7liveasia

pokerepublik

pokerlounge


Maxbet  Kaskus303
Indobokepz - Indonesian Movie and Picture Community





Alpha4D Bola54
pokerace99 togelplus
AonCash AonCash
tglplus
pokerclub BandarJakarta
Royal188 Fairbet88
Royal188 raja303

 

Results 1 to 9 of 9
  1. #1
    Virgin gurca_18's Avatar

    Join Date: Aug 2010

    Posts: 37

    Thanks: 81

    Thanked 24 Times in 4 Posts

    Default Enaknya menjadi seorang GURU

    Kisah ini aku ceritakan berdasarkan kejadian nyata yang aku alami sekitar 2 tahun yang lalu tepatnya 2007. Di tahun inilah awal petualanganku untuk menikmati berhubungan intim dengan siswi – siswi di tempatku bekerja. Sebelumnya aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu, sebut saja namaku doni (tentunya bukan nama asli). Umurku saat ini 28 tahun dan sudah berkeluarga dengan 2 orang anak. Cerita ini terjadi ketika aku masih berumur 24 tahun dan masih belum berkeluarga. Saat itu aku masih bekerja disebuah sekolah menengah pertama negeri di pulau andalas sebagai guru tidak tetap (tenaga honor) dan mengajar kelas 1 dan 2 saja.
    Cerita ini berawal ketika salah satu siswiku, sebut saja wulan (bukan nama sebenarnya), tingginya kira-kira 165 cm, putih bersih, dengan ukuran susu sebesar telapak tangan orang dewasa (cukup besar untuk ukuran kelas 1 smp) yang sering memintaku untuk menjadi teman diskusinya mengenai pelajaran yang ku ajarkan yang dirasanya sulit. Walau hanya pada masa istirahat di sekolah, tetapi seiring intensitas kami berdiskusi hubungan kami mulai terasa aneh. Sepertinya aku bahkan mulai suka sama wulan. Wajar saja karena kami selalu hanya berdua saja kalo diskusi. Awalnya memang aku sering mengajak dia bercanda, tujuanku tentu saja supaya diskusi kami tidak kaku dan pelajaran yang sulit itu mudah dia serap. Tapi disela-sela bercandaan tersebut aku sering mengelus kepala, bahu bahkan pipi wulan. Dari situlah selalu muncul hasrat untuk melakukan lebih dari itu. Tetapi selalu juga kutahan, ga mungkin kan aku mencabuli muridku. Sebenarnya wulan ini tergolong murid yang pintar, bahkan untuk pelajaranku, kebetulan aku mengajar bahasa inggris, wulan merupakan satu-satunya murid yang berani bertanya dan menjawab dalam bahasa inggris.
    Hubungan kami mulai berubah. Bermula pada suatu hari tepatnya hari sabtu, salah satu guru kelas wulan tidak masuk karena sakit, kebetulan hari sabtu itu aku bertugas piket. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban guru piket untuk mengisi kelas-kelas yang lowong. Jadilah aku mengajar di kelas wulan, disela-sela aku mengajar aku selalu membuat lelucon atau games, makanya rata-rata murid di sekolah aku senang kalau aku yang mengajar. Bukan karena aku pintar dalam mengajar tetapi karena itu tadi aku lebih banyak main games atau membuat lelucon. Dan aku juga selalu memberi hadiah berupa nilai bagus atau bahkan permen bagi tim atau orang yang menang. Pada sabtu itu kami main games vocabulary dimana kelas mereka dibagi menjadi dua tim. Ketika waktu tinggal lima menit lagi hingga game berakhir tim wulan masih tertinggal dari lawannya. Jadi tidak heran banyak dari anggota – anggota tim wulan yang harus berlari ke papan tulis untuk menuliskan jawaban games yang kubuat untuk mengejar ketertinggalan mereka. Pada saat giliran wulan, dia juga berlari, tapi sayang kakinya tersandung kaki meja temannya sehingga hampir jatuh, pada saat mau jatuh aku langsung sigap menangkap badannya supaya tidak terhempas ke lantai. Sialnya bagi dia dan berkah bagiku, ketika tanganku menangkap badannya, telapak tanganku tepat pada susunya. Satu kelas bahkan dia tidak memperdulikan hal tersebut, mereka masih fokus pada permainan yang kubuat. Mereka tidak menyadari adik kecilku mulai tegang sejak kejadian itu, aku bahkan tidak fokus lagi pada games tersebut hingga pulang sekolah. Pikiranku terus kepada kedua susu wulan. Pas sebesar telapak tanganku. Kenyal dan empuk, nikmat sekali walau hanya sebentar. Kenikmatan itulah yang membuatku mulai memperhatikan dia lebih dari sebelumnya. Aku mulai merencanakan niat iseng untuk sekedar mengelus atau bersentuhan dengan setiap tubuhnya.
    Semenjak kejadian hari sabtu tersebut aku mulai makin gencar untuk mengelus kepala, pipi, tangan, bahu, punggung bahkan sampai paha nya. Yang selalu tidak pernah mendapat penolakan, hingga akhirnya aku tidak tahan lagi, ketika dia berhasil memecahkan masalah yang aku buat aku memberinya kecupan di kepala. Dia langsung kaget dan menatapku tajam, aku tersadar lalu minta maaf.
    “maaf lan, bapak terlalu senang karena masalah ini tergolong sangat sulit untuk ukuran kelas 1 smp, karena masalah ini harusnya dibahas oleh anak kelas 2 sma” kataku meyakinkan dengan maksud supaya dia tidak jadi marah.
    “ngga apa-apa kok pak, aku cuma kaget bukan marah” balas wulan
    “Cuma kaget, ngga pake senang?” tanyaku mulai nakal
    “iya senang juga pak”
    “senangnya gara-gara aku cium atau karena bisa jawab soal?” lanjutku lagi
    Yang dengan tidak kuduga dia menjawab “dua-duanya pak”
    Kami pun melanjutkan diskusi kami dengan lebih mesra, aku sudah berani duduk disampingnya dan melingkarkan tangan ke pinggangnya, kekepalanya dan kebahunya. Satu tangan mengarahkan soal dan materi, tangan lain mulai menggerayangi.
    Aku tidak pernah berbuat lebih dari sekedar elus mengelus karena selama ini kami selalu diskusi di sekolah, kalau kelasnya lagi sepi kami dikelasnya, kalau kantor guru sepi ya kami di kantor,
    Sampai suatu saat, pada saat mau ujian akhir semester, dia meminta diskusi pada saat yang tidak tepat. Tidak tepat karena di kelasnya banyak siswa yang tidak keluar pada saat istirahat dan di kantor guru ada acara pengarahan kepada siswa kelas 3 yang berprestasi untuk dapat beasiswa. Pada awalnya aku menolak, “ngga ada tempat lan, kelas ngga ada yang kosong, kita mau diskusi dimana?’ tanyaku ogah-ogahan, karena sebenarnya aku juga malas
    “jadi gimana dong pak, seminggu lagi ujian, materi bapak banyak yang ngga tuntas” pintanya
    Aku jadi kasihan juga, memang kalo di kelas aku lebih banyak membuat lelucon daripada mengajar jadi tidak heran selalu keteteran kalau mau ujian, karena banyak materi yang tidak terselesaikan. Meningat hanya wulan satu-satunya siswa yang meminta hak nya diberi, maka dengan terpaksa aku juga harus mengusahakan tempat untuk kami diskusi. Lalu aku meminjam kunci laboratorium yang terletak di belakang sekolah. Tempatnya lumayan sunyi dan tertutup, jadi cocok lah untuk kami berdua.
    Kami pun memulai diskusi kami, dan karena aku yakin tempatnya aman dan tidak akan kena gangguan, maka posisi duduk kami aku ubah. Aku duduk sejajar dengannya dengan langsung memeluk tubuhnya sambil memberi materi yang aku ajarkan. Sambil wulan menjawab soal yang kubuat aku selalu mengelus rambutnya dan menciumi kepalanya. Melihat tidak ada penolakan aku mulai makin berani, aku cium lehernya dan telinganya yang membuat ia mendesah “sssshhhhhhh…pak, geli” ucapnya tertahan.
    “Tapi sukakan?” balasku nakal sambil terus menciumi lehernya
    “hhmmmmmm…”jawabnya mulai tidak konsen kepada pekerjaannya
    Kubalikkan badannya lalu kucium pipinya, dia hanya memejamkan mata yang kuartikan dia senang dengan perlakuanku. Kucium bibirnya, dia terdiam kaku. Aku menghentikan ciumanku
    “kenapa lan?”tanyaku
    Dia cuma diam
    Lalu aku lanjut lagi bertanya “kamu udah punya pacar lan?”
    “blom pak” jawabnya
    “kamu mau jadi pacar ku?” tanyaku spontan, aku kaget kenapa bisa dengan gampang kata-kata tersebut terlontar.
    Dia juga kaget dan memandangku tajam, “bapak ngga salah?’ tanyanya
    “salah kenapa?” aku balik tanya
    “masa guru nembak muridnya”
    “kalau gurunya suka sama muridnya yang cantik dan pintar kenapa tidak” balasku
    “emang pantas pak kalau kita pacaran?”
    “kalau kita sama-sama suka, usia dan kedudukan itu tidak masalah, selama kita masih bisa menjaga rahasia dan tidak diketahui teman-temanmu, pantas pantas saja”jawabku
    Dia hanya diam
    “gimana, kamu mau jadi pacarku?” lanjut ku
    Dia lalu mengangguk. Sambil dia bercerita bahwa mulai dari pertama aku masuk kelasnya untuk mengajar, dia sebenarnya sudah suka sama aku, aku terus menggerilya tubuhnya. Kali ini aku tidak segan lagi untuk meremas kedua susunya bergantian, dengan tidak menemui penolakan berarti aku mulai lagi menciumi pipinya lalu memagut bibirnya, kali ini dia mulai membalas “sssshhhh….” Erangnya
    Aku makin berani kubuka kancing seragamnya lalu kutelusupkan tanganku, sial ternyata dia memakai singlet diatas bra nya, dengan susah payah ku singkap singlet nya dan ke tarik cup bra nya, terlihat pentil susunya berwarna pink mencuat dan mengeras. Ternyata wulan ini tergolong gamapang terangsang dan mudah larut terbawa nafsu. Terbukti tidak ada satu penolakan pun yang aku terima. Ku sedot pentilnya…”sssshhhh…aahhhhh pak….” Katanya sambil meremas – remas kepala ku. Kuremas terus kedua susunya bergantian, tanganku mulai gatal, ku singkap roknya dan ku elus s*****kangannya, sial lagi, dia memakai short pants, celana pendek ketat dari bahan karet diatas cd nya. Untuk yang satu ini aku pasrah hanya bisa membelai dan hanya menusukkan jari ku dari luar. Dia membuka kedua kakinya lebar-lebar membuat aku semakin bebas untuk mengelus dan menusukkan jariku di vaginanya. Ciumanku mulai turun dari bibir ke leher dan berhenti di pentil susunya, dia mengerang hebat “sssshhhhh…pak…..” nafsuku semakin meninggi, adik kecilku pun sudah sangat tegang. Kubuka resleting celanaku dan kulonggarkan ikat pinggangku, kutarik tangannya dan kumasukkan kedalam celanaku. Dengan instingnya dia menggenggam kontolku dan mengocoknya maju mundur. Tangannya tidak berhenti mengocok meski aku terus menghisap putingnya, bahkan dia makin liar. Aku bangkit dari dudukku, ku arahkan kontolku kemukanya, dia kaget dan menjauh. Ku tahan kepalanya dan kutempelkan kontolku ke bibirnya yang sudah basah. Dia menutup mulutnya rapat-rapat.
    “ayolah lan…ngga apa-apa” kataku.
    “aku belum pernah pak” katanya
    “tenang aja kamu ngga bakal kenapa2” kataku meyakinkan nya
    Dia mulai mendekatkan mulutnya ke kontolku dan aku membantu mengarahkan adik kecilku ke mulutnya. Dia lalu menjauh lagi setelah kontolku baru masuk sedikit kedalam mulutnya.
    “asin pak…..rasanya aneh” katanya
    “ngga apa-apa, biasa aja” kataku
    Dia terus menolak sehingga terpaksa aku melakukan sedikit kekerasan. Kutarik kepalanya dan kupaksa dia mengoralku, akhirnya dia menurut juga, aku terus dioral. Sepertinya dia mulai terbiasa, dia mulai pintar menghisap dan menjilat kontolku, bahkan tangannya mulai turut memegang kontolku. Nafsuku semakin meningkat, permainan kami pun semakin liar. Aku terus meremas kedua susunya bergantian. Tiba – tiba bel tanda selesai istirahat berbunyi. Padahal aku belum juga mencapai orgasme, aku terus menciumi putingnya. Dia lalu mendorongku
    “pak dah bel tuh” katanya
    “ngga apa-apa, bentar lagi sayang” ucapku
    “kapan-kapan aja lagi pak” elaknya dengan terus mendorongku. Aku terus memaksa untuk tetap melanjutkan kegiatan kami. Tiba tiba dia meronta dan mendorongku lalu segera dia membereskan pakaian nya dan tanpa permisi dia meninggalkan ku yang kesal karena belum sampai puncak.
    Di kelas aku hanya bengong sampai jam pulang sekolah. Aku sengaja menunggu wulan dengan maksud mengajaknya menuntaskan kejadian di lab tadi, tapi sepertinya dia menghindar. Seminggu kami tidak berdiskusi, dikelas pun dia tak seaktif dulu bahkan kami tidak bertegur sapa kalau ketemu di luar kelas.Sepertinya kejadian di lab merubah segalanya.
    Hubungan kami pun semakin dingin. Suatu ketika saya ditugaskan kepala sekolah untuk mendampingi peserta lomba pidato bahasa inggris antar sekolah dalam rangka hut RI. Kami pun kembali harus sering berdua untuk diskusi dan latihan. Selama latihan di sekolah kami tetap dingin seolah kejadian di lab itu tidak pernah terjadi.
    Sehari sebelum pertandingan, pada saat pulang sekolah kami berdua dipanggil kepala sekolah. Kami diceramahi bahwa kami harus mendapat minimal juara tiga. Karena sudah tiga tahun sekolah kami gagal dalam lomba ini. Arahan kepala sekolah lumayan panjang, sehingga ketika kami keluar kantor kepala sekolah tidak ada satu guru bahkan siswa pun terlihat lagi di sekolah. Kelas dan seluruh ruangan pun sudah terkunci. Pada saat beranjak keluar gerbang kami berdua kembali dipanggil
    “pak, ini kan waktunya sudah mepet, bagaimana kalau kalian kembali latihan untuk memantapkan diri lagi” kata kepala sekolah
    “tapi pak, semua ruangan sudah ditutup, kalau di rumah nanti tidak tenang” alasanku supaya tidak usah latihan
    “begini saja, kalian pakai ruangan saya saja, nantinya kuncinya titip ke rumah penjaga sekolah”
    Kebetulan rumah penjaga sekolah hanya berjarak 100 meter dari sekolah.
    Saya bertanya kepada wulan dia keberatan atau tidak
    “asal dipermisikan kepada orangtua saya tidak keberatan pak” jawabnya
    Kepala sekolah pun menelepon keluarga wulan dan menjelaskan kondisi kami sekarang sehingga nanti akan terlambat pulang. Rupanya keluarga wulan ini termasuk disiplin juga.
    Setelah kepala sekolah pulang kami pun kembali ke kantor kepsek. Kami pun latihan di ruang tamu. Aku duduk di sofa dan wulan berdiri di depanku. Dia mulai pidatonya, dan aku selalu mengoreksi kesalahan yang dia buat mulai dari pengucapan sampai tekanan kata. Entah karena takut atau grogi saya liatin terus, wulan selalu melakukan kesalahan dalam latihan pidato.
    “kamu kenapa, kok kayak ngga biasa nya, salah terus” kataku
    “ngga tau nih pak” jawabnya
    “takut atau grogi nih?” candaku
    Dengan dingin dia menjawab “ngga tuh”
    “jadi kenapa kok susah banget kamu ngapalin itu aja?” “atau kamu lapar ya?”
    Dia pun mengangguk
    “gini aja, kamu coba hapalin dulu lagi pidatonya, aku beli makan di luar, gimana?”
    “terserah bapaklah” jawabnya
    Aku pun meninggalkan wulan di ruangan kepala sekolah.
    Sesampainya kembali aku disekolah, aku tidak menemukan wulan di ruang tamu kepala sekolah aku coba cari keluar sampai ke kamar mandi, tetapi tidak juga menemukan dia.
    Aku kembali ke ruang kepala sekolah dan duduk di sofa. Hampir setengah jam aku duduk bengong memandangi nasi bungkus yang aku beli. Marah dan kecewa mulai merasukiku, mau kuapakan dua bungkus nasi ini pikirku. Hampir kuputuskan untuk pulang saja hingga tiba-tiba wulan keluar dari ruang pribadi kepala sekolah dengan menggunakan headset dari handphone sambil mulutnya komat kamit menghapal pidato. “aku pikir kamu sudah pulang” kataku ketus
    “ngga lah kan masih latihan, lagian ngga mungkin nanti dimarahi kepala sekolah lagi” jawabnya sekenanya
    “jadi kok tadi aku panggil-panggil kamu ngga jawab” tanyaku jengkel
    “maaf pak, aku pake headset biar lebih rileks menghapalnya” jawabnya
    “ya udah, makan dulu yuk” ajak ku
    Kami pun makan sambil bercanda canda, setelah makan kami lanjutkan latihan.
    Kali ini pidatonya hampir bisa dikatakan 95% sudah dia kuasai. Aku pun memberinya tepuk tangan selamat. Lalu dia duduk di sofa disebelahku
    “kira-kira kita bisa juara ngga pak?’ tanya nya
    “kalo kamu bisa mempertahankan pidato seperti barusan pasti bisa, minimal juara 2” kataku
    “kalo kita ngga juara gimana pak?’ tanyanya lagi, sepertinya dia menjadi terbeban setelah ada permintaan dari kepala sekolah yang mengharapkan sekolah kami harus menjadi juara.
    “ngga apa-apa, aku sudah bangga sama kamu. Kalau kamu bisa melakukan pidato seperti barusan didepan orang banyak” jawabku mencoba menenangkan
    “juara bukan suatu keharusan dalam sebuah kompetisi, itu cuma tujuan” lanjutku
    “jadi kalau aku ngga juara, bapak ngga marah?”
    “ngga lah sayang, selama kamu sudah berusaha keras saya sudah senang” lanjutku asal
    Aku tak menyangka bisa mengucapkan kata-kata sayang sama wulan
    “kalau bapak dimarahi kepala sekolah, gimana?”
    “ngga penting itu, yang penting kamu ngga marah sama aku”
    “marah kenapa?” tanyanya
    “ngga tau, gara-gara di lab kemarin mungkin” jawabku enteng
    Dia cuma diam
    Aku meraih kepalanya dan kusandarkan dibahuku, “aku sayang sama kamu, lan”
    Ku kecup keningnya, dibalas dengan memeluk ku. Lampu hijau pikirku. Aku mulai mengangkat kepalanya dan mencium bibirnya. Kami pun mulai berpagutan. Tanganku mulai bergerilya keseluruh tubuhnya, sasaran utama adalah kedua susunya. Sambil berciuman, aku mulai melepas kancing seragamnya satu persatu, kulepaskan seragamnya. Masih sambil berpagutan bibir kutarik singletnya sampai bh nya. Kini dia sudah topless didepanku. Kurebahkan dia di sofa, ku ciumi lehernya, kuhisap putingnya bergantian
    “ssshhhhh, enak pak….ssshhhh” erangnya
    Aku tidak menjawab tetapi meneruskan kegiatanku. Ketika aku hendak membuka resleting rok nya dia lalu mendorongku.
    “Pintunya belum dikunci pak” katanya.
    Aku tersadar, segera aku bangkit dan mengunci pintu dari dalam dan menutup semua kaca jendela dan kordennya. Aku langsung membuka celana dan kemejaku,hingga tinggal memakai kaus dalam dan cd saja. Ku tindih lagi dia, kali ini dia mulai agresif, tangannya langsung masuk kedalam cd dan meraih kontolku. Aku mulai membuka resleting rok nya dan menurunkannya. Beruntung dia hanya memakai cd dibawah rok nya. Ku buka kedua pahanya, dan kepala ku turun persis didepan vaginanya, aku menjilati vaginanya dari luar cd nya
    “pppaaaaakkkkk…..aaahhhhhhhhh…….sssshshhhhhh”
    Lama aku mempermainkan vaginanya dengan lidah dan tanganku
    Celana dalamnya sudah sangat basah oleh air liurku dan lendir dari kemaluannya. Kutarik celana dalamnya sehingga terpampang lah vaginanya yang masih mulus dan hanya ditumbuhi sedikit rambut di bagian atasnya. Kujilati vaginanya
    “sssshhhh..aaahhh..ppaaaakkkk…eenak banget” erangnya
    Dari aroma vaginanya terlihat dia begitu merawat bagian yang satu ini, karena selain bersih ada aroma wangi khas, bukan aroma pesing.
    Setelah puas menjilati vaginanya, aku kembali menghisap putting susunya bergantian sambil tanganku bermain di vaginanya. Tangannya kembali meraih kontolku dan mengocoknya.
    Kucoba memasukkan kelingkingku kedalam vaginanya, tetapi sangat susah karena sempit
    “aduh pak, sakit…jangan..” katanya sambil mendorong tanganku yang berada di vaginanya
    Aku menggantinya dengan gerakan mengelus elus kembali vaginanya yang sudah sangat basah,
    Aku bangkit, kutarik dia berdiri. Sekarang aku yang rebahan di sofa. Ganti dia sekarang yang memberi servis, dia mulai memasukkan kontolku ke mulutnya sambil kedua tangannya mengocok kontolku.
    “aaaahhhhhhh…….terus sayang” erangku
    Kuakui Wulan makin pintar mengoralku, dia semakin agresif dalam menghisap dan memainkan kepalanya. Kontolku makin tegang dan berdenyut denyut. Aku meremas remas susunya
    Dia terus menghisap dan mempermainkan kontolku. Aku tidak tahan lagi, kutarik dia dan kurebahkan disofa. Kubuka kedua kakinya dan kontolku kuarahkan ke vaginanya. Kucoba menekan kepala kontolku ke lubang vaginanya yang masih sangat kecil dan belum pernah ditembus oleh apapun. Sangat susah, walaupun kubantu dengan lebih dulu menggesek gesekkan kontolku ke vaginanya supaya kepalanya licin. Tetap saja tidak bisa tembus, ntah karena ukuran kontolku rupanya masih terlalu besar untuk lubang vagina seumuran wulan. Aku hanya bisa menggesek gesekkan kontolku maju mundur di vagina wulan
    “aaaaaaaahhhhh…uuuhhhhhhh…enak banget pak, terus pak” erangnya menahan nikmat
    Akupun semakin cepat melakukan gerakan ku
    Gerakanku diimbangi wulan dengan menghisap kedua putingku bergantian, tak s***** berapa lama, aku sudah sampai di puncak kenikmatan.
    Kutarik tangannya, kusuruh di mengocok kontolku sampai aku orgasme. Spermaku muncrat membasahi muka dan badannya. Setelah puas memuntahkan sperma kukecup bibirnya “enak kan sayang?’ tanyaku
    Dia hanya tersenyum lalu aku bangkit dan mengambil tisu di kamar kepala sekolah kemudian aku membersihkan badannya. Kami pun istirahat sejenak…..masih tanpa mengenakan baju. Dia tiduran di dipelukanku.
    “kamu pintar sekali beginian, sudah berapa kali?” tanyaku curiga
    “baru ini sama yang di lab kemarin” jawabnya
    “masa sih? Kok kayak nya kamu mahir sekali” tanyaku semakin tidak percaya
    “kan belajar dari film” jawabnya enteng
    “kamu sering nonton bokep?”
    “ngga sering juga, tapi pernah lah berapa kali”
    “dimana?”
    “di rumah pas lagi sepi”
    “trus kasetnya dari mana?” tanyaku heran
    “pertama nonton sih, kasetnya nemu di kolong tempat tidur abang, waktu aku lagi beres-beres”
    “trus?” tanyaku penasaran
    “kadang minjam teman”
    “teman dimana?”
    “teman disini lah”
    Aku kaget, ternyata ada juga muridku yang sudah nonton film beginian, perlu dikorek nih sapa tau bisa dijadikan pelampiasan nafsu pikirku
    “boleh tau namanya?”
    “jangan lah pak, nanti kalo dia tau aku yang ngasih tau bapak, dia pasti marah” elaknya
    “aku kan Cuma mau tau, bukan nya mau marahin dia” bujukku
    “tapi jangan kasih tau ya pak?” pintanya
    “tenang aja bos” sahutku
    Dia pun menyebutkan beberapa 7 orang temannya yang semuanya perempuan, yang membuat aku kaget dari ketujuh orang tersebut 3 diantaranya adalah termasuk siswi alim dan pendiam. Yang 4 lainnya memang tergolong semrawut dalam segala hal, baik dalam pelajaran, tata krama sampai berpakaian, semua tidak teratur. Aku senang juga mendengarnya, karena dua dari mereka adalah siswi yang aku juga suka, yaitu mira dan yuni. Mira satu kelas sama wulan, anaknya hitam manis, susunya lebih besar dari wulan, wajahnya mirip sekali sama mika tan, artis bokep dari seberang, bedanya mira lebih hitam saja. Mira ini sering sekali memakai rok diatas lutut, dan jarang memakai singlet hanya mengenakan bh dibalik seragamnya. Sedangkan yuni, anak kelas 2 dan sangat cantik, hidungnya mancung, susunya sama dengan wulan.
    Wulan pun kembali mengelus elus kontolku, rupanya dia sudah mulai nafsu lagi. Aku belum bereaksi, mau lihat seberapa besar keinginannya untuk mengulang pertempuran kami tadi, atau hanya memang penasaran saja dengan kontolku yang memang sudah berdiri terus karena selama cerita aku tak pernah melewatkan setiap inci tubuh wulan dari remasan tanganku.
    Akhirnya aku juga yang tidak tahan dengan elusan tangannya di kontolku, kudorong dia dari pelukanku, kembali kubenamkan wajahku di vaginanya, kujilati dan kuhisap clitorisnya,
    “aaaaaahhhhhhhhhhh….adduuhhhh,…..sssshhhhh….uuhhhh h… enak sekali pak” erangnya dan suaranya mulai keras. Khawatir ada yang mendengar suara wulan kusumpal mulutnya dengan kontolku. Dia pun mulai menghisap dan menjilati serta mengocok kontolku dengan tangannya. Kami pun ber 69 di sofa ruang tamu kepala sekolah. Aku dibawah dan wulan diatas, kusibak vagina wulan dan kutusuk pake lidahku, hal ini ternyata membuat dia benar – benar nikmat, terbukti dari beberapa kali kontolku dia gigit menahan nikmat yang aku berikan.
    “ssshhhhhh…pak, enak pak,….aaahhhhh..terus pak”
    Aku makin semangat menjilati vaginanya, s*****kangan nya pun tak luput dari sapuan lidahku. Tubuhnya tiba-tiba kejang “pak , aku mau pipisssssssssshhhhh…”erangnya
    “pipis aja sayang” jawabku
    Wulan sampai pada orgasmenya yang ketiga setelah pertempuran pertama tadi. Terasa banyak cairan berlendir di mulutku, kuhisap dan kujilati semua lendirnya sampai bersih. Wulan pun tidak berhenti menghisap kontolku.
    “pak…kayak tadi dong yang digesek-gesek tadi, enak juga” pintanya
    Aku pun mengubah posisi kami, kali ini aku diatas dan wulan kurebahkan lagi di sofa.
    Ku gesek kan kontolku ke vagina nya berkali kali, maju mundur sambil terus menghisap dan menjilati putingnya. Wulan terus mendekap badanku sambil sesekali mencari bibirku untuk dipagut. Sepuluh menit aku menggesek-gesek kontolku wulan kembali mencapai orgasmenya.
    “pak.,….mau pipissshhh laagiiiiiii…sssshhhhhh” bisiknya ditelingaku
    Aku makin cepat menggesekkan kontolku ke vaginanya
    “pak..udah ngga tahan,,,,,”
    Buru – buru aku turun dari badannya dan menarik badannya ke karpet lantai, aku kembali memosisikan 69, kali ini aku yang diatas. Dengan sigap wulan langsung memasukkan kontolku kemulutnya dan mengocoknya dengan menggerakkan kepalanya naik turun. Gerakan ini membuat aku langsung tinggi, kutusuk-tusuk vaginanya menggunakan lidahku,
    “aaahhhhh…pak…aduh….enak pak”
    “sssssshhhhhhhhhhhhh……………………aahhhhhhhhhhhhhh”
    Dia terus meracau sambil terus mengisap isap kontolku, aku tak tahan juga dengan isapannya…
    “lan, aku mau keluar juga nih”
    “bentar lagi pak, aku juga…”
    Dia melepaskan kontolku dari mulutnya dan hanya mengocok pake tangan, sedangkan aku terus liar menjilati vaginanya…
    “pak aku keluar…..isshh…aahhhhhhh”
    Wulan mencapai orgasmenya lagi, kumasukkan lagi kontolku kemulut wulan, kali ini spermaku sudah diujung kepala kontolku, wulan tak tahu aku mau orgasme, dia menghisap dan menggerakkan kepala turun naik lagi, hingga tiba-tiba
    Crooot….crooot…croooottt…spermaku keluar dimulutnya,.
    Wulan pun sponton mengeluarkan kontolku dari mulutnya dan memalingkan mukanya ke samping menjauhi kontolku, sehingga spermaku muncrat kemana-mana, dimuka, rambut bahkan sampai karpet.
    “kenapa bapak ngga bilang-bilang” protesnya
    “hehehehe…maaf sayang, habis da ga tahan lagi” kataku
    Wulan bangkit berdiri, kali ini dia yang membersihkan badan kami berdua. Setelah kami berpakaian kembali, kami istirahat sejenak diluar kantor kepala sekolah. Aku masih belum tega untuk menjebol vaginanya, selain karena besok dia harus lomba, takut itu jadi menggangu pikirannya, juga dia kan masih kelas 1 smp. Kasihan pikirku.
    Kami pun keluar dari ruangan kepala sekolah, Kali ini kami duduk di kursi semen dekat pagar sekolah. Aku pun pamit sebentar memberikan kunci ke rumah penjaga sekolah. Kembali ke sekolah, kulihat wulan dari tadi mematung, bahkan posisinya waktu ku tinggal sampai aku kembali masih sama.
    “kamu kenapa lan?” tanyaku heran
    “kamu menyesal?” tanyaku lagi melihat dia tetap diam saja
    “kalo aku hamil gimana pak?” tanyanya tiba-tiba
    Aku heran, kok tiba-tiba nanya nya ke hamil sih pikirku
    “kok kamu nanya gitu?” tanyaku
    “habis tadi sperma bapak tertelan” katanya polos
    Aku pun tertawa terbahak-bahak, aduh kirain dah paham yang beginian, pikirku ternyata masih polos juga
    Aku pun menjelaskan soal penyebab terjadinya kehamilan sampai pencegahannya, dengan harapan kalo aku ngasih tau cara nyegahnya dia akan mau suatu hari aku jebol keperawanannya.
    Memang aku juga yang jebol perawan nya, tapi akan kuceritakan di kesempatan berikutnya, juga kisahku dengan mira dan yuni.
    Sekian.




  2. The Following 15 Users Say Thank You to gurca_18 For This Useful Post:


  3. #2
    Virgin hanszzz92's Avatar

    Join Date: Sep 2009

    Posts: 34

    Thanks: 0

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    aish... enaknya... ane jadi guru apa aja jg yah???

  4. #3
    Tukang Ngocok gebleh67's Avatar

    Join Date: Apr 2011

    Posts: 277

    Thanks: 373

    Thanked 4 Times in 1 Post

    Default

    Betul gan, jadi guru emang enak koq.
    Cewek bening emang Cantik

  5. #4
    Tukang Ngintip cyberkay's Avatar

    Join Date: Aug 2008

    Posts: 52

    Thanks: 38

    Thanked 21 Times in 8 Posts

    Default

    enak juga yach punya pelampiasan kek wulan...

  6. #5
    Tukang Ngocok Kangban's Avatar

    Join Date: Jun 2010

    Location: Jakarta,Indonesia

    Posts: 189

    Thanks: 1,167

    Thanked 2 Times in 2 Posts

    Default


  7. #6
    Virgin dhajal's Avatar

    Join Date: Jun 2011

    Posts: 2

    Thanks: 0

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    enak kali ya jdi guru napsu

  8. #7
    Tukang Ngintip traxex's Avatar

    Join Date: Jan 2011

    Posts: 145

    Thanks: 35

    Thanked 150 Times in 15 Posts

    Default

    weh guru bejat, ane juga pingin jadi guru bejat ah, tapi gru sma aja gan

  9. #8
    Tukang Ngocok cicily's Avatar

    Join Date: Apr 2011

    Posts: 204

    Thanks: 192

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    mantaps,,,,,,,,,,

  10. #9
    Tukang Ngintip SlimShaggy's Avatar

    Join Date: Oct 2010

    Posts: 137

    Thanks: 212

    Thanked 81 Times in 10 Posts

    Default

    Guru Ngeseks.......... wakakaka

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •