pokerepublik
pokerlounge

Maxbet  Kaskus303
Indobokepz - Indonesian Movie and Picture Community
sarana99 855Online sarang303

 

 

RumahTaruhan88 Saranapoker idr77





Alpha4D Bola54
pokerace99 togelplus
AonCash AonCash
MacauOnlineBet tglplus
pokerclub BandarJakarta
Royal188 Fairbet88
Royal188 raja303

 

Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 10 of 15
  1. #1
    Tukang Ngintip Raul_Gee's Avatar

    Join Date: Mar 2009

    Location: Java Island

    Posts: 137

    Thanks: 259

    Thanked 2,547 Times in 131 Posts

    Thumbs up XXX story by Jakongsu's (dijamin... cruooooooooootzzzzzzzzz!)

    Obyekan Ibu-ibu

    By Jakongsu


    Pak Edi kolegaku punya chemistry yang sama denganku. Meski dia lebih tua 20 tahun tapi jika kami bertugas keluar kota bersamaan, pada waktu luang kami akan jalan berdua. Tujuan pertama pasti wisata kuliner, dan tujuan berikutnya adalah mencari yang bening-bening.

    Pak Edi sangat menguasai Solo dan Yogyakarta. Jadi jika ada penugasan ke Solo dan Yogya, dia paling bersemangat, apalagi aku berada dalam timnya.

    Suatu hari dia menggamit aku, “Eh aku nemu tempat yang unik di Yogya,” katanya.

    Tempat yang unik dimaksud, adalah semacam “show room” tapi khusus untuk para istri yang mencari tambahan dengan menerima “tamu”. Pak Edi bersemangat menceritakan bahwa tempat itu banyak ibu-ibu yang lumayan, dan harganya tidak terlalu mahal. Sayangnya mereka hanya bisa di “tenteng” antara jam 10 sampai jam 5 sore. Mereka tidak bisa diajak nginap di hotel, karena harus kembali kerumah.

    Meskipun aku bukan penggemar STW, tetapi keunikan itu membuat penasaran. Suatu waktu jika ada tugas ke Yogya, aku prioritaskan “ bertamu” ke alamat yang diberikan Pak Edi.

    Saat yang ditunggu-tunggu tiba. Aku mendapat penugasan ke Yogya dan Solo.

    Menyelesaikan pekerjaan di Yogya seperti supir ngejar setoran. Semua kerja bisa aku selesaikan sebelum makan siang. Selepas waktu makan siang aku punya waktu bebas.

    Berbekal petunjuk dan alamat yang diberikan Pak Edi, aku naik becak dari hotel. Aku berhenti di bangunan yang ditunjuk pak Edi sebagai penanda, dekat dengan titik tujuan. Berjalan sekitar 30 m ada gang yang tidak terlalu besar. Suasananya teduh dan khas kampung-kampung Jawa, tenang ada suara-suara burung perkutut dan gending yang mungkin dikumandangkan dari radio atau rekaman secara samar-samar.

    Aku berdebar-debar juga mendatangi tempat tersebut. Aku berusaha menyesuaikan sikap sehingga tidak kelihatan sebagai orang asing di wilayah itu. Di sebelah kanan di bawah kerimbunan pohon aku melihat semacam warung makan. Ini adalah tempat yang ditunjuk Pak Edi. Warung makan itu agak unik, karena ruang untuk makannya berada di dalam rumah, seperti ruang makan rumah biasa, hanya saja meja makannya ada sekitar 3 dengan kursi-kursi.

    Dengan gaya percaya diri aku langsung membelok dan duduk di salah satu meja. Ketika itu meja-meja kosong. Jadi tamunya baru aku sendiri. Seorang perempuan paruh baya mengenakan kain panjang atau jarit menghampiri aku dan langsung duduk di kursi dekat aku. “ Mau pesen apa mas?” tanyanya.

    “ Disini apa yang enak,” tanyaku mulai melepaskan kalimat pembuka, kalimat itu kata Pak Edi adalah juga semacam password.

    “Wah semuanya di sini enak kok Mas,” timpalnya.

    Sambil aku mengamati menu yang disodorkan, mata ini tidak bisa konsentrasi, karena beberapa perempuan berseliweran. Mereka rata-rata berusia di atas 25 tahun sampai 35 tahun. Ada yang mengenakan jarit, tetapi ada juga yang mengenakan pakaian seperti layaknya ibu-ibu pergi ke pasar. Kelihatannya lumayan-lumayan juga. Seandainya aku pilih secara acak, aku kira ok-ok saja.

    “Mas pesen ini dulu, yang lainnya nanti bisa diteruskan,” kata si perempuan mbak-mbak yang kutaksir berumur 35 tahun. Akhirnya aku memesan sepiring gudeg ditambah pecel, air mineral dan kopi. Disini letak uniknya, sepertinya pelayan yang mengantar makanan aku orangnya berganti-ganti. Sekitar 5 orang mungkin yang melayani aku. Sambil makan aku ditemani oleh perempuan yang tadi pertama menyambut aku. “ Gimana mas ada yang cocok,” tanyanya.

    Terus terang aku bingung juga harus memilih yang mana. Si mbak lalu berpromosi, yang pake kain baju krem itu Ninuk, istri pegawai pemda, yang pake biru istri , yang krem satu lagi, yang baju merah. Semua dijelaskan si mbak. Kata si mbak mereka belum tentu bisa tiap hari kemari, karena kalau tiap hari bisa dicurigai suaminya. Paling-paling seminggu 2 kali. “ Jadi mas, yang hari ini sama yang besok, pasti beda,” kata si Mbak.

    Aku bingung memilih kriteria dari semua yang disebutkan si mbak. Tiba-tiba terlintas di benakku untuk memilih perempuan yang paling jarang, atau sudah lama tidak kemari. “ Oo itu mbak Rina, dia udah hampir sebulan nggak kemari, suaminya terlalu ngontrol, tapi gak mampu biayai rumah tangganya, orangnya baik kok mas, ramah. Sebentar ya mas aku panggil,” katanya.

    Rina berumur sekitar 28 tahun, agak gempal, tapi mukanya manis. Dia menyalamiku dan duduk di depanku. “Ngobrol aja dulu mas, kalau nggak cocok boleh cari yang lain,” kata si Mbak tadi berbisik di telingaku.

    Rina agak grapyak dan suasana obrolan mudah sekali cair. Aku tidak tega menggantinya dengan yang lain, apalagi rasanya lumayan jugalah untuk temen bobok siang. Akhirnya disepakati dia bisa nemani sampai jam 5 sore. Aturan di situ, kita tidak bisa langsung nenteng pilihan kita. Dia nanti akan diantar ke hotel yang kita sebutkan. Kita harus menunggu di lobby untuk menjemputnya lalu digandeng ke kamar.

    Setelah masalah harga dan cara pembayaran di sepakati, aku cabut duluan ke hotel. Hebatnya lagi aku ditawari digonceng sepeda motor untuk kembali ke hotel. Pengojeknya ya salah satu cewek yang ada di situ. Sekitar 10 menit menunggu di lobby, Rina tiba diantar oleh rekan yang kelihatannya juga sebaya yang tadi kulihat dia mengantar kopi untukku. Mereka datang berbonceng sepeda motor. Setelah serah terima, rekannya kembali dan Rina aku bimbing menuju kamarku.

    “Lho mbak, tadi kan pakai kain, sekarang kok malah pake Jins,” tanyaku ketika dia duduk di bed .

    “Iya mas, sebetulnya di tempatnya si Mbak Ambar itu, kita diharuskan pakai kain. Tapi kalau keluar dari situ boleh pakaian bebas, Lha kalau pakai kain naik motor repot toh mas,” katanya dengan senyum menggoda.

    Tempat rendezvous itu ternyata adalah milik Mbak Ambar yang tadi menyambutku. Dia membuka warung makan itu sebagai penyamaran, agar tidak mencolok di tengah-tengah kampung. Ada sekitar 30 perempuan di situ, tetapi setiap harinya paling banyak hanya 10 orang. Mereka seperti bergantian.

    Sebagian memang suaminya tidak tau, tetapi sebagian lagi menurut Rina datangnya di antar suami dan nanti sore dijemput lagi. Kalau Rina, bekerja sambilan begini tidak setahu suaminya. Dia beranak 2 dan suaminya bekerja sebagai guru. Rina beralasan ngobyek jualan batik membantu temannya. “Abis gaji guru berapa sih mas, untuk kebutuhan rumah tangga baru 10 hari udah habis,” kata Rina menjelaskan mengapa dia “ngojek” di luar pengetahuan suaminya. Menurut Rina jika dia setiap minggu “mampir” ke rumah Mbak Ambar, lumayan bisa menyamai gaji suaminya, malah sering-sering lebih. “

    Lho kata mbak Ambar tadi, “Ini” ongkosnya tigaratus, kalau 4 kali berarti satu koma dua toh,” kataku.

    “Lho kalau dikasi sigitu, saya ya matur nuwun, tapi kalau dikasih lebih masak iya saya nolak mas,” kata Rina.

    Ah sialan, aku terjebak oleh pertanyaanku sendiri. Berarti aku nanti harus kasih lebih dari price list. Aku tawari minum dan snack tapi ditampik oleh Rina. Dia menawarkan untuk dipijat. Tawaran yang sangat menarik, tentu saja aku setuju.

    “Mas ke kamar mandi dulu nanti gantian saya, “ katanya.

    “Lha kalau sama-sama aja kan enak sih,” kataku menggoda.

    “Ah masnya genit nih,” katanya sambil meminta dulu ke kamar mandi.

    Dari kamar mandi aku melepas semua baju kecuali celana dalam dan langsung tidur tengkurap. Entah berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena badanku terasa ditindih sambil dipijat. Nikmat sekali rasanya dipijat. Aku mulai sadar bahwa rasanya kulit pungungku bersentuhan langsung dengan kulit Rina, dan terasa ada bulu-bulu nempel di punggungku. Aku menganalisa sambil tengkurap, kayaknya si Rina telanjang bulat memijatku. Penisku jadi pelan-pelan mengeras. Untuk sementara aku ingin menikmati pijatannya yang lumayan enak. Dia lalu memelukku sambil tidur telungkup diatasku. Tengkukku diciuminya dan dia memberi kode gerakan agar aku berbalik telentang. Kuturuti arahannya dan aku telentang, sementara Rina tergolek di sampingku. Pemandangan yang sangat indah, toket gede dan badan yang sekel. Aku segera meremas susunya dan pentilnya ku pelintir-pelintir. Tangan Rina langsung membekap penisku dan perlahan-lahan dikocoknya.

    “Mas pijetnya diterusin dulu, nanggung kan,” katanya.

    Aku pasrah dan Rina bangkit duduk diatas pahaku, sedikit dibawah kemaluanku. Dia memijat bagian depan pundakku. Perlahan-lahan tumpuan badannya naik keatas, sehingga batang penisku yang mengeras sudah berada diantara belahan memeknya. Dengan nakalnya dia melakukan gerakan maju mundur sambil tangannya terus memijat. Dengan keahlian gerakannya, batang penisku perlahan-lahan mulai menelusup ke dalam liang vaginanya. Setelah seluruhnya tenggelam, Rina mulai melakukan gerakan mutar, sehingga penisku terasa seperti diremas-remas oleh vagina Rina. Makin lama dia makin semangat. Aku diperlakukan begitu tidak mampu bertahan lama dan jebollah pertahananku. Rina paham aku telah memuntahkan spermaku di dalam rahimnya. Dia menunggu sampai ejakulasiku usai baru perlahan-lahan melepas cengkeraman vaginanya. Rina bangkit , sambil menutup lubang kemaluannya agar maniku tidak tercecer. Dia berjalan ke kamar mandi. Aku yang baru saja merasakan kenikmatan, telentang pasrah.

    Rina kembali dari kamar mandi membawa handuk kecil yang telah dibasahi. Penisku dibersihkannya secara telaten.

    Rina lalu berbaring disampingku sambil tangannya mengelus-elus penisku yang telah layu. Dengan sabar di rangsangnya penisku sampai akhirnya dia bangkit dan mengoral penisku. Penisku yang tadinya loyo, dihisap-hisap Rina, perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Aku akui Rina cukup lihai juga mengoral penisku. Setelah cukup keras dia kembali memasukkan penisku ke rongga vaginanya dan mulai berputar-putar. Aku tidak tahu berapa lama dia menderaku, sampai akhirnya dia mencapai orgasme dan ambruk di dadaku sambil nafasnya tersengal-sengal. Aku merasa penisku seperti di genggam-genggam oleh otot vaginanya. Aku membalikkan posisi dan sekarang berganti aku yang menggarap Rina. Berbagai posisi mulai dari posisi biasa sampai akhirnya kedua kakinya kuangkat ke atas pundakku. Lubang kemaluan Rina cukup menggigit juga. Aku kemudian berganti posisi dogie. Cukup lama juga aku bermain dengan berbagai posisi, sampai aku lelah lalu berkonsentrasi untuk menembakkan spermaku untuk yang kedua kali.

    Setelah tembakanku usai aku merasa sangat ngantuk dan akhirnya jatuh tertidur. Ketika aku terbangun Rina dan aku terbungkus dalam satu selimut. Dia rupanya juga tertidur di sampingku. Sebenarnya jika waktunya cukup aku ingin melakukan lagi, tapi butuh waktu interval lebih lama. Namun karena hari sudah mekin sore, akhirnya aku mengijinkan Rina mengakhiri pergumulan.

    Aku antar dia keluar hotel sampai mendapatkan becak yang akan mengantarnya pulang.

    Hari kedua aku kembali ke tempat Mbak Ambar. Dia rupanya sudah mengenaliku. Kali ini aku datang agak lebih pagi, mungkin sekitar jam 11. “Lho kok gak kerja mas,” katanya.

    Aku berasalan mbolos. Aku kemudian memesan makanan . Kuakui makanan di warung Mbak Ambar memang luayan enak. Seandainya tidak ada embel-embel tempat berkumpulnya para STW, mungkin aku akan sering mampir di warungnya hanya untuk makan .

    Selama makan aku ngobrol macam-macem, sampai akhirnya aku tahu bahwa Mbak Ambar punya usaha yang sama di Solo dan Semarang. Aku nggak nyangka, kegiatan seperti ini bisa punya cabang di dua kota. Dia lalu memberiku alamat dan kontak personnya di kota-kota itu.

    “Mas mau nyoba istri tentara nggak, lagi ada nih, dia udah 3 hari nggak kemari,” kata Ambar sambil menunjuk perempuan berumur sekitar 25 tahun, ayu dan bokongnya besar.

    “Wah nanti aku ditembak,” kataku.

    “Ah ya ndak tho, wong kadang-kadang dia diantar suaminya kok,” kata Ambar.

    “Dia belum punya anak mas,” tambah Ambar gencar berpromosi.

    Aku menyetujui lalu si Wiwik, istri sang tentara itu datang bergabung ke mejaku. Kami ngobrol ngalor-ngidul gak jelas. Seperti biasa aku diojekin ke hotel, lalu barang pesanan datang diantar ojek lainnya.

    Wiwik penampilannya bersahaja dan lugu. Dia tidak banyak cakap seperti Rina kemarin. Hanya berbicara menjawab pertanyaanku. Meskipun cenderung pendiam, namun Wiwik tergolong berisik jika bertempur. Ini menambah semangatku untuk terus menggempurnya. Dia cukup sabar, dan telaten melayaniku.

    Pertempuranku dengan Wiwik tidak perlu aku uraikan secara lebih detil, karena ya kurang lebih sama saja.

    Ketika aku pindah ke Solo karena memang pekerjaan menuntut begitu, selepas menyelesaikan tugas sekitar jam 3 aku langsung mencari alamat cabang dari Mbak Ambar.

    Alamat yang ditunjuk Mbak Ambar tidak lebih adalah semacam warung yang tidak begitu besar. Dia mungkin lebih cocok disebut sebagai warung kopi. Hanya ada bangku panjang dan meja panjang. Diatas meja ada etelase kaca dan dibaliknya ada berbagai macam kue dan gorengan. Ketika aku ditanya mau pesan apa, seperti di Jogya aku melontarkan password, “ disini yang enak apa mbak,” kataku

    “Wah semuanya disini enak-enak mas,” kata pelayannya yang kutaksir berumur sekitar 24 tahun. Tidak lama kemudian muncul wajah lain, kali ini usianya kelihatan lebih tua, Kutaksir berumur sekitar 40 tahun. “Mas mau ngopi, apa mau pesan apa lagi, “ tanya si STW.

    Aku memesan kopi dan pisang goreng. Lalu iseng-iseng aku tanya ke si STW tadi. “ Mbak apanya mbak Ambar. “ O Masnya dari mbak Ambar to, kenapa gak bilang dari tadi,” katanya.

    “Mbak anggotanya ada berapa sekarang,” tanyaku.

    “Ada 8 orang mas,” katanya.

    Kedelapan orang itu kemudian mondar mandir di dalam warung. Mungkin ini untuk memberi kesempatan aku melihat kontestan yang akan aku pilih.

    “Gimana mas ada yang cocok,” tanya Mbak Lina, demikian ibu STW itu memperkenalkan namanya.

    “Wah kok stw semua to mbak, “ kataku.

    “Lho si mas pengen yang muda to, sebentar ya,” katanya.

    Tidak lama kemudian muncul 3 abg yang kutaksir umurnya sekitar 17 tahun. Seperti para STW tadi mereka juga mondar-mandir di dalam warung itu.

    Ketiga cewek itu manis-manis pula, bikin aku bingung memilihnya. Si mbak Lina lalu mendekati aku dan menanyakan apa ada yang cocok. “ Aku bilang cocok semua,”

    “Ya kalau gitu ambil aja semua mas, mereka bisa nginap koq, karena di sini mereka kost semua. Yang penting besok pagi mereka harus bisa langsung sekolah.”

    Sifat serakahku muncul mengalahkan akal sehat. Jika ditimang-timang rasanya berat juga jika harus bertempur melawan 3 musuh ABG, tapi aku penasaran juga ingin mencoba. Setelah disepakati harga paket berisi “3 bungkus” aku meluncur ke hotel.

    Ketika aku sedang asyik menonton TV, telepon di kamar berdering. Reception menanyakan apakah aku bisa menerima tamu, Aku menduga paket Mbak Lina sudah datang, maka kepada petugas aku minta mereka langsung menuju ke kamar.

    Ketiga gadis abg yang masih ranum, centil diantar oleh seorang wanita yang kutaksir berumur sekitar 30an. Setelah basa-basi sejenak, si pengantar minta izin untuk kembali.

    Ketiga gadis itu aku lupa namanya, tetapi mereka lumayan bagus-bagus juga. Salah seorang yang paling tinggi duduk di sebelah kananku di bed dan yang agak hitam duduk di kiri. Dengan gaya anak remaja mereka memintaku memesan makanan. Mereka mengaku ingin merasakan nasi goreng hotel, kebetulan tadi pulang sekolah agak cepat dan belum sempat makan siang.

    Permintaannya aku kabulkan dan mereka kubiarkan menikmati hidangan sambil aku melakukan penyesuaian.

    “Oom apa kuat nglawan kita bertiga,” tanya gadis yang kelihatannya paling muda. “Ah ya kita coba aja,” kataku.

    Entah dari mana datangnya ide, tiba-tiba aku mendapat gagasan ingin menjadi seperti raja yang dikelilingi gundik-gundiknya. Kujelaskan kepada mereka agar mereka bertindak sebagai pelayan ku dan menuruti semua kemauanku. Jika mereka setuju aku akan menambah tips sebesar tarif mereka masing-masing.

    “Bener ya Oom,” kata yang paling tinggi.

    Aku lalu meminta mereka melepas semua baju sampai mereka telanjang dan mandi terlebih dahulu membersihkan diri. Aku pun ikutan mandi. Di bawah shower aku dibersihkan oleh 3 gadis-gadis remaja yang badannya baru terbentuk. Yang tinggi bodynya nyaris sempurna dengan pinggang ramping dan pantat bahenol, toketnya tidak terlalu besar dengan pentil masih kecil. Yang berkulit agak gelap teteknya paling besar dengan puting dan aerolanya berwarna lebih gelap dengan pentil juga masih kecil, jembutnya lumayan lebat. Yang kelihatannya paling muda kulitnya putih, teteknya masih kecil dan di kemaluannya masih gundul.

    Aku disabuni dan dimandikan oleh ketiga gadis-gadis itu. Di kamar mandi penisku sudah berdiri tegak, akibat dikocok dan mereka bergantian pula mengulum penisku. Badanku dikeringkan dengan handuk lalu aku dibimbing kembali kekamar lalu di baringkan.

    Ketiga mereka seperti sudah berkoordinasi masing-masing mempunyai tugas, yang tinggi mengangkangi dadaku sehingga memeknya dekat sekali dengan mukaku lalu dia memijat kepalaku. Yang dua lainnya aku tidak bisa melihat, tetapi merasakan bahwa keduanya bergantian mengulum penisku.

    Aku telentang pasrah. Penisku jadi mainan. Mereka bukan hanya bergantian mengulum tetapi juga bergantian menjajal penisku ke memeknya.

    Selama dua hari kemarin aku terus-terusan bertempur, maka pertempuran hari ini aku agak imum. Aku mampu bertahan cukup lama dikerjai ketiga cewek-cewek itu . Mereka bergantian berada di atasku menggenjotku. Aku menutup mata sambil menikmati sensasi di penisku yang dipakai bergantian oleh ketiga remaja. Si hitam manis mainnya paling berisik. Dia tidak peduli dengan kedua temannya meski sering kali diledek, tapi dia terus memacuku sampai dia mencapai klimaksnya lalu ambruk di sampingku. Gantian yang tinggi menggenjotku sambil dia mengambil posisi jongkok. Mungkin posisi itu melelahkan akhirnya dia telungkup diatas badanku sambil memaju mundurkan lobang memeknya ke penisku. Sampai posisi tertentu dia melakukan gerakan lebih bersemangat sambil mendesis-desis dan akhirnya diapun mencapai orgasme. Giliran berikutnya adalah si memek gundul. Perlahan-lahan dibenamkannya penisku ke dalam memeknya. Dia meringis, mungkin menahan sakit atau entah kenapa. Padahal batang penisku sudah licin oleh lendir kedua cewek tadi. Mestinya bisa masuk lancar, tetapi kenyataannya dia agak sulit membenamkan penisku. Penisku terasa lebih tercengkeram. Lobang vagina si memek gundul ini memang masih terasa sempit. Setelah terbenam semua dia mulai melakukan gerakan maju mundur. Aku biarkan dia mengubah-ubah posisi semaunya sampai dia mendapatkan posisi yang dia rasakan paling nikmat. Gerakannya makin lama makin cepat dan akhirnya dia pun ambruk juga.

    Aku bukan ingin membanggakan bahwa aku superman, tetapi karena aku 2 hari lalu bertempur habis-habisan dan kali ini aku berada di posisi bawah, maka aku bisa menahan selama mungkin agar tidak muncrat. Padahal ketika si memek gundul tadi menggenjotku cepat, aku sudah merasa syur juga dan mungkin kalau aku lepas aku bisa ejakulasi.

    Ketiga gadis abg itu tidur telentang berjajar kelelahan setelah masing-masing mendapat orgasme. Aku jadi ingin mengoral mereka satu persatu sambil merangsang gspotnya. Giliran pertama adalah si hitam manis. Ku kangkangkan kedua kakinya selebar mungkin lalu aku mengendus ke memeknya. Memeknya cukup terawat dan baunya tidak terlalu mengganggu. Aku langsung menjilat clitorisnya. Dia menggelinjang-gelinjang dan belum 5 menit dia sudah berteriak orgasme. Aku bangkit lalu jari tengah dan jari manisku ku benamkan ke dalam lubang vaginanya dengan gerakan tertentu aku merangsang titik gspotnya baru sekitar 2 menit dia sudah mengerang-ngerang lalu badannya menegang. Dia mendapat orgasme Gspot. Kuberi waktu sebentar lalu kukerjai lagi. Kali ini dia mencapai orgasme lebih cepat sampai akhirnya dia minta ampun karena katanya badannya lemas.

    Si jangkung yang tadi tertidur jadi bangun mendengar suara berisik, menjadi sasaran berikutnya untuk ku oral. Dia pasrah saja ketika ku oral. Memeknya baunya juga cukup sedap. Dengan kepiawaianku mengoral, si jangkung dengan mudah mencapai orgasme. Berikutnya aku merangsang g spotnya seperti yang kulakukan pada si hitam manis. Dia mulanya heran apa yang kulakukan, tetapi itu tidak berlangsung lama, dia mulai terengah-engah dan akhirnya mengejang . Kuberi waktu sebentar lalu aku memulai lagi. Kali ini dia lebih cepat mencapai orgasme. Liang vaginanya basah sampai menetes ke kasur. Aku biarkan dia beristirahat sejenak lalu untuk ketiga kalinya kukerjai lagi dia juga seperti si hitam manis minta ampun karena katanya badannya sudah lemas, tetapi berbicara sambil mendesis-desis. Aku meneruskan ngerjai gspotnya sampai akhirnya dia orgasme lagi. Dia akhirnya benar-benar minta ampun karena badannya terasa lemas sekali dan ngantuk.

    Giliran berikutnya adalah si imut yang memeknya masih gundul. Aku oral dia . Memeknya memang istimewa, karena tidak ada baunya dan bentuknya mentul atau menggembung. Belahan vaginanya berwarna merah dan clitorisnya terlihat paling menonjol di antara dua temannya. Dengan mudah aku mulai mengoral clitorisnya. Dia mengejang-ngejang setiap kali ujung clitorisnya aku usap dengan ujung lidah. Namun si memek gundul ini terasa paling lama mencapai orgasme dibanding 2 temannya, sampai leherku terasa pegal. Setelah dia mengejang dan mencapai orgasme aku melanjutkan mengerjai g spotnya. Kedua jariku agak susah menerobos lubang memeknya. Setelah posisinya tepat aku mulai melakukan gerakan tertentu. Mulanya si memek gundul terlihat heran. Ini terbaca dari mimik mukanya, tetapi itu tidak berlangsung lama karena matanya kemudian terkatup dan bibir bawahnya digigitnya. Dia mengernyit-ngernyitkan dahinya lalu mendesis. Kali ini dia tidak mampu bertahan dan akhirnya lepas juga orgasmenya. Dia kelihatan terkejut dan tidak mampu menguasai dirinya ketika orgasme, karena dari lubang kencingnya terpancar semburat cairan kental. Dia mengalami ejakulasi.

    Aku membiarkan dia beristirahat sebentar lalu kembali kukerjai, dia kembali mencapai ejakulasi kedua kali. Tapi dia masih belum minta ampun aku kerjai lagi untuk ketiga kalinya sampai akhirnya dia memohon-mohon agar aku menyudahinya, tetapi dia sambil berkata begitu diselingi oleh berdesis nikmat. Aku jadinya tidak mempedulikan permintaannya kecuali meneruskan mengerjainya. Dia pun akhirnya mencapai klimak dan menjerit sekuatnya karena mungkin dia merasa kenikmatan luar biasa.

    Lubang vaginanya terasa berdenyut. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan dan segera penisku ku benamkan cepat-cepat ke vaginanya untuk merasakan sensasi denyutan. Rasanya nikmat sekali dan lubangnya terasa lebih mencengkeram. Aku terpancing dan langsung menggenjotnya dengan gerakan cepat dan kasar. Si memek gundul pasrah. Dia mungkin sudah kecapaian. Aku merasa penisku nikmat sekali di memeknya. Dengan konsentrasi akhirnya aku mampu mencapai orgasme, tetapi kulepaskan di luar.

    Ketiga cewek itu tertidur seperti orang pingsan. Bahkan si hitam manis mendengkur halus. Aku berjalan ke kamar mandi dan membersihkan cairan spermaku.

    Ketiga mereka aku selimuti dan aku pun bergabung dalam satu selimut. Kami tidur seperti jajaran ikan pindang.

    Entah berapa lama tertidur, kami terbangun gara-gara masing-masing kebelet pipis. Mereka bertiga merangkuli dan menciumiku . Mereka mengaku belum pernah mengalami orgasme seperti yang dirasakan tadi. Kami berempat menghabiskan malam itu sambil mencoba berbagai adegan seperti di istana raja-raja. Kadang-kadang kami tertawa geli melihat tingkah laku kami, tetapi kadang-kadang mengerang karena nikmat.

    Aku mengakhiri tugasku di Solo dengan badan terasa sangat lemas. Ketiga cewek itu memohon-mohon mereka aku booking lagi jika aku kembali ke Solo. Mungkin saja mereka senang menikmati bayarannya, dan mungkin juga senang merasakan sensasi orgasme yang optimal.

    ******


    Solo, Surakarta Dekat Kartasura

    By Jakongsu

    Solo, memang kota yang sangat menggoda bagi ku. Aku bahkan memendam keinginan tinggal di Solo daripada di Jakarta. Kota ini rasanya bisa menentramkan hatiku, dan yang lebih menarik lagi adalah putri Solo itu lho.
    Itulah kekagumanku buat Solo. Ini adalah perjalananku untuk kesekian kalinya ke Solo. Namun kali ini bukan dalam rangka tugas atau bisnis, tapi hanya alas an yang sangat sederhana, mau pijat saja.
    Jangan salah duga dulu, aku bukan mencari pemijat wanita, tetapi pemijat pria. Dia adalah Pak Min yang cukup kondang di Solo. Tapi aku ingin juga agak berlama-lama di Solo untuk sekedar refreshing. Kalau berasalan di rumah banyak hal bisa didalihkan, bisnislah, tugaslah, ya macam-macamlah.
    Aku sebelumnya sempat diperkenalkan kepada Pak Min, ahli memijat oleh saudaraku di Jogya. Sebulan lalu aku mencoba kemampuan Pak Min. Aku menginap di hotel dan Pak Min segera ku kontak. Pijatannya memang luar biasa, sakit, tetapi rematikku di bahu beberapa hari kemudian memang terasa berkurang sakitnya. Katanya aku perlu sekitar 4 kali dipijat, baru rematikku bisa sembuh.
    Di usia kepala 5 memang mulai banyak gangguan kesehatan, dan ketangguhan agak berkurang.
    Untuk alasan pijat itulah aku kembali ke Solo. Kali ini aku mencari hotel dengan kamar yang luas, katakanlah setingkat suite room. Setelah urusan pijat pada siang hari, aku tertidur sampai menj***** sore.
    Perutku mulai terasa lapar, aku kurang suka dengan makanan hotel. Dengan baju santai aku jalan ke depan hotel. Beberapa tukan becak mendekatiku dan menawarkan jalan-jalan keliling kota. Kupilih tukang becak yang cukup tua dan kelihatannya ramah. Meski umurnya sekitar 40 an, tetapi ten****ya masih kuat. Aku lalu minta dia mengantarkan ke satu alamat warung soto, salah satu kesukaanku di Solo.
    Warung itu terkenal, sehingga tukang becak yang belakangan kuketahui namanya Paino segera mempersilakan aku duduk di becaknya. Dia dalam perjalanan menawarkan aku untuk menyewanya pulang pergi. Aku menyetujui saja.
    Ketika sampai ke warung soto, Pak Paino kuajak makan sekalian, tetapi dia kelihatan segan dan agak malu. Setelah kupaksa, akhirnya dia mau juga ikut makan soto bersamaku. Kebiasaan ku memang begitu. Apalah artinya biaya menraktir seporsi soto. Aku kan kemudian bisa mengorek informasi lebih banyak, serta lebih memahami pribadi si Paino.
    Pulangnya Paino mulai melancarkan serangan khas tukang becak Solo. “Pak apa perlu dicarikan teman, apa gimana ??” katanya.
    “Bapak tau tempatnya, apa ?” tanyaku.
    “Wah tukang becak hotel, pasti tau Pak, ada penampungan, ada yang rumahan, ada yang tukang pijet, tinggal bapak mau yang maaa..na ??” katanya dengan logat Jawa yang kental..
    “ Punya koleksi STW, ?” tanyaku.
    “ STW ada ABG juga ada,” katanya.
    “Ah saya lagi pengen yang STW, tapi bukan yang pasaran, ada nggak,” tanyaku.
    “ Ada pak, dia malah belum pernah ke hotel, janda dekat gang rumah saya,” kata Paino.
    “Orangnya gimana,” tanyaku.
    “ Ya kalau menurut saya sih lumayan, janda belum punya anak. Dia pernah ngomong ke saya kalau ada kerjaan mijet tamu hotel, katanya dia mau. Orang nggak punya pak. Kalau bapak mau lihat dulu, monggo saya antarkan,” katanya.
    Setelah berbicara agak panjang dan mengatur strategi, akhirnya aku setuju melihat, tetangga si Paino.
    Aku minum es kelapa muda dan si janda itu pura-pura beli rinso di warung sebelah. Dia memandangku dan aku pun sempat mencermati dirinya.
    Wah lumayan juga, agak gemuk, tampang khas Jawa. Dan mukanya cukup manis.
    Setelah dia berlalu aku kembali ke becak, dan aku langsung setuju agar Paino membawanya ke hotel.
    Padahal aku baru di pjat oleh Pak Min. Pemijat profesional ini bukan sembarangan, untuk memastikan keberadaannya aku harus telepon jauh-jauh hari. Langganannya banyak dan sering ke luar kota dan keluar negeri. Banyak pengusaha dan petinggi yang jadi p*****gannya.
    Nah aku habis dipijat Pak Min, malah pengin dipijat lagi. Masalahnya pijatan Pak Min tadi sakit. Aku sekarang ingin pijatan yang nyaman.
    Sekitar satu jam aku menunggu di kamar hotel sampai ketiduran. Aku terkesiap ketika pintu kamarku diketok. Pak Min dan janda itu berada di depan pintu. Pak Min kuselipin limpulRp, dan pemijatnya kusilakan masuk.
    Namanya Marni, Dia duduk di kursi dengan menundukkan kepala. Mungkin ini adalah job yang pertamanya, sehingga dia rikuh berada di kamar hotel bersamaku. Kutawari minum, untuk mencairkan suasana, tapi dia menolak.
    Aku merokok sebentar sambil membuka obrolan. Marni jadi janda karena suaminya kawin lagi setelah tidak puas karena Marni tidak bisa punya anak. Dia hidup dengan bekerja sebagai buruh cuci. Rumahnya adalah kamar kontrakan yang dibayar bulanan. Dia tinggal bersama keponakannya perempuan yang baru datang dari kampung ingin cari kerja di Solo.
    “Sudah pernah mijet mbak,” tanyaku.
    “Kalau di hotel, belum, tapi mijet suami dulu sering,” katanya tertahan karena malu.
    Dari obrolan itu, suasananya mulai cair. Aku membuka baju hingga tinggal celana dalam dan tidur telungkup. Mbak Marni mulai melancarkan pijatan dimulai dari kaki. Tekanan pijatannya masih kurang nyaman, mungkin karena dia belum mahir.
    Akhirnya aku bangkit dan berusaha mengajarkan cara pijatan yang kusukai. Untuk itu Mbak Marni kuminta tidur telungkup. Mulanya dia menolak. Mungkin malu bercampur sungkan, tetapi setelah aku membujuk dan setengah paksa, akhirnya dia pasrah.
    Repotnya dia mengenakan kain kebaya dan jarik, jadi agak susah.
    Di kamar hotel untungnya ada disediakan kimono, Mbak Marni lalu kuminta melepas bajunya di kamar mandi dan menggantinya mengenakan kimono. Mulanya dia agak malu, tetapi setelah kubujuk-bujuk dia akhirnya mau juga. Sebelumnya aku ikut masuk ke kamar mandi menjelaskan penggunaan kran2 di kamar mandi. Paling tidak kalau dia kebelet pipis tidak perlu ditahan lama-lama, karena bingung cara penggunaan kran air panas, air dingin.
    Setelah kamar mandi kututup, tidak lama kemudian terdengar air toilet menggelontor. Ternyata dia memang kebelet pipis.
    Mbak Marni keluar dengan kimono. Dia agak malu-malu, meskipun seluruh tubuhnya tertutup rapat. Aku kembali memintanya telungkup dan kuajarkan pijatan dengan tekanan-tekanan di sekitar kakiku.
    Setelah dia paham, aku kembali dipijatnya. Pijatannya mulai terasa nyaman dengan tekanan-tekanan yang kuinginkan. Mbak Marni agak nekat juga, dia belum begitu paham memijat, tetapi sudah berani terima orderan pijat. Mungkin karena desakan ekonomi akhirnya dia terpaksa melakukan pekerjaan ini. Menurut Mbak Marni, Painolah yang punya ide agar Mbak Marni mencari tambahan jadi pemijat di hotel. Kata Paino, sekali mijat bisa dapat 100 sampai 150ribu perak. Jumlah itu bagi Marni adalah jumlah yang luar biasa, karena dia kerja sebulan paling hanya dapat 400 ribu. “Lha kalau semalam dapat orderan dua kali, ya udah banyak sekali,” katanya.
    Obrolan mereka soal ide Paino itu baru 2 hari lalu. Mbak Marni ternyata doyan ngobrol setelah suasananya cair. Aku yang sebenarnya ingin tidur sambil dipijat jadi terpaksa menimpali omongannya.
    Mbak Marni jadi akrab, banyak hal diungkapkannya termasuk kehidupannya ketika masih punya suami dulu.
    Tapi masalahnya sebagai tukang pijat pengetahuannya masih boleh dibilang Nol. Aku terpaksa jadi instruktur. Untuk babak mengurut dengan lumuran cream aku minta Mbak tidur telungkup dan aku mengajarinya bagaimana melakukan pengurutan. Kali ini dia tidak lagi canggung. “Wah aku tugase mijet malah dipijet,” katanya.
    Awalnya aku mengurut bagian telapak kaki, kiri dan kanan, lalu betis kiri dan kanan. Sampai urusan ngurut betis, kimono mulai tersingkap sampai lutut.
    Lutut bagian belakang adalah salah satu titik sensitif wanita. Aku melakukan sentuhan dan urutan khusus di daerah ini. Aku memang rada jahil, tapi ingin tahu juga apakah Mbak Marni terpengaruh dengan sentuhan ku. Terus terang dari tadi aku sudah berfikir untuk menggumuli Marni, tapi aku ingin melalui proses yang alami.
    Marni mengaku pijatanku itu enak dan kadang-kadang bikin kemrenyeng. Bisa jadi dia merasa geli atau juga terangsang. Aku tidak minta penegasan apa arti kemrenyeng .
    Giliran berikutnya adalah mengurut bagian paha. Sengaja aku tidak menyingkap kimononya, tetapi tanganku menerobos melumasi dan mengurut pahanya. Paha si Marni ini terasa tegap. Ini adalah model paha wanita yang aku senangi. Bagian dalam paha wanita adalah bagian yang juga menimbulkan rangsangan. Aku berkali-kali mengurut bagian itu sampai dekat sekali dengan bagian kemaluannya.
    Gerakanku mengurut itu menyebabkan kimononya makin tersingkap ke atas sehingga celana dalam Marni kelihatan. Dia tidak peduli. Malah kadang-kadang beringsut merasakan urutanku yang mendekati bagian kemaluannya. Tanganku kemudian beringsut masuk ke balik celana dalamnya dan mengurut gumpalan bokongnya yang besar. Terlihat benar, jika Marni sudah terangsang. Dia tidak menyadari bahwa dia mulai mendesis sesekali. Bagian gumpalan pantat adalah bagian yang sensitif, dan aku agak lama menekan-nekan bagian itu, sampai dia bergelinjang.
    Gerakan urutanku mulai nakal karena jempol kiri dan kananku mulai menerobos belahan pantatnya sampai dekat dengan kemaluannya. Jempolku sudah merasakan bulu-bulu kemaluannya. Tapi Marni tidak perduli. Gerakan jempolku naik dan turun melalui belahan pantatnya semakin membuat Marni melayang.
    “Aduh Pak saya nggak tahan lama-lama, rasanya jadi nggak karuan,” kata Marni setengah terengah.
    “Tahan dulu biar ngajarinya nggak sepotong-sepotong, saya tuntaskan dulu,” kataku.
    Bagian punggung adalah bab berikutnya. Kimono, ketika kuminta dibuka, Marni tidak terlalu mempertahankan, meski dia mengatakan malu. Tapi dengan alasan mengurut punggung, maka dia menyerah membuka kimono sambil tetap tiduran.
    Kimono sudah terbuka dan Marni tidur telungkup dengan celana dalam dan BH. Meskipun dia STW tetapi tubuhnya masih berpotongan gitar. Pinggangnya kecil, bokongnya gede, dan susunya juga gemuk.
    Mulanya aku mengurut punggungnya dengan membiarkan BHnya tetap terpasang. Namun setelah beberapa saat aku buka kaitan BHnya agar aku lebih leluasa mengurutnya dia tidak protes, alias diam saja.
    Marni memuji urut ku benar-benar nikmat. Aku mulai mengurut bagian samping badannya sehingga sesekali menyentuh pinggir payudaranya. Bagian ini juga adalah titik sensitif perempuan.
    Aku memintanya berbalik, sehingga telentang. Dia malu, tapi tali BHnya tidak dia pasangkan, kecuali mempertahankan BHnya menutupi payudaranya yang meluber.
    Aku cuek dan pura-pura tidak memperhatikan. Padahal aku terkesan tetaknya besar sekali.
    Aku mulai lagi dari kaki lagi, tetapi hanya sebentar lalu pindah kebagian paha. Aku kembali mengurut paha bagian dalam, dan kali ini jempolku sudah sampai menyentuh bulu kemaluannya yang terasa agak jarang.
    Tanganku menyuruk ke balik celananya dan memijat bagian atas kemaluannya lalu jempolku kiri dan kanan turun sampai menekan gundukan kemaluannya kebawah.
    Marni terlihat sudah sangat terangsang sehingga tidak peduli lagi dan rasa malunya sudah sirna.
    Jempolku memang belum masuk ke liang vaginanya, tetapi sudah menyentuh clitorisnya. Setiap sentuhan halus si clitorisnya dia menggelinjang. Berkali-kali aku lakukan sampai akhirnya tanpa izinnya aku peloroti celananya. Marni malah membantu dengan mengangkat pinggulnya.
    Di depanku terpampang jelas kemaluan Marni yang ditumbuhi jembut yang jarang tetapi bentuknya gemuk. Kata orang Jawa, mentul. Aku kembali melakukan urutan di sekitar kemaluannya. Marni menggelinjang-gelinjang setiap kali clitorisnya tersentuh.
    Aku tinggalkan bagian kemaluan lalu naik ke perut dengan gerakan halus aku mengusap perutnya. Bagian ini tidak terlalu aku tekan dan tidak lama juga aku melakukannya. Pijatan naik ke atas dan aku mulai menjangkau bagian dada. Aku sengaja mengurut bagian pinggir payudaranya dengan gerakan memutar. Akibatnya BHnya tidak lagi menutupi kedua gundukan daging itu. Pentil Marni tidak terlalu besar. Mungkin karena dia belum pernah hamil, apalagi menyusui.
    BHnya aku singkirkan dan Marni tidak protes. Setelah kedua payudaranya terpampang bebas aku melakukan pijatan memutar, dengan diakhiri oleh usapan telunjukku memutar di puting susunya.
    Marni sudah tidak karuan. Dia sudah sangat terangsang. Dia lupa bahwa seharusnya dia mengingat semua gerakan pijatanku. Dia malah menikmati pijatanku.
    Setelah kurasa cukup aku kembali memijat daerah sekitar kemaluannya. Dimulai dari bagian pinggir akhirnya telunjukku mengusap-usap clitorisnya. Marni menggelinjang dan mendesis-desis. Kelihatannya dia semakin hot.
    Pelan-pelan jari tengahku menerobos masuk ke dalam lubang vaginanya. Jariku mencari wilayah Gspot, sampai kutemukan bagian jaringan lembut di dalam dinding atas vaginanya. Kuusap-usap bagian itu dengan gerakan halus. Marni sesekali mengaduh keenakan. Aku memperkirakan dia sudah hampir mencapai orgasmenya. Kumasukkan jari tengah dan jari manisku. Aku mengambil posisi bersimpuh di sisi kirinya. Dengan gerakan tiba-tiba aku melakukan gerakan mengangkat tubuh Marni berstumpu kedua jariku di lubang vaginanya . Kuangkat berkali-kali sampai tubuhnya terangkat sedikit, tetapi dampaknya Marni sudah seperti orang kesetanan, mendesis, mengaduh dan kadang berteriak lirih. Tidak sampai 3 menit gerakan itu aku lakukan Marni mulai mencapai titik orgasme ditandai dengan teriakan yang tertahan. Tepat pada saat dia mencapai orgasme aku menghentikan gerakan dan dengan tangan yang satu berusaha menyibak kedua bibir kemaluannya. Dari lubang kencingnya muncrat cairan agak kental, seperti layaknya ejakulasi pada pria.
    Setelah ejakulasinya reda mbak Marni mengatakan bahwa seumur hidup dia belum pernah merasakan kenikmatan seperti ini. Badannya dirasakannya lemas dan tulang-tulang rasanya mau copot, dia merasa lelah sekali dan ngantuk.
    Seharusnya setelah mendapat pelajaran memijat dia ganti akan memijatku, tetapi sekarang sudah tertidur mendengkur halus. Aku menutup badannya yang telanjang bulat dengan selimut. Aku ikut tidur di sebelahnya dalam satu selimut.
    Entah berapa lama aku tertidur. Mbak Marni kelihatannya masih pulas. Kamar terasa gelap. Aku meraih tombol lampu dan sekaligus remote TV. Aku duduk bersandar di tempat tidur sambil menonton TV.
    Mendengar suara TV mbak Marni terbangun. Ia melihat sekeliling. Terlihat dia seperti mengingat-ingat sesuatu. Ternyata dia bingung ketika bangun sedang berada dimana. Akhirnya dia melihatku dan ingatannya pulih bahwa dia baru tertidur di kamar hotel mewah.
    “Mas aku tadi di apake, kok iso lemes tenan lan enak banget,” katanya.
    Aku hanya menjawab bahwa tadi adalah pelajaran pijat komplit. Mbak Marni merasa badannya sudah segar.
    Saya menawarkan dia agar menginap saja malam ini di hotel. Besok pulangnya akan saya sangoni sejuta. “ Ah mas aku jadi malu, nggak usah dibayarpun aku mau tidur ama mas, orangnya baik. Aku cuma kepikiran si Indri, dia sendirian, tapi udahlah dia tadi tau kok aku kerja,” kata mbak Marni.
    Marni lalu memelukku dan kepalanya di letakkan di atas dadaku. Aku dianggapnya seperti suaminya.
    Ruangan hotel terasa sangat dingin. Remote AC kuraih untuk mematikan AC, paling tidak mengurangi dingin.
    “Mas aku kebelet pipis, tapi aku malu gak pake baju,” kata Marni.
    “Malu sama sapa, dari tadi aku sudah liat kamu telanjang, kan ndak ada orang lain,” kataku.
    “Tapi jangan diketawai ya mas badanku gemuk,” katanya sambil menyibakkan selimut lalu berjalan terburu-buru ke kamar mandi.
    Aku dengar dia menggelontorkan wc dan terdengar juga suara shower.
    Aku berdiri menuju meja untuk membuat air panas guna membuat kopi. Kebetulan Marni keluar, dia sekalian aku ajarkan cara memasak air dengan ceret listrik guna membuat kopi. “ Sudah mas sini saya saja yang buat kopinya,” katanya.
    Aku duduk sambil menghirup kopi dan merokok. Marni bermanja dengan ku. Dia duduk dipangkuanku. Aku masih mengenakan celana dalam sedang Marni telanjang bulat dipangkuanku.
    Aku memeluknya dari belakang dan meremas-remas teteknya, Telapak tanganku tidak muat menutup semua teteknya. Marni meski miskin dia beruntung memiliki body yang bagus. Pantatnya besar menyembul kebelakang dan memiliki pinggang yang agak ramping serta perutnya tidak membuncit.
    Wajahnya lumayan manis. Mungkin karena kurang perawatan keayuannya sangat bersahaja.
    “Ayo mas sekarang saya pijat, saya sudah seger dan masih ingat pelajarannya tadi,” katanya.
    Aku segera bangkit dan langsung tengkurap. Marni menjalankan tugasnya. Kini pijatannya sudah nikmat. Dia memahami bagian-bagian mana yang terasa enak dipijat.
    “Wis celananya dicopot aja mas, biar kita sama-sama telanjang, adil to,” katanya sambil meloloskan celana dalamku.
    Aku benar-benar menikmati pijatannya, kecuali bagian yang sakit bekas dipijat Pak Min tadi siang. Marni kuminta bagian yang sedang “njarem” untuk tidak disentuh.
    Dia pandai pula memainkan jarinya mengurutku mulai dari kaki sampai ke pundak. Sensasi dipijat perempuan telanjang adalah ketika dia menduduki tubuhku terasa rambut kemaluannya menggerus-gerus di punggung.
    Giliran disuruh telentang, tak ayal lagi penisku langsung tegak bebas. “ Wah mas itunya udah ngaceng ya,” katanya sambil meraih penisku.
    Dia pandai pula memijat dan berlama-lama di bagian kemaluanku. Aku merasa sudah terbang dengan kenikmatan sentuhannya. Tidak aku sangka dia memainkan lidahnya menjilati penis dan buah zakarku. Sesekali dikulumnya batang penisku lalu disedotnya. Rasanya air maniku seperti akan dipaksa keluar.
    “Mas boleh nggak aku masuki ke tempik ku,” tanyanya.
    Aku hanya mengangguk saja.
    Marni mengatur posisi diatas tubuhku dan perlahan-lahan dibenamkannya penisku ke dalam memeknya. Setelah terbenam semua dia berhenti sebentar, lalu dia melakukan kontraksi. Penisku terasa seperti dipijat oleh vagina Marni. Dia melakukannya berkali-kali menambah kenikmatan di sekujur penisku.
    Marni kemudian melakukan gerakan memutar, sehingga penisku seperti mengaduk vaginanya dan aku merasa penisku seperti diremas-remas.
    Sepertinya aku tidak akan mampu bertahan jika dia terus melakukan gerakan itu. Badannya kutarik sehingga dia menindihku.
    Pada posisi itu dia kelihatannya mengatur posisi agar clitorisnya tersentuh oleh jembutku lalu dia menekan dan menggesekkan dengan gerakan penuh perasaan. Marni lalu mendesis-desis. Aku melihat situasi itu makin terangsang dan rasanya sebentar lagi laharku akan keluar. Marni makin menekankan clitorisnya ke tubuhku dan gerakannya agak cepat . Aku pun menikmatinya dan sudah tidak tertahankan lagi kulepas beban lahar yang sudah mendesak. Kutembakkan spermaku ke dalam vagina Marni. Mungkin siraman panas spermaku membuat dia ikut mencapai orgasme., sehingga vaginanya berkedut-kedut dan dia mendekapku erat sekali.
    Agak lama Marni menindih tubuhku sampai seluruh orgasmenya tuntas. Pelan-pelan diangkatnya tubuhnya sambil tanggannya menjaga agar maniku tidak tumpah. Dia lalu buru-buru berjalan ke kamar mandi sambil mengepit tangannya di kemaluan.
    Aku tergeletak lemas. Marni keluar dari kamar mandi dengan handuk lembab di tangannya. Penis dan sekitar kemaluanku dibersihkannya dengan handuk kecil yang lembab dan hangat.
    Kami istirahat sebentar. Aku lalu merasa ingin berendam di bathtub dengan air hangat. Marni kuajari membersihkan bathtub. Bathtub di kamar suit hotel ini tidak berbentuk memanjang, tetapi segitiga seperti bak jacuzi . Marni mengerti cara mengatur air panas.
    Sementara dia mempersiapkan air mandi aku menelpon room service untuk memesan dua porsi nasi goreng.
    Nikmat sekali rasanya berendam air hangat di bak. Inginnya berlama-lama. Apalagi berendam berdua dengan Marni yang montok.
    Tengah kami berendam, bel pintu berbunyi, menandakan pesanan nasi gorengku sudah datang. Dengan berbalut kimono aku membuka pintu dan menyelesaikan urusan orderku itu.
    Aku kembali berendam. Mungkin karena terendam air hangat, penisku kembali memuai. Apalagi Marni bersandar ke badanku sehingga bokongnya menyentuh penisku. Aku meremas-remas teteknya yang kenyal dan gede sekali. Kami saling menyabuni, Penisku semakin mengeras karena Marni mengocok dan melumuri sabun di penisku. Tapi dia tidak menuntaskannya. Setelah bilas, penisku masih terus menegang.
    Kami mentas dan belum mengeringkan badan dengan handuk Marni kupeluk dari belakang. Penisku kutusuk ke bagian pantatnya . Marni kuarahkan membungkuk sambil berpegangan meja toilet, lalu kutusuk penisku dari belakang. Permainan begini sebenarnya kurang nyaman bagi penisku, karena penetrasinya kurang maksimal. Gumpalan daging di bokongnya agak menghalangi penetrasi lebih jauh. Jadi sensasinya saja yang kunikmati. Belum sampai 5 menit aku mulai merasa lelah. Marni kuputar dan kutarik duduk diatas pangkuanku. Aku duduk di toilet bowl yang tertutup. Marni mengangkang duduk dipangkuanku dengan posisi berhadapan. Penisku plug and play di vaginanya. Marni memutar-mutar pinggulnya sehingga penisku serasa diremas-remas.
    Aku tidak bisa memperkirakan berapa lama kami bermain dengan posisi itu. Karena aku asyik menyedot susu Marni yang terpampang di depanku. Kurasakan Marni menemukan posisi yang membuat rangsangan di vaginanya maksimal sehingga dia mulai mendesis-desis lagi. Sementara aku agak merasa kebal, karena sudah sekali orgasme. Gerakan Marni makin liar, lalu tiba-tiba dia mendekapku erat sekali dan lubang vaginanya berdenyut-denyut.
    Kami mencuci kemaluan dengan sabun, sementara penisku masih terus tegak. Tanpa mengeringkan dengan handuk badan kami sudah kering. Aku membimbing Marni ke Tempat tidur. Aku ciumi kedua payudaranya lalu pelan-pelan turun ke bawah, sampai akhirnya aku menjilati sekitar kemaluannya. Mulanya Marni mencegah karena katanya jijik. Marni belum pernah di oral suaminya, sehingga dia belum punya pengalaman. Aku tetap bertahan sampai lidahku menyentuh sekitar clitorisnya. Marni menggeliat dan akhirnya tangan yang tadinya berusaha mencegah kepalaku mendekati vagina sudah melemas. Marni mulai menikmati jilatanku di sekitar clitorisnya. Dia mulai mendesah-desah dan aku memfokuskan jilatan ke seputar kepala clitorisnya. Pinggulnya mulai bergerak mengikuti gejolak nafsunya. Aku terpaksa menahan gerakan itu dengan kedua tanganku memeluk kedua pahanya yang besar. Gerakan itu menyulitkan jilatanku terfokus. Aku sekarang menyerang langsung ujung clitoris yang terasa menonjol. Marni belingsatan dan tak lama kemudian dia mencapai orgasme.
    Sementara orgasme. Lidahku kutekan ke clitorisnya. Clitorisnya ikut berdenyut-denyut seperti penis pria.
    Wajah puas tergambar di wajah Marni. Aku meneruskan aksiku mencolokkan kedua jariku kedalam vagina. Aku mulai melakukan aksi mengangkat badan Marni dengan kedua jariku dengan ritme cepat. Marni melolong-lolong karna kenikmatan menjalar ke seluruh tubuhnya. Mungkin belum sampai satu menit dia sudah menjerit mencapai orgasme Kembali kutekan seluruh permukaan kemaluannya sampai denyutan orgasmenya tuntas.
    Jeda sekitar satu menit aku kembali melakukan aksi merangsang Gspot dengan aksi kedua jariku kedlam vaginanya. Marni mendesis-desis sambil sesekali meneriakkan ampun karena badannya lemas sekali. Tapi aku tidak perduli dan aksi kuteruskan. Marni makin cepat mencapai orgasme lagi. Begitu berkali-kali aku lakukan sehingga Marni mencapai multi orgasme berkali-kali. Mungkin dia sudah mencapai 10 kali orgasme melalui kukerjai seperti itu. Aku lalu mencoba memasukkan penisku ke vaginanya. Rasa vaginanya menjepit sekali. Aku sejak lama menandai, jika wanita usai orgasme, vaginanya terasa nikmat sekali jika ditusuk penis.
    Aku berusaha berkonsentrasi menggenjot Marni. Mungkin karena efek multi orgasme tadi, Marni kembali mendapat orgasmenya, sementara aku masih setengah jalan. Jadi meski dia berteriak-teriak minta ampun dan minta aku berhenti sebentar, tapi tetap aku genjot. Keganasan itu rupanya membuat Marni menjadi lebih cepat mendapat orgasme lagi. Akupun mencapai orgasme dan ejakulasiku. Kubenamkan dalam-dalam penis sehingga kami sama-sama terkulai.
    Spermaku tidak banyak keluar, sehingga tidak sampai tumpah keluar.liang vagina. Aku segera ke kamar mandi membersihkan penisku dan berkumur, lalu membawa handuk lembab untuk membersihkan kemaluan Marni yang banjir.
    Ruang terasa panas, karena tadi AC kumatikan . Aku menghidupkan AC dan Marni yang sudah pasrah kuselimuti. Aku pun ikut menyelinap di bawah selimut. Kami terlelap.
    Aku terbangun karena sinar matahari mulai menembus tirai dan juga kebelet pipis. Usai melepaskan hajat kecilku Marni mengikuti pipis juga di kamar mandi.
    Badanku terasa lelah sekali dan tidak seperti biasanya, jika pagi penisku bangun, tapi kali ini dia tetap loyo. Aku berpikir, mungkin karena semalam sudah terlalu banyak tugas, sehingga dia sekarang malas bangun.
    Aku tidur tengkurap dan kuminta Marni yang sudah segar untuk memijatku. Pijatan pagi-pagi gini nikmatnya luat biasa. Apalagi yang dipijat dan yang memijat sama-sama bugil. Aku dan Marni main satu ronde lagi setelah akhirnya penisku bangun karena dirangsang Marni.
    Kami Mandi bersama dan kulihat jam sudah menunjukkan 10 pagi. Sarapan di restoran hotel tentunya sudah tutup.
    Aku mengeluarkan uang di dompetku 10 lembar uang ratusan dan kuserahkan ke Marni. Dia mulanya malu-malu menerima, tapi akhirnya dimasukkan juga uang itu ke dalam dompet di tasnya, sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih.
    Sebelum pamit pulang Marni kuminta untuk menemaniku lagi malam nanti. Dia sempat mencatat no HP ku. Lalu kuantar turun menemui Paino untuk pulang ke rumah.
    Aku kembali ke kamar meneruskan tidur sebentar. Tapi mata susah terpejam, karena perut lapar.
    Aku turun dan di depan hotel kulihat Paino sudah stand by di situ. Aku langsung duduk di becaknya dan aku minta dia mengantar ke soto Triwindu. Paino banyak bercerita, tentang cerita si Marni, Kata Marni menurut Paino aku baik sekali dan duitnya banyak.
    Aku jadi teringat cerita film Pretty Woman, aku jadi seperti orang yang diperankan Richard Gere, tapi pasanganku bukan ABG melainkan STW.
    Selepas makan aku minta diantar Paino ke Grand Mall. Suasana di Grand Mall, tidak jauh berbeda dengan mall di Jakarta. Baik model pengunjungnya maupun situasinya. Lelah berkeliling tanpa tujuan, akhirnya aku ngopi. Di tengah lagi asyik mengepul, HP ku berdering, No lokal yang tidak aku kenal. Ternyata Marni yang menelepon. Dia bertanya aku sedang dimana. Kujelaskan posisiku, dia katanya mau menyusul. Aku menunggunya sekitar setengah jam sampai melihat Marni bergandengan dengan seorang ABG, keduanya tampil agak modis juga sesuai dengan orang-orang di mall.
    “Ini mas keponakanku, dia katanya pengin ikut ke mall,” kata Marni memperkenalkan Indri.
    Indri cukup manis, badannya cukup berisi, kulitnya agak gelap. Umurnya kutaksir sekitar 19 tahun dan rambutnya sebahu lebat dan lurus. Anak ini jika dirawat, bisa kelihatan lebih cantik. Apalagi bakalannya sudah memadai, seperti pantatnya yang padat mirip budenya, pahanya yang padat berisi dibungkus celana jeans. Susunya lumayan besar juga untuk anak seumuran dia. Sayangnya kulitnya agak gelap jadi masih terlihat ada kesan ndesonya.
    Kami mengobrol sebentar, dan Indri ternyata bukan tipe pemalu. Dia malah minta aku mencarikan pekerjaan.Dia baru lulus SMA di kampungnya dan ke Solo mau cari kerja.
    “Kenapa gak cari pacar dulu, baru cari kerja,” godaku.
    “Ah cari pacar lebih gampang oom dari pada cari kerja,” katanya.
    Aku jadi tergoda untuk mendandani si Indri menjadi agak modis. “Mau ngga oom beliin baju,” kataku menggoda.
    “Mau dong,” jawabnya cepat.
    Kami lalu beranjak dari cafe menuju salah satu departemen store. Aku memberinya jatah sejuta untuk dibelanjakan semaunya. Uangnya aku genggamkan ke Indri. “Aku juga mau dong mas,” sambung si Marni. Dia kuberi lagi sejuta.
    Mereka berdua berpisah dariku. Hampir satu jam kemudian mereka berdua menghampiriku. Bajunya langsung ganti yang baru. Baju yang lama mereka bungkus. “ Oom uangnya masih sisa duaratus, mau aku beliin HP, gak papa ya,” katanya.
    Kami lalu naik ke lantai yang banyak terdapat toko HP. Kami berhenti di salah satu toko yang kelihatannya cukup lengkap koleksi HPnya. Indri bingung menghadapi begitu banyak macam, sementara Marni diam saja. Mungkin dia lebih bingung lagi jika disuruh memilih. Aku lalu minta SPGnya untuk menunjukkan HP Nokia yang featurenya cukup lengkap dengan MP3, Radio, kamera 2 M. SPGnya lalu menyodorkan HP warna pink, kalau nggak salah ingat tipenya supernova. Indri berbisik bahwa harganya mahal. Dia lalu kubisik bahwa aku yang bayar, sisa 200 tadi kusuruh dia simpan saja. Aku minta SPG nya membuka segel kotaknya. Model HPnya memang ABG banget. Dari modelnya Indri sudah merasa sreg banget. Alagi dia tahu bahwa bisa nyimpan lagu-lagu, dengerin radio dan ada kameranya aku minta sekalian dilengkapi memory cardnya kapasitas 2 GB. Marni kupilihkan tipe yang lebih sederhana, karena aku yakin dia tidak memerlukan MP3, Radio, kamera. Bagi dia HP cukup yang bisa SMS dan nelpon. Sekalian aku belikan kartunya Simpati agar kalau dikampungnya masih ada signal. Si Paino aku belikankan lagi HP Nokia yang lebih murah lagi, lengkap dengan kartunya dan langsung dihidupkan. Ketiga nomor mereka segera aku simpan di HPku.
    Perut sudah mulai lapar lagi, kami meninggalkan toko HP dan berjalan mencari restoran di Mall. Indri jadi kelihatan manja kepadaku di jalan sambil merangkul tanganku, sehingga susunya menempel di lenganku. Kami terlihat seperti suami istri dan seorang anak.
    Setelah kenyang aku bayar ke kasir. Indri dan Marni katanya kebelet pipis. Setelah mereka melepaskan hajatnya, Marni menarikku, dia berbisik bahwa Indri mau ikut menginap di hotel, karena katanya dia pingin ngrasai tidur di hotel. Mereka dari mall mau pulang dulu lalu nanti Paino yang diminta menjemput mereka.
    Aku langsung menuju hotel dengan sebelumnya menyerahkan HP ke Paino. Si Paino bukan main girangnya mempunyai HP baru. Katanya dia sudah lama mengidam-idamkan punya HP agar langganannya bisa mengontak.
    Sesampai di Hotel aku minta Paino menjemput Marni.
    Di kamar aku berpikir, bagaimana dengan kehadiran Indri, keintimanku dengan Marni pasti terganggu. Padahal aku berencana membenamkan diri bersama Marni 2 malam lagi.
    Pintu kamarku diketuk, muncul dua mahluk manis, yang satunya Marni yang sudah cukup akrab karena aku sudah menggumulinya semalam suntuk dan satunya adalah Indri, yang tampil dengan pakaian agak seksi, dengan atasan tanktop wana merah dan bawahan rok blue jean mini.
    Mereka berdua kupersilakan masuk. Kutawari mengambil minuman sendiri di lemari es. Indri mengambil kaleng coca cola dan langsung meneguknya. Terus terang aku tidak punya skenario harus bagaimana berhadapan dengan Bude dan keponakannya ini. Indri kelihatan lincah. Dia dengan manja minta duduk di pangkuanku dikursi. Aku tentu tidak bisa berbuat apa-apa. Kecuali diam saja. Tanganku dilingkarkannya ke pinggangnya.
    “Aku sayang deh ama oom, abis baik sekali, masak baru kenal udah dibeliin baju sampai sejuta dan HP bagus lagi, katanya sambil menyandarkan kepalanya ke bahuku. Pipinya menempel di pipiku dan dia langsung mengecup pipipku. Marni hanya memonyongkan bibirnya melihat kelakuan keponakannya.
    Aku hanya diam tidak bereaksi. Aku tidak tau ada kesepakatan apa antara Marni dan keponakannya Indri.
    “Kamu kan udah dapat banyak, sekarang Oomnya dipijetin gih,” kata Marni
    “Ya oom sini saya pijetin,” kata Indri.
    Aku diam saja.
    Marni lalu memerintahkan Indri membuka bajuku satu persatu. Mulanya dia agak ragu, tapi dengan gaya manjanya dia mulai melepas T shirtku. Sementara aku masih duduk di kursi. Marni kemudian mengajari agar celana luarku juga dilepas. Indri tertegun sebentar. Belum sempat dia berpikir lagi Marni sudah menginstruksikan agar Indri, juga membuka kaus singlet ku. Aku ditarik dan diarahkan ke tempat tidur. Aku menuruti saja dan langsung tidur telungkup.
    Aku merasa pijatan langsung ke punggung dan bahuku. Melihat cara memijat keponakannya yang ngawur Marni lalu menginstruksikan agar memulainya dari telapak kaki. Indri menuruti dan langsung memulai dari telapak kaki. Marni di sebelah kiri dan Indri di sebelah kanan.”Maaf ya Oom maklum aku belum pernah mijet sih,” kata Indri.
    Aku merasa seperti raja minyak dipijat sekaligus oleh dua wanita.
    Tidak lama kemudian keduanya beranjak, aku tidak mengerti apa yang mereka lakukan, tetapi aku mendengar mereka masuk kamar mandi. Ketika keluar keduanya sudah mengenakan kimono.
    Mereka melanjutkan pijatan. Berkali-kali Marni memberi tahu cara memijat. Aku tidak terlalu merasakan pijatan mereka kecuali menikmati sentuhan dua wanita yang berbeda usia dan terpaut hubungan persaudaraan. Marni lalu pindah mengajari pijatan di bagian punggungku. Indri diminta mendudukiku di bagian pinggang sambil dia memijat punggungku. Aku merasa bagian celana dalam Indri yang langsung menempel di punggungku. Aku tidak punya skenario apa-apa, sebab aku tidak tahu sejauh apa Marni mengizinkan Indri menservice ku dan apakah Indri masih perawan atau sudah jebol aku juga belum tau.
    Penisku sudah memuai ditindih Indri. Sementara Marni memijat kedua kakiku. Kurasakan lama-lama Indri mahir juga mengurut punggungku, Cuma tekanannya masih kurang mantap, mungkin dia agak ragu.
    “Gimana oom pijatan Indri enak nggak,” tanyanya.
    “Masih agak kurang mantap,” kataku.
    Marni menimpali, “ mungkin si oomnya harus ajari Indri dulu biar dia tau bagian mana yang enak dipijat.”
    “Lho oomnya pintar mijat toh,” tanya Indri.
    “Oom ajari dong ,” pinta Indri serius.
    Indri kusuruh tidur telungkup.
    Aku mulai mengurut bagian kaki sambil menjelaskan apa fungsi urutan pada masing-masing bagian. Aku melancarkan tekanan-tekanan refleksi, sehingga di beberapa bagian Indri menjerit kesakitan. Aku jelaskan bagian-bagian organ mana yang kurang berfungsi baik.
    Aku memjat pula bagian yang bisa merangsang nafsu sexnya di bagian telapak kaki. Pada mulanya bagian itu terasa agak sakit, karena mungkin gairahnya belum naik. Aku membohongi bahwa bagian itu adalah untuk kelancaran mensturasi.
    Sampai bagian simpul saraf rangsangan itu lemas, menandakan dia mulai pasrah. Aku naik ke bagian betis sambil terus menerangkan apa fungsi pijatan di bagian ini. Kuajarkan juga untuk pijatan nyaman serta pijatan untuk menghilangkan pegal lalu pijatan refleksi. Aku sengaja tidak terlalu menekan keras, agar Indri terasa nyaman. Bagian belakang lutut, aku urut dan tekan-tekan. Disitu juga ada simpul saraf rangsangan. “ Aduh oom enak oom pijetannya, om pinter sekali belajar di mana sih, “ kata Indri yang sudah mulai terbuai dan gairahnya mulai meningkat. Sementara itu Marni tiduran di sebelahnya memperhatikan aku memijat keponakannya.
    Aku mulai menelusuri pahanya. Paha anak ini terasa kencang sekali, ini menandakan dia masih perawan. Dugaanku itu kayaknya nanti perlu dibuktikan . Tanganku perlahan-lahan menelusuri pahanya dibawah kimono. Indri berkali-kali membenahi kimononya yang tertarik ke atas karena gerakan urutanku. Marni dalam bahasa Jawa memberi tahu Indri agar jangan malu, kalau mau belajar urut ya harus berani diurut.
    Aku mulai memainkan bagian dalam pahanya. Mulanya dia menggelinjang kegelian. Maklum masih perawan. Namun lama-lama dia mulai menikmati dan pahanya makin dilebarkan. Dia kelihatannya mulai terangsang, karena berkali-kali mendesis dan menggerak-gerakkan bahunya. Indri tidak perduli lagi kimononya terangkat sampai terlihat bagian belakang celana dalamnya. Bokongnya montok betul. Mungkin karena dia terangsang atau mungkin mengikuti anjuran budenya agar jangan malu, atau mungkin juga karena keduanya, sehingga di tidak perduli lagi kimononya sudah tersingkap sampai ke pinggangnya
    Aku mulai memainkan jurus-jurus memijat bongkahan pantatnya. Jari-jari tanganku sambil melumuri cream menerobos celana dalamnya bagian belakang. Indri tidak peduli lagi pantatnya dijamah-jamah. Jurus mengurut bongkahan pantat ini membuat cewek menjadi sangat terangsang. Biasanya jika dia sudah terangsang, sudah tidak peduli lagi oleh rasa malu. Indri hanya merasakan sentuhan pijatan erotisku. Jempolku kiri kanan mulai menelusuri belahan pantatnya sampai hampir mengenai kemaluannya. Aku berkali-kali menekan dan mengurut belahan pantat itu. Indri berkali-kali pula menggerakkan bahunya seperti menahan sesuatu sambil berdesis.
    Setelah dia sangat terangsang aku pindah mengurut bagian punggung sampai bahunya.Indri sebelumnya kuminta melepas kimononya. Indri agak ragu melakukan perintahku, tetapi Marni langsung menarik dan membantu membuka kimono itu. Indri tidak bisa menolak, kecuali nurut saja.
    Urut erotis di punggung adalah untuk menjaga agar gairah yang tadi sudah naik tidak melemah lagi. Urutan ku menelusuri sampai bagian pinggir susunya yang melebar karena tertekan tindihan badannya.
    Sambil mengurut aku melepas kancing BHnya. Indri tidak protes, BHnya dilepas. Dia diam saja. Aku merasa dia sudah pasrah dalam buaian gairah yang sangat tinggi.
    Kemudian aku memintanya berbalik. Indri agak rikuh karena BH sudah terlepas sementara kimono juga sudah terbuka. Tinggal celana dalam yang masih pada posisi seharusnya dan BH yang hanya menempel di atas susunya. Sambil memegangi BH Indri berganti posisi telentang.
    Aku memulai dari ujung kaki, tapi hanya sebentar lalu pindah ke bagian paha. Indri sudah tidak mampu lagi menyembunyikan dirinya bahwa dia sudah terangsang. Jariku masuk kedalam celana dalam bagian depan dan mengurut sampai ke bukit kemaluan dan kedua belah bibir memeknya. Gerakanku seperti gerakan profesional, sehingga tidak memberi kesan vulgar.
    Sementara itu Marni sudah tertidur .Sesekali aku menyentuh bagian ujung clitorisnya yang mengakibatkan Indri menggelinjang.Aku memusatkan sentuhan jempol kananku ke bagian clitorisnya. Indri menggelinjang-gelinjang dan berdesis. Aku memainkan clitorisnya tapi tidak sampai dia orgasme. Aku sengaja mengantung, ini yang membuat Indri tersiksa oleh perasaan yang tanggung dan nikmat itu, aku berpindah mengurut bagian dadanya. BHnya aku singkirkan dan muncullah susu perawan yang kencang dengan pentil kecil dan aerola yang belum melebar. Aku memulai dengan pijatan di seputar bongkahan susunya , lalu meremas-remas susunya serta memainkan putingnya. Indri mendesis-desis menahan gelombang rangsangan dalam dirinya.
    Aku kembali turun ke bagian perutnya dan menekan bagian bawah perut. Bagian ini jika ditekan, maka pemiliknya akan merasa seperti kebelet pipis. Aku berkali-kali menekan itu sampai akhirnya Indri merasa benar-benar kebelet pipis. Dia minta izin sebentar untuk kekamar mandi. Ketika Indri bangkit dan ke kamar mandi hanya mengenakan celana dalam saja, Marni terbangun.
    Indri sudah hilang rasa malunya, sehingga dia tenang saja berjalan sambil teteknya gondal gandul. Ketika Indri sedang di kamar mandi, aku tanya Marni, gimana soal keponakannya. “ Monggo kerso mawon,” kata Marni. Maksudnya terserah aku saja mau di apain.
    Ini adalah sinyal bahwa dia memberi izin aku menggarap Indri. Marni tidak tahu, apakah keponakannya masih perawan atau tidak.
    Indri dengan tenangnya berjalan santai dengan hanya bercelana dalam dari kamar mandi kembali ke tempat tidur dan tidur telentang. Aku tanyakan, apa mau dilanjutkan apa tidak. Dia kembali bertanya sudah selesai apa belum. Tentu aku bilang belum.
    Aku kembali mengurut bagian pahanya untuk memulihkan rangsangan. Sekitar 5 menit gairah Indri sudah mulai bangkit lagi. Kembali jariku menelusuri bagian yang tertutup celana dalam dan sampai akhirnya menekan bibir luar vaginya dan berakhir di clitorisnya. Indri kembali menggelinjang.
    Marni memperhatikan aksiku merangsang keponakannya sampai akhirnya dia bangkit dan membuka celana dalam keponakannya. Indri pasrah saja karena dia sudah seperti hilang ingatan.
    Rupanya Marni ikut terangsang melihat aksiku. Dia membuka kimononya dan seluruh pakaian dalamnya.
    Sementara itu aku mulai menstimulir bagian clitoris Indri. Dia terengah-engah dalam gelombang rangsangan yang makin memuncak, sampai akhirnya dia mencapai orgasmenya. Mungkin dia mencapai orgasme yang pertamanya seumur hidup, sehingga tanpa sadar dia menjerit keras sekali ketika gelombang orgasme menderanya.
    Kutekan kemaluannya terasa berdenyut-denyut. Kemaluan Indri rambutnya lebih lebat dibanding budenya.
    Setelah orgasmenya reda Indri aku ciumi dan dia membalas kecupan bibirku dengan ganas sekali. Aku lalu menelusuri ke bawah dan menghisap kedua pentilnya. Ciumanku terus turun ke perut dan berakhir di sekitar kemaluannya. Indri mungkin merasa jengah atau malu ketika seputar kemaluannya aku kuak lantas aku jilati. Aku menguak bibir dalam vaginanya untuk melihat bagian clitorisnya. Terlihat tonjolan clitorisnya cukup besar dan nyata. Aku segera membekap mulutku untuk memusatkan jilatan clitoris . Indri menggelinjang liar, sehingga terpaksa aku tahan gerakannya. Cewek dengan clitoris yang menonjol begini biasanya cepat mencapai orgasme. Benar juga tak lama aku menjilati itilnya Indri kembali menjerit menyalurkan gelombang orgasmenya. Vaginanya yang berada di dalam bekapan mulutku terasa berdenyut-denyut. Sementara itu penisku sedang dikenyot oleh Marni.
    Penisku yang sudah dalam keadaan keras sempurna lalu aku arahkan ke liang vagina Indri. “Oom aku belum pernah gini, pelan-pelan ya,” kata Indri.
    Aku dengan susah payah memasukkan kepala penisku., sampai akhrinya semua kepala penisku terbenam. Sampai disitu aku merasa memek Indri sangat sempit. Aku tekan perlahan-lahan sampai hampir sepertiga batangku masuk. Pada posisi itu aku susah maju kerena seperti menemukan lubang buntu. Aku lalu menarik dan mendorong kembali dengan gerakan pendek. Sampai gerakan lancar aku kembali menekan perlahan sampai batangku tertahan. Aku berusaha melakukan kontraksi di penisku, akibatnya penisku bisa maju perlahan-lahan. Selaput perawan Indri terasa terterobos oleh penisku sehingga ketika penisku kebenamkan tidak ada penghalang lagi. Indri tampak meneteskan air mata. Aku melakukan gerakan hati-hati keluar masuk. Rasanya sempit sekali sampai aku tidak mampu bertahan terlalu lama, meledaklah spermaku ke dalam vagina Indri.
    Aku terjerembab lemas. Lalu perlahan-lahan menarik penisku. Marni dengan sigap menutup tissu ke lubang memek Indri dan mengusapnya. Spermaku tercampur darah sedikit, sehingga agak berwarna merah. Penisku pun ketika di usap oleh tissu meninggalkan bekas darah sedikit.
    Aku dan Indri dibimbing Marni ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Indri berjalan agak berhati-hati, karena katanya memeknya perih. Aku terlebih dulu selesai membersihkan diri lalu kembali ke tempat tidur .
    Badanku lemas dan terasa sangat puas. Tidak lama kemudian Indri dan Marni keluar dari kamar mandi dalam keadaan bugil. Indri ditidurkan disampingku. Sementara aku diminta tengkurap dan Marni mulai melancarkan pijatan. Aku tertidur sekejap sampai Marni memintaku berbalik telentang. Batang penisku agak memuai mungkin karena pijatan Marni. Ketika telentang aku tidak lagi dipijat Marni kecuali di oralnya. Keponakannya menonton aksi budenya mengoralku. Tanganku sebelah meremas-remas toket Indri yang sangat kenyal. Oral Marni terasa piawai sekali sehingga tidak lama kemudian batangku sudah tegak kembali. Tanpa peduli ada keponakannya Marni langsung mengangkang diatas penisku dan tangannya mengarahkan penis masuk ke rongga vaginanya. Dia bergerak memutar, maju mundur, naik turun sampai akhirnya dia mencapai orgasmenya dan roboh ke badanku.
    Lama sekali penisku yang masih keras tertancap di rongga vagina Marni. Aku melakukan kontraksi dengan mengedut-ngedutkan, Marni ternyata mengikutiku dia juga mengedut-ngedut vaginanya. Aku akhirnya mengatur agar kedutannya bergantian melalu isyarat ketukan jari. Lama-lama tanpa isyarat jari kami sudah lancar berkedut bergantian. Gairah Marni naik lagi, dia bangkit dan kembali memutar dan menaik turunkan pinggulnya. Dia tidak mampu bertahan lama juga karana kemudian sudah jatuh lagi kepelukakanku dengan orgasmenya yang menjepit-jepit penisku.
    Setelah orgasmenya tuntas sambil terengah-engah Marni tidur disampingku. Aku diapit Marni dan Indri.
    Aku berbalik miring menciumi Indri dan meremas susu serta menggapai kemaluannya. Terasa kemaluannya sudah basah. Rupanya dia terangsang melihat aksi budenya tadi.
    Aku segera mengambil posisi menindihnya dan berusaha memasukkan penisku kembali. Indri meringis menahan perih. Relatif penisku lebih mudah masuk, meski lubangnya masih terasa sempit.
    Aku merasakan sensasi memek yang baru diperawani. Rasanya menjepit sekali dan nikmat luar biasa. Aku melakukan gerakan hati-hati dan pelan. Sensasi jepitan itu membuat rasa nikmat di sekujur batang penisku. Aku memusatkan perhatian merasakan kenikmatan itu sampai kemudian aku ejakulasi di dalam memek Indri.
    Tidak banyak mani yang keluar, sehingga tidak sampai tumpah ketika aku cabut. Aku istirahat sementara Indri bangkit membersihkan bekas air maniku. Aku steril, oleh karena itu tidak ada kekuatiran Indri akan hamil.
    Aku tertidur cukup lama dalam satu selimut bertiga. Aku ditengah dan di kiriku Indri dan di sisi lainnya Marni. Keduanya memeluku dari kiri dan kanan. Mereka juga ikut tertidur.
    Kami terbangun sekitar pukul 7 malam, terasa sekali perut mulai lapar. Aku mengontak room service dan kembali memesan nasi goreng 3 porsi. Hotel ini memang cukup pintar memasak nasi goreng. Sambil menunggu pesanan datang, kami memutuskan mandi berendam bersama di dalam bak air hangat. Pesanan nasi goreng datang ketika kami sedang asyik berndam. Aku keluar mengenakan kimono dan menyelesaikan orderan itu lalu kembali berkumpul di bak air hangat.
    Nikmat sekali rasanya berendam bertiga. Batangku dipermainkan Indri. Oleh Marni aku diminta duduk di pinggir bak dan Marni mengajari bagaimana caranya mengoral penisku. Penisku pada saat itu masih kuyu. Namun karena dihisap oleh dua cewek secara bergantian, akhirnya dia bangkit juga.
    Rasanya nikmat sekali, tetapi karena sudah berkali-kali ejakulasi aku jadi agak susah ejakulasi. Aksi oral itu aku akhiri dan kami lalu saling menyabuni masing-masing.
    Setelah mengeringkan badan, kami bertiga langsung menyerbu nasi goreng. Kami makan tetap dalam keadaan telanjang. Jika suhu terlalu dingin, AC aku matikan, jika mulai terasa panas aku hidupkan lagi.
    Selesai makan aku masih sempat meneguk sekaleng bir untuk sekedar menghangatkan tubuh.
    Kami bercengkerama sambil tiduran di tempat tidur. Aku sempat memperlihatkan peragaan bagaimana merangsang Marni dan menuntaskannya dengan melakukan pengolahan Gspot. Indri sempat terheran-heran melihat budenya bisa berejakulasi. Kukatakan kemungkinan Indri juga bisa begitu, tetapi nanti setelah luka selaput daranya sembuh.
    Aku malam itu dilayani pijat oleh dua wanita bugil sampai aku tertidur. Paginya aku masih sempat melayani keduanya. Kami masih menginap semalam lagi bertiga dan melampiaskan nafsu kami sepuasnya.
    Setelah waktunya aku akan kembali ke Jakarta, Aku sempat membelikan sepeda motor Honda Bebek baru untuk Indri dan mereka masing-masing kuberi uang tunai 2 juta.
    Aku berjanji akan ke Solo 2 minggu kemudian.
    Setiap kali aku ke Solo aku selalu mendapat layanan full dari kedua wanita itu, sampai akhirnya mereka berdua aku kawini secara siri. Aku membiayai kuliah Indri sampai mendapat sarjana ekonomi. Indri sangat berbakat marketing, sehingga sambil dia kuliah dia menjalankan multilevel marketing. Dia kini punya usaha sendiri dan sudah cukup mapan karena mampu membeli mobil sedan Honda keluaran terbaru. Sementara Marni bekerja membantu. Indri.

    *****



    Membaur Ke Kampung


    By Jakongsu


    Petualanganku di dunia birahi sudah malang melintang. Dimana pun lokasi syur di Jakarta sudah pernah ku datangi. Ada satu tempat favoritku di daerah Jakarta Timur. Tempat itu memang untuk kelas bawah, tapi aku menemukan keunikan tersendiri di situ. Ceweknya banyak yang muda-muda dan masih polos seperti orang desa. Dandanannya pun masih seperti di kampungnya.
    Aku akhirnya punya langganan, namanya Katem, tapi lalu kuganti namanya jadi Ami. Jadi aku panggil dia Ami. Dia akhirnya terbiasa. Suatu hari dia bercerita ingin pulang kampung. Aku menawarkan diri mengantarnya sampai ke rumahnya. Dia dengan senangnya menyambut tawaranku. Kami akhirnya janjian untuk berangkat bersama.
    Kami janjian ketemu di halte mikrolet di dekat pasar. Dari situ kami menuju Pulo Gadung untuk mengambil bus jurusan Cirebon.
    Baru sekali itu aku naik bus dari Pulo Gadung dan bersama cewek. Sorry aku lupa menggambarkan bagaimana profil Mia. Usianya sekitar 15 tahun, mukanya manis, kulitnya agak gelap tingginya sekitar 155 cm. Rambut lurus sebahu. Bicara kurang lancar berbahasa Indonesia, dia sekolah sampai kelas 4 SD.
    Sekitar 3 jam setengah akhirnya kami sampai di pemberhentian sebelum kota Indramayu. Sebut saja KS, kami menyeberang jalan, dan di situ sudah ada puluhan ojek. Mia menyebut nama kampungnya dan kami menyewa 2 ojek dengan ongkos masing-masing 20 ribu. Rupanya tempatnya jauh juga masuk kedalam.
    Di kampung-kampung Indramayu dan Karawang, cukup banyak orang tua yang menganjurkan anaknya jadi pelacur. Jadi mereka sama sekali tidak keberatan ketika anaknya punya tamu. Bagi ortunya tamu itu adalah rejeki dan ini masuk area bisnis jadinya. “anak nginep disini aja, pulang ke jakarta besoklah, ngapain buru-buru pulang,” kata bapaknya. Jadi sebelum gw memohon sudah ditawari so ya why not
    kan. Lantas gw keluarin Rp 100k kasi langsung sama emaknya. ” Mak ini buat beli makanan, nanti malam saya makan disini.”
    Wah itu emak langsung buru-buru pergi, pulangnya nenteng ayam hidup, lalu bapaknya suruh motong tuh ayam. Malamnya hidangannya adalah ayam goreng, sambel dan lauk berkuahnya 2 bungkus indomi direbus dengan banyak air. Yang makan berenam. Adik si cewek ada 2 soalnya. Gw gak bisa makan banyak, tapi dipaksa juga. Gw kurang selera, karena ayamnya masih keras dan masih bau amisnya ayam. Gw telen-telenin aja, abis kepaksa. Mau makan indomienya. Biasanya dua bungkus gw makan sendiri, ini dua bungkus dimakan berenam. Wah gw jadi gak enak body.
    Abis makan gw keluarin 50 k kasi ke bapaknya untuk beli rokok dan 50k lagi gw kasi ke dia juga dengan pesen untuk keamanan.
    Wekkk rumah tuh bapak akhirnya dijagain 2 hansip kampung semalaman. Buset deh, jadi raja minyak gw di kampung ini. Abis makan bukan terus tiarap, ngobrol dulu ama bokapnya ke utara-selatan. Yah bisa-bisa gw menerka minat obrolan dia. Begitu gw tau dia tertarik ama pertanian. Gw keluarin jurus-jurus dewa mabok gw untuk mengimbangi percakapannya. Bukan mau sombong sih diajak ngomong soal apa aja dari mulai menanam padi sampai nuklir korea utara gw bisa njabani. Kalo soal olah raga gw nyerah deh, gak hobi. Namanya ilmu dewa mabuk, si bapak jadi kalah ilmu ama gw, wakakakak. Gw inget hari itu dia nanya-nanya nanem apa yang hasilnya lumayan. Gw bilang semangka tanpa biji bagus tuh pasarnya. Dia bingung, semangka tanpa biji yang
    ditanam apanya. Gw bilang ya biji, ada tuh bibitnya di jual kalengan cuma harganya rada mahal. “mau dong” kata bapaknya. Yah nanti deh kalo sy kemari lagi.
    Ngobrol sampai jam 10 an sambil minum kopi dan makan kacang garuda. Akhirnya tuh bapak nyadar juga dan nyuruh gw istirahat. ” Kamarnya udah disiapi, silahkan nak istirahat dulu.”. Jam 10 malam di kampung, sunyinya kayak orang tuli, mana gelap lagi. Tapi gw PD aja meski rada was-was juga, Gimana gak PD rumah dijagai 2 hansip. Kayaknya hansip kelurahan.
    Was-wasnya kalau ada apa-apa gw lari kemana. Gw kan gak bawa kendaraan. Oh ya gw lupa. Kalo masuk kampung pedalaman gitu dan mau nginep jangan bawa mobil,
    mencolok bo. Orang jadi banyak perhatiin kita. Kalo kita datang naik ojek, kita jadi membaur dan gak kelihatan mentang-mentang.
    Si bapak nunjuki kamar tidur untuk gw, dan anak perempuannya udah tiduran di situ. Kamarnya cuma diterangi lampu minyak dan yang istimewa tempat tidurnya pake kelambu. buset dah seumur-umur gw baru pernah kali itu tidur pake kelambu.
    Tadinya pengen malu, tapi karena bapaknya nganjurin gw tidur ama anaknya, gw jadi bingung pengen malu ama siapa wakakakakak.
    Besok paginya gw rada kesiangan bangunnya, malemnya kebanyakan tiarap kali ya. eh si cewek walau udah bangun tapi dia belum keluar dari tempat tidur.Mungkin nunggu sampai gw juga bangun.Wah setia banget.
    Di luar udah disiapi kopi dan nasi goreng. Wuissh raja minyak diservice abis.
    Gw salut ama diri gw sendiri, sebab petualangan itu gw jalani sendiri tanpa kawan. nekat abis. Gw akhirnya nginep lagi semalem, mengingat dana dikantong masih mencukupi dan gw rasa aman-aman aja. Seharian di kampung gw ditemani tetangganya (laki-laki) nyewa motor muter-muter di kampung. Eh dia malah nunjuki potensi cewek di desanya. Jadi gw dikenali ama banyak cewe. Buset banget, ternyata banyak yang ok. Gilanya dia nawari perawan. Bukan satu, kalo gw nggak salah inget ada 3 semuanya dikenali ke gw.
    Tetangga sebelah si Mia ini rupanya juga lagi pulang kampung. Gilanya dia kelihatan lebih muda, mungkin usianya masih 13 – 14 tahun . Aku diperkenalkan dan dia mengaku kerja (melacur) di daerah Cilincing. Tempat yang dia sebutkan itu belum pernah aku datangi.
    Setelah nginap semalam aku kemudian pamit kepada orang tua si Mia. Diantar oleh tetangganya aku berangkat dari rumah Mia. Heri begitu nama tetangga Mia yang menjadi penunjuk jalan.

    Aku bukan sungguh-sungguh pulang tapi pindah nginap di kampung yang letaknya jauh lebih ke pelosok. Tujuannya adalah rumah Nani. Anaknya manis agak tinggi sekitar 160 usianya juga masih amat belia sekitar 15 tahun. Dia termasuk stok baru, karena belum pernah dikaryakan. Kata Heri Nani baru cerai. Padahal mereka belum genap 3 bulan kawin. Seperti diceritakan Heri, orang-orang di kampung itu banyak yang kawin singkat hanya untuk mengejar status janda. Dengan status janda, dia bisa punya KTP dan bisa kerja ke kota.
    Rumah Nani tidak begitu besar, berdinding separuh tembok separuh bambu anyaman (gedek).. Kami disambut seorang wanita usianya sekitar 32 tahun, dia adalah ibunya Nani.
    “Mari mas masuk,” katanya mempersilahkan kami.
    Aku memilih duduk di bale-bale (amben) bambu di teras rumahnya. Sementara itu Heri masuk bersama ibunya Nani, sepertinya ada yang mereka rembukkan.
    “Dari mana mas,” tanya ibu si Nani.
    “Jakarta,” jawabku singkat.
    Maknya si Nani ini kelihatan akrab sekali, sedangkan aku masih rada kikuk. Aku merasa malu karena niatku akan menginap di rumah itu, kayaknya vulgar banget. Tapi Bu Karta begitu dia mengenalkan namanyam dia pintar sekali mencairkan suasana, dan dia sudah tau betul niatku .
    “Mas tunggu sebentar ya, si Nani lagi mandi, katanya.
    Kami mengobrol macam-macam sampai aku tahu bahwa Bu Karta ini juga janda dengan 2 anak. Anak yang pertama laki-laki sekarang kerja di Jakarta.. Jadi mereka hanya tinggal berdua.
    “Masnya jadikan menginap di sini,” tanya Bu Karta.
    “ Kalau ibu boleh, ya saya mau,” kataku.
    “Ya boleh lah mas, hotel dari sini jauh, tapi disini rumah kampung, nggak ada listrik, rumahnya juga jelek, nggak kayak rumah di Jakarta, gedongan semua,” katanya merendah.
    Heri memberi kode agar aku ikuti dia. Heri membrief aku , bahwa semuanya oke dan ada juga uang keamanan. Dia mau pamit, dan aku minta dia datang lagi besok jam 10 pagi.
    Heri kemudian pamit kepada mak nya Nani dan segera ngacir.
    Perutku sudah rada kroncongan karena sekarang udah jam 1 siang. Kutarik 5 lembar uang 20 ribuan dan kuserahkan ke Bu Karta. “ Ini bu untuk beli makanan, siang ini ibu beli indomi bangsa 5 bungkus, minyak goreng dan kalau ada sedikit tepung sagu (kanji), lainnya beliin tempe dan cabe rawit ijo juga bawang putih.
    Ibunya masuk ke dalam rumah sebentar dan keluar lagi membawa secangkir kopi. Tak lama kemudian datang belanjaan. Rupanya Bu karta minta tetangganya untuk belanja , pantesan dia gak beranjak dari tadi.
    “Mas tepung sagunya mau dibuat apa ya,” katanya.
    “Mau buat mi bu,” kata ku.
    “ Ah jangan panggil bu ah, panggil mbak aja, kayaknya kok jadi tua banget ,” katanya sambil matanya genit..
    “Boleh saya masak mi nya di dapur bu,”
    “Eh masnya pinter masa yaa, tapi dapurnya jelek dan kotor” katanya lalu membibimbingku ke bagian belakang rumahnya.
    Aku berpapasan dengan Nani yang berbalut handuk masuk dari belakang rumah. Dia malu-malu menundukkan muka , langsung masuk kamar.
    Aku meminta 3 bungkus indomi untuk digoreng .
    “Sini mas kita saja yang goreng,” kata bu karta. Orang di Indramayu ini menyebut kita untuk aku.
    Setelah mi di goreng aku minta dia merebus air dan pinjem mangkuk untuk mencampur air dengan tepung sagu . “ Segini cukup gak mas airnya.
    “Kurangi dikit mbak.”
    Setelah air menggelegak aku masukkan air campuran dengan kanji dan bumbu mi instannya. Setelah mendidih dan kuah agak mengental kuminta dipindahkan ke tempat lain. Sekarang makanannya sudah siap.
    Mas kita cuma punya nasi ama ikan asin. Lalu kami pun mengelilingi meja makan yang posisinya ditempelkan ke tembok dengan 4 kursi. Aku duduk di tengah, disamping ku Nani, dan di kiriku Bu karta.
    “Wah enak mi-nya mas, masnya pinter masak juga ya,”
    ” Ini namanya ifumi, tapi sebenarnya bumbunya lebih lengkap dari ini ada sayur, ada bakso, baso ikan, dan udang segala, tapi karena adanya ini ya begini aja lah,” kata ku . “Enak ya mak, kita jadi pengin nambah mi nya lagi,” kata Nani yang makan sambil duduk kakinya diangkat satu (metingkrang).
    “Mas itu ada tempe mau diapain, biar kita yang ngerjain,” kata mak Karta.
    “Digoreng aja biasa mbak,” kata ku.
    Dia lalu menghilang ke belakang tinggal aku dan Nani di ruang yang rada gelap. Kami ngobrol dan aku mengorek banyak informasi. Katanya dia sudah ditawari kerja ke Jakarta, Tapi maknya belum ngasih karena sendirian di rumah.
    Gak terasa sudah jam 4 sore, cuaca mulai teduh.
    “ E mas-e mau mandi kan, ayu bareng kita ke belakang saya unjukin tempatnya.” kata mak Karta.
    Aku segera mengorek isi tas ku mengambil sabun cair, handuk dan celana pendek serta kaus oblong, juga sikat gigi.
    Maknya Nani juga kelihatannya bawa perlengkapan mandi nani juga . mereka masing masing menjinjing ember kecil. Mereka mau mandi juga nampaknya.
    Kami sampai di halaman belakang yang jaraknya sekitar 10 m dari rumah ditengh kebun singkong. Di situ hanya ada ponpa tangan dan ember yang lebar. Tidak ada dinding, sehingga sama sekali terbuka. Aku melihat ke sekeliling, tidak ada bangunan apa pun . Ternyata kamar mandinya ya di pompa itu. Di situ hanya ada dua tonggak yang dihubungkan dengan kawat. Maksudnya mungkin untuk jemuran. Mereka berdua lalu melampirkan handuk, dan baju-baju mereka.
    Kulihat mereka gak bawa sarung, aku jadi mikir nih mereka mandinya gimana. Aku diam aja sambil pura-pura terlihat biasa sambil menyampirkan baju-bajuku dan membuka semua pakaianku kecuali celanda dalam yang memang bentuknya boxer.
    Si mak giat sekali memompa. Aku segera mengambil alih memompa . Astaga mereka berdua membuka semua bajunya sampai telanjang bulat di depan ku lalu jongkok di pinggir ember. Dengan gayung bekas kaleng susu mereka membasahi semua badannya lalu menyabuni tubuhnya Aku terus memompa sambil pura-pura cuek, padahal dedeku mulai mengembang.
    “ Udah itu mas air juga udah penuh masnya juga mandi sini, kata si mak,”
    Aku tidak mau kalah dengan aksi mereka, Aku berbalik dan segera melepaskan celana dalam, dan kugantungkan dengan bajuku. Kututup burungku lalu aku jongkok berhadapan dengan mereka. Pembatas kami hanya ember.
    “Wah masnya gak biasa mandi di kampung jadi masih malu ya mas,” kata Mak karta.
    Aku hanya nyengir, “Ah nggak mbak, Cuma burungku susah diatur,” kataku berkilah.
    Mas nya gak biasa sih jadi burungnya kaget kali, “ kata bu Karta.
    Ibu nya si Nani ini tampak makin cantik ketika semua rambutnya dibasahi. Toketnya cukup montok mungkin ukuran 38 , perutnya agak gendut sedikit, tapi masih bisa digolongkan ramping untuk seumuran dia, pantanya buset gede banget, begitu juga pahanya. Badannya putih mulus pula.
    Nani badan gadis remaja Teteknya masih mancung menantang dengan putting kecil yang belum berkembang, jembutnya masih jarang sekali, berbeda sama jembut ibunya.
    Karena mereka cuek, aku juga cuek aja, meski pun barangku ngacung terus. Ah normal aja pikir ku, laki-laki dekat perempuan telanjang pula pastilah on. Gitu dong mas jangan malu-malu, Komentar ibunya sambil dia mengambil semacam sabut untuk menggosokkan badannya. Aku diberinya satu sabut yang kuperhatikan bentukunya bulat panjang seperti gambas atau oyong. Aku tenang saja menggosok badan ku sambil berdiri dan mereka berdua juga akhirnya berdiri sih. Mas sini aku gosok punggungnya dan mas gosok punggunya Nani. Kami pun lalu berbaris saling menggosok. Mulanya aku menggosok punggung Nani, Tapi lama-lama tangan ku gak tertahan meremas pula tetek si Nani. Tapi dia diem aja. Si Ibu masih terus menggosok, tapi tidak hanya punggung juga sampai ke kaki-kaki pula Eh lama-lama naik sampai ke dekat dede ku. Di bagian vital itu disabuninya pula tapi gak pake sabut. Aku jadi menggelinjang gak karuan. Eh dia malah lama sekali berputar-putar menyabuni dedeku. Aku jadi gelap mata kutarik si Nani lalu kucium. Nani membalas. Aku udah kehilangan akal, sampai gak terasa kalau dedeku dibasuh air. Tapi aduh ternyata burungku dilomot sama si ibu. Buset kok jadi orgi di kebun singkong gini.
    Aku tidak bertahan lama segera muncrat di dalam mulut si ibu. Dia buang air mani ku . Aku segera menempelkan barang ku ke pantat si nani yang kupeluk dari belakang sementera tanganku sudah dari tadi mengorek-korek itil si Nani sampai dia muncak juga nampaknya. Aku kemudian berbalik ke si emak dan kurangkul dia lalu kucium mulutnya. Dia membalas dengan ganas. Tangan ku tak hanya meremas teteknya yang super toge, tapi juga mulai mengelus-elus mekinya.. Aku mau balas dendam. Perlahan-lahan kujilati tubuhnya kebawah sampai akhirnya aku berlutut dan di depanku terpampang memek berjembut lebat. Lidahky mencari sendiri belahan memek sambil tanganku menyibak hutan rimba. Memeknya tidak ada baunya, malah cenderung bau sabun. Mulutku kubekap ke memeknya dan kaki kirinya kupanggul dipundakku.Si emak berpegangan ke tiang sambil mendesis-desis. Gak sampai 2 menit dia sudah muncak dan sambil mengerang. Barangku jadi keras lagi aku segera berdiri dan kusuruh si emak membungkuk dengan sekali tusuk masuklah si dede ke meki emaknya dari belakang .
    Aku sungguh terpesona dengan pemandangan pantat yang demikian besar membulat aku tabrak-tabakkan badan ku ke pantat si emak dan si emak mengimbanginya dengan mendesis-desis. Nani yang jongkok sambil mengguyur badannya memperhatikan kelakuan kami. Kupanggil dia agar mendekat. Nani menurut lalu aku sambil memompa emaknya aku gerayangi badannya. Sekitar 5 menit si emak sudah bilang “ udah-udahmas ampun mas saya lemes banget,” katanya setelah dia meregang puncak orgasme.
    Sementara aku masih nanggung.Kini nani ku minta nungging dan segera dedeku kuarahkan ke memeknya dari belakang . Beda banget memek sianak dengan si Mak, Si Emak tadi mudah sekali mencoblosnya. Kalau sianak pake rada dituntun baru bisa pelan-pelan masuk. Aku kembali memompa dan karena ketatnya liang nani aku tidak mampu bertahan lama baru sekitar 5 menit aku sudah merasa akan meledakkan lahar. Kucabut dari meki si Nani lalu ku tembakkan ke udara bebas.
    Si emak lagi di duduk dilantai lemes. “Si emas jago banget maennya,” kata emak.
    Kami lalu menuntaskan mandi dan segera kemlai ke rumah. Kami jadi makin akrab dan aku segera dibawanya masuk ke ruang tidur. Kamar tidur itu adalah satu-satunya kamar tidur di rumah itu. Di situ terbentang 2 kasur yang didempetkan namun dengan dua sprei yang berbeda corak. Aku disuruhnya istirahat tiduran. Dan mereka berdua juga ikut tidur mengapit aku.
    Si emak ini agresif sekali. Kalau bicara sebentar-sebentar nyium pipiku. “Aku gemes sama si emas abis cakep sih,” katanya.
    Karena matahari masih mencorong dan kami di dalam kamar yang tidak berventilasi, dengan birahi tinggi maka badanku cepat sekali berkuah alias berkeringat. “Panas banget boleh gak kita buka baju, “ kata ku menyebut diriku dengan kita menyesuaikan bahasa mereka.
    Tanpa menunggu jawaban dari mereka aku segera bangkit dan melepas tidak hanya baju tetapi semua busana ku sampai aku telanjang bulat. “ Kok dibuka semuanya,” kata si Nani.
    “Abis panas, lagian kan tadi udah pada liat di sumur, jadi malunya udah ilang,” kata ku.
    “Idih,” kata Nani.
    Aku kembali mengambil posisi di antara mereka dan diam saja tidak bereaksi. Si emak langsung meremas tol ku sambil menciumi pipiku. Kelihatannya dia menginstruksikan anaknya untuk juga menciumiku dari sisi lain. Nani gerakannya masih canggung, tapi aku diam saja. Emaknya bangkit sambil duduk mengintrusikan anaknya untuk menciumi seluruh badan ku.
    Aku protes agar mereka juga telanjang sehingga kita bertiga sama posisinya. Emaknya lalu berdiri membuka semua bajunya dan dia juga menyuruh anaknya untuk membuka semua bajunya juga..
    Si emak kembali mengajari anaknya bagaimana caranya menyenangkan laki-laki, sampai akhirnya anaknya disuruh ngemut tool-ku. “ Jangan sampai kena giginya, nanti masnya ngrasa sakit. Mulanya si Nani agak ragu. Tapi kemudian ibunya memberi contoh dengan cara mempraktekkannya langsung lengkap menjilat kedua kantong zakarku sampai ke lubang matahari
    Aku yang menjadi bahan praktikum, mengelinjang-gelinjang nikmat. Nani tampaknya berbakat, karena dalam waktu relatif singkat dia sudah menguasi ilmu oral-mengoral. Setelah sekitar 10 menit kutarik tubuhnya ke atas lalu kusuruh dia duduk di dadaku kusuruh maju sedikit sampai mekinya tepat jangkauan lidahku. Kukuak memeknya yang masih gundul dan baru berambut sedikit. Benjolan kecil nampak menonjol di ujung atas bibir dalamnya. Itu tanda dia sudah cukup terangsang, Segera lidahku menggapai clitoris sambil kedua tanganku menahan pinggulnya yang kalau kulepas gerakannya terlalu liar. Nani mendesis sambil mengerang.
    Dia kelihatannya lebih rame dari pada ibunya. Ibunya yang dari tadi duduk saja memperhatikan permainan kami tiba-tiba bangkit. Aku tidak bisa jelas melihatnya, tapi aku merasa dia duduk mengangkangi badanku sambil menuntun tool ku yang lagi siaga ke dalam mekinya. Blebesss, masuk semua barang ku kedalam mekinya dan dia segera memaju mundurkan pinggulnya. . Toolku seperti diulek atau dikacau (stir). Kosentrasiku jadi terbelah. Tapi aku berusaha memuatkan serangan lidahku secara konstan di ujung clitoris si Nani. Nani makin hot terlihat dari gerakannya yang melawan tahanan tanganku.
    Aku semakin keras menahan pinggul nani agar dia tidak menggelinjang terlalu liar. Akhirnya Nani sampai dan dia menjerit. Aku lalu membenamkan mulutku di meki nani. Ibunya nampaknya terpengaruh dengan teriakan Nani sehingga dia pun lalu mempercepat gerakkannya dan semakin liar sampai akhirnya dia juga berhenti dengan liang vaginanya berkedut. Dia memeluk anaknya .
    Keduanya aku minta tidur telentang untuk istirahat. Aku mengambil alih dengan mencolokkan jari tengah kanan ke Nani dan jari tengah kiri ke emaknya. Aku meraba titik G spot mereka. Keduanya akhirnya teraba. Lalu ku usap halus. Mereka mulai bereaksi dan pinggulnya di gerakkan gak beraturan, kadang maju mundur kadang kiri-kanan, sampai tiba-tiba Nani teriak sekencang-kencangnya gak sampai semenit Emaknya juga ikut teriak panjang..
    Mereka berdua seperti orang tak berdaya lemas dan pasrah. Aku segera mengambil alih untuk memuaskan diriku. Pertama kupilih meki emaknya, kugenjot sampai sekitar 10 menit, kemudian aku pindah ke nani dan kugenjot terus sampai akhirnya aku memuntahkan lahar putih jauh di dalam meki si Nany.
    Kami tertidur bertiga dalam keadaan bugil..
    Aku tidak sadar berapa lama tertidur sampai kudengar suara samar-samar emak si nani bangun .dia mencari lampu untuk dihidupkan, karena seisi rumah itu gelap gulita. Lampu yang dinyalakan adalah lampu minyak. Aku pun lalu bangun dan akhirnya kami bertiga dengan obor menuju ke sumur untuk membersihkan diri.
    Aku merasa kayak punya dua istri dua di kampung ini. Tapi uniknya kedua istri itu anak dan ibu. Keduanya berlaku manja sekali dan sering menggelendot..
    “Mas tempenya udah digoreng, mau dimasak apaan” kata si emak.
    :”Diulek pake 1 siung besar bawang putih dan cabe rawit ijo, tapi cabe dan bawangnya diulek dulu sama garam, jangan terlalu alus baru tempenya di teken-teken ke sambelnya,” kata ku.
    Dengan lauk tempe itu kami bertiga makan malam dengan lahapnya. “Enak banget ya padahal Cuma gitu aja bikinnya, “ kata si emak.
    Selesai makan kami duduk di beranda rumahnya sambil aku dibuatkan kopi dan singkong rebus. Kami ngobrol sampai sjam 11 malam. Lalu kembali masuk rumah dan menutup pintu. Kami bertiga kembali berbaring dan aku selalu ditempatkan diantara mereka berdua.
    Kami malam itu bertempur lagi sampai jam 2. Sampai akhirnya bangun agak kesiangan . Jam 7 baru kami terjaga dari tidur nyenak. Lalu kami buru-buru berkemas dan kembali ke sumur untuk membersihkan diri. Di sumur tidak terjadi insiden.
    Jam 10 si Heri datang untuk menjemput aku. Si emak minta agar aku memperpanjang waktu dan minta Heri datang besok lagi.

    ********

  2. The Following 5 Users Say Thank You to Raul_Gee For This Useful Post:


  3. #2
    Virgin krad_orange's Avatar

    Join Date: Jun 2008

    Posts: 4

    Thanks: 0

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    Mantaf...
    Keep Posting, bro...

  4. #3
    Tukang Ngintip darkie's Avatar

    Join Date: Oct 2008

    Posts: 137

    Thanks: 114

    Thanked 4 Times in 4 Posts

    Default

    mantab bro
    lanjutkan

  5. #4
    Virgin sendok26's Avatar

    Join Date: May 2008

    Posts: 8

    Thanks: 0

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    Mantapppppppppp

  6. #5
    Virgin sendok26's Avatar

    Join Date: May 2008

    Posts: 8

    Thanks: 0

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    Lanjutttttttttttt

  7. #6
    Virgin chamen's Avatar

    Join Date: Oct 2009

    Posts: 3

    Thanks: 0

    Thanked 1 Time in 1 Post

    Thumbs up

    capek bacanya tapi seru juga akhirnya

  8. #7
    Party Animal jakongsu's Avatar

    Join Date: Apr 2009

    Posts: 543

    Thanks: 77

    Thanked 2,520 Times in 264 Posts

    Default

    waduh postingan saya di repost ya bro, ngambil dimana tuh, thanks anyway

  9. #8
    Virgin klinta's Avatar

    Join Date: Jun 2009

    Posts: 38

    Thanks: 3

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    sip la mantab lanjutkan...............

  10. #9
    Virgin dcost's Avatar

    Join Date: May 2009

    Posts: 5

    Thanks: 0

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    top..trus gan

  11. #10
    IMZ Crew nababan's Avatar

    Join Date: Apr 2008

    Location: Flashdisk

    Posts: 1,118

    Thanks: 18

    Thanked 4,524 Times in 534 Posts

    Default

    kui tok toh mas..? ra enek sing liane?
    Bokep adalah hiburan untuk diriku, dirimu dan dirinya. Tidak ada kehidupan untuk tidak melaksanakan gairah dan hasrat seksual dalam bercinta dengan indahnya kenikmatan pencapaian orgasme sejati.

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •