pokerlounge
Maxbet  Kaskus303
Indobokepz - Indonesian Movie and Picture Community
royalwin

 

Sundulbet

 

RumahTaruhan88 Saranapoker idr77



ZonaJudi



Bola54
Alpha4D bola24
pokerace99 togelplus
AonCash AonCash
MacauOnlineBet tglplus
pokerclub BandarJakarta
Royal188 Fairbet88
Royal188 raja303

 

Results 1 to 5 of 5
  1. #1
    Party Animal Ar81fe's Avatar

    Join Date: Sep 2010

    Location: External HDD - Indonesia

    Posts: 861

    Thanks: 803

    Thanked 1,347 Times in 147 Posts

    Default MiaQ: Kontrakan Birahi 1

    “Dek, ayo buruan… sebelum aku kesiangan…” kata mas Andri, suamiku.

    Dia berdiri di samping meja makan yang telah bersih dari peralatan makan, sambil mengurut perlahan batang penisnya.

    “Iya… aku datang…dasar tikus hutan ….” Candaku sambil tertawa.

    Aku letakkan piring dan gelas kotor di dapur, lalu aku kembali kearah ruang makan. Aku lepas cd yang membungkus vaginaku dan aku lempar ke atas tumpukan cucian kotorku. Cd itu adalah cd terakhirku, karena semua cd yang aku miliki belum sempat aku cuci. Sekarang, satu-satunya baju yang masih menempel di tubuhku adalah daster batik berbelahan dada rendah yang menggantung sepanjang separuh pahaku. Adalah suatu rutinitas, hampir setiap pagi aku harus melayani nafsu suamiku yang menggebu-gebu. Nafsu seks yang seolah-olah tak pernah ada habis-habisnya. Sepertinya, yang ada diotaknya ketika ada aku, hanyalah tentang seks…ngentot…make love…ngewe. Hanya itu saja. Aku, sebagai istrinya hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkat yang aku anggap lucu ini. Aku mendekat, sambil menurunkan tali pundak daster miniku. Daster itu meluncur turun dengan cepat, dan langsung menampakkan kepolosan tubuh putihku. Putingku telah ereksi, dan vaginaku juga mulai basah. Dikecupnya kening, pipi, hidung, leher dan bibirku. Karena aku mudah sekali terbakar nafsu birahi, tak perlu menunggu terlalu lama untuk pemanasan. Langsung saja lidah kami bergulat. Tangan kiri mas Andri mulai memelintir dan meremas putting payudaraku, dan tangan kanannya merogoh vaginaku dari depan. Aku pun tak mau tinggal diam, aku raih batang penisnya yang sudah menegang dengan kedua tanganku dan aku kocok penis mas Andri, naik turun dengan cepat.

    “Memek kamu cepet sekali basah dek… Kamu dah sange ya sayang?” tanyanya sambil tersenyum.

    “Ya iyalah…. Siapa coba yang ga sange klo jari mas mengobok-obok memek adek kayak gitu..” Mas Andri tersenyum, ia menatap wajahku yang sudah mulai memerah sayu.

    Mas Andri mendadak menghentikan gulat lidahnya, dan mengarahkan mulutnya ke payudaraku. HAP. Dia langsung mencaplok dada kananku. Disedotnya kuat-kuat, lidahnya menari lincah diatas putingku. Geli. Tak lama, mulutnya pun pindah ke payudaraku yang kiri. HOP. “Annnnggg…” kali ini giginya ikut bermain, dengan menggigit perlahan puttingku yang mulai mengeras.

    “Owhh… sssshh” Aku hanya bisa mendesis menerima semua perlakuannya.

    “Mas, sekarang ya….” Bisikku lirih. “Aku sudah tak tahan”. Mas Andri mengangguk-anggukkan kepalanya.

    Tubuh telanjangku dibalik menghadap ke arah meja makan dan ia mendekap tubuh mungilku dari belakang. Walau sudah berubah posisi, kedua tangannya masih saja menggerayangi tubuhku. Tangan kiri meremas perlahan payudaraku, dan tangan kanan mencolokkan beberapa jemari gemuknya ke dalam vaginaku. Aku merasakan penisnya berada tepat di belahan bokongku, digesek-gesekkannya penis itu dengan penuh perasaan.

    “Mas.. ayo…. Dimasukkin … Adek udah nggak kuat lagi….” rengekku memelas.

    Mengerti akan hasratku yang tak bisa aku tahan lagi, mas Andri lalu mendorong pundakku ke depan dan bertumpu pada meja makan.

    “Lebarin kakimu dikit dek…. Nah gitu”

    Aku terperanjat ketika merasakan, tangan kanan suamiku mencoblos perlahan vaginaku dari arah pantat. “Pemanasan…” katanya menenangkanku. Disodok-sodokkan jemari gemuknya beberapa kali di vaginaku. Cairanku membanjir. Dengan perlahan, mas Andri mulai mengarahkan kepala penisnya kearah vaginaku. Digesek-gesekkan batang penis itu diluar bibir kemaluanku. Ia berusaha melumasi seluruh batang penisnya dengan cairan vaginaku. Mas Andri mengambil ancang-ancang. Kurasakan kepala penisnya di antara bulatan bokongku. Perlahan ia mulai mendorong batang penisnya dan mulai menyeruak masuk. Benda itu begitu hangat, kenyal namun keras. Sambil tetap meremas-remas kedua dadaku dengan satu tangan, mas Andri mendorong sedikit demi sedikit kepala penisnya.

    “CLEP” kepala penisnya telah masuk.

    “Uhh…” aku mendesah sambil memejamkan mataku rapat-rapat. Walau aku sudah terbiasa dengan ukuran penis mas Andri, namun tetap saja, ada sedikit rasa nyeri yang timbul.

    Mas Andri menggeser-geser posisi tubuhku, mencoba membuatnya menjadi lebih mantap ketika kami bersetubuh. Perlahan, batang penisnya mulai ia dorong masuk ke vaginaku. Aku merasakan denyut-denyut pelan yang membuat organ kewanitaanku semakin membanjir basah. Sedikit demi sedikit, sampai batang sepanjang 16 cm itu benar-benar hilang ditelan organ kewanitaanku.

    “Mmm…mas….” Suaraku gemetar menahan nafsuku.

    “Kenapa dek…? Enak…?” mas Andri mengecup punggungku ketika melihat aku mengangguk-anggukkan kepalaku.

    Saking nafsunya, cairan vaginaku menjadi tak terbendung, karena aku merasakannya mulai turun, mengalir ke arah pahaku.

    “CLEP… CLEP… CLEP… “ mas Andri mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, mengaduk dan menusukkan batang penisnya dalam-dalam, semakin lama semakin cepat.

    “PLAK… PLAK… PLAK…” Suara tubuh kami ketika saling bertabrakan.

    “SREEK…SREEK…SREEK…” Meja makan yang aku buat sebagai tumpuan tubuhku juga perlahan mulai bergerak, tiap kali pinggul mas Andri menabrak pantatku. Kaki mejanya berderit-derit, tergeser oleh gerakan liar kami berdua. “DUG… DUG… DUG…” Suara bibir meja ketika menabrak tembok dan desahan suara kami memenuhi ruang makan yang sempit ini.

    “Enak dek…?” tanyanya dari arah punggungku sambil terus meremas payudaraku.

    Saking enaknya, aku hanya bisa menggigit bibir bawahku, tersenyum mendesis sambil mengangguk-anggukan kepalaku. Mulut mas Andri tak henti-hentinya mengucapkan kata “Aku sayang kamu dek” tiap kali ia memompa penisnya diliang vaginaku. Terkadang ia mengecup dan menjilat punggungku. Aku hanya bisa menundukkan kepala sambil melenguh keenakan, merasakan tusukan-tusukan tajam penis mas Andri.

    “Pagi hari yang berisik… “ pikirku tiap kali kami bersetubuh.

    Karena memang benar, kami adalah pasangan yang tidak bisa diam, selalu bercinta tiap kali ada kesempatan. Tak peduli akan waktu, tempat ataupun situasi. Oleh karenanya aku panggil suamiku tikus hutan, karena nafsunya mirip dengan aktivitas makhluk kecil itu, hanya bercinta dengan pasangannya sampai dia mati. Gelombang kenikmatan itupun perlahan datang. Jantungku bercetak semakin cepat, nafasku memberat, siap menyambut orgasme pertamaku di pagi hari ini.

    “Shhhh… Aku mau keluar mas…ayo… tusuk memek adek lebih dalam…” kataku menyemangatinya.

    Tanpa menunggu perintahku untuk yang kedua kalinya, mas Andri semakin mempercepat sodokannya. Tubuhku terhentak-hentak dengan keras, tiap kali menerima sodokan penis mas Andri. Penisnya terasa begitu cepat, keluar masuk dengan ritme yang semakin cepat. Meja makan tempat aku menyandarkan tubuhku pun sepertinya ikut merasakan dorongan brutal mas Andri, berderit dengan keras dan menabrak tembok seiring desahan kenikmatan kami berdua.

    “Shhh…ayo mas… aku sudah dekat.. aku mau keluar …. Ssshhhh…” erangku kepada suamiku. Dengan tangan kiri yang masih menopang badanku, aku pegang pantatnya dengan tangan kanan. Aku gerak-gerakan pantat semok itu kearahku, berharap mas Andri semakin mempercepat goyangannya.

    “Mas…ayo…. sodok aku dengan keras… tusuk aku dengan tititmu… aku mau keluar mas…”

    Di tengah-tengah pendakian kami ke puncak gunung kenikmatan. Tiba-tiba mas Andri menghentikan sodokannya. Dia terdiam, menusukkan penisnya dalam-dalam ke arah vaginaku, dan….

    “Aaahhhhhhkkkkk……… ahhhh… ahhhh… “ mas Andri berteriak lirih. Gumpalan cairan hangat langsung memenuhi rongga rahimku. Tak begitu banyak, namun cukup membuat liang rahimku agak sedikit penuh. Mas Andri mendorong tubuh gemuknya ke arahku dengan brutal tiap kali penisnya memuntahkan lahar panasnya. Sampai aku merasa sakit pada bagian paha depanku yang terkena bibir meja.

    Enam kali sodokan keras aku terima pada vaginaku ketika suamiku ejakulasi, sebelum akhirnya ia merubuhkan tubuhnya ke arahku. Berat sekali. Nafasnya tersengal-sengal.

    “Aku sayang kamu dek…” ucapnya sambil mengecup bagian belakang leherku.

    “Iya.. Aku juga sayang kamu mas” jawabku lirih.

    Sebenarnya ada rasa kesal karena aku masih belum mendapatkan orgasmeku. Sekali lagi, mas Andri gagal memberiku kenikmatan yang telah lama aku inginkan. Tidak sampai 5 menit dia sudah terpuaskan, mas Andri selalu saja begitu, terlalu cepat ejakulasi.

    “Mas… aku masih pingin… ayo ngewe lagi… ayo mas…” kataku.

    “Aduh… mas dah terlambat dek… ntar malem ya kita sambung lagi…” elaknya.

    Selalu saja, kata-kata itu yang menjadi alesan. Mas Andri memeluk tubuh telanjangku sambil tersenyum penuh kepuasan. Sebagai istri yang harus selalu patuh, aku harus menyembunyikan rasa ketidakpuasanku. Aku harus bisa ikut tersenyum melihat kepuasan yang terpancar dari wajahnya, dan membiarkan kehausan nafsuku hilang dengan sendirinya. “PLOP” Aku masih merasakan kedutan pelan di dinding vaginaku ketika batang penis mas Andri yang telah lemas, jatuh keluar dengan sendirinya. Sekarang penis itu menggelatung tak berdaya di luar bibir vaginaku. Meneteskan lendir kenikmatan kami berdua di belakang paha dan betisku.

    “Dek, aku berangkat dulu, khawatir ketinggalan angkutan… dah siang nie” kata mas Andri sambil mengangkat badan lebarnya dari punggungku.

    Dia menepuk pantat semokku dan balikkan badanku yang masih tengkurap diatas meja makan. Aku sekarang dalam posisi telentang, menatap langit-langit rumah kontrakanku. Dengan kaki yang menjuntai di tepi meja makan. Mas Andri tiba-tiba mencium vaginaku dan menyeruput cairan yang keluar dari vaginaku.

    “Hayo… kamu lupa ya dek?” tanyanya sambil tertawa.

    “Hahaha.. geli mas… geli…iya iya…adek inget….” Jawabku berusaha menjauhkan mulutnya dari s*****kanganku.

    Memang sudah menjadi kebiasaan, jika setelah kami bersetubuh, aku selalu membersihkan seluruh batang penisnya dengan mulutku.

    Aku segera bangun, turun dari meja makan dan langsung berjongkok di depan s*****kangan suamiku. Aku raih batang penisnya yang menggelantung lemas itu, dan aku jilat perlahan. Kuhirup dalam-dalam aroma kewanitaanku yang bercampur dengan spermanya. Sejak pertama kali kami bersetubuh, aku memang suka sekali meminum sperma, teksturnya mirip dawet, minuman khas dari pulau jawa yang terbuat dari campuran gula merah dan santan kelapa, terlebih lagi aromanya, mirip aroma daun pandan. Kubuka mulutku lebar-lebar, lalu aku masukkan seluruh batang penisnya. Aku kecap, hisap dan urut batang penis lemasnya dengan mulutku. Berharap penis itu bisa tegang kembali. Namun setelah beberapa menit aku oral, sama saja, penis itu tetap menggelayut lemas.

    “Nah…..Dah bersih mas…” kataku. “Dah… sana berangkat kerja…”

    Mas Andri menyuruhku berdiri, dan sekali lagi, ia kecup keningku. “Kamu yakin? Nggak mau menunggu besok Minggu buat mengerjakan semua pekerjaan rumah ini…? Kamu mau mengerjakannya semua ini sendirian? Jangan terlalu capek ya istriku sayang” tanyanya begitu mengkhawatirkanku.

    “Iye baweeeeel… aku yakin… dah ah… jangan menganggap aku cewek manja seperti dulu… aku dah berubah… sana buruan berangkat” kataku pada suamiku tercinta.

    Dengan tubuh telanjang bulat dan vagina yang masih meneteskan cairan kenikmatan kami berdua, lalu aku antar mas Andri ke pintu depan sambil bergelayutan manja dipundaknya.

    “Dah ah… sana buruan pakai dasternya… ntar ada orang yang ngliat loh…” kata suamiku.

    “Ah.. kagak ada yang bakalan ngeliat mas… khan rumah kita paling tertutup…”

    “Berani yaaaa……. “ Kata mas Andri sambil mencubit pantatku..

    “He he he… Iyeeeee….”

    Diciumnya kening dan bibirku tuk terakhir kali, dan tak lupa salam berangkat kerja andalannya. Meremas kedua belah dadaku, memelukku dari depan dan menepuk keras-keras kedua bongkahan pantat semokku.

    “Salam sayang buat mimi imutku… jaga baik-baik ya dek” katanya sambil tersenyum manja.

    “Jaga juga dedenya… jangan diapa-apain sampai ntar malam kamu pulang ya mas” sambungku.

    Mimi dan Dede adalah panggilan sayang kepada alat kelamin kami masing-masing. Mas Andri melambaikan tangan, dan m*****kah menjauh meninggalkan aku sendirian di rumah kontrakan baruku ini.

    Mas Andri, suamiku, berumur 32 tahun, berpostur agak gemuk, 170cm/90kg, dan berkulit putih mirip denganku. Dia baru saja diangkat jabatan menjadi seorang pengawas lapangan disebuah Perusahaan Pengeboran Minyak Internasional. Mas Andri adalah seseorang yang bijaksana dalam pengambilan keputusan, pandai dan penuh dengan perhitungan.

    “Bukannya pelit dek… tapi khan lumayan… kita bisa menghemat uang jutaan rupiah perbulan loh kalo tinggal di rumah ini… daripada aku harus menyewa rumah mewah dekat kantor… toh beda jaraknya cuma 1 jam…” itulah kalimat yang selalu di ulang-ulang ketika aku sedikit ngambek karena keputusannya mengambil rumah yang “jauh dari peradaban ini”.

    Rumah kontrakanku adalah rumah petak, yang terbagi menjadi beberapa bagian, teras, ruang tamu, ruang tidur, dapur, kamar mandi dan halaman belakang untuk cuci dan jemur. Aku dan suamiku kebagian rumah paling ujung. Rumah yang paling jauh dari pintu masuk komplek kontrakan, namun memiliki ukuran paling besar diantara rumah kontrakan yang lain.

    “Hari yang cerah untuk memulai aktifitas” kataku dalam hati.

    Aku ambil daster kecilku yang teronggok di kaki meja makan lalu aku mulai mengenakannya lagi melalui atas kepalaku. Malas sekali rasanya ketika aku mulai mengenakan dasterku. Sepertinya sangat nyaman jika bisa hidup seperti kaum nudis yang tak perlu repot-repot menggunakan selembar bajupun ketika beraktifitas. Kubawa piring dan gelas kotor ke dapur, aku letakkan di dalam bak pencucian. Aku pandang tumpukan cucian kotor yang sudah lama teronggok dan mulai mengeluarkan bau tak sedap di sudut kamar mandi.

    “Sabtu ini akan menjadi hari yang melelahkan. Ayo Liani, kamu pasti sanggup menjalani ini semua” aku menyemangati diriku sendiri dan mulai mengerjakan pekerjaan rumahku itu.

    Aku harus bisa menjadi istri yang bisa diandalkan oleh suamiku. Menyapu, mengepel dan mencuci piring bisa aku lakukan dengan cepat. Namun ketika aku akan memulai mencuci tumpukan baju kotor, langsung terbayang betapa lelahnya tubuhku nanti malam. Ternyata menyeret bak cucian basah itu begitu susah, berat, dan licin. Perlu tenaga ekstra untuk bisa memindahkannya ke dari kamar mandi ke halaman belakang.

    “Lagi mau nyuci mbak?” Tiba-tiba aku dikagetkan oleh suara seorang pria. Celingukan aku mencari asal suara itu.

    “Banyak juga cuciannya mbak… dah berapa minggu tuh baju-baju nggak dicuci?” tambahnya lagi.

    Ternyata suara itu berasal dari penghuni rumah kontrakan di samping tempat aku tinggal. Mas Manto, begitu tetanggaku biasa memanggilnya, adalah seorang satpam yang bekerja di perumahan dekat komplek kontrakan tempat aku tinggal. Selama aku tinggal disini, baru pertama kali ini aku melihat seperti apa bentuk suami mbak Narti sebenarnya. Mas Manto berumur sekitar 40 tahunan. Posturnya mirip dengan suamiku namun agak kurus 170cm/60kg dengan kumis tipis yang dipotong rapi diatas bibir tebalnya. Kulitnya coklat kehitaman dengan rambut kriting pendek. Sedangkan istrinya, Mbak narti, berusia 35 tahunan, berperawakan gemuk dengan payudara yang meluap-luap, khas badan ibu-ibu, adalah seorang pelayan toko yang juga bekerja pasar dekat komplek rumah kontrakan kami.

    “Iya…” jawabku sekenanya. “Dah hampir 2 minggu nie belum diapa-apain….” tambahku lagi.

    Sebenarnya aku sudah mengenal siapa mas Manto, karena hampir setiap hari aku melihatnya berangkat kerja, tapi selama aku dan suamiku tinggal di rumah kontrakan ini, belum pernah sekalipun aku bercakap-cakap. Hanya kenal sebatas sapa dan cerita saja.

    “Saya Manto mbak…suami si Narti..” katanya lagi sambil menjulurkan tangan.

    “Mmm… Nama saya Liani… “ jawabku sambil menyalami tangannya.

    Langsung saja tubuhku merinding begitu menyentuh tangan mas Manto. Tangan itu begitu dingin, hitam, dan keriput, sangat kontras dengan tanganku, putih, mulus. Entah kenapa, begitu aku melihat wajah dan postur tubuhnya, aku langsung terbayang akan cerita-cerita pemerkosaan sadis yang menimpa kepada para perantau di tanah orang. Apalagi saat itu aku hanya mengenakan daster pendek tanpa baju dalam sama sekali. Memamerkan kaki panjang dan belahan dadaku.

    “Mas Andri kerja mbak?” tanyanya lagi, membuyarkan lamunanku.

    “I… Iya… baru saja berangkat”

    “Oooowwwh….. saya permisi ya mbak… gerah habis mencuci…mau mandi dulu” jawabnya sambil tersenyum.

    “Iya….silakan” kataku sambil melihat deretan cucian mas Manto yang masih meneteskan air sabun.

    “Sopan juga dia…” ternyata aku salah pikir terhadap mas Manto.

    Walau hanya dari perkenalan singkat tadi, aku merasa kalau mas Manto tak seperti orang-orang kebanyakan. Sopan, tak seperti orang yang berpandangan jahil terhadap wanita berbusana seksi sepertiku barusan. Aku berpostur badan sedang dan terbilang langsing, 165cm/45kg, berkulit putih dengan ukuran buah dada yang cukup besar. Yang membedakan aku dengan wanita lain adalah pinggangku sangat kecil dan kakiku agak lebih panjang dari kebanyakan teman-temanku. Mata bulat lebar, bibir merah dan rambut panjang hitamkulah yang selalu aku banggakan. Sebenarnya aku kurang begitu suka dengan baju seksi, tapi aku lebih memilih baju yang berukuran kecil, karena merasa nyaman aja ketika digunakan untuk beraktifitas.

    “PRAK….” Bak cucianku pecah, ketika aku mencoba menggesernya kehalaman belakang.

    Pecah karena tak kuat menahan beban rendaman baju kotor kami. Air cucian kotorpun langsung keluar dari sela-sela bak cuci pecahku, menggenang, disertai bau apek yang cukup menyengat.

    “Sialan… belum juga mencuci…” emosiku langsung meninggi…” sabar Liani… sabar…”

    Aku diam sejenak, memikirkan apa yang harus aku lakukan.

    “Daripada beli, mungkin lebih baik aku pinjam saja sebentar.” Pikirku

    “Mas Manto..” Walau pintu halaman belakang rumahnya terbuka begitu saja, tapi aku berusaha tuk sopan. Aku ketuk pintu rumahnya beberapa kali.


    Mas Manto

    Tak ada jawaban.

    “Mas Manto..” aku panggil namanya lagi dengan suara lebih lantang.

    “Iya sebentar…” jawabnya dari dalam rumah. “maaf tadi saya masih mandi… ada apa ya mbak??” tanyanya sambil mengikatkan handuk kecil berwarna hijau yang sudah lusuh dan sedikit berlubang di pinggangnya yang ramping. Badannya basah kuyup, dengan rambut yang juga masih meneteskan air..

    “Ada apa ya mbak? Kok kayaknya kebingungan gitu?” tanyanya.

    Aku tak menjawab, aku masih terkesima melihat postur tubuhnya, badannya begitu hitam, kekar, dengan bongkahan dada dan lengan yang menonjol disana-sini.

    “Mbak?” tanyanya lagi. “Ada yang bisa saya bantu?”

    “Eeh…maaf…anu….. bak cuci aku pecah” kataku terbata-bata. “Apa boleh aku pinjem bak cucinya? Ntar begitu sel………..”

    “Boleh-boleh… bentar ya saya ambilin dulu” potongnya sebelum aku menyelesaikan kalimat.

    Mas Manto buru-buru masuk, dan mengambil bak mandi yang tergeletak di sudut lantai kamar mandinya. Ketika dia membalikkan badan, kembali aku terkesima melihat otot-otot kekar badannya. Punggungnya lebar dan pantat yang hanya ditutupi handuk merah lusuh itu begitu semok. Aku sedikit tertawa ketika melihat kaki mas Manto. Pahanya besar tapi betisnya kecil. Mirip badan tokoh film kartun yang memang hanya badan bagian atasnya saja yang besar, namun bagian bawahnya kecil. Dan dari disinilah cerita itu dimulai. Ketika dia membungkuk tuk mengambil bak cuci miliknya, bagian belakang handuk itu otomatis meninggi, mengikuti gerak badannya. Dan dari sela-sela paha belakang mas Manto, aku melihat barang yang tak seharusnya tak liat. Hitam, panjang menjuntai, dengan ujung besar berwarna merah kehitaman. DEG….Detak jantungku terasa berhenti sejenak. Langsung saja aku tinggalkan pintu rumahnya dan masuk kedalam rumahku. Aku tutup pintu dapur, dan langsung saja aku duduk terjatuh. Lututku lemas dan dadaku berdebar-debar mengingat hal yang baru saja aku lihat. Aku melihat barang yang seharusnya tidak boleh aku lihat, barang yang menjadi simbol kejantanan dan kebanggaan kaum pria. Ya, barang itu biasa disebut penis, titit, atau kontol. Walau sekilas, seumur-umur, baru saja aku melihat barang yang bukan milik suami aku sendiri. Walau sekilas, tapi aku bisa membayangkan bagaimana bentuk keseluruhan dari barang milik mas Manto itu. Hitam, besar, dengan urat-urat yang mengelilingi sekujur batangnya, berkepala merah kehitaman dengan mulut kemaluan yang lebar menganga, bau amis asam s*****kangan yang menusuk hidung dan rambut kemaluan yang lebat.

    “Mbak… loh… kemana orangnya….?” Suaranya terdengar pelan dari sebelah rumah.

    “Mbak…ini bak cucinya……” panggilnya dari samping rumahku. Mas Manto pun akhirnya mengantarkan bak cuci miliknya ke halaman rumahku. Karena melihat aku yang tak langsung keluar, mas Manto mendekat kearah pintu dapur, mengintip kedalam dari jendela dapur, dan mengetuknya perlahan.

    “Mbak Liani… ini bak cucinya…” panggilnya.

    Andai saja mas Manto agak menunduk dan melihat kebawah, mungkin saja ia bisa melihatku yang meringkuk di balik pintu dapur rumahku. Meringkuk menahan malu yang seharusnya tak aku rasakan. toh yang terlihat adalah bukan aurat tubuhku. Detak jantungku masih berdetak begitu kencangnya sampai aku sama sekali tak berani untuk bergerak. Susah rasanya aku berdiri dengan kedua kakiku. Lemas, tak bertenaga. Dengan gerak super pelan, aku mencoba berdiri, memasang telinga, untuk mendengarkan, mungkin saja ia masih ada di dekat jendela. Tenagaku perlahan pulih, setelah melihatnya berdiri tak jauh dari pintu dapur. Membelakangiku sambil berkacak pinggang. Dari balik korden tipis jendela dapur, aku amati gerak-geriknya. Dengan muka kebingungan, mas Manto hanya bisa celingukan ke arah rumah kontrakanku lalu mengamati banyaknya cucian kotor yang terhampar di depannya. Karena mungkin merasa iba, diapun membantu memindahkan cucian kotor yang ada di bak cuciku yang telah pecah, ke bak cuci miliknya. Sekali lagi, ketika mas Manto memindahkan baju-baju kotorku, aku pun kembali melihat barang hitam miliknya. Handuk kecilnya naik turun. Memperlihatkan barang yang ada dibaliknya setiap kali ia membungkukkan badan untuk memindahkan cucian kotorku. Ketika sedang dalam posisi membungkukkan badan tuk mengambil baju-bajuku, tiba-tiba mas Manto terdiam. Masih dalam posisi menungging. Lama sekali. Dan selama itu pula aku menatap tajam ke arah benda yang bergelatungan di balik handuk kecilnya. Bergoyang goyang seiring gerakan pantat mas Manto.

    “Apa yang dia lakukan” tanyaku dalam hati.

    Ternyata hal yang membuatnya terdiam adalah…. Tumpukan baju dalam kotor milikku. Iya, benar sekali, mas Manto mengamati baju dalam kotorku.

    Tiba-tiba mas Manto berdiri, membalikkan badannya dan melihat ke arah rumahku, matanya celingkuan mencari dimana aku gerangan. Dia berpindah posisi, memutari bak cucian kotorku, mengawasi segala gerakan dari dalam rumah. Matanya sangat tajam, mengamati setiap sudut rumahku dengan seksama. Namun aku yakin dia tak bisa mengetahui posisiku, karena terhalang oleh korden tipis jendela dapurku. Karena menurutnya aman, diapun membungkukkan badannya kembali dan dengan tangan kirinya, dia mengambil salah satu cd kotorku. Cd putih dengan pinggiran berenda. Dengan mata yang masih celingukan penuh rasa was-was, dia mengamati dalam-dalam cd kotorku itu. Diamati bercak lendir lengket berwarna putih yang menepel di bagian depan cdku. Dan dengan jemari tangan kanannya, disentuhlah bercak lendir itu, dikorek-korek. Lalu, apa yang sama sekali tak pernah aku bayangkan terjadi. Mas Manto, tanpa rasa jijik sedikitpun, menjilat jemari tangan bekas mengkorek cd kotorku. Karena kurang puas, dia menghirup, menjilat dan mengecapnya, seolah-olah itu adalah makanan paling enak sedunia. Gila. Dia lakukan itu semua dengan tanpa rasa jijik sedikitpun. Tiba tiba, perlahan namun pasti, ada sesuatu yang bergerak dari dalam handuk kecilnya. Penisnya mulai ereksi. Naik, sedikit demi sedikit, semakin menggembung, mengembung dan mengeras. Ereksi dengan diiringi kedutan denyut nadi yang ada di batang penisnya. Handuk kecilnya tersingkap, terdorong ke atas, oleh batang kejantanan seseorang yang sama sekali belum aku kenal dekat. Penis hitam yang sempurna, keras, berurat, dengan ujung berwarna merah pekat. Buah zakarnya mengelantung pasrah, ukuran zakarnya pun tak kalah hebohnya, sebesar jeruk nipis. Penis itu terlihat begitu gagahnya, mulai meninggi keatas disertai dengan kedutan yang berirama. Naik, naik, naik dan terus naik. Berkedut naik, sampai melewati pusarnya. Sekarang yang ia lakukan sungguh nekat. Sama sekali tak khawatir akan adanya orang yang melihat. Dia berdiri di halaman belakang rumahku, menghadap tepat ke arahku dengan penis yang tegak mengacung sambil menjilat dan mengecap cd kotorku dengan rakus. Merasa tak cukup hanya mengecap satu cd kotorku, dengan tangan kanannya yang masih bebas, diapun kembali mengambil cd kotorku. Kali ini yang berwarna hijau muda dengan gambar bunga bunga di bagian vagina. Sekarang di kedua tangannya, ia memegang cd kotorku.

    Tapi kali ini ada yang berbeda. Cd hijau yang ada di tangan kanannya tak hanya ia cium dan jilat saja. Melainkan……ia pakai sebagai sarana masturbasinya. Ia lilitkan cd hijauku ke batang penisnya dan ia mulai menggerakkan tangan kanannya maju mundur. Makin lama makin cepat, main cepat dan makin cepat. Dia mengocokkan penis yang terbungkus cd hijauku dengan kecepatan tinggi. Dengan sangat bernafsu dan brutal. Melihat tingkah laku mas Manto, detak jantungku pun semakin berdebar-debar tak karuan. Tubuhku menghangat, nafasku memberat, putingku mengeras dan yang paling tak aku sadari, kemaluanku mulai membasah. Secara reflek, aku sentuh cd yang aku pakai, dan aku raba belahan bibir kemaluanku. Aku basah, aku horny, aku terhanyut akan tingkah laku kurang wajar yang telah dipertontonkan oleh mas Manto. Bagian depan cdku terasa sangat hangat dan basah oleh cairan kewanitaanku. Astaga, aku benar-benar dibuatnya mabuk kepayang. Mas Manto, seseorang yang sama sekali belum aku kenal dengan dekat, berani berbuat hal yang begitu nekat. Begitu gila, yang sama sekali tak pernah aku bayangkan. Dengan tanpa rasa malu sama sekali ia masturbasi dengan menggunakan cd kotorku di halaman belakang rumahku. Badan kekar berotot, kulit hitam yang basah oleh air bekasnya mandi, ditambah sinar matahari yang menerangi halaman belakangku, membuat apa yang ia lakukan terlihat begitu seksi. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasakan perasan yang berbeda kepadanya. Perasan yang tak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Hanya ada rasa penasaran dan ingin tahu yang begitu menggebu. Mas Manto semakin mempercepat kocokannya. Badannya membungkuk dan membusur. Otot-otot tangan dan lehernya mengejang. Ia merem melek, pupil matanya tak terlihat, hanya putih. Ia terlihat begitu menikmati semua yang sedang ia lakukan. Melihatnya begitu menikmati akan apa yang sedang ia perbuat, aku jadi ikut merasakan kenikmatan. Tiba-tiba, muncul perasaan aneh dari dalam diriku. Perasaan nakal, binal, liarku sepertinya muncul. Ingin rasanya aku membuka pintu dapurku dan mendekap tubuhnya, mencium bibirnya dan meraih penisnya. Ingin rasanya aku membantu menuntaskan semua hasrat nafsunya. Menjilat batang penis yang begitu besar, hitam, panjang. Ingin sekali aku merasakan tusukan dan sodokan penis dahsyatnya di liang vaginaku. Dan… Aku ingin mas Manto menumpahkan semua spermanya di dalam rahimku.

    “Liani…..mbak Liani….terima persembahanku untukmu….. mbak Lianiku…..” bisiknya lirih sembari dia mempercepat kocokannya.

    “Mbak Lianiku….?” Tanyaku dalam hati. Heran.

    “Ooooooohhhhh…..mbak Liani!!!”

    Mas Manto tiba-tiba menghentikan kocokan tangan kanannya dan dengan cd di tangan kiri, ia berusaha menampung semua tumpahan cairan kenikmatannya.

    “Crut… crut… crut… crut…”

    Mas Manto orgasme. 8 tembakan sperma menabrak cd putih di tangan kirinya. Semburan benih-benih kejantanan seorang lelaki menyemprot keluar dari mulut penisnya yang lebar. Begitu banyak. Sampai-sampai cd putihku yang ia gunakan untuk menampung tumpahan cairan nafsu mas Manto, tak mampu membendung itu semua. Cairan itu merembes keluar dari cd hijauku yang ia gunakan untuk melilit penisnya, dan menetes jatuh ke atas cucian kotorku. Sungguh menakjubkan melihat ekspresi wajahnya. Semua terjadi seperti dalam gerakan slow motion. Andai aku punya handycam, pasti aku kan merekam semua kejadian barusan. Penisnya berkedut dengan hebatnya. Berkedut sambil memuntahkan semua cairan spermanya.

    “tiiiiiiiiitt…….. tiiiiiiiiitt…….. tiiiiiiiiitt…….. tiiiiiiiiitt……..” kami berdua dikejutkan oleh suara SMS dari HP milikku. Suara yang walau lirih, tapi terdengar begitu lantangnya. Memecah kesunyian yang terjadi selama beberapa menit ini. Mas Manto terlihat begitu panik, dia bingung, celingukan, mengkira-kira, kapan aku bakal menampakkan diriku dari dalam rumah. Dia juga bingung dengan benda yang sekarang masih ada di kedua telapak tangannya. Cd putih yang ia gunakan tuk menampung tumpahan sperma dan cd hijau yang ia gunakan tuk membungkus batang penisnya, semua basah karena sperma. Dibuang sayang, di letakkan di bak cucian pun khawatir aku akan curiga. Karena kehabisan akal, mas Manto akhirnya melepas handuk kecil yang melilit pinggang dan meletakkannya di pundak. Astaga, sekarang aku dapat melihat keseluruhan tubuh telanjang beserta penis raksasa mas Manto yang masih menggelatung lemas setelah dikocoknya habis-habisan. Penis itu telihat seperti buah terong, panjang, besar, berwarna hitam kemerahan dengan ujung kepala yang menggelembung. Dan anehnya lagi, penis itupun masih berkedut dan mengeluarkan sperma.

    “Ga ada habisnya tuh peju” pikirku kagum.

    Dengan cepat, mas Manto langsung mengenakan cd putihku yang penuh dengan spermanya. Cd tersebut dipaksa untuk dapat masuk, karena mas Manto tak dapat menemukan lokasi tuk menyembunyikan cd tersebut. Janggal sekali aku melihatnya mengenakan cd wanita. Ujung kepala penisnya tak dapat sepenuhnya tertampung. Masih menjulang keatas, melawati karet kolor cdku. Sampai-sampai ia harus bersusah payah tuk menekuk batang penisnya ke bawah, kearah pantat, supaya tak terlihat lagi. Biji testisnya pun terlihat tak nyaman, menggelambir keluar dari masing-masing celah celana dalamku. Dan cd hijau, yang juga terciprat spermanya, ia sembunyikan di dalam tumpukan baju kotorku. Setelah itu, ia segera melilitkan kembali handuk kecilnya, dan bertingkah seperti tak ada apa-apa..

    “Mbak Liani…” panggilnya. “Mbak…Ini bak cucinya…”

    “Eeh iya… sebentar mas….” Jawabku. Aku mencoba mengatur nafas, menyembunyikan deru nafsuku yang juga masih menggebu-gebu ini..

    “Maaf mas… tadi mas Andri telpon, jadi mas Manto langsung saya tinggal deh…”

    “Oh gapapa mbak…ini baju kotornya sudah saya pindahkan ke bak cuci saya… jadi mbak Liani tinggal meneruskan saja…” mas Manto berkata sambil mengurut-urut telapak tangannya di depan s*****kangan, mencoba menutupi gundukan penis yang aku kira mulai menggeliat lagi.

    “I….iya…ma kasih mas… jadi ngerepotin nie ceritanya….” Kataku.

    “Ah.. gapapa kali mbak…. Lagian aku kasian kalau melihat cewek secantik mbak Liani harus bercapek-capek sendirian gini….” Katanya tersenyum meringis.

    “Wah… sepertinya dia mulai merayuku” batinku. Aku hanya bisa tersenyum-senyum mendengar kalimat mas Manto.

    “Hhmmm… anu mas… kalau boleh… apa saya bisa….….”

    “Boleh boleh…mo apa ya?” potongnya.

    “Anu… apa bisa saya minta tolong buat …..sekalian penuhin bak cuci dengan…..?”

    “Wah bisa banget mbak.. tenang aja… “potongnya lagi. “bahkan kalau mau… saya bisa bantu mbak liani nyuci”in bajunya…”

    Dengan sigap, mas Manto memindahkan air dari bak penampungan ke bak cucinya. Dia terlihat sama sekali tak merasa terbebani dengan segala perintahku. Dan tak lama, semua bak cucinya penuh dengan air bersih.

    “Yup….semua bak cuci sudah saya penuhi ….apa ada hal lain yang bisa saya kerjakan??”. Matanya berbinar-binar penuh harap. Terlihat seperti anjing yang haus akan perintah dari majikannya.

    “Hmmmm… sepertinya itu saja deh mas….” Kataku sambil tersenyum.

    “Mbak Liani tuh orangnya murah senyum ya? Jadi seneng saya mbantuinnya… jadi ga ada capek-capeknya dah…” candanya.

    Langsung saja aku duduk di bangku kecil yang ada disisi bak cuciku, mulai mengucek dan membilas semua baju kotorku. Tapi begitu aku duduk di bangku kecil itu, aku baru sadar. Aku tak mengenakan cd dan bra sama sekali, dan di depanku, ada mas Manto, suami tetanggaku. Aku merasakan hal yang sangat kurang nyaman. Bangku itu terasa begitu pendek, hanya 15 cm dari lantai. Jadi, mau tidak mau, aku harus duduk dalam posisi jongkok. Paha, betis, lengan dan belahan dadaku terpampang jelas di depan mata mas Manto. Dan yang paling parah, daster kecilku ini sama sekali tak mampu untuk menutupi s*****kanganku. Walau vaginaku bersih dan aku bisa dengan santai berbugil ria di hadapan mas Andri, tapi tetap saja, mas Manto adalah orang lain, orang yang baru aku kenal sekitar 30 menit yang lalu. Pasrah…hanya itu yang dapat kulakukan. Aku hanya jongkok, merapatkan kedua lututku, dan menempelkan dada montokku kearah paha. Berusaha sebisa mungkin tak memperlihatkan vagina dan belahan dadaku sama sekali.

    Melihat aku yang kebingungan mencari posisi paling aman tuk menyembunyikan auratku, Mas Manto pun ikut sedikit menjauh. Dia mengambil posisi di seberang halaman, dan duduk di bangku kayu panjang, yang berjarak sekitar 2m dari tempatku duduk mencuci. Bangku itu hanya setinggi lutut orang dewasa, yang jika mas Manto duduk menghadapku, lutut dan pantatnya berada dalam posisi yang sejajar. Sehingga membuatku dapat dengan leluasa menerawang kedalam handuk kecilnya dan melihat perjuangan cd putih kecilku menyembunyikan penis besar mas Manto.

    “Jadi sama-sama tau aurat masing-masing lah…” pikirku gampang.

    Mas Manto ternyata orang yang mudah bergaul, ramah, dan suka memuji. Tak heran, aku yang biasanya tertutup akan adanya orang baru, merasa begitu nyaman dan bisa ngobrol lama dengannya. Apalagi dia bukan orang yang mata keranjang. Karena walau aku berbaju begitu minim, mas Manto mampu menahan keinginannya tuk menatap tubuhku lama-lama, hanya sekilas saja ia melihat, lalu melengos ke arah lain, seolah-olah tak peduli sama sekali. Situasi tegang diantara kamipun lama-lama mencair, karena mas Manto tahu sekali bagaimana berbicara denganku. Sering becanda dan pintar merayu orang. Diapun tak segan tuk tertawa terbahak-bahak ketika aku bercerita lucu. Bahkan tak jarang s*****kangannya dapat aku lihat dengan jelas ketika dia tertawa. Ketika tertawa, kadang ia mengangkat kaki dan memegang perut sehingga penis yang terbungkus cd putihku sering terpampang dengan jelas. Sama sekali tak berusaha tuk menutupinya.

    “Penis hitam mas Manto berusaha menampakkan dirinya… penis itu bersembunyi di dalam cd putihku… yesss…. aku bisa melihat penisnya lagi…. penis besarnya…” hanya itu pikirku ketika melihatnya tertawa puas.

    Kadang aku berpikir, apakah mas Manto adalah seorang ekhibisionis. Seorang yang memiliki penyakit psikologis, suka memamerkan penisnya kepada orang lain.

    “Iya… aku yakin dia adalah seorang ekshibisionis.. tapi,ah masa bodoh… yang jelas mas Manto adalah teman yang enak diajak ngobrol…. toh aku sudah merasa begitu nyaman dengannya…” pikirku, berusaha untuk tak memperdulikan kekurangannya.

    Karena aku sangat yakin akan tingkah mas Manto, yang terkadang dengan sengaja membuka lulutnya lebar-lebar, seolah mempersilakan mataku tuk mengagumi batang penisnya yang hitam, membuatku pelan-pelan, juga mulai membuka diri, melemaskan semua pertahanan tubuhku. Semula aku yang hanya duduk jongkok, menutup semua aurat, sekarang sudah mulai melebarkan lututku, sedikit mengkangkang. Selain aku merasa capek dengan posisi jongkok yang rapat itu, aku juga ingin mempernyaman posisi mencuciku. Mas Manto bersandar di dinding pagar halaman belakang rumah kami, sambil menatap ramah kearahku. Sesekali ia beranjak, memindahkan air dari bak penampungan, dan menuangkannya ke bak cuci yang aku pinjam darinya. Ia tampak begitu tenang, walau aku tau, saat ini penisnya dah mengeliat karena melihat kemolekan tubuhku. Tapi wajah itu, begitu santai, seperti tak ada kejadian apa-apa. Aku terhanyut oleh auranya. Iya. Aku hanyut olehnya. Terbukti, walau tak beberapa lama kami bercakap-cakap, tapi aku sudah merasa kalau mas Manto tuh seperti orang yang benar-benar dekat denganku. Bahkan tak jarang kami mulai melontarkan ejekan dan gurauan jorok.

    “Mas Manto… jorok deh.. dah gede gitu masih ngompol…” kataku disela-sela percakapan seru kami..

    “Ngompol…. Idih… nggak lah…?”

    “Lalu …itu apa hayoo…? kok ada yang ngalir dari dalem handuknya? Ah pasti ngompol tuh?” godaku lagi..

    “Ohh… ini…?” mas Manto menunduk, mencari tau apa yang aku maksud, diusapnya cairan yang merembet turun dari dalam handuknya, dia pun mencium, dan merasakan cairan yang ada di tangannya. Dia melirik kearahku. Lalu berkata “Cuih…ini mah sabun bekas aku mandi tadi….”

    “Sabun?” tanyaku heran. Sebenarnya aku tahu kalau yang mengalir turun dari dalam pahanya tuh bukan sabun, melainkan spermanya sendiri yang tak tertampung di cd putihku yang ia kenakan. “Hahahaha… bisa aja…”

    Cucian demi cucian telah selesai dibilas, sampai akhirnya aku temukan cd hijauku. Cd yang bekas digunakan mas Manto untuk melilit batang penisnya ketika ia onani. Onani brutal yang membayangkan dan menyebut namaku. Cd hijau bergambar bunga-bungan dibagian vagina, yang berlumur sperma mas Manto. Kuraih cd hijauku dan kurasakan lendir yang menempel di permukaannya. Hangat, licin, dan bertekstur. Detak jantungku kembali berdetak dengan cepat.

    “Aku memegang peju mas Manto…” batinku. “Aku merasakan benih-benih yang dimuntahkan oleh penis mas Manto…”

    Ingin aku rasanya mendekatkan cd hijauku yang berlumuran sperma itu kehidungku. Menghirup aroma anyir spermanya, menjulurkan lidahku, menyentuh dan merasakan tekstrur sperma mas Manto. Mengecapnya, penis mas Manto, oh, mas Manto.

    “Mbak…? Kok diem aja ?…. Hayo ngelamunin apa…?” suara mas Manto membuyarkan lamunanku.

    “Eh… anu… ini…” jawabku bingung, mencoba mengembalikan pikiranku dari imajinasi yang tak jelas.

    “Waduh… itu bekas pejunya mas Andri ya mbak…?” celetuknya, langsung, to the point.

    “Eh.. kenapa mas?…” Tanyaku, kaget.

    “Iya… itu pejunya mas Andri khan?…banyak juga ya mbak… pasti tadi pagi habis……” jawabnya lagi. Memperjelas kalimat yang tadi ia tanyakan sambil tertawa cengengesan.

    Aku merasa mukaku seperti kepiting rebus, merah padam, menahan malu. Sepertinya mas Manto mengetahui apa yang terjadi antara aku dan suamiku tadi pagi. Sepertinya suara desahan kami terlalu keras sehingga terdengar sampai rumahnya. Sepertinya itu alasan kenapa tadi ketika onani, mas Manto memanggil-manggil namaku. Ia pasti membayangkan bersetubuh denganku.

    “Mas Andri pasti seorang yang sangat beruntung ya mbak… “ mas Manto beranjak dari tempat duduknya, dan berjalan kearahku.

    “Tiap malam bisa… hmmm anu………” ia tak meneruskan kalimatnya dan menantikan jawabanku.

    “Anu apa???…..” tanyaku lagi.

    “Anu… itu tuh…” jawabnya sambil memajukan bibirnya, menunjuk kearah dada dan s*****kanganku… “…….pokoknya puas deh mas Andri sepertinya….punya istri cantik dan bahenol kayak mbak Liani… Hahahahahaha…” kelakarnya.

    “Idih ngaco…” jawabku tersipu. Aku ambil air dengan gayung, lalu aku lemparkan air itu ke badannya. “Dasar otak mesum….” Aku tertawa.

    “Omong-omong, mas Manto tau cd putihku nggak?” pancingku.

    “Cd putih…?” tanyanya sambil mengaruk rambut kepalanya yang tak gatal.

    “Iya… cd putih yang ada rendanya… kali aja mas tau… soalnya khan mas yang mindahin semua baju kotor aku…” pancingku. Aku tatap wajahnya, mencari tau, apa akan yang ia lakukan setelah mendengar pertanyaanku barusan.

    Terlihat ada sedikit keterkejutan yang tersirat di wajah mas Manto namun langsung saja hilang, dan berganti lagi dengan raut wajah yang tenang.

    “Hmmm… yang mana ya?” jawabnya pura-pura tidak tahu.

    “Cd putih yang ada renda-rendanya..” ulangku lagi. Kembali aku tatap wajahnya, tapi kali ini aku alihkan tatapanku. Dari wajahnya yang tenang ke arah s*****kangannya yang melompong. Sebenarnya aku tahu bahwa cd putihku tak hilang, melainkan dipakainya sebagai bahan onani. Dan sekarang cd itu ia kenakan untuk menahan konaknya agar tak muncul dan terlihat olehku.

    “Waduh… saya kurang tahu tuh mbak… mungkin terselip kali di tumpukan cucian tadi” jawabnya “Eh… tapi ntar klo saya temuin, saya dapet apa?… bisa dapet isinya nggak?…”

    “Idih ngawur aja deh….”

    “Yaaa… kali aja bisa dapet…. Pasti masih kenceng deh…. ga memble kayak punya si Narti gitu ….” jawabnya enteng.

    “Kenceng… mobil balap kali mas…?”

    “Iya…lah itu buktinya ada di cd mbak Liani…pejunya mas Andri bisa tumpah ruah seperti itu…. berarti isi cd itu masih kenceng khan?… Klo Narti kayak gitu, saya bisa punya banyak anak nih… hahahahaha”

    Entah kenapa, mendengar kelakar mas Manto, seharusnya aku marah, tapi yang aku rasakan beda. Aku merasa malu tapi sekaligus bangga.

    “Punya banyak anak?”

    Aku tatap cd hijau itu yang belepotan sperma mas Manto dalam-dalam. Andai yang ia dikatakan itu benar, betapa bahagianya aku. Aku dan mas Andri sebenarnya telah menikah selama 3 tahun, namun selama itu, kami masih belum dikaruniai seorang anak. Suamiku bukannya mandul, melainkan ada gangguan pada testisnya, sehingga benih sperma yang dikeluarkan, banyak yang tidak lengkap. Selain itu, volumenya juga tidak begitu banyak. Konsultasi dan terapi kesehatan sudah kami lakukan, namun belum juga membuahkan hasil. Aku sisihkan cd hijauku itu, tak aku campur dengan cucianku yang sudah bersih. Mas Manto hanya tersenyum-senyum melihat tingkah lakuku dalam memperlakukan cd hijau yang terkena spermanya. Dan aku pun membalas senyumannya. Segera aku selesaikan cucianku, dan aku jemur. Mas Manto pun tak mau tinggal diam. Dia ikut membantuku menjemur semua baju-bajuku. Tak jarang kami saling pandang, dan tersenyum. Bahkan terkadang tangan kamipun bersentuhan ketika mengambil baju yang akan dijemur. Tiba-tiba aku merasa seperti kembali ke masa lalu. Masa dimana aku dan mas Andri sedang kasmaran. Saling lirik, saling senyum dan saling sentuh. Namun kali ini orang yang membuatku kasmaran bukanlah mas Andri, melainkan mas Manto, tetangga baru kenal yang aku rasa begitu nyaman jika dekat dengannya.

    “Kamu cantik banget mbak….” Mas Manto merayuku. “Seksi..”

    Aku hanya bisa tersenyum sambil tersipu malu. Pujiannya sungguh membuatku melayang ke awang-awang.

    “Makasie ya mas.. buat pinjaman …..”

    “Ah… biasa aja mbak…” potongnya. “kalau mbak butuh yang lain… saya misalnya… langsung saja ya mbak… ga usah sungkan-sungkan… hehehehehe…” tambahnya lagi, tersenyum penuh harap.

    Ketika tanganku hendak mengambil bak cuci mas Manto, dia langsung mencegahnya, memegang pundakku, dan meraih tanganku.

    “Gak usah repot-repot mbak… biar saya saja yang membawa bak cucinya…”

    Cukup lama tanganku berada didalam genggaman tangannya. Dan selama itu pula mas Manto memainkan jemari jangannya. Meraba, mengelus, dan meremasnya dengan perlahan. Melihat aku yang hanya diam saja, mas Manto pun mengangkat talapak tanganku dan dikecupnya perlahan.

    Mukaku kembali memerah. Malu.

    “Kalau butuh saya ya mbak…”

    “Iya…. Iya….” Jawabku gugup. Aku langsung menarik tangan dan mengambil cd hijauku. “Ma… makasih banyak ya mas…”

    Aku langsung masuk ke dalam rumah, dan menutup pintu dapurku rapat-rapat, meninggalkan mas Manto sendirian di halaman belakang rumahku. Detak jantungku tak bisa diatur, nafasku berat, dan mukaku merah.

    “Gila… Sangat gila… Ini adalah awal mula sebuah perselingkuhan…” kataku dalam hati. Aku tahu ini semua mulai berjalan kearah yang salah, namun jauh didalam hatiku, aku menginginkan semua kesalahan ini.

    Aku dekap cd hijauku erat-erat, aku tatap dalam-dalam dan aku bayangkan semua kejadian barusan. Aku merasa terangsang. Cairan vaginaku terasa seperti mengucur keluar dengan derasnya. Aku kembali menatap keluar melalui jendela dapurku, mencari tau apa yang sedang dilakukan oleh mas Manto sekarang. Berharap dia masih ada di tempat semula.

    “Dia masih ada…” batinku. Mulutku semakin lebar mengembangkan senyum. Apalagi setelah tahu yang ia lakukan sekarang. Jauh lebih nekat.

    Mas Manto berada di belakang pintu dapurku. Berdiri agak membungkuk. Handuk hijau lusuhnya sudah tersampir di pundak kirinya. Cd putihku yang ia kenakan tadi, sudah ia turunkan sampai sebatas paha, tangan kirinya kedepan, menopang tubuhnya pada dinding pintu dapurku, dan tangan kanannya, menggenggam erat batang penis miliknya yang sudah berwarna sangat merah. Dikocoknya penis itu dengan cepat, sampai terdengar bunyi “tek tek tek”. Suara kulit penis yang terenggang dan tertarik oleh tangan kekarnya.

    “Mbak Liani….. ohhh…. Mbak Liani…..” erangnya tertahan.

    Lututku kembali melemas. Aku langsung jatuh terduduk. Menyandarkan punggung dibawah jendela dapurku.

    “Mas Manto sedang beronani di balik pintu dapurku” batinku girang.”mas Manto sedang mengocok penis besarnya di belakang pintuku”

    Jantungku terasa seperti mau loncat melalui mulutku. Aku sudah sangat terangsang. Vaginaku gatal, berdenyut hebat, pengen sekali digaruk oleh kejantanan mas Manto. Aku tatap lembar pintu dapur yang ada disamping kananku. Aku tatap g****g pintu yang berada ditengahnya. Hanya sekali putar saja, aku bisa membuka pintu itu dan mempersilakan mas Manto tuk masuk ke rumahku. Aku sudah begitu terangsang, tanganku, entah sejak kapan juga sudah mengobok-obok vagina dan klitorisku.

    Aku benar-benar menginginkan mas Manto untuk masuk ke dalam rumahku, menciumku, menjilat payudaraku, menyodok vaginaku, dan menumpahkan seluruh spermanya yang kental kedalam rahimku. Seumur hidup, tak pernah aku merasakan nafsu seperti ini. Dengan lutut yang masih gemetar, aku memberanikan diriku tuk berdiri. Aku coba mengintip, apa yang mas Manto lalukan sekarang. Dia masih dalam posisi yang sama. Mengocok batang penisnya kuat-kuat. Aku bulatkan tekad, memberanikan diri tuk membuka pintu dapurku. Aku tak peduli akan apa yang akan orang lain katakan jika mereka melihat kami selingkuh. Aku tak peduli akan resiko yang akan aku peroleh jika hubungan gelap yang akan aku mulai dengan mas Manto ini sampai diketahui oleh suamiku. Ya. Hanya itu. Aku ingin kenikmatan dan kepuasan. Aku ingin merasakan kenikmatan yang selalu gagal aku capai dengan mas Andri, suamiku. Aku raih g****g pintu dapurku. aku tarik nafas dalam-dalam, dan aku putar ke bawah.

    “Arrrrrgggggghhhhh….Mbak… Liaaaaannnniiiiiiii….”

    Aku dikagetkan oleh suara erangan mas Manto. Enam semburan kencang ditembakkan ke arah pintu dapurku. Mas Manto telah orgasme duluan, sama seperti mas Andri, aku kembali ditinggalkan terangsang seorang diri. Aku urungkan niatku. G****g pintu itu tak sempat aku putar. Aku hanya bisa menyesali ketidak beranianku.

    “Mas Manto….” Aku hanya bisa memanggil namanya lirih. aku merasa begitu kecewa dan mengutuk diriku yang tak berani mengambil resiko.

    Masih dari balik korden jendela dapurku, aku lihat mas Manto berdiri tertegun. Menatap penis dan cipratan sperma yang membasahi pintu dapurku. dada bidangnya naik turun, dan nafasnya terengah-engah. Mukanya berwarna merah. Dengan tangan yang masih mengurut-urut batang penisnya ia berusaha mengeluarkan semua cairan dari dalam kantong zakarnya. Tak lama kemudian, dengan kondisi masih tanpa mengenakan baju apapun, mas Manto m*****kah mundur, pergi meninggalkanku, lalu masuk ke dalam rumahnya.

    Mendadak, tak terdengar suara sedikitpun. Sunyi.

    “Pluk…pluk…pluk…” Saking sunyinya, sampai telingaku mampu mendengar suara tetesan air keran yang berada di halaman belakang rumahku.

    “Blak… keblak.. keblak…” Suara kebatan baju basah milikku yang dihembus oleh semilir angin.

    Sunyi….perlahan, aku putar g****g pintu dapurku dan kugeser perlahan pintu dapurku sampai terbuka semua. Aroma tajam sperma langsung menyengat hidungku. Aroma dari kejantanan seseorang yang baru saja menjadi idolaku.

    “Gila…Banyak sekali….” Pikirku.

    Sperma itu membasahi pintu dapurku, setinggi perut. Terdapat sekitar enam lokasi cipratan sperma yang masih menempel dan merayap turun ke tanah. Rasa penasaran itu pun muncul kembali. Aku julurkan tanganku, menyentuh sperma yang masih mengalir turun itu. Aku usap-usap, dan aku masukkan beberapa jemari tanganku ke dalam mulut.

    “Inikah rasanya…?” bibirku mengecap perlahan.

    Merasa kurang puas merasakan sperma yang masih menempel itu, aku lalu jongkok. Memposisikan diriku dihadapan lokasi cipratan sperma mas Manto yang masih menempel di pintu dapurku. Aku julurkan lidah, menutup kedua mata, dan memajukan kepalaku. Kutempelkan lidahku ke pintu kayu yang belepotan sprema itu.

    “Asin…” kataku dalam hati.

    Mendadak, aku seperti merasa tak mengenali diriku lagi. Aku merasa tidak seperti Liani yang sopan, berpendidikan, dan bermoral baik. Sekarang aku merasa seperti pelacur yang haus akan kepuasan. Aku bersihkan semua cipratan itu dengan tangan dan lidahku. Bahkan tak jarang, sperma yang belepotan ditangan, aku colok-colokkan di vaginaku, membayangkan kalau tangan kecil milikku itu adalah penis besar mas Manto. Aku tak peduli jika ada tetangga yang melihat aktivitas gak wajarku. Yang jelas, saat ini, aku begitu bernafsu untuk dapat menghabiskan semua sperma gurih yang menempel di pintu dapurku.

    **********

    Jam dinding telah menunjukkan pukul 5 sore. Tak terasa, sudah hampir 6 jam aku terlelap. Walau hanya mencuci satu bak kecil, tapi rasanya aku seperti baru saja melakukan pekerjaan membangun perumahan satu komplek. Sangat capek. Masih di atas tempat tidurku, tiba-tiba aku tersenyum sendirian. Membayangkan kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu. Kejadian gila, nekat, dan tak pernah sekalipun aku bayangkan.

    “Mas Manto dan badan berototnya… Mas Manto dan penis besarnya… Mas Manto dan pejunya yang menyembur begitu banyak… aku butuh kenikmatan darinya… oh mas Manto… gimana ya rasanya selingkuh dengan tetangga…?” tanyaku dalam hati “Kenapa tidak…? Toh suamiku tak pernah memberiku kepuasan jasmani….” jawabku sendiri.” Kamu gila Liani… kamu gak waras…”

    “Tok… tok…tok… “ terdengar ketukan di pintu dapur.

    Aku langsung beranjak dari kasur empukku dan berjalan kearah dapur. Kubuka pintu dapurku, namun aku tak melihat siapa-siapa. Aku hanya menemukan satu keranjang kotak yang tertutup taplak meja makan dan dua buah rantang bertingkat yang juga tertutup. Semua diletakkan di lantai depan pintu dapurku.

    “Kiriman dari siapa ya?” celingukan aku mencari tahu siapa gerangan yang telah mengirim ini semua. Aku lalu menekuk kaki, dan berdiri dengan lututku. Aku buka kain yang menutup keranjang kotak itu.

    “Ini khan baju…?” aku baru saja tersadar, ternyata semua cucianku yang aku jemur di halaman rumahku, telah lenyap. Berpindah kedalam keranjang kotak yang ada di hadapanku. Kaos, kemeja, daster, handuk, kolor, sampai semua cd dan braku telah licin terlipat dan tersusun rapi di dalam keranjang kotak itu. Terlebih, baju-baju itu telah terpisah, antara milikku dan milik mas Andri. Kembali aku celingukan mencari tau. Namun tetap saja, tak kutemukan jawaban apa-apa. Tiba-tiba aku kembali mencium aroma yang begitu khas. Aroma yang baru-baru ini selalu memenuhi benak dan imajinasiku.

    “Bau peju mas Manto” batinku.

    Kupertajam daya pengendusanku, kucari-cari darimana aroma itu berasal. Bukan dari pintu dapurku, aku meyakinkan diri. Karena pintu itu sudah aku bersihkan dengan benar tadi pagi. Aroma itu seperti berasal dari tumpukan baju ini. Dadaku kembali berdebar-debar.

    Aku angkat satu persatu tumpukan baju kering yang ada di depanku. Aku periksa dengan seksama. Dan, benar. Ada cairan sperma yang menggenang di dalam tumpukan bajuku. Bukan di tumpukan baju mas Andri, suamiku, melainkan hanya di tumpukan bajuku.

    “Sialan… berani benar mas Manto melakukan hal ini…” gerutuku. Aku merasa, semua jerih payah yang aku lakukan tadi pagi menjadi tak berarti sama sekali. Karena walau tak semua baju bersih ini terkena spermanya, tapi tetap saja, mau-tak mau aku harus mencuci ulang semua bajuku.

    Aku lempar semua baju yang telah ternoda oleh sperma mas Manto kedalam keranjang. lalu aku saut rantang besi yang ada di sampingnya. Dan, sekali lagi, hidungku mencium aroma khas yang keluar dari rantang besi itu. Ketika aku buka tutup paling atas dari susunan rantang itu, aku hanya mendapati kolak labu yang masih mengepulkan asap hangat.

    “Kolak? Pikirku heran.

    Lalu, aku angkat rantang teratas tuk mengetahui apakah isi rantang di bawahnya. Mendadak, aku tersenyum, tertawa terbahak-bahak, sampai aku jatuh terduduk. Aku tidak lagi merasa kesal, malah aku merasa senang dan bahagia. Aku merasa mas Manto sudah jatuh kedalam pelukanku. Karena tinggal menunggu waktu saja kapan perselingkuhan ini akan berjalan. Di dalam rantang paling bawah, aku mendapati cd putihku yang masih berlumuran sperma, satu botol selai, dan selembar kertas. Aku ambil kertas itu dan kubaca tulisan jelek diatasnya perlahan.

    “Cd putih mbak Liani sudah saya temukan loh… sekarang saya minta hadiahnya…” aku tersenyum sambil mengambil cd putihku. “Saya juga tau loh siapa yang membersihkan pintu dapur mbak….dan bagaimana dia membersihkannya…”

    Mukaku langsung memerah dan mulai tertawa girang sambil mengamati beberapa bagian cd putihku telah mengeras Kuendus-endusdan kuhirup dalam-dalam aroma sperma mas Manto yang masih menempel sambil sesekali menjilatnya. “Ini pasti baru saja disembur lagi…”

    Dan yang terakhir, aku ambil botol selai itu, dan aku buka tutupnya. Kembali aku cium aroma sperma mas Manto, namun kali ini sungguh menyengat. Botol itu berisikan sperma. Tak banyak, hanya sekitar seperempat botol dan sudah sebagian besar mulai mengendap.

    “Obat Awet Muda. Minum 3x sehari” mirip label obat yang beredar di pasaran.

    Aku kembali tersenyum dan tertawa terbahak-bahak. Aku merasa seperti anak kecil, yang baru saja dibelikan mainan boneka, begitu senang dan gembira. Aku baca tulisan jelek yang menempel didinding botol. Segera saja kumasukkan semua barang kiriman yang aku yakin, ini semua adalah kiriman dari tetangga sebelah. Mas Mantoku. Semua baju milikku dan milik suamiku kuletakkan rapi kedalam lemari pakaian. Aku tak peduli sama sekali akan noda-noda sperma yang ada, bahkan aku ingin untuk memakai semua baju yang ia nodai itu.

    “Dingin… “ kataku sambil mengusap vaginaku yang sekarang kembali basah oleh cd putihku yang belepotan sperma mas Manto. Lalu kupergi kedapur untuk mengambil sendok.

    “Semoga ini benar-benar obat awet muda”. Kutuangkan cairan dari botol selai itu, memenuhi sendok makanku, dan kubuka mulutku lebar-lebar.

    ***

    “Dek… liat deh yang sudah mas bawain buat kamu…” sambil tersenyum, suamiku mengangkat kantong kresek hitam yang ia bawa. “Aku bawain kamu… sup dan sate kambing… buat bekal kita menghabiskan malam minggu ini bersama… hehehehe… “

    “Aduh… kamu emang yang paling top deh mas…”

    Setelah menyantap makan malam, tak lama kemudian aku dan mas Andri pun memulai apa yang sudah kami rencanakan sebelumnya. Ya, kami bersetubuh. Aneh. Dalam persetubuhan kali ini, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda muncul dari dalam diriku. Aku lebih bisa mengekspresikan diriku, lebih bebas, dan lebih agresif. Tak ada lagi rasa nyeri seperti yang tadi pagi aku rasakan ketika mas Andri menusukkan batang penisnya kevaginaku. Semua terasa begitu nikmat. Malah, sekarang aku tak malu lagi untuk melenguh, mendesis dan berteriak lebih lantang. Jauh lebih lantang daripada biasanya. Dan yang paling aku rasa aneh adalah, aku mampu dua kali orgasme. Sekali ketika disodok dari belakang oleh mas Andri, di samping meja makan. Mirip seperti posisi tadi pagi. Dan sekali ketika aku dalam posisi telentang, diatas kasur tidur kami yang luas. Aku tak tau, perubahan dalam diriku ini dikarenakan sop dan sate kambing atau karena hal lain. Hal lain…

    “Malam ini kamu benar-benar beda dek…. lebih beringas… mas suka itu… hahahaha…” kata suamiku sambil mengacak-acak poni rambutku.

    “Apaan sie mas… adek mah biasa aja kok…. Mas aja kali yang yang dah nggak sabar pengen ngewe sama adek….”

    “Bener dek… kamu beda… tatapan mata kamu… senyum kamu…dan yang paling beda… memek kamu… lebih peret…” pujinya.

    “Aah mas bisa aja…”

    “Aku sayang kamu dek…” tangannya yang besar menelungkup diatas tubuhku, menyelimutiku dengan rasa sayangnya.

    “Adek juga sayang kamu, mas…………”

    Masih dalam keadaan telanjang bulat, kamipun akhirnya tertidur.

    ***********

    Minggu pagi datang begitu cepat.

    “Met pagi ratu manjaku…” kecupan hangat dan basah mendarat di putting kananku. Segera saja aku buka mataku dan membalas salam pagi suamiku.

    “Dasar tikus hutanku…..” tawaku renyah.

    Seharian itu kami merasa seperti penganten baru. Bersetubuh, bersetubuh, dan bersetubuh. Seolah-olah kami mendapat kekuatan baru yang membuat badan kami selalu fit. Pintu dan jendela rumah sama sekali tak kami buka, karena kami bersetubuh di seluruh area rumah. Memasak, mencuci dan segala aktifitas rumah tangga pun, kami lakukan seperti kaum nudis. Tanpa menganakan baju sama sekali. Semua terasa seperti mimpi.

    **********

    “Masku sayang… ayo ah… bangun…. “ kataku sambil memukul-mukulkan batang penis lemasnya yang sudah bersih keperut buncit suamiku. “ dah bersih nih dedenya….”

    Mas Andri yang masih dalam kondisi telanjang bulat, tetap saja berdiam diri, telentang di atas kasur dan membuka tangannya lebar-lebar. Dadanya naek turun dan nafasnya masih terengah-engah. Dia memutar kepalanya kebawah, menatap aku yang masih menungging setia di atas pahanya. “Aduuuh… mas masih capek nih dek…. 10 menit lagi ya…” jawabnya.

    Gemas karena mendengar jawaban malas, aku gigit batang penisnya pelan.

    “Iya…iya…iya… ampun…. Mas bangun…. Ampun dek…”

    “Hahahahaha… nah gitu donk…ini udah siang… ayo berangkat kerja… katanya ntar ada meeting…?”

    “Astaga… kamu bener…”

    Tergopoh-gopoh mas Andri bangun dan berlari ke kamar mandi. Tak menutup pintu kamar mandi, mas Andri langsung mengguyur kepalanya.

    “Sayang tolong siapkan semua perlatan kantorku ya… mas dah telat nih…” Sambil keramas, dia menginstruksikan padaku barang apa saja yang mau dibawanya meeting.

    “Syukurin… biar aja telat…makanya jadi tikus hutan tuh liat-liat waktu donk… sini kalo masih mau nambah… adek siap melayani… hahahaha” kataku sambil berdiri di depan pintu kamar mandi, meliuk-liukkan tubuhku bak penari erotis.” Come”on… come to mama…” ejekku lagi…

    “awas kamu ya… “ kata mas Andri sambil melempar air dengan gayung…

    “Dek, mas berangkat dulu ya… harus buru-buru nih… ntar malem kayaknya mas pulang agak telat deh… jadi kamu jaga diri baik-baik ya…” nasehatnya sambil mengecup keningku.

    “Iye…iye….dasar baweeeeel… sana gih buruan berangkat” kataku pada suamiku tercinta.

    Dengan gemas. Mas Andri melakukan salam perpisahan khas kami. Meremas kedua belah dadaku, memelukku dari depan dan menepuk keras-keras kedua bongkahan pantat semokku. Ia lalu beranjak pergi sambil melambaikan tangan.

    Kembali, aku seorang diri lagi rumah kontrakan baruku ini. Menjadi ibu rumah tangga. Menyapu, mengepel, mencuci piring dan mencuci baju. Tiba-tiba aku teringat akan kejadian kemarin lusa. Kejadian gila yang membuatku berubah menjadi Liani yang baru. Liani yang nakal, binal dan tak kenal malu ini. Kejadian awal perselingkuhanku dengan tetangga samping rumahku. Mas Manto. Kakiku m*****kah ringan menuju belakang rumah, lalu kuputar g****g pintu dapurku. kubuka lebar-lebar pintu itu dan mengamati keadaan di sekelilingku. Masih tetap sepi seperti kemaren lusa. Hanya saja, aku tak melihat cucian mas Manto yang dijemur. Hari ini, hanya ada beberapa helai cucian kotor yang teronggok basah di bak cuciku. Tapi entah kenapa, aku sepertinya ingin segera mencuci lagi. Dengan hanya mengenakan daster pendek tanpa daleman sama sekali, kembali, aku menyeret bak cuciku kearah halaman belakang rumah kontrakanku.

    “Cburrr…..cbuuurrrr……” aku mendengar suara air dan gayung.

    “Wah … mas Manto sedang mandi nie…” pikirku.

    Vaginaku yang masih basah karena baru saja disodok-sodok mas Andri tadi, mulai kembali berdenyut. Cairannya mulai membanjir turun kearah pahaku. Putting dadaku juga mulai mencuat, menampakkan keberadaannya dibalik daster tipisku. Dadaku berdebar-debar dengan hebatnya dan lututku pun mulai melemas.

    “Tok… tok… tok…” aku ketuk pintu dapur mas Manto yang tertutup rapat.

    Suara deburan air itupun sejenak terhenti. Mas Manto menutup keran airnya, dan berteriak lantang. “Yaaa… sebentar…. Syapa ya…?”

    “Sa… saya mas… “ kataku putus-putus menahan nafsu yang sudah memuncak “Liani…”

    Aku mendengar mas Manto membuka pintu kamar mandinya, berjalan kearah pintu dapur dan membukanya perlahan. “Yaa…? Ada apa ya mbak….?” Katanya tenang.

    Pria idamanku sekarang berada di depan mataku. Pria yang selalu aku bayangkan ketika bersetubuh dengan mas Andri, suamiku, sekarang benar-benar ada didepanku. Dia terlihat begiru segar, sama persis seperti saat aku meminjam bak cucinya sabtu kemaren. Badan dan rambut yang masih sama, basah terkena air mandi, namun kali ini agak berbeda. Aku tak lagi melihat handuk lusuh berwarna hijau yang terikat di pinggang rampingnya. Saat ini, mas Manto dengan sangat percaya diri, berdiri dalam kondisi tanpa mengenakan penutup aurat sama sekali. Telanjang bulat, memamerkan batang penisnya yang menjulang tinggi melewati pusarnya. Cairan vaginaku sudah tak tertahankan lagi. Meleleh turun, membasahi paha dan betisku. Aku benar-benar terangsang.

    “Mas Manto… bisa pinjem …..” tanyaku lirih sambil menyunggingkan senyum selebar mungkin.

    “Bisa…” potongnya sambil memamerkan senyum paling indah sedunia. Senyum tenang yang selalu menghanyutkan diriku. Diraihnya perg*****an tanganku, dikecupnya pelan, dan diletakkannya telapak tanganku tepat di kepala penisnya yang sudah berdenyut hebat.

    “Yuk…mbak… “

    Aku terima ajakan mas Manto, m*****kah masuk ke dalam rumah kontrakannya, dan menutup pintu dapur di belakangku rapat-rapat.

    “KEPLAK…KEPLAK……KEPLAK” hembusan angin pagi menggoda helai pakaian basah yang terjemur rapi di halaman belakang rumahku. Semerbak aroma bunga dari pewangi pakaian beterbangan terbawa angin keseluruh penjuru ruang.

    “PLUK…PLUK…PLUK” suara lembut tetesan air yang jatuh dari ujung mulut keran ke dalam bak mandi.

    “TENG…TENG…TENG” dentang jam terdengar nyaring sebanyak sepuluh kali.

    Hari ini, langit terlihat jauh lebih bening daripada biasanya, membuat matahari bersinar dengan teriknya. Beberapa awan kecil dengan malu-malu melayang lucu, ditemani layang-layang yang berjoget riang.

    “Benar-benar pagi yang sempurna” kulihat bayangan senyum bibirku terpantul dari peralatan masak yang tergantung rapi di dinding.

    Pandanganku menebus beningnya kaca nako jendela dapur. Kutatap bak cuci pecah yang bertengger manis di sudut dinding belakang rumahku, bersebelahan dengan 2 buah bak cuci baru berwarna merah tua. Senyumku semakin mengembang lebar jika mengingat kejadian konyol beberapa waktu lalu. Kejadian dimana awal perkenalan, pertemanan, dan perselingkuhan dengan tetanggaku dimulai. Semua gara-gara bak cuci yang pecah. Entah kenapa akhir-akhir ini, hari terasa begitu cepat berlalu. Siang datang dengan tiba-tiba, dan tak lama kemudian, malam pun menampakkan keanggunannya. Semua hari seolah berlomba-lomba untuk mengabsenkan dirinya. Kulihat kembali bayangan seksi diriku terpantul dari peralatan masak yang tergantung rapi di dinding. Kuputar-putar pinggangku, mencoba melihat kemolekan lekuk tubuhku sendiri.

    “Ternyata badanku masih tampak sangat seksi” Batinku. “Nggak kalah lah dengan badan muda anak-anak SMA” kembali aku tersenyum.

    Dengan proporsi 165cm/50 kg, tubuhku terlihat begitu semok. Ditunjang kulit putih tak berbulu, kaki jenjang panjang, pantat bulat, dan payudara 36C yang besar membusung, aku yakin mampu membuat mata para pemuda serasa mau loncat dari kelopaknya jika melihatku dalam kondisi bugil seperti ini. Kuraih celemek kecil yang tergantung di sisi pintu dapur, dan langsung kukenakan guna menutupi tubuh polosku. Kupecahkan sebuah cangkang telor ayam dengan sudip. Cairan bening lengket beserta gumpalan bulat bewarna kuning meluncur turun dengan manjanya. Mendarat di atas besi licin, dan langsung mendidih kepanasan.

    “SREEEENNGG”. Dua kali kulakukan hal yang serupa. Jemariku bergerak lincah, mengambil sejumput garam, dan menaburkannya diatas genangan telor yang bergejolak. Tak lama, aroma wangi makanan memenuhi dapur kecil ini, membuat perut yang lapar semakin meraung-raung.

    Kubiarkan beberapa saat, sampai tiba waktunya 2 telor itu pindah dari panasnya besi penggorengan ke atas nasi merah yang masih mengepulkan asap. Telor itu tersenyum manis kearahku dan kemudian terlentang dengan genitnya. Tak lama, kubawa sajian pagiku ke kamar tidur. Kondisi kamar tidur terlihat begitu berantakan. Sebagian bantal dan guling beserta selimut telah jatuh ke lantai. Kain sprei tertarik kesana kemari, tak mampu lagi membungkus kasur dengan sempurna. Gumpalan kertas tissue yang basah tercampur sperma berserakan dimana-mana. Kaos, rok, kolor, sarung, celana dalam dan bra, teronggok di hampir setiap sudut ruangan. Benar-benar berantakan. Kusapu seluruh sudut kamar tidur mas Manto dengan mataku. Aku baru sadar, jika sebenarnya udara dalam kamar ini benar-benar pengap. Gelap, panas, dan berbau amis. Walau kipas angin yang berada di sudut ruangan telah disetel semaksimal mungkin, namun, angin yang dihembuskannya masih terasa panas dan lengket. Kubuka tirai dan jendela kamar tidur mas Manto membiarkan udara pengap dalam kamar ini tergantikan oleh udara baru yang segar. Kilau sinar matahari langsung membutakan mataku, terang sekali. Karena terbiasa dengan kondisi temaram kamar mas Manto beberapa saat tadi, perlu sedikit waktu bagi mataku untuk dapat beradaptasi dengan terangnya pagi itu. Hembusan segarnya udara pagi langsung menyapa wajahku. Kuhirup dalam-dalam dan kubiarkan jendela kamar tidur itu terbuka lebar-lebar.

    “Ini sarapan paginya mas”

    Kuletakkan nampan berisikan nasi goreng telor setengah matang, air putih dan kopi pahit kegemaran suamiku di meja rias yang ada di sudut kamar tidur. Aku duduk ditepi tempat tidur, di samping kanan tubuhnya yang masih polos tanpa mengenakan sehelai pakaian pun. Ia menatapku dalam-dalam sambil tersenyum. Tangan kirinya diletakkan dibelakang kepala tuk dijadikan bantal. Dan tangan kanannya selalu dalam kondisi siaga, mengurut penisnya yang mulai kembali tegang secara perlahan. Kukecup pelan pipinya dan kupeluk perlahan tubuh kekarnya. Dadanya yang bidang terlihat sudah bergerak normal, naik dan turun dengan teratur. Begitu pula dengan hembusan nafasnya yang sekarang terlihat begitu tenang. Dengan sigap, ia segera bangkit dari posisi tidurnya dan bergeser ke kiri, mempersilakan aku untuk semakin mendekat ke arahnya. Punggung lebarnya disandarkan ke kepala ranjang.

    “Makasih dek” suamiku tersenyum dan mengecup keningku ”Kamu baik banget…setiap pagi selalu menyediakan ‘sarapan’ paling enak sedunia…bahkan mungkin sarapan yang paling enak se-jagat raya”

    “Aaaah mas bisa aja…khan memang ini tugas seorang istri mas” kukecup dada bidang suamiku dan kukenyot puting yang berwarna hitam itu “Untuk selalu bisa memuaskan lelaki pilihannya…lahir dan batin”

    “Kamu memang bidadari dek” ditariknya kedua pundakku maju kearahnya dan dipeluknya erat-erat. Sangat erat sampai aku merasakan sedikit kesakitan pada kedua payudaraku yang tertekan ke dada bidang suamiku. Dielusnya belakang kepalaku sambil mengusap-usap punggung putihku dengan tangannya yang kasar. “Aku sayang kamu dek”

    “Hmmm…udah udah…nih dimakan makanannya…ntar keburu dingin” aku berusaha melapaskan diri dari pelukan suamiku. Sekuat tenaga kudorong tubuhnya, tapi sia-sia, ia begitu kuat. “Udah ah mas…nie adek mo ngambil makanannya dulu”


    Mas Manto

    Sambil tersenyum, ia akhirnya mengendurkan pelukannya. Namun ketika aku membalikkan badan dan beranjak mengambil makanan di meja di sudut kamar, kembali suamiku menarik pinggangku yang kecil dan memelukku dari belakang. Tak lama kedua tangannya mulai jahil, menelusup dari sisi-sisi celemek dan meremas payudaraku yang bergelantungan bebas

    “Bentaran ah dek…mas masih kangen kamu”

    “Shhh…Aduuuuhhhh…udahan donk mas…sarapan dulu”

    “Tapi mas nggak kepingin makan sarapannya dek” diremasnya kedua payudaraku lagi dan mulai mempermainkan putingku yang mulai tinggi mencuat “Mas kepingin makan kamu”

    “Aduh…khan baru 20 menit tadi mas makan adek…masa mau nambah lagi?”

    “Hahahaha” tawanya lantang “Kalo makan kamu mah mas nggak bakalan kenyang dek”

    “Ssssshhh” Erangku mulai terhanyut arus birahi ”Iya deh iya…ntar adek kasih lagi…tapi shhhh…sekarang mas makan dulu yak”

    Seperti keasyikan bermain balon berisi air, diguncang-guncangkannya payudaraku sembari mengecup tengkukku. Membuatku semakin merinding mendapat perlakuan seperti itu.

    “Makasie ya dek Lianiku sayang” masing-masing payudaraku ditarik jauh-jauh kearah samping dan diplintirnya puting payudaraku keras-keras . “Mas sayang banget ma kamu”

    “Aawwwhhh…aduh…mas Manto tega deh” kutampikkan kedua tangan nakalnya keras-keras, mengusirnya supaya tak menggoda putting dan payudaraku lagi. “Khan sakit” kataku sambil mengernyitkan hidungku kearahnya, lalu beranjak bangun.

    Kuambil nasi goreng yang ada di atas meja rias mbak Narti dan kuserahkan kepada mas Mantoku. Diambilnya piring nasi goreng itu dengan satu tangannya, lalu ia kembali duduk sambil menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Ia hanya tersenyum lalu tertawa lantang. Dan sekali lagi, aku terbuai oleh senyum yang menawan. Tak terasa, perselingkuhanku dengan mas Manto telah memasuki bulan kedua. Dan selama itu pula aku merasakan bagaimana indahnya hidup. Bukannya aku tak mensyukuri akan apa yang telah diberikan oleh mas Andri, suamiku asliku, namun jika bersama mas Manto, aku merasakan bagaimana rasanya menjadi wanita yang sebenarnya. Karena dari mas Manto, aku bisa mendapatkan kepuasan yang tak pernah aku dapatkan dari mas Andri. Kepuasan lahiriah sebagai seorang wanita. “Kenikmatan ketika mendapatkan ORGASME, benar-benar tak terkatakan” Semenjak tragedi pecahnya bak cuciku beberapa waktu lalu, aku menjadi seolah terhipnotis untuk menjadi istri kedua mas Manto. Menjadi budak pelampiasan nafsu binatang suami mbak Narti, tetangga sebelah rumah kontrakanku.

    Peranku sebagai istri mas Manto berlaku semenjak mas Andri berangkat kerja di pagi hari sampai ia pulang di sore harinya. Semenjak saat itu pula, aku jadi sering menginap dirumah mas Manto ketika siang. Setelah istri mas Manto berangkat kerja juga tentunya. Mungkin karena jadwal mas Andri dan mbak Narti yang terlalu mudah diprediksi, kami menjadi benar-benar merasa tenang dengan perselingkuhan yang terjadi selama ini. Pagi hari sekitar pukul 8, suamiku berangkat ke kantor. Tak lama, sekitar 30 menit kemudian, mbak Narti juga kepasar untuk bekerja di toko. Sore harinya, mbak narti pulang lebih dahulu, sekitar pukul 6 sore. Dan suamiku, juga baru sampai rumah sekitar pukul 8 malam. Otomatis dari pukul 9 pagi sampai 5 sore, tak ada lagi pasangan masing-masing yang bakal memergoki kami berdua untuk berbuat mesum. Sehingga ada sekitar 8 jam waktu untuk kami berdua guna menikmati perzinahan ini.

    “Enak bener dek masakanmu…sempurna” katanya memuji masakanku sambil tersenyum lebar.

    “Siapa dulu donk istrinya…??” kataku sambil berkacak pinggang dan menepuk-nepukkan tanganku di payudaraku. “Liani…sang istri super”

    “Haahahahaha…mas bangga dek bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi suamimu”

    “Bangga sih boleh bangga…tapi mbok ya kontolnya diajarin supaya sedikit hormat“ kataku sambil menunjukkan daguku kearah kemaluan mas Manto yang telah berdiri tegang dengan sempurna ”Kok kayaknya nantangin gitu”

    Liani yang kalem, sopan dan berperilaku terpelajar berubah menjadi Liani yang liar, binal dan berlaku bak pelacur murahan. Kugeleng-gelengkan kepalaku, takjub akan stamina penis mas Manto. Tak peduli sebanyak, sebrutal dan secapek apapun persetubuhan yang telah kami lakukan, penis itu dapat dengan mudah bangkit dari tidurnya. Tanpa banyak basa-basi, segera saja aku loncat ke tengah-tengah kasur lalu kuraih batang berurat yang tumbuh di s*****kangan suami baruku itu. Kubuka paha dalam mas Manto lebar-lebar dan mulai kukocok penis beruratnya perlahan.

    “Bentar dek…bentar” mas Manto berusaha meletakkan piringnya dan menjauhkan tanganku dari s*****kangannya. Namun buru-buru aku cegah.

    “MAKAN…!!!” Kubelalakkan kelopak mataku, dan kutatap mata mas Mantonya dalam-dalam.

    “Ampuuunnnnn…iya deh…iya”

    Denyutan batang penis mas Manto begitu hebat. Sampai aku bisa merasakan kedutan aliran darahnya ketika melewati rongga urat-urat yang berwarna hijau kehitaman. Ukuran penis mas Manto mirip tongkat kasti, begitu besar dan panjang.

    Sekilas jika aku bandingkan antara penis mas Manto dengan penis milik suamiku, terlihat sungguh jauh berbeda. Panjang penis mas Andri hanya sekitar 16 cm. Digenggam dengan dua kepalan tanganku pun, batang dan kepala penis mas Andri sudah habis. Berbeda dengan penis mas Manto, walau sudah dibungkus dengan dua kepalan tanganku, masih ada lebih dari sepertiga bagian penisnya yang tersisa. Jengkalan tangankupun tak mampu untuk menyamai panjang batang penisnya. Belum lagi dengan diameternya. Jika diameter batang penis mas Andri mampu aku genggam penuh dengan mudah, tak begitu dengan batang penis mas Manto. Batang penis mas Manto terlihat jauh lebih besar, bahkan saking besarnya, ketika kucengkeram, hanya ujung ibu jariku yang mampu menyentuh ujung jari tengahku, tak peduli sekeras apapun aku mencengkeram batang itu.

    “Ampuuunnn deeekk”

    Semakin cepat aku naik turunkan tanganku pada penis mas Manto, dan semakin merah pula batang penis itu menderita. Sesekali, kepala penis mas Manto aku cekik, sampai bagian kepala penisnya menggelembung besar, penuh dengan darah berwarna merah kehitaman. Sesekali pula aku gigit keras-keras batang penisnya, sampai membekas cetakan gigiku. Berderet merah bak jahitan kemeja kerjanya.

    “HAP…sluuurrrrpp” kumasukkan batang penisnya kemulutku.

    Sesaat, tercium aroma pesing s*****kangan yang langsung menusuk hidungku. Tak mau ketinggalan, aroma anyir sisa-sisa sperma juga kembali aku rasakan menjalar keseluruh bagian lidahku. Kujilati semua permukaan kulit penis yang bertonjolan urat-urat itu. Kukecup kepala penis mas Manto yang semakin memerah dan kukelitik lubang kencingnya yang mulai mengeluarkan air mani. Aku urut batang berurat itu dengan kencang dan keras, berharap dari lubang kencingnya segera muncrat benih-benih kejantanannya. Benih kehidupan yang tersimpan di kantung zakar hitamnya.

    “Uuuuhhhhhh…Shhh” mas Manto memejamkan mata dan mendesah lirih, berusaha menikmati jilatan brutal lidahku diantara sakitnya cengkeraman jemari tanganku. “Ammpuun dek…ampuuunnn” katanya sambil berusaha meletakkan piring makannya.

    “Hiiiieeeemmmm hhaaajjaaa hhiiissiiihhuuu…(diem saja disitu)” perintahku tegas.

    “Dek…bentar dek…mas naruh piring makan dulu ya” katanya sambil memegang kepalaku, berusaha menjauhkan dari penisnya yang telah memerah tegang.

    “Mmmmhh bodo” jawabku enteng. Kulepaskan batang mas Manto dari kuluman mulutku. “Slllrruup…syapa suruh tadi mas melintir-melintirin puting adek…khan adek jadi pengen ngewe lagi…Mmmmnnhh ” kataku sambil menegakkan penisnya, berusaha menjilat dan memakan biji zakarnya.

    Biji zakar sebesar buah duku itu juga tak kalah sangarnya. Terlihat begitu bulat, hitam dan terbungkus kulit tipis yang ditumbuhi ratusan helai rambut. Menggelambir turun dan ikut terombang-ambing kesana kemari seiring kocokan jemari lentikku.

    “Rambut jembut yang lebat sekali” batinku, sembari terus mengurut batang besar itu dengan mulutku. Sesekali, aku kunyah rambut rambut kemaluan mas Manto sambil menggigit buah zakarnya…

    “Ammppuuunnnn deeekk…Mas ga kuat lagi…ampunn” rintih mas Manto keenakan. Diletakkannya piring nasi goreng itu disamping tempatnya duduk, dan sambil mengejan keenakan, mas Manto memegang kepalaku.

    Melihat ketidak berdayaan suami baruku, aku menjadi semakin gemas dan brutal. Dengan dua tangan, kupercepat kocokan penisnya, sambil terkadang kupelintir batang penis itu, bak memeras cucian basah.

    “Dek Liani…bentar dek sssshhh…aduuhh deekk…kalo kontol mas kamu plintir-plintir gitu…mas bisa cepet keluar lagi…ssshhh” desisnya.

    “Ya udah…sok…Mnnmmhhh” Tantangku sambil kembali memasukkan kepala penisnya lebih dalam ke mulutku. Kuhisap kepala penis mas Manto sekuat tenagaku, sampai kurasakan pipi putihku kempot. Aku ingin kembali merasakan benih kejantanannya.

    “Deekk…Dekk”

    “Uhhaaahhh…huurruuaann hiihheelluuaahhiinnn…(Udah buruan dikeluarin)”

    “Ammppuunnn deeekkk…ampun” digerakkannya kepalaku naik turun.

    Mas Manto sepertinya berusaha menjadikan bibir, mulut dan lubang tenggorokanku sebagai sarana pengocok penisnya. Walau mas Manto tahu, hanya setengah dari total panjang penisnya yang mampu aku telan, namun hal itu tak juga mengurungkan niatnya untuk memperkosa mulutku. Dengan posisi tubuhku yang menungging, terkadang tangan mas Manto menggapai-gapai vagina dan payudara 36Cku yang bebas bergelantungan. Terkadang pula ia menusuk vaginaku dengan jari-jemarinya atau memuntir dan menarik-narik putingku. Aku hanya bisa memejamkan mata, mencoba menikmati permainan kasar suami baruku. 3 kali sodokan pendek, 2 kali sodokan dalam. Tempo yang dilakukan mas Manto ketika menaik turunkan kepalaku. Mas Manto memang selalu bermain dengan tempo. Aku dapat merasakan kepala penisnya menyundul-nyundul didalam tenggorokanku. Maju mundur dengan tempo yang sangat cepat. Tak jarang tenggorokanku merasa sampai tersekat dan tak bisa bernafas. Namun, entah mengapa, dari kebrutalan gaya bermain mas Manto, aku semakin terlena dibuatnya.

    “Tiduran terlentang dek…mas juga pengen ngobel memek kamu” Perintahnya singkat.

    Karena aku juga sudah terbawa nafsu jasmani, segera saja aku ambil posisi terlentang. Mas Manto segera merangkak ke atas kepalaku, dan mengatur posisi penisnya supaya tepat di mulutku.

    Kami memposisikan tubuh seperti angka 69, saling mengoral satu dengan yang lain. Jika aku menyedot sambil memintir batang penis mas Manto yang berukuran ekstra ini, mas Manto pun memperlakukan vaginaku dengan hal yang serupa. Ia menyibakkan bibir vaginaku lebar-lebar, menusuk dengan jemarinya dan menjilat setiap mili bagian vaginaku.

    “Ohhh…Mas…Sshh…enak banget mas” desahku ketika mas Manto mempermainkan clitorisku. Geli, nikmat dan sedikit ngilu. Sampai-sampai, terkadang aku merasa vaginaku seperti tersengat arus listrik dan tubuhku menggelijang tak menentu arah.

    Sebenarnya aku tak perlu bertingkah macam-macam ketika dalam posisi 69 ini, karena posisiku berada di bawah. Berbeda dengan mas Manto yang berada diatas, harus lebih aktif lagi.

    “Enak bangets dek…mas mo keluar nih” Katanya sambil mempercepat goyangan pinggulnya dan menyodok-nyodokkan penisnya di mulutku. Tak lupa, ia pun menjilat dan menusuk-nusukkan dua jari tangannya dalam-dalam ke vaginaku.

    Selagi merasakan kenikmatan pendakian ke puncak birahi, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara dari balik jendela.

    “Tumben mas To… olahr****ya agak siangan? hakhakhak” teriak suara itu lantang sambil terkekeh “Gorong-gorongnya mampet lagi ya?”

    “Pak Tarjo…” bisik mas Manto kepadaku sambil mendekap mulutku “Habis turun mesin pak…lagi ngetes” teriak mas Manto, menjawab pertanyaan pak Tarjo dari dalam kamar. Seketika kami menghentikan aktifitas birahi ini dan berusaha memperhatikan kondisi sekitar.

    Pak Tarjo adalah tetangga yang tinggal di komplek perumahan kami juga. Rumahnya bersebelahan dengan rumah mas Manto. Pak Tarjo, seorang pegawai negeri sipil yang sedang menanti masa pensiunnya. Berusia sekitar 60 tahun dan memiliki seorang istri dan dua orang anak yang masih sekolah. Memang sudah seperti hal yang biasa saja, mas Manto dan pak Tarjo saling bercanda seperti ini. Bercanda mengenai sex yang kurang lazim jika dilakukan oleh tetangga normal. Namun semenjak aku menjadi budak nafsu mas Manto, akupun mulai terbiasa mendengar mereka saling canda dan ejek. Ya, hanya sebatas saling ejek.

    “JGREEEK…JGREEK…JGREK” Distaternya Honda WIN bututnya “BRUUMMM….”

    “Oowwh…jadi sekarang baru dapat kendaraan baru nieh…hakhakhakhak” timpalnya lagi sambil memutar gas motornya berulang-ulang.

    “Tau aja nie pak’e…hahahaha” jawab mas Manto sekenanya, sambil tersenyum kearahku.

    Pak Tarjo selalu saja muncul di saat yang benar-benar tak bisa diprediksi. Tubuh polos kami dan pak Tarjo, hanya dipisahkan oleh dinding dan jendela kaca bertirai tipis yang sesekali terbuka ketika tertiup angin. Di antara rumah mas Manto dan rumah pak Tarjo terdapat teras dan jalan kecil selebar 3 meter yang mengarah ke halaman belakang. Teras tersebut ada di setiap sisi rumah, dan biasanya digunakan sebagai tempat menaruh barang atau motor. Seandainya pak Tarjo iseng mengintip ke dalam kamar tidur mas Manto, ia pun dapat langsung melihat kami yang sedang bertumpuk-tumpukan ini, karena posisi ranjang mas Manto sejajar dengan letak jendela kamarnya. Namun, menurut pengalaman kami berdua selama ini, pak Tarjo tak akan melakukan hal seperti yang aku khawatirkan.

    “Pak Tarjo hanya manasin motor dek…tunggu ya…bentar lagi dia juga jalan”

    Dan benar, tak lama kemudian, “Mas To…saya berangkat dulu ya” ucap suara dari ballik jendela. “Udah buruan dikelarin…kasihan mbak Narti ntar klo telat…bisa dimarahin bosnya…”

    “Mbak Narti?” kami berdua berpandangan heran.

    “HAHAHAHAHA…” spontan kami berdua tertawa terbahak-bahak.

    Ternyata pak Tarjo masih mengira, saat itu mas Manto sedang menyetubuhi mbak Narti. Seandainya ia tahu siapa gerangan musuh birahi mas Manto saat itu, tentunya akan menjadi berita yang menghebohkan komplek perumahan kami. Seandainya Pak Tarjo tahu apa yang hampir setiap pagi mas Manto perbuat kepada istri tetangganya, mungkin ia tak jadi berangkat ke kantor, bahkan mungkin, bisa saja ia ikut nimbrung dan bergabung dengan kami berdua. Seandainya saja……..Perasaan aneh itu muncul lagi. Tiba-tiba, perasaanku menginginkan supaya pak Tarjo dapat mengetahui keberadaanku disini. Aku ingin pak Tarjo sadar jika saat itu wanita yang sedang dizinahi mas Manto adalah bukan istri syahnya. Aku ingin pak Tarjo menyaksikan persetubuhan kami berdua.

    “Mas…ayo terusin kocokannya…adek udah gak tahan” pintaku sambil mulai menggerak-gerakkan pinggulku.

    “Bentar dek…masih ada pak Tarjo…ntar dia bisa tau kamu ada disini” bisiknya.

    “BODO AHHkk…AYO MASSSsshh…cepetaann” sedikit kunaikkan volume suaraku supaya pak Tarjo sadar akan keberadaanku di sini.

    Tepat seperti perkiraanku, sekilas, pak Tarjo menatap tajam ke jendela kamar mas Manto. Namun karena ada tirai putih tipis yang menghalangi pandangannya, ia tak begitu mengetahui kondisi di dalam kamar saat itu. Karena merasa asing akan suara barusan, pak Tarjo celingukan, mencoba mengenali siapa pemilik tersebut.

    “Tuh dek…Pak Tarjo bisa tahu loh” bisiknya sambil sesekali melihat ke arah pak Tarjo yang masih menatap tajam kearah kami.

    “BODO” tambahku “Makanya BURUAN KOCOK…adek udah bener-bener nggak tahan” ujarku semakin sewot “BURUANnn…”

    “Iye..iyeee…” jawab sambil mulai menjilat dan mengocok jemari gemuknya di vaginaku.

    “Ouuggghhh…gitu mas…enak bener… terusin mas…” desahku lantang.

    Kembali kulihat pak Tarjo dari dalam kamar gelap ini. Ia berdiri menatap tajam kearah jendela kamar mas Manto dengan raut muka penasaran. Kepalanya miring dan alisnya saling bertautan. Beruntung aku akan teriknya sinar matahari diluar sana, sehingga membuat pandangan dari luar sedikit terhalang. Sebaliknya, aku yang ada di dalam kamar, mampu dengan leluasa mengawasi keadaan diluar kamar.

    “Sepertinya enak banget nih…weleh-weleh…yang lagi nyobain mesin baru…” kata pak Tarjo lagi “Tumben dek Narti diem saja…hahahaha”

    “Ssshhh…Abis keenakan sih pak” teriakku lantang menirukan suara mbak Narti.

    Dengan sigap, mas Manto langsung membekap mulutku.

    “Gila kamu dek…suara kamu khan beda dengan suara Narti”

    “Biarin ahhhhjaahhh…” jawabku genit “Biar kamu nurut semua kata-kataku” tambahku lagi sambil mengernyitkan hidungku.

    Entah dari mana kenekatanku, menjawab pertanyaan pak Tarjo. Aku tahu, memang type suaraku berbeda dengan suara mbak Narti. Tapi toh pak Tarjo mungkin tak menyadarinya.

    “Mas To… aku berangkat dulu ya… “ ujar pak Tarjo sambil menengok terus kearah jendela kamar mas Manto.

    “Iya pak…hati-hati ya” teriakku lagi menjawab salam pak Tarjo.”Kapan-kapan kalo ada waktu …gabung ke sini aja pak”

    Kaget, pak Tarjo kembali menatap tajam kearah kamar.

    “Dasar tetangga edan…hakhakhakhak…” Ia menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa “Yowes…aku berangkat dulu…ati-ati To…nyodoknya pelan-pelan…kasihan mbak Narti…khawatir lecet-lecet” akhirnya tak lama kemudian, iapun berangkat.

    Mungkin karena jengkel, mas Manto langsung mengobok-obok vaginaku dengan buas. Dengan cepat dan memburu mas Manto menusuk dan mencabut jemari gemuknya ke dalam vaginaku.

    “Mulai nakal kamu ya…nie…rasain hukumanku…”

    “Oouuggghhh… enak banget mas…terusin…aku suka banget mas…mas…terus”

    Menerima tusukan tajam dan cepat jemari mas Manto, aku merasa gelombang orgasmeku akan datang lagi. Detak jantungku semakin cepat, dan sembusan nafasku memberat. Cairan cintakupun membanjir dan tak terkontrol lagi. Mengalir turun melewati sela-sela bongkahan pantatku. Saking banyaknya, aku tak dapat membedakan, apakah yang keluar dari vaginaku ini murni cairan cintaku, atau sudah tercampur dengan air liur dari mulut mas Manto. Karena yang pasti, aku sudah tak sanggup menahan rasa panas dari gelombang nafsu yang akan datang ini.

    “Ooohhh… massshh…adek juga mo keluar…ssshhhh” Kataku “Kita keluar bareng-bareng ya mas”

    “Ogah…keluar aja sendiri” ujar mas MantoI sengit sambil terus mengobok liang vaginaku cepat-cepat. Rupanya ia masih jengkel dengan tingkahku terhadap pak Tarjo barusan.

    “Hmmm mas Manto mo main-main ya? Boleh…belum tau dia…gimana kalo Liani beraksi” Batinku sambil membalas kocokannya dengan kenyotan mulutku ke batang penisnya.

    “Uuuuhhh…uuhhh…dek…dek… pelan-pelan dek” ujarnya sambil mulai mempercepat sodokan penisnya naik turun ke mulut kecilku.

    “Mampus” jawabku singkat” semakin kukencangkan katupan bibirku.

    “Yah…yah…yah dek …mas juga sudah nggak tahan lagi dek”

    Tiba-tiba, ditekannya dalam-dalam pinggul mas Manto kebawah. Tak sadar akan sakit yang aku rasakan, mas Manto dengan keras mendorong penisnya untuk dapat masuk dan tertelan semua oleh tenggorokanku..

    “Gila…Batang penis sepanjang 24 cm ini ia paksa untuk bisa masuk semua ke dalam mulutku” pasrahku dalam hati, sambil berusaha menikmati sakitnya gaya seks brutal mas Manto.

    Aku mencoba untuk teriak, namun “Uuuummmgggghhh” hanya itu suara yang keluar dari mulutku. Kurasakan sakit yang luar biasa ketika penis mas Manto berusaha untuk terus masuk lebih jauh lagi, begitu perih sampai seolah-olah batang penis itu merobek tenggorokanku. Seperti tenggelam, aku tak dapat bernafas. Leherku tersekat dan air mataku pun mulai menetes dari sudut mataku. Saking besarnya penis mas Manto memaksa mulutku tuk terbuka, aku merasakan rahangku sampai mati rasa. Pegal sekali, bahkan aku merasa, rahang mulutku seperti hendak lepas dari engselnya. Aku hanya bisa mendongakkan kepalaku semaksimal mungkin, berusaha membuat tenggorokan dan leher ini meregang selebar-lebarnya. Tujuanku hanya satu, aku juga ingin merasakan kenikmatan denyut orgasme pada vaginaku seiring sakitnya sodokan batang penis mas Manto pada tenggorokanku.

    “AAAAAAAARRRRRGGGGGGHHHHHHH” Hampir bersamaan kami teriak, melepas semua beban birahi yang ada di otak dan alat kelamin kami masing-masing.

    “CRET…CREET…CREEETT”

    Lima denyutan hebat, aku kurasakan di dinding kerongkonganku, seiring dengan muncratnya ribuan benih sperma mas Manto. Tak sebanyak, dan sekental spermanya beberapa saat lalu, namun masih kurasa kenikmatan benih-benih pria selingkuhanku langsung masuk menyembur dengan kuatnya. Walau tak terasa oleh lidah, namun tekstur lembut sperma itu masih bisa rasakan ketika mengalir turun dari kerongkongan menuju lambungku.

    Mas Manto menjatuhkan badannya kebawah, menimpa tubuh rampingku berusaha menikmati ejakulasi yang ia dapatkan dari mulutku sambil sesekali masih mengaduk-aduk mulut dan tenggorokanku naik turun dengan perlahan. Mas Manto tak memperdulikan tubuh dan tanganku yang menggelepar-gelepar hebat karena orgasme yang juga kurasakan. Karena tak mampu berbuat apa-apa, akhirnya aku hanya bisa pasrah. Membiarkan suami baruku berbuat sesukanya terhadap tubuhku. Toh tubuh ini juga sudah menjadi miliknya. Entah berapa lama lagi aku harus dalam kondisi seperti ini. Nafasku tersekat dan mataku mulai berkunang-kunang. Tanda kesadaranku mulai menurun. Tanpa mengenal kasihan, mas Manto masih saja membenamkan batang penisnya dengan brutal kearah mulutku. Mungkin dengan disodokkannya batang penisnya dalam-dalam, mas Manto bisa merasakan denyut gerakan peristaltic tenggorokanku lebih lama lagi. Merasakan tenggorokanku memanjakan penisnya dengan gerakan mengurut yang tiada henti. Melihat aku yang sudah lemas dan tak meronta lagi, rupanya mas Manto sadar jika aku mulai kehilangan kesadaran. Dengan segera, dicabutnya batang penis raksasanya dari mulutku dan langsung membiarkanku megap-megap mencari oksigen…

    “Huuuuaaaaaahhhh” Kubuka mulutku lebar-lebar dan kuhirup oksigen sebanyak-banyaknya. Kembali tubuhku menggelepar-gelepar, merasakan kembali orgasmeku yang sempat terputus akibat sodokan kasar penis mas Manto di mulutku tadi. Lebih dari 30 detik, dinding vaginaku berkedut dengan hebat. Tak lama, gelinjang tubuhku mulai sedikit mereda, dan detak jantungku mulai pelan. Terlentang menghadap langit-langit sambil mengatur nafasku yang putus-putus.

    “Hhhh…gihhla kahhmu mashhh…hhh hhh” kataku dengan nafas yang berat “Tehhga banget…Kalo adek mati gihhhmana?” kataku sambil menatap mas Manto yang sudah kembali bersandar di kepala tempat tidurnya dengan pandangan marah.

    Mas Manto hanya tersenyum lebar. Menampakkan deretan gigi-giginya yang kuning sambil mengurut penisnya yang berkilat air liurku.

    “Maaf dek…abis sepongan kamu benar-benar enak…mas jadi khilaf”

    Mas Manto beranjak dari posisi duduknya dan merangkak kearahku. Gengan posisi kaki yang dilebarkan sejauh mungkin, ia dudukkan pantat hitamnya tepat di atas kepalaku.

    “Kamu makin cantik sayang kalo marah gitu” katanya sambil tersenyum dan menepuk-nepukkan penisnya yang setengah ereksi ke rambutku.

    “Halah gombal” ujarku sambil melirik ke atas, memasang muka sejutek mungkin.

    Diraihnya tanganku, dan kembali diletakkannya pada batangnya yang setengah ereksi.

    “Bersihin kontolku dong dek”

    Dengan posisi yang masih telentang, akan sulit tentunya membersihkan penis yang ada tepat di atas kepalaku. Kubalikkan badanku dan langsung kucaplok keras-keras penis mas Manto sambil sesekali mengunyah daging kenyal itu dengan gigiku.

    Mas Manto mulai meracau tidak jelas “Shhh…Dek…Enak banget”

    Mulutku kembali basah oleh zir liur yang bercampur sperma segar mas Manto.

    “Lianiku, sang bidadari pecinta peju” julukan sayang yang diberikan kepadaku oleh mas Manto, suami baruku.

    Kujilat seluruh permukaan kulit penis mas Manto sambil kuhisap-hisap batang penis yang mulai mengecil itu.

    “Seponganmu memang yahud dek…belum pernah aku temui wanita lain dengan sedotan mulut yang maut sepertimu sayang”

    “Wanita lain…??”

    “Iya…si Narti atau mantan-mantan pacarku dulu…selain kamu…tak satu pun dari mereka yang bisa membuatku moncrot seperti ini…sssshhh”

    Walau sedikit jengkel karena dibanding-bandingkan dengan wanita lain, namun sekilas, ada juga perasaan bangga ketika mendengar suami baruku berkata seperti itu.

    “Tak ada yang mampu menyamai seponganku” lagi-lagi senyumku mengambang lebar.

    Kukecup kepala penis mas Manto

    “Kontol berurat…Aku sayaaaang banget ama kamu” ujarku kepada kepala penis mas Manto.

    Kugoyang-goyangkan batang itu ke kanan kekiri, sambil sesekali menepuk-nepukkan batang itu ke mulut dan pipiku, seolah sedang berbicara dengan manusia.

    “Dasar dek Lianiku” kata mas Manto sambil mengacak-acak rambutku.

    Melihat penisnya yang sudah benar-benar bersih dari sperma, ia segera turun dari tempat tidur, mengambil piring dan nampan berisi sarapan paginya lalu m*****kah ke luar kamar. Kurebahkan tubuhku, kembali tidur terlentang dan menatap tajam langit-langit kamar mas Manto sambil tersenyum. “Hhhh…perzinahan yang benar-benar nikmat”

    Masih dalam posisi terlentang, samar-samar aku mendengar mas Manto bersiul. Dari nadanya sepertinya ia dalam kondisi hati yang riang. Terdengar pula bunyi keresek plastik, dentingan gelas dan botol, serta kucuran air.

    “Deekk…Kesini donk” panggil mas Manto dari arah dapur.

    “Iya bentar mas”

    Kulangkahkan kakiku menuju dapur. Sesampainya di dapur kulihat mas Manto sedang asyik menyantap sisa makanan yang belum sempat ia habiskan tadi. Ditangannya, terlihat sendok dan garpu yang sedang beradu dengan piring dan nasi. Menyendok nasi goreng, dan memasukkan makanan itu dengan lahap. Sesekali ia berdiri dari kursi makan dan m*****kah ke arah kulkas untuk sekedar mengambil air minum. Aku hanya bisa tersenyum, ketika melihat pasangan zinahku beraktifitas. Sungguh lucu melihat mas Manto mondar mandir tanpa mengenakan pakaian selembarpun. Penis yang berukuran sebesar lengan bayi itu bergoyang-goyang dan memukul paha dalamnya tiap kali ia m*****kahkan kaki.

    “Dek duduk sini donk” pintanya sambil menggeserkan kursi makan di sampingnya mempersilakanku untuk duduk.

    Sambil terus menatap aktifitas makannya sambil sesekali melirik batang penisnya yang tidur dengan damai, aku letakkan pantat bulatku di kursi yang ada di samping kanannya.

    “Dek…habis mas makan… temenin mas mandi yuk” ujarnya santai sambil terus melahap nasi goreng di depannya.

    Aku mengangguk pelan.

    “Lucu sekali batang penis mas Manto…sekarang batang penis itu tak segahar beberapa waktu lalu. Pendek, hitam dan gemuk. Mirip terong…besar dikepala tapi kecil di pangkal batangnya” batinku sambil tersenyum.

    “Kok senyum-senyum sendiri dek” Tanya mas Manto heran.

    Aku tak menjawab, hanya tersenyum.

    Dengan cuek, mas Manto kembali menyantap sarapan paginya. Kujulurkan lengan kiriku. Dan kuraih batang gemuk yang tergeletak diantara paha kekar mas Manto itu. Kutimang-timang batang hitam itu, layaknya seorang pembeli sedang melakukan transaksi di pasar buah.

    “Uhuk…uhuukk” mas Manto tiba-tiba tersedak. Beberapa butir nasi muncrat dari mulutnya.

    Rupanya ia terkejut ketika merasakan penisnya tiba-tiba aku sentuh. “Kaget aku dek…kirain kontol mas mau kamu betot…emang kenapa dek…?”

    “Nggak kenapa-kenapa mas…adek cuman pengen mengamati kontol mas aja” ucapku sambil terus tersenyum “Mas terusin aja makannya”

    Walau penis itu masih dalam kondisi tidur, tetap saja aku dibuat takjub. Ukurannya hampir sebesar penis mas Andri suamiku ketika telah ereksi dengan sempurna.

    “Tak sepanjang penis mas Andri ketika ereksi sih…namun yang jelas, jauh lebih gemuk” batinku.

    Kepala penis mas Manto hampir tertutup seluruhnya oleh kulit tipis, sehingga hanya mulut penisnya saja yang menampakkan senyumnya. Urat-urat batang penis mas Manto juga masih tetap terlihat, walau hanya sebagian saja. Namun kali ini aku bisa dengan mudah melingkarkan jemariku. Batang penis mas Manto yang super keras ketika ereksi, sekarang terasa begitu lembut, ketika kuremas perlahan, aku seperti meremas balon balon berisi air. Kenyal namun hangat. Diseruputnya kopi pahit sampai tak tersisa “Slurpp aaahhhh”. Dan, selesai sudah acara sarapan pagi mas Manto. Sambil bersandar malas di kursi makan, ia mengusap-usap perutnya yang menggelembung. Mas Manto menatap ke arahku, kepalanya dimiringkan dan kembali, ia tersenyum kepadaku.

    “Suamimu beruntung banget dek bisa dapat istri seperti kamu”

    “Kok…? Mas Andri…?”

    “Iya…dia bisa dapat kenikmatan darimu seutuhnya…tanpa harus melakukan hubungan yang sembunyi-sembunyi dan selalu takut ketahuan seperti ini” ada rasa pesimis dalam nada kalimatnya. “Andai kita bertemu 4 atow 5 tahun kemaren dek”

    “Mas Manto…justru adek yang merasa beruntung mas”

    “Loh…?”

    “Iyalah…aku jadi merasa memiliki belahan jiwa yang selalu mengerti segala kebutuhanku” kataku mencoba menaikkan semangat mas Manto

    Memang benar, jika dilihat dari segi fisik dan ekonomi, mas Andri beberapa langkah lebih unggul daripada mas Manto. Wajah mas Andri terlihat tampan, berkulit putih dan selalu berpenampilan rapi terawat. Bekerja di perusahaan minyak asing sebagai pengawas lapangan, yang aku yakin penghasilannya beberapa kali lipat diatas gaji mas Manto. Intinya, semua kebutuhan rohani dan jasmaniku, dapat dipenuhi oleh mas Andri. Sedangkan mas Manto. ia hanyalah seorang satpam perumahan biasa, berkulit hitam kelam, dan sama sekali tidak menampakkan ketampanan apapun. Penghasilannya juga pas-pasan, sampai mengijinkan mbak Narti bekerja. Sama sekali bukan lelaki pilihanku jika aku diminta memilih antara mas Manto dan mas Andri. Namun, jika dibandingkan dengan kebutuhan birahi yang aku terima dari suamiku. Jelas, mas Andri tak ada apa-apanya.

    “Jasmani, rohani dan birahi” batinku. Kembali aku tersenyum-seyum sendiri

    “Ah kamu bisa aja dek”

    ”Yeee dibilangin kok…selain itu…dengan adanya mas Manto seperti sekarang ini, adek khan jadi bisa mendapatkan 2 kontol yang selalu siap mengaduk-aduk memek adek SETIAP SAAT” ujarku sambil tersenyum lebar “Udah ah…yang jelas…kontol mas jauh lebih hebat dari milik mas Andri, suami adek”

    Kembali mas Manto tersenyum lebar, dan mendekatkan bibirnya yang hitam tebal itu ke keningku. Dikecupnya perlahan lalu merangkul tubuh semampaiku. Tangannya yang kekar melibat tubuhku. Dan dengan satu gerakan mudah, ia membopongku dan membawaku masuk ke kamar mandi. Begitu sampai di dalam kamar mandi, mas Manto segera menurunkan tubuhku. Kututup pintu kamar mandi, dan kugantungkan celemek masak yang aku kenakan di balik pintu. Tak lama, setelah satu-satunya pakaian yang menutupi tubuh putihku lepas, terpampanglah tubuh polosku. Kugelung rambut panjangku dan kupamerkan ketiak putih mulus tak berambutku ke arah mas Manto sambil berputar-putar berjoget bak penari erotis. Kumenari seerotis mungkin. Melihat lekuk tubuhku polosku ketika menggelung rambut, mungkin membuat mas Manto kembali bernafsu, karena tiba-tiba kembali aku ditubruk dan dipeluknya kencang.

    “Aku sayang kamu dek…benar-benar sayang kamu” ucapnya sambil mengecup tengkukku dalam-dalam.

    Berusaha mempertahankan kestabilan posisi berdiriku ketika dipeluk mas Manto dari belakang, langsung kusandarkan kedua tanganku ke bibir bak mandi. “Aku juga mas…”

    Perlahan, dari bawah belahan pantatku, aku merasakan sesuatu mulai menekan ke atas. Ada benda tumpul dan hangat mulai membesar di sela-sela belahan pantatku.

    “Gila…ini penis ga pernah ada matinya” Batinku.

    Digesek-gesekkannya kepala dan batang penisnya yang mulai ereksi itu ke belahan pantatku. Otak jorokku segera merespon gerakan mas Manto. Tanpa menunggu perintah apapun, segera kubungkukkan punggungku lebih rendah lagi, berharap mas Manto akan segera menusuk vaginaku dengan penis besarnya dari belakang. Namun aku ternyata salah…

    “SSEEEEEERRRRRRRRRRRR” aku merasakan cairan panas menyembur belahan pantat, dan paha dalamku. Mengalir turun dan membasahi kaki jenjangku.

    Segera kutundukkan kepalaku, berusaha melihat apa yang sedang terjadi melalui sela kedua kakiku. Ternyata cairan hangat itu adalah air seni mas Manto. Ia kencing. Eh, bukan. Lebih tepatnya ia mengencingi pantatku. Spontan, aku balikkan badanku dan langsung bergerak kesudut kamar mandi, menjauh dari semburan air seni yang memancar kencang dari mulut penis mas Manto.

    “Iiiiihhhh…jorok bangets sih kamu mas” ujarku sambil membilas pantat dan pahaku berulang kali “Masa adek dikencingin”

    Mas Manto menghentikan semprotan air seninya. “Hehehehe…kamu khan udah sering mas kasih kencing enak dek…sekali-kali lah kamu mas kasih kencing beneran…hehehehe” jawabnya polos “Lagian mas suka deh ngliat kamu ngambek gitu”

    Dari mulut penisnya, kembali mas Manto menyembur cairan bening kekuningan yang memancar kuat mulai dari ujung pintu tempat ia berdiri sampai sudut kamar mandir, tepat di antara kedua telapak kakiku. Bahkan, saking kuatnya semburan air kencing mas Manto, tak jarang semburan itu ia tembakkan keras-keras sampai membasahi paha dan lututku lagi. Seharusnya aku marah mendapat perlakuan tak senonoh seperti ini. Dikencingi oleh orang dewasa secara terang-terangan. Harga diriku serasa benar-benar dijatuhkan. Mirip seperti sampah yang tak berharga sama sekali. Namun, ketika melihat mas Manto asyik bermain-main dengan air seninya, timbul suatu perasaan aneh dari dalam diriku.

    “Gimana ya rasa air kencing mas Manto…?”

    Segera saja kuraba area pahaku yang terkena semburan kencing mas Manto tadi, kuusap dengan tanganku dan kuangkat mendekat ke hidungku.

    “Iiiiiihhhhh… Pesing banget mas” jawabku sambil mengerutkan hidungku begitu mengetahui bagaimana aroma air seni seorang pria.

    “Hehehehe…ya iyalah dek…khan namanya juga air kencing” Mas Manto hanya tertawa melihatku yang seperti merasa jijik karena terkena air seninya ”Sini deh sayang” tambahnya.

    Sambil masih menghirup dalam-dalam aroma air seni mas Manto, aku mendekat ke arahnya. Mas Manto dengan sopan memegang pundakku, dan memintaku berjongkok tepat di depan penisnya yang masih mengucurkan air kencing.

    “Bersihin kontolku dong sayang” pintanya enteng

    “Hah?” Tanyaku sambil mendongak heran kearahnya.

    “Iya…jilatin kontolku sampai bersih” Katanya lagi sambil mulai mengarahkan kepala penisnya yang masih meneteskan air seni.

    “Tapi khan…EMMmmhhhh”

    Aku tak dapat menyelesaikan kalimatku, karena dengan sedikit memaksa, mas Manto menjejalkan batang penisnya masuk kedalam mulutku. Dan dengan tangan kiri, mas Manto juga menarik kepalaku mendekat ke s*****kangannya. Walau sedikit menolak, namun pada akhirnya, kutelan saja batang penis itu bulat-bulat.

    “Emmmmhhhmmmm”

    Masam, getir dan agak sedikit kecut. Itu kesan pertamaku ketika merasakan bagaimana rasa air seni mas Manto sebenarnya. Seumur hidupku, aku belum pernah merasa dipermalukan seperti ini. Mas Andri, suamiku yang sebenarnya pun sampai saat ini belum pernah memintaku untuk memperlakuan penisnya seperti yang mas Manto perbuat terhadapku sekarang. Jika ia baru saja buang air kecil dan memintaku untuk mengoral penisnya, aku selalu menolaknya tegas-tegas, bahkan aku bisa emosi dibuatnya. Namun hal berbeda aku rasakan ketika bersama mas Manto, walau penisnya baru saja menyemburkan cairan seni, aku sendiri yang dengan suka rela mengoralnya.

    “Menjilat kelamin orang lain yang baru saja mengeluarkan air seni…?” Tanya suara dalam hatiku.

    “Enak kali ya…?” tanya suara dalam hatiku yang lain

    “Hmm…Walaupun air seni itu hanya sedikit yang masih menetes keluar, tapi itu khan sama saja dengan menyuruhku untuk meminum air seninya”

    “Tapi bagaimana dengan halnya dengan sperma…?”

    ”Iya… itu khan hampir sama dengan meminum sperma…cuman sedikit beda aja”

    “Tapi khan kalo meminum sperma tuh sudah biasa…orang-orang juga banyak yang melakukan hal itu…sedangkan meminum air kecing.????”

    “Emang apa bedanya? Toh sama-sama dikeluarin oleh penis orang yang kita sayangi”

    “Toh sama saja”

    “Benar juga…toh sama saja…sama-sama berbentuk cair…sama-sama dikeluarin dari lubang penis…sama-sama dioral juga”

    Ketika sedang asyik-asyiknya mengoral penis mas Manto yang masih belepotan air kencingnya. Kusadari, cairan cinta vaginaku mulai membanjir dan merayap turun. Aku horny. Tanpa basa-basi lagi, aku langsung mengoral penis mas Manto sekuat mungkin, berusaha membuatnya ereksi dan keras lagi. Penis mas Manto merespon sedotan mulutku. Penis itu mulai menegang. Lalu dengan sigap, aku berdiri, kubalikkan badanku, kupegang bibir bak mandi dan kutunggingkan pantat semokku kearahnya.

    “Ayo mas…tusuk memek adek sekarang”

    “Hah?…Kamu mo nambah lagi dek…??” tanya mas Manto kebingungan…

    “Buruan mas…adek udah nggak tahan”

    Mas Manto segera berjalan mendekat ke arahku. Dengan tangannya yang kasar, direntangkannya pahaku lebar-lebar. Diurutnya batang penisnya perlahan. Dan Ajaib, batang itu langsung mengeras, benar-benar keras. Terlihat dari urat-urat yang mulai bertonjolan di sekujur batang penisnya. Entah mas Manto memiliki ilmu sakti dalam bercinta atau memang telah terbiasa mempermainkan stamina batang penisnya, yang pasti, kembali aku dibuat terpana melihat keajaiban batang hitam yang tumbuh diantara s*****kangannya. Dengan tangan kanan yang menggenggam pangkal batang penis hitamnya bak memegang pentungan hansip mas Manto memukul-mukulkan kepala penisnya ke pantat semokku “PLAK…PLAK…PLAK” sambil sesekali ia goser-goserkan ujung penis itu di antara sela pantatku. Sepertinya ia berusaha melumuri sekujur batang penisnya dengan lendir cintaku. Diletakkannya batang penis itu diantara pangkal pahaku, dan didorongnya perlahan.

  2. The Following 5 Users Say Thank You to Ar81fe For This Useful Post:


  3. #2
    Virgin nostafu's Avatar

    Join Date: Mar 2011

    Posts: 22

    Thanks: 0

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    mantep gan ceritanya .. sampe cape nih bacanya panjang amat

  4. #3
    Banned hktoys_marketing's Avatar

    Join Date: Sep 2009

    Posts: 2,201

    Thanks: 273

    Thanked 776 Times in 86 Posts

    Thumbs up

    ceritanya mantap bro... sampe crot ane,
    ceritanya panjang banget...

  5. #4
    Just Married paknegenduk's Avatar

    Join Date: Jan 2010

    Posts: 382

    Thanks: 728

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    JIPLAKAN lagi..JIPLAKAN lagi, CERITA INI SUDAH DIPOSTINGKAN DI www.pujanggabinal.wordpress.com TAHUN 2010 YANG LALU. SAYANGNYA Ar81fe TIDAK MAU MENCANTUMKAN DARI MANA SUMBER CERITA INI. DASAR PENJIPLAK !!!

  6. #5
    Just Married bokepers's Avatar

    Join Date: Apr 2008

    Posts: 307

    Thanks: 269

    Thanked 38 Times in 30 Posts

    Default

    panjang amat, tapi mantap ...

    padahal baru part 1 heehehehe

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •