kali batang penis itu menghentak dalam liang vaginaya. ? aduh..sakit?.? .

    Untunglah tak lama kemudian penis besar itu berhenti bergerak . Penis itu diam dalam liang vagina Fitri . Dan Fitri bisa merasakan sperma kepsek itu membajiri liang vaginanya . Perlahan penis kepsek itu terlepas dari liang vaginanya .

    Tampak sperma mengalir keluar dari liang vagina Fitri yang memar memerah . Ada bercak darah di vaginanya . Kepsek itu memberinya tisuue , ? ini di lap , tuh m*m*k ? kata kepsek itu .

    Sambil melap vaginanya , air mata Fitri mengalir . ? udeh gak usah nangis segala ..:? kata kepsek itu .

    Fitri pun segera memakai kembali pakaiannya , merapikan jilbabnya yang acak acakkan . Lalu dia berjalan ke arah pintu . Fitri , ini buat eloe jajan..? kata kepsek itu , sambil memberikan beberapa lembar , uang lima puluh ribuan .

    eloe jangan takut , eloe akan tetap sekolah disini ..? kata Kepsek itu l . Fitri menatap kepsek itu . ? oh iyah , dan jangan lupa besok eloe kemari lagi yah?? kata kepsek itu .
    Fitri hanya diam , lalu kepsek itu membuka pintu ruang itu , dan Fitri berjalan dengan kepala tertunduk kembali ke kelasnya .
    >>> Jilbab Lover <<<
    Do not forget to say thanks ...

  8. #8
    Tukang Ngocok kebon's Avatar

    Join Date: Jan 2010

    Location: Pondok Jilbab

    Posts: 214

    Thanks: 1

    Thanked 3,235 Times in 112 Posts

    Thumbs up Terima Kasih Cikgu ...

    ikgu Nurhasiqim (Nur sebagai nama pendeknya) adalah seorang cikgu muda yang telah di hantar ke sekolah aku untuk menjalani latihan perguruannya. Cikgu Nur ni memang lawa. Umurnya baru 22 tahun. Dia sering memakai baju kebaya atau baju kurung. Wajah ayunya makin terserlah dengan tudung dipakainya. (Lihat gambarnya disini: Ramai cikgu-cikgu lelaki yang Melayu dan bukan Melayu di sekolah itu ingin merapatinya tapi nampaknya Cikgu Nur tak begitu minat. Murid lelaki pun ada yang menaruh harapan kat Cikgu Nur. Maklumlah, umur tak jauh setakat 2-3 tahun je. Tingkatan atas, muridnya berumur 18 tahun, Cikgu Nur 22 tahun, jadi ramai jugaklah yang merasa dia orang ni ada peluang dengan Cikgu Nur. Aku yang berbangsa India pun gitu jugak, maklumlah, siapa tak minat dengan orang yang lawa kan?

    Satu hari tu, aku balik lewat sebab ada latihan bola. Kerana keletihan, aku tertidur di bilik salinan. Bila aku sedar, aku lihat semua kawan-kawan aku sudah balik. Aku bangun dan mandi. Selepas mandi, aku tukar pakaian dan keluar menuju ke bilik rehat cikgu. Bilik ni cuma cikgu-cikgu je boleh masuk. Aku lihat lampu di bilik itu terang dan pintunya renggang sedikit. Aku menjenguk dari celah pintu. Takde orang. Aku menolak pintu besar sedikit. Aku lihat keliling. Memang takde orang. Tetiba aku terdengar bunyi benda jatuh. Aku masuk ke dalam bilik rehat itu. Aku lihat bilik guru besar lampu hidup.

    Dari bayangan dalam bilik tu, seperti ada orang sedang lakukan sesuatu. Aku berjalan perlahan-lahan menghampiri bilik itu. Aku cuba untuk melihat siapa di dalam tetapi tingkap terlindung. Aku mengendap dari lobang anak kunci. Aku lihat dalam bilik itu, Cikgu Vellu, jurulatih bola aku sedang memegang tangan Cikgu Nur. Cikgu Nur seakan meronta untuk melepaskan
    tangannya. Cikgu Vellu kemudian menarik Cikgu Nur merapati badannya. Cikgu Vellu cuba mencium Cikgu Nur tapi Cikgu Nur menghalang.

    Tangan Cikgu Vellu mula menyentuh dada Cikgu Nur. Dada Cikgu Nur di ramas Cikgu Vellu. Tangan kiri Cikgu Vellu pula cuba menyeluk kain Cikgu Nur. Sesekali kain Cikgu Nur terselak tinggi menampakkan peha putihnya. Aku mendekatkan lagi diri aku dengan pintu pejabat itu. Terdengar pula perbualan mereka. Jangan Vellu! Jangan... Nur... jangan begitu, aku tahu kau pun nak juga. Janganlah lagak baik Kau selalu pakai baju kebaya ketat dan kasut tumit tinggi nak bagi punggung kau tonggeng...Lelaki mana boleh tahan tercabar macam itu? Aahh… jangan Vellu. Aku tak berniat buat macam itu, lepaskan aku... aku menjerit nanti..!! Jeritlah Nur... tiada siapa di bangunan ni. Jeritlah...

    Tolonglah Vellu… jangan buat aku begini... Cikgu Vellu menolak Cikgu Nur ke
    atas sofa. Kain Cikgu Nur terselak hingga aku nampak jelas seluar dalam hitamnya.
    Hmmm... hitam. Nice colour… i like a woman who wears black. Cikgu Vellu
    tersenyum dan ketawa melihat pangkal peha Cikgu Nur. Cikgu Nur menurunkan kainnya dan cuba bangun dari sofa itu. Nak ke mana tu sayang? Cikgu Vellu menahan Cikgu Nur bangun dari sofa itu. Dia memeluk Cikgu Nur dan menariknya ke sofa itu kembali.

    Cikgu Vellu memeluk Cikgu Nur dari belakang. Dia menyelak baju Cikgu Nur hingga menampakkan dada Cikgu Nur. Besar buah dada Cikgu Nur. Cikgu Vellu kemudian menyeluk tangannya ke dalam coli hitam Cikgu Nur dan meramas-ramas buah dada Cikgu Nur. Cikgu Nur cuba menarik tangan Cikgu Vellu tetapi Cikgu Vellu lebih kuat.

    Cikgu Vellu pula membuka coli Cikgu Nur dan tetek Cikgu Nur jelas aku lihat.
    Memang besar dan montok. Punatnya tegang. Warnaya seperti merah jambu muda. Cikgu Vellu menggentel-gentel punat Cikgu Nur. Dia kemudian menghisap punat Cikgu Nur. Aku lihat, ronta Cikgu Nur mula perlahan. Cikgu Vellu membuka baju Cikgu Nur dan mencamppakannya ke tepi. Bibirnya yang hitam tidak henti-henti menghisap dan mencium-mencium tetek Cikgu Nur yang putih gebu. Tangannya mula menyelak kain Cikgu Nur lagi. Cikgu Vellu mengangkangkan kaki Cikgu Nur dan menyelak kainnya hingga ke paras pinggang.

    Jari Cikgu Vellu mula mengosok-gosok di luar seluar dalam Cikgu Nur. Suara Cikgu Nur mula kedengaran seperti merengek daripada menangis. Cikgu Vellu mula menarik turun seluar dalam Cikgu Nur. Tangan Cikgu Nur hanya mampu memukul lemah badan Cikgu Vellu. Seluar dalam Cikgu Nur diturunkan hingga ke paras lutut. Aku lihat puki Cikgu Nur tidak berbulu lebat. Terjaga rapi.

    Jari Cikgu Vellu sudah masuk ke dalam puki Cikgu Nur. Cikgu Nur merengek lebih kuar sedikit sambil terisak-isak. Jangan… sakit... tolong...ahhh… Cikgu Vellu tidak berhenti dan terus saja lakukan sesuka hatinya. Cikgu Vellu mula dengan jari tengahnya dan dijolok-jolok puki Cikgu Nur. Dia kemudian memasukkan kagi satu jari. AAAahhh...sakit..!!! Cikgu Nur teriak sedikit. Cikgu Vellu kemudian bangun dan dengan segera membuka seluarnya.

    Dengan tidak berseluar dalam, konek Cikgu Vellu terbujur tegang. Cikgu Nur menjadi gerun melihat konek Cikgu Vellu yang panjang 10 inci dan hitam legam. Koneknya juga berkulup seperti juga saya. Jangan Vellu... tolong…zakar you masih berkulup, aku orang Islam...i tak nak...Berkulup lah lagi best, tambahkan syahwat; jawab Cikgu Vellu. Seluar dalam Cikgu Nur di buka terus dan kakinya terkangkang luas. Cikgu Vellu menarik kulit kulupnya ke bawah dan tersembullah kepala koneknya yang besar licin berwarna pink.Cikgu Nur merasa amat jijik melihat batang konek hitam legam tapi kepala konek pink. Cikgu Vellu mula mengesel-gesel koneknya di puki Cikgu Nur. Cikgu Nur cuba menolak badan Cikgu Vellu tapi tak berdaya. Aku lihat Cikgu Vellu semakin laju mengesek-gesek koneknya di puki Cikgu Nur.

    Cikgu Vellu kemudian memegang koneknya dan mula memasukkan ke dalam puki Cikgu Nur. Aarrghh..!! Aaahhh... sakit… tak... nak... Suara Cikgu Nur tersekat-sekat. Konek Cikgu Vellu dijolok masuk sepenuhnya ke dalam puki Cikgu Nur. Cikgu Vellu mula menjolok-jolok puki Cikgu Nur. Cikgu Nur meronta seperti menahan kesakitan dan juga ingin melepaskan diri. Cikgu Vellu pula semakin laju mengerjakan puki muda Cikgu Nur.

    Kaki Cikgu Nur diangkat dan direhatkan di bahu Cikgu Vellu. Puki Cikgu Nur semakin jelas. Cikgu Vellu pula makin menjolok dalam. Cikgu Nur yang hanya bertudung hitam saja cukup dikerjakan Cikgu Vellu. Semakin lama, ronta Cikgu Nur semakin lemah. Malah, badannya, punggungnya semakin mengikut rentak enjutan Cikgu Vellu. Tangan yang mulanya menolak badan Cikgu Vellu, kini kelihatan seperti memeluk badan itu. Kaki yang perlu dipaksa, kini terbuka luas seperti rela di tebuk semahunya.

    Tetek Cikgu Nur bergoyang dengan setiap enjutan batang konek Cikgu Vellu. Cikgu Vellu pula sibuk sambil mengenjut puki Cikgu Nur sambil menghisap punat tetetknya. Suara Cikgu Nur pula semakin jelas merengek dan tidak lagi kedengaran isakan tangisan. Cikgu Vellu kemudian mengadap muka Cikgu Nur. Dia mula mencium-cium pipi dan leher Cikgu Nur. Enjutannya semaki laju. Kemudian Cikgu Vellu mencium bibir Cikgu Nur. Perlahan-lahan Cikgu Nur membalasa ciuman Cikgu Vellu. Cikgu Nur mengusap kepala Cikgu Vellu. Mereka berciuman.Bibir mungkil pink muda bertarung dengan bibir hitam. Batang konek Cikgu Vellu berterusan membolos puki Cikgu Nur. Cikgu Vellu kemudian mengangkat punggung Cikgu Nur dan menjunamkan sedalamnya koneknya dipuki Cikgu Nur. Urrghhh.... sayang... Nur.... Bila Cikgu Vellu menarik keluar koneknya dari puki Cikgu Nur, aku lihat lendiran putih meleleh di puki Cikgu Nur.

    Cikgu Vellu telah melepaskan benih hindunya di dalam rahim Cikgu Nur. Cikgu Nur terbaring lemah di sofa itu. Cikgu Vellu duduk di sebelahnya. Tangan Cikgu Vellu meraba manja puki Cikgu Nur yang lekit dengan pekatan Cikgu Vellu. Cikgu Nur memeluk tubuhnya. Cikgu Vellu tersenyum puas. Konek diurut agar lebihan maninya keluar dan akhirnya kepala koneknya disembunyikan oleh kulup. Cikgu Vellu kemudian bangun dan memakai pakaiannya. Cikgu Nur yang masih bertudung, terbaring lemah di atas sofa itu. Tubuhnya yang putih dan langsing terdedah luas untuk aku tatapi. Kakinya terkangkang luas menampakkan pukinya yang sedang lechak. Sedang aku nengok Cikgu Nur terbaring gitu, batang aku pun mula menegang. Aku lihat Cikgu Vellu sudah pun memakai pakaiannya dan jalan menuju ke pintu.

    Aku sembunyi di balik almari. Cikgu Vellu jalan keluar dari bilk rehat itu. Melihat Cikgu Vellu keluar dari bilik rehat itu, aku masuk ke dalam bilik guru besar dan mengunci pintu. Aku merapati Cikgu Nur. Dia tidak sedar yang aku menghampirinya. Tangannya menutup mukanya mendedahkan segalanya untuk aku lihat. Batang aku semakin mengeras. Aku mencium bau tubuh Cikgu Nur. Baunya begitu menghairahkan. Aku melutut di tepi sofa, mengadap puki Cikgu Nur. Belahan pukinya sudah terbuka. Air mani Cikgu Vellu masih lagi melekat di belahannya. Aku mencium bau tubuh Cikgu Nur sekali lagi. Dari pukinya aku naik hingga ke dadanya. Punatnya tegang. Teteknya besar dan montok sekali. Aku menjelirkan lidah dan mula menjilat perlahan punat Cikgu Nur. Terdengar dengusan nafasnya. Aku mula menghisap punatnya perlahan-lahan. Dengusan nafasnya mula meningkat.

    Aku bangun dan membuka seluar aku. Konek aku terbujur keluar. Mungkin tidak sebesar Cikgu Vellu tetapi aku rasa batang keras 8 inci berkulup dan lebih hitam dari Cikgu Vellu masih cukup mendatangkan kepuasan. Aku baring di atas Cikgu Nur. Hangat tubuhnya terasa bila kami bersentuhan. Aku menghisap kedua-dua punat Cikgu Nur. Dengusan nafas Cikgu Nur menjadi rengekan lemah. Kakinya mula mengangkang lagi hinggakan konek aku berada diantara belahan pukinya. Tangannya mula mengusap kepala aku. Punatnya makin menegang dihisap oleh aku. Aku lihat mata Cikgu Nur masih tertutup. Konek mula bergeselan dengan pukinya.

    Tetiba aku rasa kaki Cikgu Nur merangkul pinggang aku. Aku tidak dapat menahan dan terus menjunamkan konek aku ke dalam puki Cikgu Nur. Dia membuka matanya dan seakan terkejut melihat aku yang mula menyodok pukinya. Cikgu Nur cuba meronta. Aku pegang kedua tangannya dan terus menindihnya. Apa yang awak lakukan? Lepaskan saya! Eeee...kenapa lelaki keling suka sangat dengan saya??!! Cikgu Nur makin meronta. Aku hampir terjatuh menahankan tolakan Cikgu Nur. Maaf cikgu… saya tak tahan… Aku teruskan enjutan batang hitam aku yang kekerasan tu ke dalam puki Cikgu Nur yang lechak di penuhi air mani dia dan Cikgu Vellu. Jangan… tolonglah kesian kan cikgu...aku ni orang Melayu, mana boleh buat seks dengan orang India yang masih berkulup??. Aku merasa simpati dengan rayuan Cikgu Nur tapi nafsu aku harus di puaskan juga.

    Aku tidak pernah merasai persetubuhan dengan gadis Melyu. Apatah lagi puki Cikgu Nur begitu ketat dan sedap. Dayungan punggung aku semakin laju. Konek aku sudah hampir mencapai ketegangan penuh. Kembangnya sudah hampir tamat. Terasa penuh lubang puki Cikgu Nur disumbat konek aku. Kelembapan di dalam puki Cikgu Nur membuatkan aku semakin ghairah menujah pukinya. Pertama kali aku merasa puki sesedap ini. Patutlah Cikgu Vellu mengiler tadi masa dia fucking Cikgu Nur. Semakin aku mengenjut Cikgu Nur, aku rasa dia semakin lemah menahan. Terasa pula kakinya kembali merangkul pinggang aku. Bukan setakat merangkul tetapi mula menolak punggung aku agar lebih laju menujah lobang nikmatnya. Jari jemarinya mula menggengam tangan aku.

    Melihatkan reaksinya, aku mula menyonyot kedua2 teteknya. Punatnya mula menegang tinggi di jamah lidah aku. Makin aku jilat, makin terdengar Cikgu Nur meraung kenikmatan. Badannya juga mula mengikut rentakan dayungan nafsu yang membara. Kakinya mula mengeratkan rangkulannya. Aku dapat rasa kemutan Cikgu Nur. Uhhmmm… aaahhhh.... lagii… rengekan Cikgu Nur mula ketara. Aku menurut saja kehendaknya. Urghhh... kemut lagi cikgu… Cikgu Nur juga mematuhi arahan aku. Kemutannya makin kuat dan rengekannya semakin buat aku berahi. Aku mahu melakukan teknik dari belakang. Teknik yang seirng aku tengok dalam VCD XXX. Aku lihat selalunya perempuan agak menjerit kenikmatan bila di tujah secara doggy-style. Aku dengan memaksa pusingkan badan Cikgu Nur.

    Punggungnya aku tonggengkan dan kakinya aku kangkangkan. Tanpa berlengah pukinya aku tujah dengan sekuatnya. Cikgu Nur mula menjerit. Dia tak tahan dengan tujahan itu. Tangannya menggengam arm rest sofa itu. Hujung tudungnya aku lilitkan dengan kemas di belakang bahunya. Seluruh badannya menggeletar. Teteknya aku ramas sepuas2nya. Mulutnya tak henti-henti meraung kesedapan dan ada seketika meminta di tujah lebih mendalam. Konek aku semakin mengiler. Tak pernah kau rasa sesedap ini bila main dengan perempuan. Kemutan Cikgu Nur pun semakin kuat. Lagi… dalam... ahhhhh... urghhhh.... Cikgu Nur tewas lagi. Badannya kejang. Aku dapat rasakan kemutannya mula mereda dan airnya membasahi batang keras aku.

    Tapi aku masih belum lagi sampai kemuncak. Konek aku masih lagi ligat mengenjut puki muda Cikgu Nur. Mulutnya terkumat-kamit meraung kesedapan dan kenikmatan. Ahhhh… uhhhmmm... sudahlah... Dia ingin dilepaskan. Aku tak peduli. Kali ini aku tahu dimmana akan memberi Cikgu Nur sesuatu yang tak akan dia lupakan. Aku meraba pukinya. Jari aku dapat rasakan lelehan air puki Cikgu Nur. Aku membasahi jari aku dengan air Cikgu Nur dan sapukannya di lobang jubor Cikgu Nur. Banyak betul air Cikgu Nur. Aku sapukan di lobang ubor nya hingga kelihatan kilat. Aku menahan tubuh Cikgu Nur ke bawah dan mencabut keluar batang aku.

    Perlahan-lahan aku menggesel kepala batang aku di lobang jubor Cikgu Nur. Cikgu Nur terlentok lemah. Maklumlah, dia baru habis kemuncak. Melihat mata Cikgu Nur terpejam, aku terus menolak masuk konek aku ke dalam lobang jubornya.
    Aaaduuuhhh...!!!! Arrggghh... Jeritan Cikgu Nur mengisi ruang bilik itu. Dia cuba bergerak tetapi aku menahan. Ketat betul jubor dara Cikgu Nur ni. Perlahan-lahan aku menyumbat batang aku ke dalam. Semakin lama, semakin dalam batang aku ke dalam. Kerana terlalu ketat, hanya separuh saja batang hitam aku dapat masuk jubor Cikgu Nur.

    Itu pun dia dah meraung- raung. Jangan… sakit... arrhhh... Aku tak peduli. Aku tak pernah main jubor perempuan dan ni lah masanya untuk aku merasainya. Tolong lah… sakitt... Makin di rayu, makin mengila aku kerjakan lobang Cikgu Nur. Akhirnya, tiba masa aku pula mencapai kenikmatan seks dengan Cikgu Nur. Kepala konek aku mula berdenyut-denyut. Terasa segala cecair pekat putih mula berkumpul di hujung kepala konek aku. Aku melajukan lagi enjutan aku ke lobang jubor Cikgu Nur. Uhhmmm… kejap lagi cikgu... dah dekat ni...aku nak pancut kat muka cikgu boleh?

    Aku tidak menuggu jawapannya. Aku mencabut keluar konek aku dari jubor Cikgu Nur dan mensasarkan konek aku ke mukanya.Selepas beberapa kali melancap…creeeeeetttttt... creetttttt... Sekurang-kurangnya 10 atau 11 das air mani pekat aku terkena mata, hidung dan bibirnya...Beberapa das pekat air mani hindu juga terkena tudungnya. Air mani yang putih kontras sekali dengan tudungnya yang hitam. Cikgu Nur menggunakan hujung tudungnya untuk membersihkan muka ayu nya yang tercemar oleh air mani aku. Kenapa kau pancut kat tudung aku?!! Mesti kesan air mani kau tak boleh ditanggalkan..terlampau pekat...Cikgu Nur berkata dengan nada agak marah tapi manja. Lain kali bila cikgu guna tudung ini, cikgu cakap saja kesan air mani itu sebenarnya design tudung itu; aku berkata cuba berlawak. Tanpa disangka, Cikgu Nur menarik konek aku dan meghisap sisa-sisa air mani yang tersekat di kulup aku. Ingatkan cikgu tak suka kulup? Cikgu Nur hanya senyum nakal.Aku memeluk Cikgu Nur sekuatnya.Bilik itu tenang seketika. Hanya nafas berahi kami kedengaran. Aku bangun dan memakai seluar dan t-shirt aku. Cikgu Nur terkulai lemah di sofa itu. Tubuhnya yang montok lunyai pertama kali di kerjakan 2 orang India. Aku merapati Cikgu Nur dan memapah dia bangun. Aku bersihkan puki dia dan memakaikan pakaiannya semula. Dia menyuruh aku menahan teksi di luar dan menghantar dia pulang.
    >>> Jilbab Lover <<<
    Do not forget to say thanks ...

  9. #9
    Tukang Ngocok kebon's Avatar

    Join Date: Jan 2010

    Location: Pondok Jilbab

    Posts: 214

    Thanks: 1

    Thanked 3,235 Times in 112 Posts

    Thumbs up Lima Perampok

    Rumah itu tampaknya sepi saat Doni telah meninggalkan rumahnya untuk
    pergi ke kantornya. Lima orang begundal tengah mengamati rumah itu
    dari mobil boxnya .
    "Gimana Bang, serbu sekarang ? " tanya Botak.
    "Tunggu , jangan nafsu. Lihat situasi dulu, bego loe.." kata Mamat,
    pemimpin gang perampok tersebut .
    "Biasanya jam segini, hansip suka lewat pake sepedanya. Kita tunggu
    sebentar bang," kata Tatto yang sudah seminggu mengamati rumah
    tersebut.
    Bener kata Tatto, lima menit kemudian, dua orang hansip melewati
    rumah itu dengan mengayuh sepedanya. Mereka berpura pura tengah
    menganti ban mobil box tersebut.
    Setelah hansip itu berlalau, Mamat langsung bertanya, "Gimana
    sekarang .."
    "Oke bang , hansip itu cuma lewat , lalu nongkrong di pos ujung
    sana , main gaplek," terang Tatto .
    "Oke, kita siap beroperasi. Botak, eloe sama si Bedu masuk dulu.
    Beresin korban kita," perintah Mamat.
    Kedua orang anak buahnya cepat bergerak, melompati pagar rumah itu.
    Mereka tak kesulitan masuk ke dalam rumah itu , karena pintu utama
    tak terkunci. Nyaris tak terdengar, mereka bergerak cekatan,
    melumpuhkan pembantu setengah tua di rumah itu .
    Mereka mengendap pelan dan tiba tiba membuka pintu kamar tidur.
    Di dalam kamar tidur, Hajar, seorang ibu muda berjilbab terkejut.
    "Siapa kalian ? .. mau apa. ?"
    Mereka tersenyum menyeringai. Secepat kilat Botak telah memeluk
    tubuh wanita itu , lalu membekap mulutnya. Bedu mengunakan lakband
    membungkam mulutnya.
    Setelah Hajar berhasil dilumpuhkan tanpa perlawanan berarti, Botak
    segera keluar, membuka pintu pagar rumah itu. Dia memberi kode
    kepada tiga temannya.
    Mobil box itu bergerak masuk ke dalam garasi rumah itu. Tatto ,
    Joki dan Mamat segera masuk ke dalam rumah itu.
    "Hei tunggu, dia punya anak. Satu lima tahun, satunya masih
    orok .." terang Tatto .
    "Gak ada, gua udah periksa sekeliling rumah," jawab Botak.
    "Udah gak usah peduli , ambil harta di rumah ini cepat," perintah
    Mamat.
    Mereka pun mencari harta di rumah itu. Lemari di kamar Hajar diobrak
    abrik. Mereka
    mendapatkan sejumlah uang dan perhiasan. Mereka juga mengondol
    barang barang elektronik di rumah itu, memasukkannya dalam mobil box
    mereka. Tak sampai setengah jam harta benda di rumah itu telah
    berpindah ke dalam mobil box mereka.
    "Ayo, jalan..." kata Tatto.
    "Tunggu, gimana kalau kita senang-senang dulu. Nih cewek cakep juga,
    gua mau cobain,.." kata Mamat sambil memandangi perempuan berbusana terusan
    panjang berwarna hijau dan jilbab putih lebar itu.
    Mamat mendekati Hajar . Hajar meronta dalam ikatannya, yakin sesuatu
    yang buruk akan segera menimpanya.
    Mamat membuka lakbannya. Hajar langsung menjerit , "tolong ..
    rampok …." .
    "Plak …" , dengan sadis sebuah tamparan Mamat hinggap di pipi wanita
    berjilbab tersebut. Hajar meringis kesakitan, tiba tiba Mamat mengeluarkan
    sepucuk pistol , menempelkan di lehernya. Rasa dingin menjalar di seluruh
    tubuhnya .
    "Eloe mau gua bunuh …?" ancam Mamat .
    "Jangan , ampun .. ampun bang.." iba Hajar .
    Tiba tiba Mamat menjulurkan lidahnya menjilat wajah Hajar . Hajar
    meronta , jijik dia rasakan . Sambil memegang kepala Hajar, Mamat melumat
    bibirnya dengan penuh nafsu, mendorong lidahnya masuk ke dalam mulutnya. Hajar
    meronta.
    "Ampun Bang , saya sudah punya suami, jangan perlakukan saya seperti
    ini .." ibanya . "Hua ha ha.. , sama gua juga sudah punya bini ,
    bini gua tiga malah .. ha ha ha .." ejek Mamat . Tiba tiba tangan
    Mamat meremas buah dada Hajar yang berada di balik baju hijaunya
    itu. Hajar meringis akibat remasan keras Mamat .
    Saat itu timbul lagi keberanian Hajar. Dia mendorong tubuh Mamat dan
    berusaha lari. Tapi apa daya, seorang wanita dengan lima pria
    kasar . Tatto menangkap tangannya menyeretnya ke ranjang nya. Lalu
    tubuh wanita berjilbab itu terbaring di atas ranjang ,
    dengan dua tanganya dipegang erat oleh Tatto.
    Joki memberi Mamat sebilah belati tajam , kembali Hajar mendapat
    ancaman dari Mamat ."Loe mau mampus yah..?" . " Jangan .. ampun
    tolong … " kata Hajar mengiba.
    Dan dengan belati itu , Mamat merobek pakaian Hajar, mereka tercengang menatap
    buah dada Hajar yang lumayan besar. Kini
    tubuh wanita itu hanya ditemani jilbab putihnya yang lebar dan celana dalam
    kremnya.Tapi itu pun tak akan bertahan lama.
    Wajah Hajar terlihat memerah , belum pernah dalam hidupnya dia
    merasa terhina dan malu seperti ini. Tubuhnya yang separuh bugil
    dinikmati mata mata liar para perampok itu. Kembali Mamat memainkan
    belati itu di hadapan mukanya.
    "Ampun bang, jangan sakiti saya .." ibanya .
    "Dengar yah, gua cuma mau senang senang sama eloe, jadi kalau eloe
    nurut, tentu gua gak akan sakitin eloe .." kata Mamat.
    Hajar terlihat pasrah. Ketiga anak buahnya yang lain hanya diam
    melihat dengan nafsu , mereka tak berani bertindak sebelum di
    perintah bosnya yang terkenal kejam itu . Tangan Mamat tiba tiba
    meremas buah dada Hajar dengan keras. Hajar merintih. Remasan keras
    itu mendesak susu yang ada di dalamnya hingga muncrat keluar.
    Mamat tersenyum , dia menjilati ASI yang keluar dengan nafsu. Mamat
    juga menyedot puting susu Hajar dengan rakus bagai bayi yang
    kelaparan. Puas dengan itu, jilatan Mamat terus turun ke bawah,
    bermain di pusarnya dan terus menuju s*****kangannya.
    Mamat dengan penuh nafsu mengendus aroma vagina wanita berjilbab
    ini. Tubuh Hajar menggelinjang.
    Walaupun Hajar sehari harinya seorang ibu rumah tangga yang pemalu
    dan alim, tapi dia tetap seorang manusia, seorang wanita yang
    mempunyai nafsu birahi. Diperlakukan seperti ini oleh Mamat, tanpa
    dia rasa, birahinya meningkat. Meninggalkan jejak basahan di
    s*****kangan celana dalam kreamnya. Mamat pun mengetahui korban
    mulai jinak.
    Hidungnya terus menggesek s*****kangan celana dalam Hajar. Tanpa
    sadar Hajar mulai mendesah nikmat. Apalagi, ditambah rangsangan yang
    diberikan Tatto dengan remasan remasan di buah dadanya sambil
    memegang erat tangan Hajar .
    Saat untuk melepas celana dalamnya. Dua tangan Mamat mulai
    menurunkan celana dalam kream Hajar .
    "Tolong .. jangan… tolong.." erangnya.
    Mamat hanya tersenyum. Tangannya terus menurunkan celana dalam itu.
    Mamat sangat menyukai vagina Hajar yang terawat rapi tanpa bulu
    kemaluannya.
    "Wah, memek eloe bagus banget .." puji Mamat.
    Lalu Mamat berusaha membuka lebar kakinya. Dengan dua jarinya Mamat
    membelah bibir kemaluanya. Mamat menatap jelas, ada tahi lalat
    sebesar kismis di sebelah kiri bibir vaginanya.
    "Wah biasanya cewek ada tai lalat di memeknya tandanya nafsunya
    besar nih.." ujar Mamat.
    Ucapan itu tentu saja semakin membuat Hajar malu. Dia pun berusaha
    merapatkan kedua kakinya, tapi Mamat segera menahannya. Lidah Mamat
    dengan nafsu menjilati
    klitoris Hajar yang terbuka.
    "Aahhhh… " erang panjang Hajar terdengar.
    Lidah kasar itu segera mengelitik klitoris Hajar yang tentu saja
    membuat wanita berjilbab itu menjadi birahi. Liang vaginanya mulai
    mengeluarkan lender birahinya. Mamat juga menyedot-nyedot klitoris
    Hajar dengan nafsu. Itu membuat Hajar semakin menggelinjang,
    tak mampu menyembunyikan nafsu birahinya.
    Lidah Mamat terus menari, menyapu klitorisnya dan menelan cairan
    yang keluar dari liang vagina Hajar dengan penuh nafsu. Sesaat
    kemudian tubuh wanita imut itu mengejang, dia tak dapat lagi menahan
    birahinya. Hajar orgasme dibuat Mamat.
    "Ha ha ha .. enak kan..?" goda Mamat. Hajar hanya bisa memejamkan
    matanya.
    Mamat sekarang sudah menyodorkan penis besar dan hitamnya di depan
    wajah Hajar . "Isep kontol gua.." perintahnya.
    Tentu saja Hajar menolak. Dia merapatkan mulutnya dan membuang
    mukanya . Mamat
    tertawa
    "Ha ha ha, kenapa loe gak suka kontol gua yah..?" . Mamat terus
    mendesak ujung
    penisnya di bibir Hajar, tapi Hajar tetap merapatkan mulutnya.
    Tangan Mamat tiba tiba meremas keras buah dada Hajar sampai sampai
    air susunya muncrat keluar .
    "Ahhhh … sakit…" jerit Hajar.
    Saat mulutnya terbuka karena menjerit, penis besar itu tanpa permisi
    masuk ke dalam mulutnya. Hajar pun tak bisa berbuat apa apa. Penis
    itu bergerak keluar masuk dengan cepat.
    "Oh ahh … mulut eloe enak juga yah .." erang Mamat.
    Sedang Hajar hanya bisa mengerang , dengan suara tertahaan penis
    besar Mamat . "ufff …euhhh afff" erang Hajar.
    Penis besar Mamat terus mendorong-dorong hingga ke tengorokannya.
    Tak lama kemudian Mamat telah dekat ke puncak birahinya. Gerakan
    penisnya semakin kasar , dan menghentak hentak keras, menyodok
    kerongkongan Hajar. Dan " ahhhh… gua keluarr… " erang Mamat,
    penisnya pun menyemburkan cairan panas spermanya.
    Hajar kalap, berusaha meronta untuk memuntahkan sperma Mamat .
    Tapi penis Mamat
    masih bertahan di mulutnya.
    "Telan peju gua, goblok.." bentak Mamat pada wanita berjilbab itu.
    Hajar tetap meronta dan Mamat sengaja menjepit hidung wanita itu
    dengan jarinya . Hajar kelabakan, dia seperti kehabisan nafas,
    hidung tersumbat dan mulut dijejali penis besar Mamat.
    Hajar lemas, mau tak mau sebagian sperma itu tertelan. Puas dengan
    itu, penis Mamat pun keluar dari mulutnya. Hajar , sebisa mungkin
    memuntahkan sperma Mamat yang
    tertinggal di mulutnya . Para perampok itu hanya tertawa tawa.
    "Nah , sekarang eloe orang boleh mainin cewek ini, tapi jangan di
    entot dulu, itu bagian gua.., ha ha ha .." kata Mamat.
    Mereka berempat saling berpandangan , lalu berhamburan menghapiri
    tubuh wanita itu yang berbaring tak berdaya. Dengan Jilbab putih
    yang teracak acak menutupi kepalanya.
    Ke empat perampok itu kini sama sama mengerayangi tubuh Hajar. Dua
    orang dengan bernafsu meremas remas keras buah dadanya. Air susu
    Hajar muncrat keluar tak terkendali .
    "Ampun .. sakit…. hentikan.." erang Hajar.
    Tatto yang sedari tadi membantu bosnya memengang tangan Hajar agar
    tak meronta, kini
    meminta Hajar untuk menservis penisnya. Sedang Joki yang
    berperawakan besar asik merodok rodok vaginanya dengan dua jari.
    Mamat yang sudah orgasme itu tersenyum melihat kerakusan anak
    buahnya menikmati tubuh tak berdaya wanita berjilbab ini. Sambil
    menghisap rokok kreteknya, Mamat keluar kamar, mencari lemari es
    yang besar yang tak dapat dibawa dengan mobil
    boxnya. Dia membuka pintu kulkas tersebut, mengambil sebotol air
    putih dan menenggaknya . Matanya melihat ada beberapa buah mentimun
    besar di sana .
    Dia mengambilnya lalu membawanya ke dalam kamar tidur Hajar .
    "Ahh… sakit… sudah…" terdengar erang Hajar yang mengiba. Terlihat
    Joki sedang mengorek-ngorek liang vaginanya dengan dua jarinya.
    "Eh, pake ini .." kata Mamat sambil tersenyum. Joki menerima ketimun
    yang besar itu . Joki segera mengarahkan ketimun itu ke liang
    vagina Hajar. Ketiga temannya segera melihat dengan seru .
    "Iyah .. ayo sodok Joki.."
    "Jangan.. jangan.. tolong…jangan…" pinta Hajar .
    Tapi yang Hajar rasakan adalah rasa panas menyerang buah dadanya
    yang montok itu.
    "Ahhhh….Panasss…perih.." jeritnya ketika Mamat dengan sadis
    menyundut bara rokok itu ke buah dadanya.
    "Badan eloe punya gua sekarang, jangan teriak teriak.. , guoblok…"
    bentak Mamat.
    Tiba tiba Hajar menjerit kembali ketika mentimun besar itu didesak
    masuk dengan tiba tiba oleh Joki, yang seakan akan merobek liang
    vaginanya.
    "Aghhh….Sakit…" erangnya.
    Mentimun itu digerakkan secara kasar oleh Joki, keluar masuk liang
    vagina wanita
    berjilbab itu. Erangan kesakitan Hajar tak dihiraukan mereka.
    Demikian juga dengan Bedu dan Botak yang asik meremas remas buah
    dada Hajar, sehingga air susunya
    keluar, mereka lalu menjilati ASI tersebut.
    Semua perlakuan mereka sangat melecehkan Hajar dan menyakiti tubuh
    wanita imut ini. Tiba tiba terdengar suara poliphonic, nada dering
    HP. Mereka mencari-cari, ternyata itu HP Hajar yang berada di kamar
    mandi , dalam kamar itu. Mamat menatap layar HP itu tertera
    tulisan " CINTAKU ".
    "Stop dulu," kata Mamat .
    Lalu Mamat mengambil belati mengkilap itu, mendekatkan ke leher
    Hajar.
    "Angkat telepon ini , tapi jangan macem macem, bilang kamu baik baik
    saja atau gua gorok leher elo.." ancam mamat.
    "Hallo … mas…." Kata Hajar . "Oh eh .. tidak .. tidak apa apa.."
    kata Hajar lagi.
    "Enggak koq , cuma pusing sedikit.., tapi aku gak apa-apa koq mas.."
    kata Hajar lagi .
    "Yah baik mas, baik.." kata Hajar lalu menutup telepon itu .
    "Ha ha ha.. lanjut… " kata Mamat.
    Kembali tubuh Hajar didera rasa sakit. Joki terus menyodok nyodok
    liang vagina Hajar dengan buah mentimun itu. Sedang Tatto dan Bedu
    asik meremas remas buah dada Hajar dengan kasar . Sedang Tatto
    terlihat memperkosa mulut Hajar. Tatto dengan kasar juga meyodok-
    nyodokkan penisnya dalam mulut Hajar . "Oh… ahhh… gua udah mau
    keluar nih.." erangnya.
    Sambil terus penis itu bergerak cepat di mulutnya, Tatto lalu
    melepas spremanya . Sebagian di dalam mulut Hajar, sebagian
    membasahi wajah cantiknya yang separuh tertutup jilbab putihnya.
    Mamat saat itu sudah kembali birahi, penisnya tampak sudah ngacung
    besar.
    "Eh Joki geser loe , gua mau coba memek nih cewek.." katanya.
    Mamat kemudian berusaha membuka kaki Hajar dengan kedua lututnya dan
    mengarahkan penisnya yang sudah keras ke vagina Hajar. Hajar
    berusaha meronta sebisa mungkin . Tapi "buk… " satu pukulan keras
    di perutnya membuat dia tersedak.
    "Diam .. bego loe.." ancam Botak.
    Dengan satu kali dorongan Mamat yang keras, penis besarnya memasuki
    liang vagina Hajar. Hajar menjerit, " Sakittt.. ….. jangan…ampun.."
    Dan makin meronta-ronta, tanpa daya menghentikan Mamat memperkosa
    dirinya. Mamat sendiri menikmati sekali segala jeritan dan rontaan
    Hajar. Ia menyeringai setiap kali Hajar menjerit kesakitan.
    Ketika Mamat sedang memperkosanya, laki-laki lainnya ikut menyakiti
    Hajar dengan mencubit, meremas, mengigit, seluruh tubuh Hajar.
    Mereka memainkan buah dada Hajar dan mengisapi puting susunya,
    tangan-tangan mereka juga menarik-narik dan menjepit puting susunya.
    Hajar terus menjerit pilu " ahhhggg.. ampunn…Ahhhh..sakit …
    tolong…." .
    Dua buah penis besar menampari wajah Hajar, mengenai pipi dan
    matanya. Hajar terus saja mengerang kesakitan. Tubuhnya
    mengejang `ahhhggg…sakit…ampun….tolong hentikannn…"
    Dua penis milik Botak dan Bedu itu bergantian masuk ke mulutnya.
    Hajar hanya pasrah membuka mulutnya lebar. Jika dia melawan ,
    tubuhnya akan memar menjadi sasaran pukulan mereka.
    Beberapa menit kemudian jeritan Hajar hanya tinggal erangan dan
    rintihan tapi Mamat memperkosa Hajar tanpa henti, terus bergerak
    makin cepat. Setelah lama kemudian, Mamat menarik penisnya hingga
    hampir terlepas dari jepitan vagina Hajar, ia mengerang dan maju
    mendorong ke depan sekuat tenaga.
    Kepala Hajar terdongak dan jeritan melengking terdengar, melolong
    panjang keluar dari mulut Hajar "aghhh………". Mamat mengejang beberapa
    saat dan bergerak beberapa kali, dan penisnya menyemburkan sperma ke
    dalam vagina Hajar.
    Ketika perlahan Mamat menarik penisnya yang telah lemas, keluar dari
    vagina Hajar, sperma kental mulai mengalir keluar dari liang vagina
    Hajar.
    Mamat terduduk lemas. Menyaksikan jelas, ke dua anak buahnya asik
    memperkosa mulut Hajar . "Ohhh .. gua udah gak tahan nih…" erang
    Bedu, lalu melepas spermanya , muncrat ke wajah Hajar, membasahi
    jilbab putih yang dikenakannya.
    Lain halnya dengan Botak, saat ejakulasi, sengaja dia membenamkan
    penisnya di mulut Hajar dan memaksa Hajar menelan spermanya.
    Wanita berjilbab yang alim itu tak mampu berbuat apa-apa, hanya
    pasrah menerima perlakuan begundal-begundal ini. Hajar memejamkan
    mata, berharap ini semua hanya mimpi buruk.
    Joki sekarang mengambil posisi, merangkak di atas tubuh Hajar.
    Sekarang, Hajar kembali dapat merasakan bagaimana bibir vaginanya
    perlahan membuka dan penis besar itu sedikit demi sedikit masuk ke
    dalamnya.
    Kesakitan kembali tercermin di wajah Hajar, ketika ia merasa
    tubuhnya seperti dirobek oleh penis yang masuk.
    Hajar mengerang lagi " aghhh….sakit….aghh…"
    "Lo jangan belagu deh! Kalo lo nggak suka sama punya gue atau punya
    temen gue tadi, masih ada yang laen! Cepet atau lambat lo pasti
    temuin yang lo suka!" bentak Joki.
    Perkataan orang itu membuat apa yang telah ia takutkan selama ini
    menjadi nyata. Hajar akan diperkosa bergantian oleh seluruh perampok
    itu. Dan ia tidak punya pilihan sama sekali. Hajar hanya bisa
    menyerahkan dirinya dan melayani mereka hingga selesai.
    Sekarang Hajar hanya berharap ia bisa selamat dari musibah ini dan
    berharap tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah ia alami.
    Joki bermain dengan lembut beda dengan Mamat. Joki menggerakan
    penisnya keluar masuk, Walau hatinya didera rasa takut, tapi
    kerena perlakuan Joki yang lembut, birahinya sedikit naik .
    "Eloe lebih baik nikmati saja, sayang.. daripada eloe melawan, tak
    ada gunanya.." ujar Joki sambil terus menggerakkan penisnya dengan
    lembut .
    Hajar memejamkan matanya, berusaha menikmati permainan Joki.
    Terasa vaginanya berdenyut. Joki bisa merasakan mangsanya mulai
    birahi. Joki yang
    memang pengalaman dalam menaklukkan wanita, terus menggoyangnya
    dengan lembut , memancing birahi Hajar.
    Mulutnya juga terus menjilati puting susu Hajar dengan lembut .
    "Aghhh… aghhh… " erang nikmat Hajar yang birahinya sudah naik.
    Teman temannya hanya melihat permainan mereka, sambil menunggu tenaga
    mereka pulih kembali.
    "Sayang .. eloe sudah mau keluar yah.. ?" ujar Joki sambil terus
    menggerakkan penisnya di liang vagina Hajar dengan lembut . "Ahhh
    ahhh …" hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.
    Saatnya Joki menaikkan ritme goyonganya, " ahhh… ahh…. " erang
    Hajar. Sesaat kemudian tubuh wanita berjilbab itu kembali kejang.
    Dia benar benar mendapat orgasmenya.
    Joki menahan genjotannya, membiarkan Hajar menikmati masa orgasmenya
    sesaat, lalu bergerak cepat, membuat Hajar kembali
    mengerang.. "ahhhh… ah…pelan.. pelan…" .
    Joki tak peduli, dia juga akan melepaskan birahinya. Joki mulai
    bergerak cepat, lalu liang vagina Hajar kembali menerima sperma
    kental dari perampok itu.
    Botak yang penisnya sudah pulih, segera mengantikan posisi Joki.
    Botak segera merangkak di atas tubuh Hajar .
    Ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan ia sudah kehabisan tenaga
    melayani para perampok itu. Hajar lalu menangis dan memohon pada
    semuanya agar
    melepaskan dirinya.
    "Sudah tolong lah ..Ahhh..saya…sudah tak kuat…ahhh..sakit…" .
    Tapi Botak yang sedang menindihnya meremas buah dada Hajar keras-
    keras hingga Hajar menjerit kesakitan. "AHHGGG… sakit
    hentikan…..tolong…" .
    Botak juga menarik putingnya dengan kuat. "AGHH sakit…ampunnn…"
    "angan berisik! eloe belon ngelayanin semua temen gue! !" bentak
    Botak pada Hajar.
    "Tidak, saya mohon ..sudah.. hentikan.." iba Hajar .
    "Wah, eloe dikasih ati minta ampla yah ?" ejek Botak.
    Lalu dia membalik tubuh Hajar. Kedua tangannya membelah pantat
    Hajar. Tubuh Hajar meronta lemah .
    "Ahhhhgggg.. " jerit memilukan Hajar mengisi ruang tidur itu. Penis
    besar Botak telah merobek liang anus Hajar. Liang anus Hajar terluka.
    Tapi Botak sangat menikmati jepitan erat anus wanita berjilbab
    tersebut. Penisnya bergerak cepat keluar masuk anus Hajar yang
    terluka. Hajar menangis, merintih pedih di anusnya, tapi Botak sama
    sekali tak peduli . Dia terus memperkosa anusnya. Tubuh Hajar
    semakin lemah, suaranya terdengar semakin parau .
    Saat Botak ejakulasi dalam anus Hajar, Hajar meringgis pedih.
    Penisnya telah terlepas dari anus Hajar, menyisakan spermanya
    bercampur darah segar dari liang anus hajar yang terluka.
    "Wah, gua udah puas, enak banget , siap lagi.." kata Botak .
    Mereka saling berpandangan . " gua belom coba memek nih cewek .."
    katanya . "Oke, eloe
    cepatan deh , sudah dua jam kita di sini, nanti ketahuan orang.."
    kata Mamat pemimpin perampok itu.
    Bedu pun menghapiri tubuh Hajar yang terlihat lemah itu. Penisnya
    segera masuk ke liang vaginanya . "ahhh…." erang Hajar lemah.
    Penis Bedu terus bergerak, menggesek vagina Hajar dengan nafsu.
    Hajar hanya bisa mengerang lemah.
    Saat itulah, Mamat sengaja mengambil HP Hajar, meredial nomer HP
    suaminya. Setelah terdengar nada sambung, Mamat segera mendekatkan
    HP itu di telinga Hajar .
    "Hallo .. haloo …." Terdengar suara suaminya .
    Hajar tak mampu menjawab hanya mengerang lemah .
    Saat itu , Bedu mencabut penisnya dari vagina Hajar dan memasukan di
    liang anusnya .
    "Aaaghhhh ….. " suara Hajar melengking.
    "Hallo, kamu kenapa sayang .. ada apa.. ?" tanya suaminya bingung .
    "Tolong.. tolong .. mas ..sa sa saya diperkosa.." kata Hajar
    dengan lemah .
    Bedu pun semakin liar, menghentak keras liang anus Hajar, memberinya
    rasa pedih dan sakit . " ahhh…sakit.. perih…ampun…sudah…." erang
    Hajar.
    "Wah memek eloe longgar, enakan anus eloe.." ujar Bedu yang terus
    memperkosa anusnya dengan kasar.
    "Hallo… Hajar , .. hallo … saya segera pulang…" kata suaminya panik,
    mendengar suara erangan kesakitan istrinya.
    Bedu terus mengoyang batang penisnya di liang anus Hajar, membuatnya
    semakin tak mampu menahan rasa sakit ini. Bedu semakin liar
    bergerak sampai akhirnya menyemburkan cairan kental di liang
    anusnya.
    "Ha ha ha , gua puas banget sama nih cewek.." ujarnya.
    Mereka pun bersiap , untuk meninggalkan rumah itu. Mamat mengambil
    mentimun besar yang tergeletak di lantai. Dua mentimun, satu
    dimasukkan ke liang vagina Hajar dengan paksa dan satu lagi di
    anusnya.
    Hajar merintih kesakitan . " Itu gua sisain buat laki eloe .."
    kata Mamat sambil tertawa. "Biar laki eloe yang cabut tuh
    mentimun .. ha ha ha…" ujar Mamat sambil berlalu dari kamar itu.
    Mobil box mereka pun berlalu, berjalan pelan meninggalkan rumah itu
    dengan membawa barang barang jarahan mereka. Di jalan ketika hendak
    keluar dari
    komplek perumahan itu , mereka melihat sebuah sedan berjalan cepat
    diikuti sebuah mobil polisi, dengan raungan suara sirine keras .
    "Ha ha ha, gua yakin itu mobil suaminya .." ujar Mamat.
    Kawanan perampok itu pun tertawa tawa …
    >>> Jilbab Lover <<<
    Do not forget to say thanks ...

  10. #10
    Tukang Ngocok kebon's Avatar

    Join Date: Jan 2010

    Location: Pondok Jilbab

    Posts: 214

    Thanks: 1

    Thanked 3,235 Times in 112 Posts

    Thumbs up Penyelewengan Berbuah Derita

    "Naik ojek di dktmu itu, minta dia antar ke warnet yg biasa. Qt ktm di sana. Jngn tkt, di sn bnyk org."
    Miriani membaca SMS itu di HPnya. Dia takut mengikuti perintah pengirim SMS itu. Tetapi dia takut kalau menolak. Sebab, si pengirim mengancam membongkar penyelewengannya.
    Sebetulnya bukan penyelewengan besar. Sebagai sekretaris yayasan pendidikan, dia menjalin kerjasama antara sebuah bank untuk menampung pembayaran SPP siswa. Wajar kalau bank memberinya fee tiap bulan sekian persen dari SPP yang masuk lewat rekening bank itu. Tetapi, salahnya Miriani, dia mengambil fee itu untuknya pribadi. Pihak Yayasan tidak diberitahunya.
    Si pengirim SMS ini, entah darimana mendapatkan surat perjanjian kerjasama antara dia pribadi dengan pihak bank. Takut rahasianya kebongkar, Miriani nurut saja waktu lelaki itu meminta sejumlah uang kepadanya. Uang itu akan diantarnya ke tempat mereka janji bertemu, di sebuah warnet.....
    Cuma 15 menit perjalanan, tapi Miriani menghabiskan waktu itu dengan menulis SMS di HPnya, memberitahu pemerasnya bahwa dia sudah di atas ojek. Serius betul dia dengan tombol-tombol keypad, sampai tidak menyadari Bang Amir, si tukang ojek, memberi kode kepada mobil APV di belakangnya.
    Miriani baru kaget ketika Bang Amir tiba-tiba menghentikan motornya karena APV tadi tiba-tiba nyalip dan berhenti dengan memepetnya. Miriani cepat melompat turun. Apalagi ia melihat seorang lelaki beringas tiba-tiba turun dari APV dan langsung menghampirinya.
    "Ayo Bu, ikut mobil. Di warnet terlalu banyak orang," katanya.
    Karena terkejut, perempuan 30-an tahun itu hanya terdiam di tempat. Ia baru sadar ketika perg*****an tangannya disambar dan setengah diseret ke dalam mobil. Miriani meronta, tetapi sia-sia.
    Ibu muda itu didorong dengan kasar ke dalam mobil. Tubuhnya yang cenderung kurus terdorong keras ke arah seorang lelaki yang duduk di jok tengah. Miriani menjerit sejadinya saat lelaki itu memeluknya. Miriani berontak lalu beringsut ke dekat jendela. Bulu kuduknya berdiri mengetahui di dalam mobil itu sudah ada 4 lelaki. Dua duduk di jok depan, dua lagi di tengah bersama dirinya.
    "Duitnya dibawa Bu ?" kata lelaki yang tadi memeluknya dan kini menepuk paha Miriani.
    Miriani menepis tangan lelaki itu. Ia cepat membuka tasnya dan mengeluarkan amplop lalu menyerahkannya ke lelaki itu. Lelaki dengan kumis yang tampak tak terawat itu segera menghitung isinya.
    "5 juta fren...... " katanya kepada kawan-kawannya.
    "Sudah, sekarang turunkan saya !" kata perempuan berkulit hitam manis itu dengan ketus.
    "Kayaknya 5 juta masih kurang ya teman-teman ?" lelaki itu tiba-tiba berkata.
    "Maksud lo apa Dul ?" sahut si beringas yang tadi menyeret Miriani ke mobil. Kening Miriani sendiri berkernyit. Dia menunggu jawaban Dul.
    "Maksudnya, kita bisa dapat lebih dari 5 juta dari nyonya cantik ini, Bon !" sahut Dul.
    "Nggak.... 5 juta udah cukup. Nggak ada lagi !" sergah Miriani.
    "Bukan duit juga nggak apa-apa," timpal Dul sambil cengengesan. "Ini misalnya...." lanjut Dul.
    "Eeeehhh.... apaan ini ??!!!" Miriani memiawik. Matanya melotot, saat Dul dengan lihainya tahu-tahu mencomot payudara kirinya dari luar jilbabnya. Miriani berkelit, tapi akibatnya payudaranya malah terasa seperti dibetot dan ngilu luar biasa. Dul juga tak melepaskan cengkeramannya pada payudaranya yang tak seberapa besar. Miriani kini mulai merintih kesakitan....
    "Aduh.... ampun.... sakit.... lepaskan... kalian mau apa ?... aaakhhh..." Miriani merintih di tengah pekik marah bercampur takutnya.
    Perempuan beranak tiga itu bergidik. Si Bon cuma menonton aksi Dul.
    "Udahlah Dul, udah tua gitu. Paling memiawnya juga udah lebar. Toketnya juga udah kendor," kata-kata si sopir cukup melegakan Miriani meski dia risih dengan istilah yang digunakannya.
    "Kagak Jing, toketnya biar kecil tapi masih kenyel juga," sahut Dul sambil terus meremas-remas payudara Miriani. Miriani mulai menangis karena tak bisa melepaskan tangan Dul dari payudaranya. "memiawnya udah lebar apa nggak, kan bisa kita cek dulu.... Kalo udah lebar sih gua juga kagak doyan," lanjutnya.
    Miriani makin ketakutan mendengar kata-kata "cek". Ia tambah ketakutan ketika Bon berlutut di sisinya. "Bener lo Dul, kita cek dulu memiaw perempuan ini," katanya, sambil tangannya menangkap payudara kanan Miriani.
    Sia-sia Miriani menjerit, meronta, menangkis..... Si Bon yang berbadan besar kini malah menelikung kedua tangannya ke belakang tubuhnya, lalu mengikatnya dengan tali rafia.
    "Biar gampang ngeceknya Dul," kata Bon sambil merebahkan jok yang diduduki Miriani. Kedua tangan kekarnya kini meremas-remas sepasang payudara Miriani yang masih tertutup jilbab dan blousenya.
    Sementara di depannya, Dul berlutut di antara dua kakinya. Miriani menjerit dengan suara parau ketika lelaki itu memasukkan tangannya ke balik rok panjangnya. Dengan gerakan kilat, lelaki itu berhasil menarik lepas celana panjang Miriani sekaligus celana dalam katunnya yang berwarna putih.
    Wajah Miriani yang sawo matang jadi pucat pasi. Ia hampir menangis melihat lelaki itu menggodanya dengan menciumi celana dalamnya.
    "memiaw Mbak Miriani harum.... pasti enak ngejilatinnya..." kata lelaki itu sambil menjilati bagian muka celana dalam Miriani.
    "Kamu mau cium bau memiawmu sendiri ?" lelaki itu lalu menyodorkan celana dalam Miriani ke wajahnya. Miriani melengos sambil mulai terisak. Namun tiba-tiba lelaki itu dengan kasar menyumpal mulut Miriani dengan celana dalamnya.
    Dengan kasar pula, ia menyingkap jilbab Miriani, merobek bagian muka blusnya dan mengeluarkan payudara kanan Miriani dari bra-nya.
    "Mmmmffff....nnngghhhh.... mmmffff...." Miriani menjerit di balik sumbat mulutnya.
    Putingnya dijepit dua jari lelaki itu dengan kuat, ditarik dan diguncang-guncangkan. "Ayo mengerang, merintih.... nangis.... gue pengen denger perempuan kayak lo merintih-rintih...." bentaknya.
    "Lo lihat Bon, tetek cewek ini masih lumayan seger kan ?" katanya. Bon manggut-manggut. Dua temannya di depan juga menoleh ke belakang.
    Puting Miriani terlihat gepeng ketika lelaki itu menariknya menjauh dan dengan tiba-tiba melepaskannya. Dari kedua mata Miriani mengalir deras air mata.
    "Gue mau lihat memiaw lo !" lelaki itu kemudian melucuti rok panjang Miriani. Perempuan priangan itu terisak-isak. Dia begitu shock mendapat serangan tersebut.
    Bagian bawah tubuhnya telanjang kini. Kontras dengan kepalanya yang terbungkus jilbab panjang.
    "Mmmmff... mmffffff...." Miriani mengerang lagi ketika kedua kakinya ditarik berlawanan oleh dua lelaki di sebelahnya. Otomatis, kini s*****kangannya terbuka lebar, memperlihatkan vaginanya yang berbulu tipis.
    Tanpa ba bi bu, lelaki di depannya langsung menusukkan telunjuk ke liang vagina Miriani. Karuan saja Miriani melotot. Tubuhnya mengejang. Telunjuk yang gemuk itu lumayan menyakiti vaginanya yang kering.
    "Lihat fren.... memiawnya masih seger dan rapet kan ?" kata Dul. Semua melihat, bibir vagina Miriani berkemut-kemut seperti menarik telunjuk Dul ke dalam.
    Sakit dan terhina, itulah yang dirasakan perempuan dewasa ini. Telunjuk lelaki itu masih berputar-putr di dalam vaginanya. Bon kini malah betul-betul merenggut bra-nya sampai putus. Dia langsung asyik dengan kedua puting Miriani.
    Tubuh Miriani bergetar merasakan kedua putingnya diserang Bon. Itu berakibat pada keluarnya secara alami cairan di vaginanya.....Telunjuk Dul di dalam vagina Miriani mulai merasakan keluarnya cairan. Dijelajahinya terus setiap inchi bagian dalam vagina perempuan dewasa itu.
    Miriani memejamkan matanya. Nafasnya mulai memburu oleh rangsangan yang tak bisa ditolaknya. Sekali ia memiawik dan matanya melotot saat lelaki yang sedang mempermainkan vaginanya menyusul memasukkan jari tengahnya. Dengan dua jari, digaruknya bagian dalam dinding depan vaginanya. Sementara lelaki yang sedang menetek padanya merasakan putingnya makin mengeras.
    Perlahan dua jari itu digerakkan maju mundur di dalam vagina Miriani.
    "Aku ingin membuatmu merasakan kenikmatan tiada duanya di dalam memiawmu ini..." katanya sambil mulai menambah laju gerakan tangannya.
    Suara kocokan di vagina Miriani mulai keluar. Miriani menggigit bibirnya, berusaha menahan keluarnya rintihan, erangan atau desahan. Miriani tahu, suara itu justru membuat pemerkosanya makin bergairah.
    Tetapi, rangsangan di vagina dan kedua putingnya begitu kuat. Miriani menyerah. Perlahan dari bibir tipisnya mulai keluar erangan. Mula-mula seperti erangan kesakitan, tetapi kemudian berubah menjadi rintihan perempuan binal yang tengah menuju puncak kenikmatan....
    "Ahh...ah...ah... ounghhh... ahhh.... nnnggg,,,, mmmfff..." erangan Miriani makin membuat lelaki yang mengaduk-aduk vaginanya makin bernafsu. Apalagi kini dua jarinya sudah betul-betul basah oleh cairan dari vagina ibu muda itu.
    Pada satu titik, lelaki itu mendorong jauh-jauh kedua jarinya ke vagina Miriani lalu mendiamkannya. Yang terlihat kemudian sungguh luar biasa. Perempuan berjilbab itu justru menggoyang-goyangkan pinggulnya sendiri, seperti tengah mengejar puncak kenikmatannya.
    "Ayo terus Mbak.... goyang terus....terus...." goda lelaki itu.
    Miriani tampaknya tak peduli. Ia pejamkan mata, gigit bibir dan akhirnya memiawik seperti histeris ketika mencapai orgasmenya. Seluruh tubuhnya mengejang.
    Tetapi, ia tak bisa sepenuhnya menikmati orgasmenya. Sebab, saat ia memiawik puas, lelaki di depannya dengan kasar mencabuti helai demi helai rambut kemaluannya....
    Wajahnya kini merah padam. Di depannya, lelaki yang mengaduk-aduk vaginanya menggoda dengan menjilati kedua jarinya yang berlendir.
    "Dasar perek.... diperkosa kok bisa orgasme !" kata lelaki itu.
    Nafas Miriani masih tersengal-sengal saat lelaki itu tahu-tahu menyurukkan wajah ke vaginanya. Lalu dengan buas menjilati dan menguyah vagina Miriani.... Miriani terpeki-pekik merasakan liang vaginanya dilebarkan lalu lidah lelaki itu menjulur jauh ke dalam.
    "Sebentar lagi yang masuk ke sini adalah tongkol-tongkol," kata lelaki itu dengan kumis dan jenggot yang belepotan lendir vagina Miriani. Miriani menengok keluar jendela. Mobil sudah berhenti di dalam sebuah ruangan bercahaya remang-remang. Pintu samping mobil terbuka. Miriani tahu, bencana besar bakal menimpa kehormatannya.....
    Jing, si sopir, melotot memandangi pangkal paha Miriani yang terkangkang. Vagina perempuan itu tampak mengkilap oleh liur Dul maupun cairan vaginanya sendiri. Miriani mencoba mengatupkan pahanya ketika tangan Jing terulur, tapi Dul dan Bon menahannya.
    "Eungghhhhh...." erangan terdengar lagi dari bibirnya yang tersumpal celana dalamnya sendiri. Jing tanpa basa basi menusukkan dua jarinya ke lubang vagina Miriani.
    Miriani melengos ketika melihat Jing mengeluarkan telunjuk dari liang vaginanya lalu mengoleskan telunjuknya yang berlendir itu ke kedua putingnya.
    "Lumayan.... ayo bawa masuk. Bener kata Dul. kita bisa dapat lebih dari 5 juta," katanya.
    Miriani memaki-maki ketika diseret keluar mobil. Berjuta perasaan mengganggu benaknya. Malu, takut dan marah bercampur jadi satu. Dengan tangan terikat, tubuh telanjang dan jilbab di kepala, Miriani yakin empat lelaki ini akan membuatnya lebih terhina lagi. Tetapi, Miriani tidak betul-betul tahu apa yang akan terjadi di balik pintu itu.....
    Ruangan pertama yang dimasuki adalah lorong gelap yang lumayan panjang. Miriani melihat di ujung lorong ada ruangan dengan cahaya yang amat terang. Lorong ini cukup sempit. Cuma cukup untuk dua orang berjalan beriringan. Perempuan berkulit hitam manis ini terpaksa berkelit berkali-kali karena tangan-tangan jahil 4 lelaki yang membawanya ini selalu saja menjamah bagian-bagian pribadinya.
    Malah ada yang menjambak rambut kemaluannya, seperti penggembala menarik tali pengikat hewan ternaknya. Mau tak mau Miriani mengikuti kemana lelaki itu berjalan. Kulit vaginanya jelas terasa pedih sekali....
    Sulit bagi Miriani untuk menghindar dengan tangan terikat begini. Dia menggigit bibirnya ketika dari belakang tangan Jing meremas payudara kirinya dan memilin-milin putingnya.
    "Aaarrhh.... sakit tau !" Miriani menoleh ke belakang sambil memaki lantaran pilinan pada putingnya menyakitinya.
    Ruangan bercahaya terang itu ternyata sebuah ruangan berbentuk lingkaran dengan karpet tebal berwarna kuning. Lampu di ruangan itu memang terang sekali. Tentu saja itu membuat Miriani jadi jengah. Empat lelaki di ruangan itu jadi leluasa memandangi sekujur tubuh telanjangnya. Miriani mencoba merapatkan kedua pahanya dan berpaling ke arah lain. Namun, keempat lelaki itu kini berdiri mengelilinginya. Baru saat itulah Miriani sadar, ternyata lelaki yang duduk di sebelah sopir yang sejak tadi diam adalah Prapto, petugas bank yang menjalin kerjasama dengannya.
    "Pak Prapto...." kata Miriani dengan lidah tercekat.Dia teringat lelaki setengah baya yang selalu menggodanya saat proses kerjasama itu. Setengah mati dia berusaha tetap profesional meski Prapto terus berusaha mengajaknya sedikit bersenang-senang.
    "Iya Mbak, saya nggak bermaksud begini lho. Saya cuma pingin 5 juta itu aja," katanya.
    "Kalo gitu.... lepasin saya pak, tolong..." kata Miriani memelas. Dia jengah dengan pandangan Prapto ke dada dan s*****kangannya.
    "Tadinya begitu Mbak. Tapi setelah melihat memek Mbak..... saya pikir saya harus nyobain dulu," sahut Prapto sambil menangkupkan telapak tangannya ke s*****kangan Miriani. Karuan saja Miriani berusaha menghindar. Tapi dengan tangan terikat dan dikelilingi 4 lelaki, apa yang bisa dia perbuat selain memaki-maki.
    Prapto sambil tersenyum-senyum terus meremas-remas vagina perempuan matang itu. Belakangan, jari tengahnya malah mulai menyusup ke liang vagina Miriani yang lembab.
    "Aaakhh... lepasin pakkk !!! Kurangajarrrr....." perempuan itu menjerit histeris saat bibir Prapto menangkap sebelah putingnya, lalu mengenyotnya seperti bayi yang kehausan......
    Miriani menarik nafas lega waktu Prapto melepaskan putingnya. Namun ia melengos saat Prapto menunjukkan jari tengahnya yang berlendir dan menjilatinya di depan perempuan malang itu.
    "memek Mbak gurih. Kita pingin main-main sebentar mbak. Mbak nikmatin aja ya...." kata lelaki itu sambil melepas ikatan tangan Miriani.
    Begitu ikatan di tangannya terlepas, Miriani dengan segera mengulurkan jilbabnya ke depan dadanya. Lumayan untuk mengurangi rasa malunya. Namun, jilbab itu tak cukup panjang untuk menutupi pangkal pahanya. Perempuan itupun menyilangkan kakinya dan menutupi pangkal pahanya dengan kedua tangannya. Tapi dari belakang, pantatnya yang bulat dan padat masih jadi pemandangan yang indah. Si Jing bahkan tak bisa menahan diri untuk meremas pantatnya. Miriani memekik.
    Tak disangka, Prapto melemparkan cd dan bra kepadanya. Cepat-cepat Miriani mengenakan kembali pakaian dalamnya itu. Apalagi Dul terlihat menggunakan kamera HP untuk merekamnya. Perasaan Miriani agak lega, setidaknya kini payudara dan vaginanya tidak lagi telanjang. Tapi ia tetap belum merasa nyaman. Penampilannya dengan jilbab dan hanya cd dan bra pasti sangat menarik lelaki manapun.
    "Keren banget Mbak... Gw sampe ngaceng nih," kata si Dul. Miriani melengos melihat Dul mengeluarkan penisnya yang mengacung dari balik celananya.
    Miriani lebih lega lagi ketika akhirnya Prapto melemparkan rok panjang dan blusnya kepadanya. Di bawah tatapan mata keempat lelaki itu, Miriani cepat-cepat mengenakan kembali bajunya. Dia tampak anggun dengan penampilan seperti itu.
    "Urusan kita sudah selesai kan ?" kata Miriani berusaha tegar.
    Prapto dan teman-temannya mesam-mesem.
    "Belum Mbak...." sahut Prapto.
    "Belum ? Maksudnya apa ? Saya sudah kasih 5 juta. Kalian juga sudah melecehkan saya. Kurang apa lagi ?" katanya dengan wajah memerah karena marah.
    "Kami kan belum ngerasain memek Mbak yang cantik...." sahut Prapto. Kalimat itu bagai petir di telinga Miriani sampai-sampai ia tak bisa berkomentar. "Ayo, dibuka lagi bajunya. Jilbabnya nggak usah. Kamu lebih nafsuin kalo pake jilbab," lanjut Prapto.
    Miriani terdiam. Tangannya reflek menyilang di depan dadanya. Si Dul masih terus merekam.
    "Cepet buka Mbak. Roknya dulu. Ayo cepet.... kalo nggak, kita keroyok baju lo malah sobek-sobek loh !" lanjut Prapto.
    "CEPAAAAT !!!!" Tiba-tiba Prapto membentak. Miriani sampai terkejut setengah mati. Dengan ketakutan dia mulai melepaskan lagi rok panjangnya.....
    Dul berdiri mendekatinya dan merekam dari segala sudut saat Miriani melepaskan lagi blus, lalu cd dan branya. Air mata menitik dari kedua sudut bola matanya. Tertekan, Miriani membiarkan tangan Dul menyentuh vaginanya, menusukkan telunjuknya ke dalam liangnya yang lembab. Dibiarkannya pula Dul menarik-narik sebelah putingnya.
    Miriani melihat 4 lelaki di depannya sudah melepas celana mereka. Keempat lelaki itu asyik mengurut-urut penis mereka yang mulai menegang.
    "Sini Mbak, merangkak ke sini," kata Prapto.
    Miriani menggeleng-geleng. "Nggak...please, jangan lakukan ini Pak Prapto. Kita bisa deal soal uang," kata perempuan itu.
    "Sama aja Mbak. Kalau Mbak nggak ke sini merangkak, kami yang akan ke situ dan memaksa Mbak nungging. Pilih mana ? Ke sini aja deh.... tolong isepin kontolku," lanjut Prapto.
    "Nggak.... nggak mau..." Miriani menggeleng-geleng. Telapak tangannya berusaha menutupi vaginanya.
    "Kalo gitu kita terpaksa perkosa kamu dengan kasar !" sahut Prapto sambil berdiri diikuti teman-temannya.
    Miriani panik. Tetapi ia tidak bisa lari kemana-mana. Akhirnya, perempuan dewasa ini pun tersudut ke dinding. Jing dan Dul menangkap kedua perg*****an tangannya dan menariknya ke arah berlawanan. Prapto langsung meremas vaginanya yang kini terbuka. Miriani memaki-maki dan berusaha menendang. Tapi Prapto meremas vaginanya makin kuat. Akhirnya jerit kemarahan Miriani mulai berubah jadi jerit kesakitan. Apalagi si Bon menjepit kedua putingnya dengan telunjuk dan ibu jari. Bon menarik kedua puting Miriani ke arah bawah sehingga terpaksa perempuan itu menundukkan badannya.
    "Ayo nungging !" katanya sambil terus menarik kedua putingnya. Air mata Miriani mengalir deras.
    Prapto sudah menempatkan diri di belakang Miriani. Ditendangnya belakang lutut perempuan itu hingga Miriani terpaksa berlutut. Ditambah tarikan di kedua putingnya, jadilah kini posisinya nungging. Bulatan bokongnya jadi pemandangan indah bagi Prapto.
    "Aaarrrhhhh....." Miriani menjerit saat Prapto tanpa basa-basi langsung menusukkan dua jari ke liang vaginanya.
    "Kalau kamu nurut, kami bisa kasih kamu kenikmatan. Tapi kamu kayaknya emang seneng diperkosa," katanya sambil memutar-mutar jarinya di dalam liang vagina perempuan itu.
    Prapto kemudian menempatkan diri di belakang Miriani. Direnggangkannya sedikit kedua pahanya. Miriani bergidik, dia tahu musibah besar kini menimpanya. Pintu liang vaginanya terasa sudah ditekan sesuatu yang keras dan panas.
    "Rasakan nih kontol Prapto !" Prapto tiba-tiba mendorong penisnya ke depan dengan kasar. Miriani sampai menjerit melengking, kepalanya menengadah, matanya terpejam menahan sakit. Vaginanya terasa seperti koyak.
    Prapto mencengkeram pinggul Miriani dan meneruskan sodokannya yang mantap tapi kasar itu. Setiap gesekan penis Prapto di dinding vaginanya terasa bagai sayatan silet bagi Miriani. Pekik dan rintihan tangis Miriani bagai musik indah di telinga para pemerkosa itu.
    Kedua tangan Miriani yang sudah tidak dipegangi lagi menggapai-gapai ke belakang, mencoba mendorong Prapto menjauh. Tapi sia-sia. Kini kepalanya malah dipegangi dengan dua tangan oleh Jing. Wajah panik Miriani kini menghadap tepat ke depan penis Jing yang mengacung. Bahkan, hidung mancung dan bibir indahnya kini seperti tertampar-tampar oleh ujung penis lelaki itu.
    "Ayo mbak, isep kontol gue. Makin cepet lo nurut, makin cepet lo pulang," katanya. Miriani mencoba membantah, tapi dagunya dicengkeram sampai akhirnya ia terpaksa membuka mulutnya. Miriani memejamkan matanya saat penis Jing menerobos bibirnya. Ini untuk pertama kalinya dia mengulum penis dalam hidup.
    Sakit dan kelelahan melawan dengan sia-sia, Miriani akhirnya mulai pasrah. Ia cuma berharap Prapto dan Jing segera selesai. Tapi masih ada dua lelaki lain yang saat ini sedang asyik bermain-main dengan payudaranya yang menggantung berayun-ayun.
    Kulit Miriani sawo matang, tapi kulit pantatnya jadi tampak memerah karena dicengkeram Prapto selama pemerkosaan itu. Sepasang payudaranya yang masih lumayan kenyal juga memerah. Ada bekas cupangan di dekat kedua putingnya.
    Suara kocokan penis Prapto dengan vagina Miriani dipadu suara beradunya pangkal paha Prapto dengan bokong bundar Miriani betul-betul menggairahkan. Apalagi ditambah dengan rintihan dan gumaman dari bibir Miriani yang terbungkam penis Jing.
    Tiba-tiba suara tadi meningkat intensitasnya. Tampaknya Prapto bakal segera sampai ke puncak. Dia menggeram dan mulai ngoceh tak karuan.
    "Cewek sialan.... rasain nih.... gue buntingin lo.... rasain nih.... gue sobek-sobek memek loooooo.... grrrhhhh..." Prapto seperti orang kesetanan. Pada saat bersamaan, Miriani mengerang panjang dan memilukan.
    Prapto menarik pinggul Miriani merapat ke dirinya. Seolah dia ingin memasukkan seluruh tubuhnya ke liang vagina perempuan dewasa itu. Miriani merasakan vaginanya yang pedih disirami cairan panas. Tetapi, dia masih belum bisa bernafas lega. Jing tampaknya juga bakal mengakhiri perkosaan atas mulutnya.... Betul saja, lelaki satu ini terdengar menggeram. Kepala Miriani yang berjilbab dipeganginya erat-erat dengan kedua tangannya. Tampaknya ia berusaha memasukkan penisnya sejauh mungkin ke kerongkongan perempuan hitam manis itu.
    Miriani berusaha untuk tidak menelan cairan kental berbau khas itu. Tapi mustahil baginya. Dia kesulitan bernafas karena Jing tak juga menarik keluar penisnya yang terasa mulai mengecil. Dan akhirnya Miriani terpaksa membiarkan sperma Jing melewati kerongkongannya. Setidaknya itu tidak bakal membuatnya hamil, tidak seperti yang ditumpahkan Prapto ke dalam rahimnya.
    Prapto lebih dulu menarik keluar penisnya dari vagina Miriani. Penisnya yang sudah loyo terlihat berlepotan sperma. Dari celah vagina Miriani yang perlahan mengatup kembali tampak cairan putih kental yang meluber keluar, mengalir ke salah satu sisi pahanya.
    PLAKKKKK..... Prapto mengakhiri perkosaannya dengan tamparan keras ke salah satu bulatan pantat Miriani.
    "Lumayan untuk ukuran perempuan tigapuluhan tahun...." katanya.
    Tak lama kemudian Jing juga menarik keluar penisnya dari mulut Miriani. Didorongnya jidat perempuan berjilbab itu hingga Miriani tersungkur. Miriani terbatuk-batuk sebentar, beringsut ke sudut ruangan, menekuk tubuhnya dan terisak-isak. Dia ingin segera pulang. Tapi Bon dan Dul kini m*****kah mendekatinya. Tubuh Miriani menggigil, tak sanggup membayangkan dirinya harus melayani dua lelaki kasar lagi......
    Miriani terisak-isak. Dua lelaki itu kini berlutut di sisinya. Ia terlalu lelah dan sakit untuk melawan. Dibiarkannya Dul dari belakang menyentuh bibir vaginanya. Membelek-beleknya, mencoba mengeluarkan sperma Prapto dari dalamnya. Sementara Dul mencolek setitik sperma di sudut bibir Miriani dengan ujung telunjuknya.
    "Masih kuat kan mbak ?" kata Dul sambil mengoleskan ujung telunjuknya itu ke puting kanan Miriani.
    Miriani menggigit bibirnya. Di wajahnya jelas terpancar lebih banyak ketakutan dibanding kemarahan. Miriani mencoba menepis telunjuk dan ibu jari Dul yang kini memilin puting yang barusan diolesi sperma itu. Tetapi Dul malah memperkeras jepitannya pada daging mungil berwarna gelap itu.
    Tiba-tiba Miriani menjerit kecil. Penyebabnya, Bon mengangkat sebelah tungkainya. Akibatnya, kini area vaginanya terbuka luas. Terlihat jelas vaginanya yang memerah. Rambut kemaluannya tak terlalu lebat. Bibir vaginanya masih terlihat mengkilap karena lelehan sperma Prapto.
    Miriani tak bisa mengatupkan kakinya, sebab Bon meletakkan kaki perempuan itu di pundaknya. Ini posisi yang amat memalukan buat perempuan baik-baik seperti Miriani. Miriani terbayang wajah 3 anak perempuannya, berharap mereka tak mendapat perlakuan hina seperti dirinya.
    "Tolong... jangan lagi... saya akan penuhi permintaan kalian....ughhh.... tapi...ihhh... tolong...lepasin saya....eungghhhh...." Miriani mencoba merayu. Tapi Bon malah asyik mencomot sebelah labia mayora Miriani dan menarik-nariknya seperti guru menjewer telinga murid.
    Miriani merasa amat risih ketika Bon memasukkan dua jempolnya ke liang vaginanya. Lalu, kedua jempol itu ditarik ke arah berlawanan hingga liang vaginanya membuka lebar. Terlihat bagian dalamnya yang basah dan penuh cairan putih kental. Bon terus lakukan itu tanpa peduli geliatan dan erangan Miriaini. Malah, terakhir dia mulai mengaduk-aduk vagina Miriani dengan dua jarinya.
    "Kita bisa lepasin Mbak, tapi janji nurut dulu ya...." katanya.
    "Eunghhh... iya...iya....uhhhh...." Miriani cepat-cepat mengangguk. Risih betul dia, sebab Bon dengan telunjuk dan ibu jarinya berusaha memilin-milin klitorisnya.
    Bon menarik keluar dua jarinya yang berlumur sperma Prapto, lalu menyodorkannya ke depan wajah Miriani.
    "Jilatin ini dulu sampai bersih. Habis ini Mbak kita lepasin, nggak kita entot lagi," katanya.
    Miriani mengernyitkan keningnya. Giginya yang rapi menggigit bibirnya yang seksi. Dua jari Bon menyentuh bibirnya.
    "Ayo mbak... dijilatin..." katanya.
    Miriani memejamkan matanya yang indah. Perlahan bibirnya membuka, lalu perlahan lidahnya menjulur keluar. Lidah Miriani akhirnya menjilati kedua jari Bon dari pangkal sampai ke ujung, berulang-ulang. Bon bahkan bisa meyakinkan Miriani untuk mengulum kedua jarinya itu. Jing yang tadi menikmati dioral Miriani mendekat dan merekam adegan langka itu dengan handycam. Miriani tak sadar aksinya itu tengah direkam. Keinginan segera pulang membuatnya juga tak peduli dengan Dul yang asyik sendiri menyedot-nyedot putingnya, kanan dan kiri berganti-ganti...
    "Bagus Mbak.... jilatan Mbak enak banget. Gimana, rasa sperma enak nggak ?" goda Bon.
    "Nggak..." sahut Miriani.
    "Kalau gitu, kita coba sekali lagi. Coba dinikmati ya Mbak," kata Bon dan tanpa izin langsung menusukkan lagi telunjuk dan jari tengahnya ke vagina Miriani, berputar-putar seperti menggaruk dinding dalam vaginanya, berusaha mengeluarkan seluruh sperma yang tadi ditumpahkan Prapto.
    Dua jari Bon terlihat kembali berlumur sperma. Disodorkannya ke depan wajah Miriani.
    "Cobain lagi Mbak... Yang ini pasti enak," katanya.
    Miriani mau menolak. Tapi keinginan cepat pulang membuatnya tak bisa berpikir jernih. Diulanginya lagi adegan menjilat dua jari berlumur sperma itu. Dikulumnya juga dua jari Bon sampai betul-betul bersih dari sperma Prapto.
    Bon menarik keluar dua jarinya yang sudah bersih. Miriani memandangnya dengan wajah sebal.
    "Gimana Mbak ? Enak kan ?" godanya.
    Khawatir disuruh menjilati jari berlumur sperma lagi, Miriani dengan cepat menjawab, "Enak..."
    Keempat lelaki di ruangan itu tertawa mendengar jawabannya.
    "Bener enak ?" kata Bon sambil memainkan puting kanan Miriani.
    "Iya..." sahut Miriani. Wajahnya yang hitam manis terlihat kemerahan menahan malu.
    "Enak mana sama sperma yang kamu minum langsung dari kontol gue ?" tanya Jing.
    Miriani menoleh dan kaget melihat Jing tengah merekamnya dengan handycam. Dia cepat melengos.
    "Iya Mbak... enak mana ?" Bon menanyakan lagi dengan tekanan suara yang berbeda diiringi pilinan yang diperkuat di puting Miriani.
    "Aduh...eh... ihh... enak yang... di jari..." katanya. Wajahnya makin memerah.
    Prapto, Dul dan Bon tertawa terbahak-bahak. Jing mencak-mencak.
    "Sialan lo.... bilang gak enak tapi lo telen sampe abis juga," katanya. "Ntar cobain kontol gue di memek lo," lanjutnya.
    Tahu-tahu, Dul berdiri dan mengangkangi wajah Miriani. Penisnya yang mengacung menyodok-nyodok wajah manis Miriani.
    "Ayo mbak... cobain punya gue. Pasti lebih enak dari maninya si Jing," katanya.
    Miriani menggeleng-geleng dan mulai terisak-isak lagi.
    "Ayo deh Mbak.... biar Mbak cepet pulang," rayu Bon, lagi-lagi sambil menekannya dengan pilinan di puting Miriani. Dipilin seperti itu, Miriani merasa putingnya seperti ditusuk-tusuk jarum, pedih.... Itu membuatnya makin tak mampu berpikir jernih. Dibukanya bibirnya sedikit. Dul memanfaatkannya dengan baik. Penisnya dengan cepat memenuhi rongga mulut aktivis sebuah partai itu.
    Dul sibuk memperkosa mulut perempuan alim berjilbab itu. Bon masih menduduki sebelah paha telanjang Miriani. Sebelah kaki yang lain tersangga di pundak Dul. Penis Bon pun sudah mengacung, menuding vagina Miriani yang mengkilap dengan sisa-sisa sperma. Apalagi yang mungkin terjadi dalam situasi seperti itu ?
    Betul ! Bon pun merapatkan pangkal pahanya ke pangkal paha Miriani. Menekan pintu liang vagina Miriani dengan kepala penisnya yang seperti helm tentara. Plop... kepala serdadu itu sudah terjepit di antara labia minora perempuan muda cantik. Miriani yang tengah sibuk berupaya membuat Dul orgasme terkejut menyadari vaginanya bakal dipenetrasi.
    "Emmh...emmmhhh....Eummmmfff.... " Miriani berusaha berontak, meronta, melawan. Tapi semua sia-sia.
    Penis Bon dengan perkasa telah menerobos jauh ke dalam vagina Miriani, merasakan remasan dari bagian dalamnya yang lembut. Bon bahkan merasakan kepala penisnya menekan dinding kenyal di ujung terdalam vagina perempuan itu. Dul tak kalah semangatnya dari Bon. Dia ingin Miriani bisa membedakan rasa spermanya lebih nikmat dibanding sperma Jing....
    Mengerang, merintih dan memaki di dalam hati. Cuma itu yang bisa dilakukan Miriani. Sampai akhirnya rongga mulutnya dipenuhi cairan pekat. Pandangannya berkunang-kunang ketika Dul memaksanya menelan spermanya. Susah payah, akhirnya Miriani bisa menelan sperma Dul. Hanya bers***** beberapa menit, Miriani merasakan Bon dengan kasar mengaduk-aduk vaginanya dan terakhir mendorong tubuhnya sampai pangkal paha keduanya menempel erat. Miriani kembali merasakan cairan hangat memenuhi vaginanya. Sebelum akhirnya tubuhnya lunglai dan ia kehilangan kesadaran.
    Keempat lelaki itu membiarkan Miriani tergolek di lantai berkarpet hijau itu setengah jam lebih. Kepalanya
    masih berjilbab. Payudaranya yang tak seberapa besar terbuka bebas. Ada bekas lovebites di dekat kedua putingnya yang hitam mengacung. Lovebites juga terlihat di dekat pangkal pahanya. Sepasang pahanya mengangkang lebar. Sperma Bon masih meluber di sela-sela bibir vaginanya yang kemerahan.
    "Terus Mas Prapto... kita apain cewek ini ?" tanya Jing sambil mengelus-elus rambut kemaluan Miriani yang tak seberapa lebat. "Gue blom ngerasain memek cewek ini," lanjutnya.
    "Gue juga belon," timpal Dul. "And... jangan lupa bro, pantat cewek ini masih perawan," lanjut si Dul sambil mengolesi anus Miriani dengan sperma yang meleleh dari celah vaginanya.
    Dul tak berhenti di situ. Dimasukkannya telunjuknya ke vagina Miriani. Lalu, ditariknya telunjuknya keluar. Terlihat telunjuknya betul-betul belepotan sperma. Tanpa banyak bicara, ditusukkannya telunjuknya itu ke anus Miriani. Perlahan tapi pasti telunjuk Dul terbenam ke dalam anus Miriani yang masih tak sadarkan diri. Terlihat Miriani sedikit menggeliat. Rupanya dalam keadaan tidak sadar, tubuhnya tetap merasakan sakit di anusnya.
    "Ya udah, kalo lo masih mau ngentot cewek ini, cepet aja. Sebelum malam dia harus sudah kita pulangin," sahut Prapto.
    "Bangunin dia Jing," kata Dul kepada temannya. Dia masih asyik dengan vagina dan anus sekretaris berjilbab ini. Jari tengahnya mengaduk-aduk vagina, sementara jari telunjuknya menusuk lubang di sebelahnya.
    Jing yang gemas melihat wajah innocense Miriani menyeringai. Lalu dengan wajah sadis disentilnya puting kanan Miriani dengan keras. Akibatnya, luar biasa. Tubuh Miriani terlonjak. Mula-mula dari bibirnya terdengar rintihan pelan, lalu tiba-tiba Miriani seperti orang histeris, menjerit-jerit sambil mengusap-usap putingnya. Seperti baru tersadar, ia juga menjerit melihat anusnya tengah diobok-obok Dul....
    Dul dan Jing tak berlama-lama membiarkan ibu muda berjilbab itu menjerit-jerit. Dul segera memposisikan perempuan itu dalam keadaan menungging. Sementara Jing dari depan mengangkat dagu Miriani lalu bibirnya langsung melumat bibir seksi perempuan itu. Jeritan Miriani terbungkam menjadi gumaman yang tak jelas. Kalau tak dicium Jing, pasti jerit Miriani makin menjadi saat Dul menancapkan penisnya yang kembali tegak ke vaginanya.
    Dul tipe lelaki kasar. Segera saja terdengar suara plak-plok kocokan penisnya di vagina Miriani yang becek oleh sperma Prapto dan Bon. Miriani merasakan vaginanya betul-betul pedih. Rasa sakit akibat perkosaan dua lelaki sebelumnya belum hilang, kini Dul memperkosanya dengan kasar pula. Apalagi dia kesulitan bernafas karena bibirnya dipagut dengan penuh nafsu oleh Jing.
    Tiba-tiba Miriani merasa sedikit lega. Penyebabnya, Dul menarik keluar penisnya. Tetapi itu cuma kelegaan sejenak saja. Miriani kini menghadapi kengerian baru yang belum pernah dialaminya.
    "Gue mau perawanin pantat lo," kata Dul sambil mengarahkan ujung penisnya yang tampak berlumur sperma.
    Miriani mengerang-erang dan meronta-ronta ketika merasakan sesuatu yang keras mulai menusuk lubang belakangnya. Rasanya panas dan pedih saat kepala penis Dul berhasil menembus benteng pertahanannya. Bundaran bokongnya juga terasa pedih karena Dul mencengkeram dengan jarinya yang berkuku panjang.
    "Aaarrgghhh.... ouhhhhh.... jangaannnn..... sakiiit.... !" Miriani berteriak sejadinya ketika akhirnya berhasil melepas kuluman bibir Jing setelah ia mencakar pipi lelaki itu.
    Jing yang kesakitan dengan marah menampar pipi Miriani. Akibatnya, sudut bibir perempuan itu berdarah.
    "Jangan pernah berbuat seperti itu lagi padaku.... ngerti ?!" bentak Jing sambil mencubit kedua puting Miriani.
    "Aaaakhhhh... iya... iyaaahh..." Miriani menjerit karena Jing menarik kedua putingnya.
    Air mata mengalir ke kedua pipi perempuan dewasa ini. Sakit di kedua putingnya tak seberapa dibanding pedih yang dirasakan di anusnya. Miriani masih merangkak seperti anjing. Jing dan Bon meremas-remas kedua payudaranya yang menggantung. Dia melihat Prapto yang tengah merekam dirinya dengan wajah penuh kebencian. Prapto hanya tersenyum sinis.
    Berkali-kali Miriani memekik kesakitan saat Dul mencoba memasukkan penisnya lebih dalam ke anusnya.
    "Santai aja Mbak. Jangan ngeden.... Kalo ngeden, pantat Mbak malah sakit. Santai aja biar kontol saya bisa masuk lebih gampang. Kalo santai, Mbak malah bisa ngerasain enak nanti," kata Dul.
    Bagaimanapun, Miriani ingin segera lepas dari situasi yang mengerikan ini. Ia pun menuruti kata-kata Dul.
    "Nah, gitu dong....hih... !" Dul mendengus saat merasakan cengkeraman otot anus Miriani mengendor. Saat itu juga Dul mendorong penisnya masuk lebih dalam. Miriani memekik lagi. Dia merasa perutnya seolah penuh, tetapi perih yang sebelumnya sangat mengganggu mulai berkurang. Karena itu, ia mulai mencoba merelakskan dirinya.
    Sikap Miriani itu memudahkan Dul. Lelaki kasar itu kini bisa mendorong penisnya ke dalam anus Miriani sampai pangkalnya. Lalu, perlahan dia menarik mundur sampai hampir keluar, lalu didorong lagi maju dengan kekuatan penuh. Terus diulang dengan gerakan yang makin lama makin cepat. Miriani mengerang-erang sepanjang perkosaan anal itu.
    Tiba-tiba, Dul menarik tubuh Miriani ke arah dirinya yang merebahkan diri. Akibatnya kini perempuan berjilbab lebar itu rebah terlentang di atas tubuh Dul. Penis Dul masih tertancap kuat di dalam anusnya.
    "Nah, ini baru mantap...." komentar Prapto yang langsung merekam adegan itu dari arah depan. Jing dan Bon membantu merenggangkan kedua paha Miriani hingga terlihat jelas anus perempuan itu mencengkeram penis Dul. Vaginanya yang memerah juga masih terlihat mengeluarkan sperma bekas perkosaan sebelumnya.
    "Jing, lo entot cewek ini sekarang," kata Dul yang kini memeluk tubuh Miriani dengan mencengkeram kedua payudaranya.
    Miriani bergidik membayangkan dua lubang bersebelahan di bagian bawah tubuhnya itu akan dimasuki dua penis.
    "Jangan... please... jangan.... saya bisa mati...." rintihnya memelas.
    "Nggak apa-apa mbak. Matinya mati enak.... ha ha ha..." timpal Prapto disambut gelak teman-temannya.
    Jing ternyata sudah bersiap-siap di depan s*****kangan perempuan alim itu.
    "Masih kelewat basah sperma nih," katanya sambil menusukkan dua jari ke vagina Miriani, mengorek-ngorek untuk mengeluarkan sperma dari dalamnya. Saat ditarik keluar, di dua jari Jing terlihat segumpal sperma yang kental dan putih kekuningan. Dicengkeramnya dagu Miriani dan dipaksanya perempuan itu mengulum kedua jarinya itu. Miriani lagi-lagi cuma bisa terisak-isak. Dengan tegang ia menunggu apa yang akan terjadi berikutnya. Penis di dalam anusnya saja sudah terasa sangat menyakitkan. Akhirnya yang ditakutkannya terjadi. Terasa pintu liang vaginanya mulai terdesak sesuatu yang besar dan keras.
    "Rasain nih.... perempuan seperti mbak memang bagusnya dinikmati sama-sama.... hihhhhh !!!" kata Jing sambil dengan kekuatan penuh menusukkan torpedonya ke liang vagina Miriani.
    Miriani mengerang panjang. Tubuhnya terasa terbelah di bagian bawah. Pandangannya berkunang-kunang. Ia berharap untuk pingsan saja agar tak merasakan derita ini. Tetapi, ternyata ia tetap tersadar....
    Perasaan sakit yang aneh. Di dalam tubuhnya terasa ada dua benda besar yang bergerak maju mundur bersamaan. Ia terpaksa berulangkali mengejan seperti hendak mengeluarkan benda-benda itu. Tetapi akibatnya justru menyenangkan bagi kedua pemerkosanya. Jing dan Dul seperti merasakan remasan kuat di penis mereka.
    Prapto tak menyangka bakal dapat obyek syutingan sedramatis ini. Dia kini mengclose up keluar masuknya dua batang penis di dua lubang yang bersebelahan. Dia juga mengclose up wajah Miriani yang tampak menderita. Memejamkan mata dengan kening berkerut sambil menggigit bibir dan tak henti mengerang-erang.
    Di luar dugaan, Bon yang sejak tadi cuma menonton tak bisa menahan nafsunya. Disuruhnya Jing menegakkan tubuh, lalu dengan enaknya dia mengangkangi wajah Miriani. Tentu saja Miriani kaget, Dia melotot ketika menyadari penis Bon dengan enaknya menggeletak di wajahnya. Tapi dia tak bisa berbuat apa-apa menghadapi pemaksaan gila-gilaan seperti itu. Bon pun dengan mudah memaksanya memasukkan penis ke mulutnya. Prapto kini punya obyek syuting yang lebih dahsyat. Seorang perempuan dewasa dengan jilbab putih lebar tengah dihimpit di antara dua lelaki telanjang di atas tubuhnya dan seorang lelaki telanjang lainnya di bawahnya.
    Satu persatu pemerkosa Miriani menuntaskan hajatnya. Diawali Jing yang memenuhi vagina Miriani dengan spermanya. Lalu tak berapa lama, Bon yang menyemprotkan spermanya ke wajah Miriani. Terakhir, Dul menunggingkan lagi perempuan itu dan dengan tenaga ekstra menggenjot penisnya di anus Miriani sebelum akhirnya menumpahkan spermanya ke dalamnya.
    Miriani tersungkur telungkup di lantai. Sekujur tubuhnya pegal-pegal. Pantatnya tampak memerah. Prapto merenggangkan kedua paha Miriani untuk mengcloseup lelehan sperma dari anus dan vaginanya ke karpet. Diclose-upnya juga wajah Miriani yang berlepotan sperma. Salah satu matanya terpejam karena setumpuk sperma tepat di atas kelopak matanya.
    "Sudah, sana mandi Mbak. Habis mandi, mbak boleh pulang," kata Prapto sambil berjongkok di sebelah Miriani dan menyeka sperma yang menutupi matanya. Perempuan dewasa itu masih terisak. Dia memalingkan wajahnya.
    PLAKKK....
    Tiba-tiba Prapto menampar keras pantat Miriani. Karuan saja Miriani terlonjak dan menjerit. Tubuhnya kini miring menghadap Prapto.
    "Sana cepat, mandi !" bentak Prapto. "Atau mau tetekmu gua gampar ?" lanjutnya sambil mengangkat tangannya siap menampar.
    Miriani dengan wajah ketakutan menyilangkan kedua tangannya ke depan payudaranya. Ia cepat berdiri dan berjalan gontai ke arah yang ditunjuk Prapto. Keempat pemerkosanya tertawa terbahak-bahak melihat langkah perempuan berjilbab dengan sperma di sekujur organ vitalnya itu.
    "Bener mau kita pulangin dia, Mas ?" tanya Jing kepada Prapto.
    Prapto menyulut rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam. Lalu, dihembuskannya asap rokoknya ke atas sambil tersenyum menyeringai.
    "Ya, tapi besok-besok kita akan sering-sering menikmati tubuhnya," sahutnya.
    ***********
    Miriani bingung. Tak ada kamar mandi di arah yang ditunjuk Prapto. Yang ada hanya ruang terbuka dengan lantai lebih rendah. Ada keran dengan slang panjang dan ember besar di bawahnya di tempat itu. Miriani terdiam di dekat "kamar mandi" itu. Kedua tangannya masih menyilang di depan dadanya. Jilbabnya yang lebar sudah diulurnya, namun hanya menutup sedikit di atas pinggulnya. Ia terlihat berjongkok melepas kaus kakinya yang panjang hampir mencapai lutut. Tetapi ia kemudian terlihat kembali diam.
    "Ya itu kamar mandinya. Sudah, cepat mandi. Buka jilbabnya ! Ngapain nutupin rambut. Kita udah liat memekmu kok," kata Prapto sambil mendekat dengan membawa handycamnya.
    Tiga lelaki lainnya ikut mendekat. Dul yang tidak sabaran turun dan merenggut jilbab ibu muda itu. Miriani yang kelelahan tidak lagi melawan. Rambutnya yang panjang dan ikal bergelombang itu digelung. Sehelai kain tipis masih menutupi sebagian rambunya. Kain inilah yang mencegah keluarnya anak-ranak rambut dari balutan jilbab lebarnya. Dul juga merenggut kain ini, sekaligus ikat rambut Miriani. Rambut Miriani yang panjang sampai sedikit di atas pinggang pun terurai.
    Keempat pemerkosanya terpana. Dengan wajah kearab-araban dan rambut ikal terurai, serta completely naked, Miriani jadi amat mirip dengan bintang film porno dari Timur Tengah. Penis keempat lelaki itu kembali menegang.
    Miriani masih berdiri memunggungi keempat pemerkosanya. Ia meraih rambutnya yang panjang untuk menutupi bagian depan tubuhnya yang telanjang bulat. TUbuhnya sesekali bergetar karena ia masih menangis sesenggukan.
    Prapto menyerahkan handycam kepada Bon, lalu ia turun mendekati perempuan itu. Didorongnya tubuh Miriani hingga perempuan itu menunduk dengan berpegangan pada pinggir ember besar yang penuh air. Ditendangnya kedua kaki Miriani hingga mengangkang melebar. Miriani kaget, tak menyangka bakal disetubuhi lagi untuk kesekian kalinya. Namun ten****ya sudah betul-betul terkuras. Ia pasrah apapun yang bakal terjadi kini.
    Sepasrah-pasrahnya Miriani, masuknya penis Prapto ke vaginanya masih menyebabkan pedih. Apalagi kini Prapto juga menjadikan rambutnya yang panjang seperti tali kekang kuda.
    "Nih, hadiah buat sekretaris yang sok tau !" kata Prapto sambil mendorong penisnya jauh ke dalam sampai terasa menekan dinding kenyal di ujung liang vagina Miriani.
    Miriani menggigit bibir dengan kepala mendongak, menahan pedih di kulit kepala dan ngilu di sekujur vaginanya. Tiba-tiba ia memekik karena merasakan rasa pedih yang aneh. Ternyata, dengan penis menancap di vagina Miriani, Prapto kencing ! Prapto kencing amat banyak. semburannya dirasakan Miriani amat deras, panas dan memedihkan. Ia mencoba meronta tapi sia-sia. Ditunggunya dengan penuh harap akhir semburan dari penis mitra kerjanya itu.
    "Hihhh.... lo harus berterima kasih sama gue...nihhh... memek lo gue bersihin pake kencing gue..." kata Prapto meracau.
    Prapto memberi kode kepada Bon agar mensyuting dari depan. Bon lalu berlutut di depan Miriani mensyuting turun dari wajahnya, payudaranya yang mengacung dan vaginanya dengan penis Prapto masih menancap. Di sela-sela bibir vaginanya mengalir cairan bening kekuningan. Lalu, Prapto menarik keluar penisnya dan akibatnya dari vagina Miriani keluar deras cairan kekuningan bercampur putih kental.
    Tubuh perempuan itu masih gemetar ketika cairan kuning yang keluar dari vaginanya mulai berkurang. Lalu, tiba-tiba ia bersimpuh di genangan air seni Prapto. Prapto mengambilalih handycam kembali. Diberinya kode kepada tiga rekannya yang berdiri mengelilingi Miriani yang masih bersimpuh.
    "Ini akan membuatmu mau mandi.... 1-2-3...." katanya.
    Yang terjadi kemudian membuat Miriani kembali terkejut. Ternyata ketiga lelaki itu berbarengan mengencinginya. Semburan air seni mengenai sekujur tubuhnya, rambut wajah, punggung, dada, paha. Kedua telapak tangannya berupaya menghalangi semburan ke wajahnya. Namun, Dul malah mencengkeram dagunya hingga mulutnya terpaksa membuka dan semburan air seni Dul langsung tertampung ke dalamnya.
    Miriani memejamkan mata. Setelah rasa sperma yang aneh, kini ia merasakan untuk pertama kali menelan air seni. Sekujur tubuhnya kini bau pesing.
    Tiba-tiba, Dul memaksanya berjongkok dan menyodorkan gayung di bawah s*****kangannya. Tangan lelaki itu kemudian mengucek-ucek vaginanya.
    "Ayo sekarang lo kencing !" katanya.
    Miriani memang ingin pipis dari tadi. Tapi pipis di bawah tatapan mata banyak lelaki dan disyuting close up adalah hal yang belum pernah dialaminya. Dengan perasaan amat terhina Miriani akhirnya pipis. Semburan air seninya ke gayung lumayan deras dan banyak. Dul menyempatkan membekap vagina Miriani yang sedang pipis. Otomatis telapak tangannya basah oleh air seni perempuan itu.
    "Air kencing gue seger kan ? Nih liat,
    gue juga doyan air kencing lo. Lain kali gue pengen minum langsung dari memek lo," katanya sambil menjilati jarinya yang basah. Miriani meliriknya dengan perasaan jijik.
    Setengah gayung lebih air seni Miriani tertampung. Dul mengangkat gayung tersebut. Jing membimbing Miriani berdiri. Bon turut berdiri mengelilingi tubuh perempuan itu.
    "Ayo sekarang kita mandi bareng !" kata Dul lalu menyiramkan air seni Miriani ke kepala mereka.
    Baru setelah itu keempatnya betul-betul mandi dengan air di ember. Sebetulnya yang terjadi adalah tiga lelaki memandikan Miriani. Mereka dengan semangat menyabuni sekujur tubuh Miriani. Di bagian payudara, acara sabunan itu jadi terasa heboh. Mereka semua meremasi sepasang payudara Miriani yang berlumur busa sabun. Kedua putingnya juga ditarik-tarik sampai menegang. Sementara Dul lebih asyik menyabuni vagina Miriani. Bahkan, bukan cuma bagian luar. Dua jarinya terus saja menyabuni bagian dalam vagina perempuan itu.
    Miriani juga jadi obyek keisengan Jing. Dia berkali-kali menyikat kedua puting Miriani dengan sikat gigi. Hal sama juga dilakukannya pada klitoris perempuan itu. Semua ulah ketiga lelaki itu membuat acara mandi bareng itu jadi penuh jerit kaget dan kesakitan serta marah Miriani ditingkahi gelak tawa mereka.
    Miriani kini terlihat duduk setengah berbaring di lantai dengan kedua kaki mengangkang lebar. Di sisi kanan kirinya ada Jing dan Bon yang asyik menyabuni pangkal paha perempuan itu. Bon menarik-narik rambut kemaluan Miriani yang tak seberapa lebat itu.
    "Cukur jembutnya Bon !" kata Prapto yang tak henti mensyuting sambil melempar pisau pencukur.
    "Nggak dicabutin aja, Mas ?" sahut Jing. "Gue suka suaranya kalo dicabut," lanjutnya dilanjutkan dengan menarik beberapa helai rambut kemaluan Miriani sampai tercabut.
    "Aaawww....!" Miriani menjerit.
    "Ha... ha... ha.... lucu juga. Tapi cukur aja deh. Kasian dia kecapekan," sahut Prapto.
    "Ok bos !"
    Miriani cuma bisa
    menggeliat-geliat saat Dul mulai mencukur rambut kemaluannya. Malah ia melakukan itu dengan tiga jari tangan kirinya masuk ke vaginanya. KUlit Miriani
    sawo matang, tapi wajahnya jadi merah padam karena tak sanggup menahan malu. Sementara Dul sibuk beraktivitas di vaginanya, Bon dan Jing tak bosan-bosannya bermain-main dengan payudara dan puting Miriani. Jing malah juga menciumi bibir Miriani. Mulutnya yang bau rokok membuat Miriani ingin muntah.
    **********
    Miriani baru betul-betul lega ketika acara mandi bareng itu selesai. Mereka membiarkannya mengeringkan tubuh dengan handuk. Miriani juga lega melihat blus dan rok panjang, jilbab dan kaus kakinya ada di dekat handuk.
    "BH sama celana dalem Mbak saya bawa pulang. Buat kenang-kenangan," kata Prapto. Miriani cuma melirik lelaki itu dengan tatapan tidak suka. Apalagi lelaki itu masih mensyuting dirinya.
    Usai mandi, Miriani dengan cemas m*****kahkan kakinya ke arah lorong panjang tempat dia pertama kali datang tadi. Dia sudah tampak segar dengan busana yang panjang dan rapi.
    "Mau kemana Mbak ?" tanya Prapto. Lelaki itu sudah duduk di karpet dengan Bon, Jing dan Dul serta seorang lelaki lain.
    "Pulang..." sahutnya ketus.
    "Nggak usah buru-buru, ini udah saya panggilin ojek," katanya sambil menunjuk lelaki lain tadi. Barulah Miriani menyadari kehadiran tukang ojek yang tadi membawanya.
    "Iya Neng, entar Abang anterin. Tapi kagak gratis loh !" timpal Bang Amir, si tukang ojek sambil meringis memperlihatkan giginya yang hitam. Bibirnya juga hitam, tanda bahwa dia perokok berat.
    "Iya, nanti saya bayar. Ayo sekarang aja," ujar Miriani.
    "Bayar di muka Neng..." balas Bang Amir.
    "Berapa ?"
    "Nggak usah pake duit, Neng...." sahut Bang Amir. Mendengar jawaban itu Miriani kaget. Dia mulai mengerti arah omongan Bang Amir.
    "Huh.... kalian memang setan !" makinya. Kelima lelaki itu tertawa terkekeh-kekeh.
    "Lo emang pengen dibayar pake apa, Bang ?" kata Prapto di tengah tawanya.
    "Gue pengen ngerasain memek dia, Mas. Sebentaaar aja...." katanya. Para lelaki tadi tertawa-tawa lagi. Miriani betul-betul kehilangan akal sehatnya. Dia mulai menangis lagi.
    "Eh, nggak usah nangis Mbak. Udah deh, kasih dia memek kamu sebentar. Abis itu dia antar kamu pulang," kata Prapto kali ini sambil berdiri dan menggamit tangan Miriani.
    Miriani kini berdiri di hadapan Bang Amir yang duduk di karpet. Dibiarkannya Prapto mengangkat rok panjangnya sampai ke pinggang. Bang Amir melotot melihat vagina Miriani yang mulus tanpa sehelai rambutpun. Tangannya gemetar, terjulur dan menyentuh vagina perempuan itu. Begitu tersentuh, ganti tubuh Miriani yang bergetar. Ia mulai terisak lagi. Apalagi, telunjuk Bang Amir mulai menyusuri celah bibir kelaminnya, makin ke bawah dan akhirnya menemukan pintu liang vaginanya.
    Perlahan tapi pasti, Bang Amir menusukkan telunjuknya ke dalam vagina Miriani. Dilihatnya Miriani menggigit bibir. Kedua belah pipinya mulai basah oleh airmata. Miriani menggeliat ketika Bang Amir menyusulkan jari tengahnya ikut masuk. Terasa bagian dalam vaginanya dikorek-korek dua jari lelaki setengah baya itu.
    "Wah, udah lama abang mimpiin memek Neng," katanya. Miriani baru sadar, selama ini tukang ojek yang mangkal dekat rumahnya itu memang sering menatapnya dengan pandangan nafsu.
    "Cuman memeknya Bang ? Pengen ngenyot toketnya kagak ?" tiba-tiba terdengar suara Dul.
    Bang Amir mendongak.
    Liurnya menetes melihat pemandangan heboh di atasnya. Jilbab lebar Miriani sudah disampirkan ke pundak. Kancing blusnya terbuka lebar dan sepasang payudaranya tampak mengacung dalam genggaman dua telapak tangan Dul.
    "Wah... pengen banget..." katanya.
    Dul menekan pundak Miriani hingga perempuan itu berlutut di depan Bang Amir. Sejenak lelaki kampung ini melupakan vagina Miriani. Langsung ditangkapnya sepasang payudara telanjang di depannya. Dengan lahap dihisapnya puting susu Miriani, kanan dan kiri berganti-ganti. Miriani tak banyak protes lagi. Tetapi jelas tampak ia marah, takut sekaligus malu.
    Sepasang payudaranya kini terlihat basah kuyup oleh aiur liur Bang Amir.
    "Udah Bang, ntar keburu sore. Lo sekarang telentang, santai aja biar Mbak Miriani yang muasin lo," kata Dul.
    Bang Amir nurut. Dia segera melepas celananya dan terlentang. Dia melihat Dul melepas rok panjang Miriani, tetapi membiarkannya tetap memakai kaos kaki, jilbab lebar yang disampirkan ke pundak dan blus yang terbuka kancingnya. Pemandangan itu membuat penisnya yang hitam bangkit. Lumayan panjang dan terlihat kekar
    dengan urat-urat di sekujur batangnya.
    Dul membimbing Miriani untuk berjongkok mengangkangi wajah Bang Amir dengan posisi membelakanginya. Tukang ojek itu terlihat menelan air liurnya menyaksikan vagina perempuan baik-baik tepat di depan hidungnya. Aromanya pun mulai tercium. Gemetaran tangan Bang Amir menyentuh bibir vagina Miriani.
    Prapto mengajarinya menguakkan bibir vagina yang mulus itu dengan dua tangan.
    "Isepin kontol abang, Neng... Abang mau jilatin dulu memek Neng," kata Bang Amir dan lidahnya pun mulai menyapu bibir vagina Miriani.
    Tubuh Miriani bergetar ketika lidah Bang Amir menemukan klitorisnya. Juga ketika lidahnya berupaya menyusup ke dalam liang senggamanya. Bang Amir sendiri mengerang seperti orang kedinginan ketika Miriani yang dibimbing Dul mulai merangsang penisnya. Tangan kiri Miriani menggenggam buah zakar Bang Amir yang berambut lebat, meremasnya lembut. Tangan kanannya menggenggam pangkal batang penis Bang Amir dan mengurutnya dengan tekanan ke arah kepala penisnya. Bang Amir serasa melayang ketika Miriani di bawah arahan Dul menjilati lubang di kepala penisnya. Lalu, bibirnya yang seksi juga mengucup bagian lubang itu dan menyedot-nyedot. Baru setelah itu Miriani mulai memasukkan penis Bang Amir ke mulutnya. Makin lama makin dalam. Bang Amir dan Miriani mengerang-erang. Sebab, saat bersamaan, Bang Amir juga menyedot-nyedot klitoris Miriani sambil dua jarinya mengaduk-aduk vaginanya.
    "Sudah, pemanasannya jangan lama-lama...Ayo Mbak, masukin kontol dia ke memek Mbak !" terdengar Prapto memerintah sambil terus merekam adegan Miriani tengah mengulum penis Bang Amir.
    Dul dan Jing memegangi lengan kanan dan kiri Miriani, membimbing perempuan itu mengangkangi penis Bang Amir yang tegang maksimal. Miriani sekarang tak banyak menolak ataupun meronta. Dia bahkan menurut ketika disuruh memasukkan sendiri penis Bang Amir ke vaginanya.
    "Buka aja bajunya Dul, ngganggu pemandangan," kata Prapto. Lagi-lagi, Miriani kembali bugil. Cuma jilbab dan kaos kaki yang melekat di tubuhnya kini.
    Miriani menggigit bibirnya ketika untuk kesekian kalinya vaginanya kemasukan penis lelaki yang bukan suaminya. Tragisnya, kali ini justru ia berperan aktif. Mengangkangi penis Bang Amir yang mengacung dengan posisi membelakanginya. Memegang penis yang berurat itu dan mengarahkannya ke liang vaginanya. Lalu, perlahan menurunkan tubuhnya hingga penis itu tertelan seluruhnya oleh vaginanya. Semua adegan itu tak luput dari perhatian Bang Amir dan rekaman Prapto.
    Vaginanya yang kini tidak berambut jadi terasa sensitif saat penis Bang Amir masuk sampai pangkalnya dan rambut kemaluannya yang lebat menggesek kulit vaginanya. Bahkan, klitorisnya pun tergesek rambut kemaluan Bang Amir. Bagaimanapun hal tersebut membuat tubuh Miriani bereaksi spontan. Vaginanya mulai membasah, melumasi gesekan antara penis Bang Amir dan vaginanya. Hal itu mendatangkan perasaan nikmat bagi Bang Amir maupun Miriani sendiri.
    Miriani tak mampu berpikir jernih lagi. Setelah menderita sejak pagi, sedikit kenikmatan itu membuatnya tergoda untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Ia pun mulai menggoyangkan pinggulnya, membuat penis Bang Amir menjangkau segenap pelosok bagian dalam vaginanya.
    Makin lama, frekuensi goyang pinggul Miriani makin tinggi. Kedua tangannya yang semula menyangga tubuhnya ke belakang, kini mulai meremas-remas kedua payudaranya sendiri, memilin-milin dan menarik-narik kedua putingnya. Miriani juga tak kuasa menahan diri untuk tidak mengerang-erang dan mendesah-desah. Keempat pemerkosanya tercengang melihat perubahan itu. Prapto tak melewatkan momen itu dan merekamnya.
    Ia lalu menyerahkan handycam kepada Bon. Prapto sendiri menyodorkan penisnya yang sudah mengacung ke wajah Miriani.
    "Ayo Mbak.... terus goyang, nikmatin aja Mbak... sekarang isep kontolku Mbak... iyahhhh...." kata Prapto.
    Tanpa banyak tanya, Miriani menggenggam penis Prapto dan memasukkannya ke mulutnya. Lalu, sambil menaikturunkan pinggul dan memutar-mutarnya, Miriani juga mengulum penis Prapto. Prapto merem melek merasakan kuluman perempuan itu. Dipeganginya kepala Miriani yang berjilbab. Sesekali didorongnya penisnya jauh sampai terasa menyentuh kerongkongannya. Miriani masih terus memutar-mutar pinggulnya. Desahannya tetap terdengar meski tersumbat penis Prapto.
    Prapto rupanya punya rencana sendiri. Didorongnya kepala Miriani dengan penisnya tetap di dalam mulut perempuan itu. Posisi itu ptomatis membuat Miriani rebah ke atas tubuh Bang Amir. Si tukang ojek luar biasa senang. Sebab, kini ia bisa menikmati jepitan vagina Miriani sambil meremas-remas kedua payudaranya.
    Prapto menarik keluar penisnya dari mulut Miriani. Ia kini berlutut di depan s*****kangan Miriani yang terbuka lebar. Penis Prapto masih keluar masuk disambut goyangan pinggul Miriani. Vagina perempuan itu sudah betul-betul basah.
    Prapto menyentuh klitoris Miriani, menekannya dengan ibu jari dan merangsangnya dengan gerakan mengucek-ngucek, makin lama makin cepat. Reaksinya luar biasa. Miriani seperti berupaya bangkit. Tangannya menggapai-gapai ke kemaluannya sendiri tapi tak bisa karena Bang Amir menahan tubuhnya. Akhirnya, dari mulutnya keluar rintihan yang lebih mirip erangan memelas, bukan kesakitan. Yang pernah menonton Miyabi orgasme, tahu bahwa Miriani juga akan menemukan orgasmenya....Rintihannya tak jauh beda dengan rintihan nikmat Miyabi.
    "Ayo Mbak....jangan malu-malu.... ayo, nikmatin aja.... ayo....." goda Prapto sambil terus merangsang klitorisnya.
    "Aiyaiyaiyai.... aihh.... aaiihhh....auhhh....aaaakhhhh....mmmmfff....aaaiii hhh...." suara yang betul-betul menggairahkan itu akhirnya keluar melengking dari bibir Miriani saat terpaan orgasme seperti meledakkan dirinya. Tubuhnya kelojotan di atas tubuh Bang Amir. Penis Bang Amir sendiri masih lumayan gagah tertancap di vagina Miriani yang basah kuyup.
    Empat pemerkosanya terbahak-bahak melihat adegan itu. Perlahan, kesadaran merasuki benak Miriani lagi. Mendengar tawa dan komentar yang menghina, rasa malu mulai merambati dirinya....
    "Tahu gini, tadi kan nggak usah kita perkosa Mbak.... memek Mbak juga butuh nih....." kata Prapto sambil menepuk vagina Miriani agak keras.
    "Gue tahu Mbak butuh kontol lebih dari satu. Gimana kalo kita coba masukin dua kontol sekaligus ?" lanjut Prapto.
    Miriani kaget. Apalagi ia merasakan aneh, ketika Prapto menusukkan satu jarinya di sela-sela penis yang terjepit vaginanya. Satu jari lagi menyusul...."Tenang aja Mbak.... kepala bayi aja muat. Masak cuman 2 kontol aja nggak muat ?" kata Prapto samil mulai menjejalkan penisnya bersamaan penis Bang Amir.
    "Akhh.... aihh.... jangan... aduhhh.... jangan... nggak muaaat...." Miriani ketakutan. Ia mencoba mendorong dada Prapto. Tapi dadanya sendiri malah dicengkeram Bang Amir.
    "Biarin aja Neng....memek Neng emang udah agak longgar kalo dipake sendiri kok..." komentar Bang Amir.
    Mula-mula Prapto kesulitan. Tetapi akhirnya kepala penisnya berhasil masuk. Baru setelah itu tak sulit baginya untuk mendorong masuk penisnya jauh ke dalam diiringi jerit kesakitan Miriani. Vaginanya terasa seperti akan sobek.
    Tak ada lagi desahan nikmat keluar dari mulut Miriani. Yang ada kini pekik dan erangan kesakitan. Dul pun tak mampu menahan diri untuk tidak memperkosa mulut Miriani lagi.
    Prapto dan Bang Amir seperti berlomba memasukkan penis mereka sejauh-jauhnya ke vagina Miriani. Prapto yang pertama kali menyelesaikan hajatnya, disusul kemudian Prapto, lalu Dul di mulut Miriani.
    Kembali ibu muda itu tergolek lemah di lantai berkarpet hijau. Jilbabnya kusut masai. Sperma belepotan di bibir dan vaginanya.
    Prapto menampar pantatnya, menyuruhnya segera bersiap pulang. Dengan gontai ia kembali ke kamar mandi, membersihkan bekas-bekas perkosaan dahsyat itu.
    Bang Amir menunggu di atas jok motor di luar rumah. Di benaknya sudah tersimpan rencana cemerlang: mengajak teman-temannya menikmati tubuh ibu muda berjilbab ini....
    >>> Jilbab Lover <<<
    Do not forget to say thanks ...

Tags for this Thread

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •