Ini adalah kisah nyata sepupuku Renal yang di
ceritakan kepadaku dan dia memintaku untuk mengirim ke
**** situs yang pertama kali aku kenali kepadanya,
situs khusus dewasa waktu ia belum bekerja. Sekarang
dia kerja jadi supir pribadi di tempat Bu Nani yang
usianya sekitar 30 tahunan, Janda beranak satu yang di
tinggal mati suaminya empat tahun yang lalu.

Berikut ini adalah kisahnya:

Setelah tamat dari sekolah, aku mencoba merantau ke
Jakarta. Aku berasal dari keluarga yang tergolong
miskin. Di kampung ayahku sebagai supir angkot ibuku
bekerja sebagai buruh tani. Aku anak pertama dan
memiliki seorang adik perempuan, yang masih sekolah di
SMP.

Aku ke Jakarta hanya berbekal ijazah SMU. Dalam
perjalanan ke Jakarta. Di Jakarta aku numpang di rumah
sepupu, yang kebetulan orangtuanya punya Usaha warteg.
Dan mereka sudah punya rumah sendiri, sepupuku yang
terpaut usia 1 tahun denganku sedang kuliah di salah
satu PTS Jakarta selatan. Selain berbekal ijazah yang
nyaris tiada artinya itu, aku memiliki keterampilan
hanya sebagai supir angkot. Aku bisa menyetir mobil,
karena aku di kampung, setelah pulang sekolah selalu
diajak Bapakku untuk narik angkot. Aku menjadi
keneknya, Bapak supirnya. Tiga tahun pengalaman
menjadi awak angkot, cukup membekal aku dengan
keterampilan setir mobil.

Aku hampir putus asa tatkala tinggal di Jakarta,
karena setelah tinggal tiga bulan aku belum juga dapat
kerja. Aku malu kalau harus ngerepotin Bude dan pakde
ku. Yah walaupun aku tinggal gak hanya diam aja, aku
ikut Bantu-bantu di warteg.
Hingga Pada suatu hari, yakni hari selasa, ketika aku
sedang bantu-bantu di warteg, aku dipanggil Pakde yang
menawarkanku menjadi supir pribadi Bu Nani. Dia adalah
bos pak Nuridin yang biasa makan di warteg Pakdeku.
Aku langsung menyanggupi tawaran itu, dan segera ganti
baju untuk ikut dengan pak Nuridin ke Rumahnya Bu
Nani. Ketika memasuki halaman rumah yang besar seperti
istana itu, hatiku berdebar tak karuan. Kami
dipersilahkan duduk oleh seorang pembantu muda di
ruang tamu yang megah itu, tak lama kemudian muncul
seorang wanita yang tampaknya muda. Kami memberi
hormat pada wanita itu. Wanita itu tersenyum ramah
sekali dan mempersilahkan kami duduk, Pak Nuridin
dipersilahkan kembali ke kantor oleh wanita itu, dan
di ruangan yang megah itu hanya ada aku dan dia si
wanita itu.

"Benar kamu mau jadi supir pribadiku?", tanyanya ramah
seraya melontarkan senyum manisnya.
"Iya Nyonya, saya siap menjadi supir nyonya.",
jawabku.
"jangan panggil Nyonya, panggil saja saya Ibu Nani.",
sergahnya halus.
Aku mengangguk setuju.
"Kamu masih kuliah ?"
"Tidak nyonya eh...Bu?!", jawabku.
"Saya baru tamat SMU, tapi saya berpengalaman menjadi
supir sudah tiga ahun", sambungku.

Wanita itu menatapku dalam-dalam. Ditatapnya pula
mataku hingga aku jadi slah tingkah. Diperhatikannya
aku dari atas sampai ke bawah.
"Kamu masih muda sekali, ganteng, nampaknya sopan,
kenapa mau jadi supir?" tanyanya.
"Saya butuh uang untuk kuliah Bu", jawabku.
"Baik, saya setuju, kamu jadi supir saya, tapi harus
ready setiap saat. Gimana, okey?"
"Saya siap Bu.", jawabku.
"Kamu setiap pagi harus sudah ready di rumah ini pukul
enam, lalu antar saya ke tempat saya Fitness, setelah
itu antar saya ke salon, belanja, atau kemana saya
suka. Kemudian setelah sore, kamu boleh pulang, gimana
siap?"
"Saya siap Bu", jawabku.
"Oh... ya, siapa namamu?" Tanyanya sambil mengulurkan
tangannya.
Spontan aku menyambut dan memegang telapak tangannya,
kami bersalaman.
"Saya Renal Bu, panggil saja saya Renal.", jawabku.

Dirumah yang sebesar itu, hanya tinggal Ibu Nani dan
Sonia anaknya yang berumur 8 tahun serta seorang
pembantu yang bernama Iis, janda juga, suaminya sudah
meninggal empat tahun yang lalu karena kecelakaan.

Setahun berlalu tak terasa sudah memasuki tahun
pertama aku kerja jadi supir bu Nani. Dan di awal
tahun pelajaran aku masuk ke PTS di Jakarta. Keakraban
dengan Bu Nani semakin terasa. Setelah pulang Fitness,
dia minta jalan-jalan dulu. Yang konyol, dia selalu
duduk di depan, disebelahku, hingga terkadang aku jadi
kagok menyetir, tapi lama lama biasa.


Suatu hari kami melakukan perjalanan ke puncak, bahkan
sampai jalan-jalan sekedar putar-putar saja di kota
Sukabumi, hari sudah mulai gelap dan kami kembali
meneruskan perjalanan ke Jakarta. Ditengah perjalanan
di jalan yang gelap gulita, Bu Nani minta untuk
berbelok ke suatu tempat. Aku menurut saja apa
perintahnya. Aku tak kenal daerah itu, yang kutahu
hanya berupa perkebunan luas dan sepi serta gelap
gulita. Ditengah kebun itu bu Nani minta aku berhenti
dan mematikan mesin mobil. Aku masih tak mengerti akan
tingkah Bu Nani.
Tiba-tiba saja tangan BuMaya menarik lengaku.
"Coba rebahkan kepalamu di pangkuanku Nal?", pintanya.

Aku menurut saja, karena masih belum mengerti.
Astaga... setelah aku merebahkan kepalaku di pangkuan
Bu Nani dengan keadaan kepala menghadap keatas, kaki
menjulur keluar pintu, Bu Nani menarik kaosnya ketas.
Wow... samar-samar kulihat buah dadanya yang besar dan
montok. Buah dada itu didekatkan ke wajahku. Lalu dia
berkata:
"Cium nal Cium... isaplah, mainkan sayang...?",
pintanya.
Baru aku mengerti, Bu Nani mengajak aku ketempat ini
sekedar melampiaskan nafsunya. Sebagai laki-laki
normal, karuan saja aku bereaksi, kejantananku hidup
dan bergairah.

Kupegangi tetek Bu Nani yang montok itu, kujilati
putingnya dan kuisap-isap. Tampak nafas Bu Nani
terengah-engah tak karuan, menandakan nafsu biarahinya
sedang naik. Aku masih mengisap dan menjilati
teteknya. Lalu Bu nani minta agar aku bangun sebentar.


Dia melorotkan celana trainingnya hingga kebawah kaki.
Bagian bawah tubuh Bu Nani tampak bugil. Samar-samar
oleh sinar bulan di kegelapan itu.

"Jilat Nal jilatlah, aku nafsu sekali, jilat sayang",
pinta Bu nani agar aku menjilati memeknya.

Oh... memek itu besar sekali, menjendol seperti
kura-kura. Tampaknya dia sedang birahi sekali, seperti
puting teteknya yang ereksi. Aku menurut saja, seperti
sudah terhipnotis. Memek Bu Nani wangi sekali, mungkin
sewaktu di restauran tadi dia membersihkan kelaminnya
dan memberi wewangian. Sebab dia sempat ke toilet
untuk waktu yang lumayang lama. Mungkin disana dia
membersihkan diri. Dia tadi ke toilet membawa serta
tas pribadinya. Dan disana pula dia mengadakan
persiapan untuk menggempur aku. Kujilati liang
kemaluan itu, tapi Bu Nani tak puas. Disuruhnya aku
keluar mobil dan disusul olehnya. Bu Nani membuka
bagasi mobil dan mengambil kain semacam karpet kecil
lalu dibentangkan diatas rerumputan. Dia merebahkan
tubuhnya diatas kain itu dan merentangnya kakinya.
"Ayo Nal, lakukan, hanya ada kita berdua disini,
jangan sia-siakan kesempatan ini Nal, aku sayang kamu
Nal", katanya setengah berbisik.
Aku tak menjawab, aku hanya melakukan perintahnya, dan
sedikit bicara banyak kerja. Ku buka semua pakaianku,
lalu ku tindih tubuh Bu nani.

Dipeluknya aku, dirogohnya alat kelaminku dan
dimasukkan kedalam memeknya. Kami bersetubuh ditengah
kebun gelap itu alam suasana malam yang remang-remang
oleh sinar gemintang di langit. Aku menggenjot memek
Bu Nani sekuat mungkin.

"Jangan keluar dulua ya? Saya belum puas", pintanya
mesra.
Aku diam saja, aku masih melakukan adegan mengocok
dengan gerakan penis keluar masuk lubang memek Bu
Nani. Nikmat sekali memek ini, pikirku. Lalu Bu Maya
pindah posisi, dia diatas, dan bukan main
permainannya, goyangnyanya.

"Remas tetekku Nal, remaslah... yang kencang ya?",
pintanya.
Aku meremasnya.
"Cium bibirku Nal..cium!"
Aku mencium bibir indah itu dan kuisap lidahnya
dalam-dalam, nikmat sekali, sesekali dia mengerang
kenikmatan.

"Sekarang isap tetekku, teruskan... terus... Oh...
Ohhhh... Nal... Renal... Ohhh.... aku keluar nal...
aku kalah..."
Dia mencubiti pinggulku, sesekali tawanya genit.

"Kamu curang... aku kalah", ujarnya.
"Sekarang gilirang kamu nal... keluarkan sebanyak
mungkin ya?", pintanya.
"Saya sudah keluar dari tadi Bu, tapi saya tetap
bertahan, takut Ibu marah nanti", jawabku.
"Oh Ya?... gila... kuat amat kamu?!", balas Bu Nani
sambul mencubit pipiku.

"Kenapa Ibu suka main di tempat begini gelap?"
"Aku suka alam terbuka, di alam terbuka aku bergairah
sekali. Kita akan lebih sering mencari tempat seperti
alam terbuka. Minggu depan kita naik kapal pesiarku,
kita main diatas kapal pesiar di tengah ombak
bergulung. Atau kita main di pinggir sungai yang sepi,
ah... terserah kemana kamu mau ya Nal?"

Selesai main, setelah kami membersihkan alat vital
hanya dengan kertas tisue dan air yang kami ambil dari
jerikan di bagasi mobil, kami istirahat. Bu Nani yang
sekarang tidur di pangkuanku. Kami ngobrol panjang
lebar, ngalor-ngidul. Setelah sekian lama istirahat,
kontolku berdiri lagi, dan dirasakan oleh kepala Bu
nani yang menyentuh batang kejantananku. Tak banyak
komentar celanaku dibukanya, dan aku dalam sekejap
sudah bugil. Disuruhnya aku tidur dengan kaki
merentang, lalu Bu nani membuka celananya yang tanpa
celana dalam itu. Bu nani mengocok-ngocok penisku,
mengurut naik-turun. Karuan saja penisku semakin
membesar dan membesar. Diisapnya penisku yang sudah
ereksi besar sekali, dimainkannya lidah Bu Nani di
ujung penisku. Setelah itu, Bu nani menempelkan buah
dadanya yang besar itu di penisku. Dijepitkannya
penisku kedalam tetek besar itu, lalu di goyang-goyang
seperti gerakan mengocok.

"Giaman Nal? Enah anggak?"
"Enak Bu, awas lho nanti muncrat Bu", jawabku...
"Enggak apa, ayo keluarkan, nanti kujilati pejumu, aku
mau kok!"

Bu nani masih giat bekerja giat, dia berusaha untuk
memuaskan aku. Tak lama kemudian, Bu nani naik
keposisi atas dan seperti menduduki penisku, tapi
lobang memeknya dimasuki penisku. Digoyang terus...
hingga aku merasakan nikat yang luar biasa. Tiba-tiba
Bu nani terdiam, berhenti bekerja, lalu berkata:
"Rasakan ya Nal? Pasti kamu bakal ketagihan."
Aku membisu saja. dan ternyata Ohh... memek Bu nani
bisa melakukan gerakan empot-empot, menyedot-nyedot
dan mengurut-urut batang kontolku dari bagian kepala
hingga ke bagian batang bawah, Oh... nikmat sekali,
ini yang namanya empot ayam, luar biasa kepiawaian Bu
nani dalam bidang seksual.
"Enak sayang?", tanyanya.
Belum sempat aku menjawab, yah... aku keluar, air
maniku berhamburan tumpah ditenga liang kemaluan Bu
nani.

"Itu yang namanya empot-empot Nal, itulah gunanya
senam sex. Berarti aku sukses latihan senam sex selama
ini", katanya bangga.
"Sekarang kamu puasin aku ya ?", Kata Bu nani seraya
mengambil posisi nungging.
Kutancapkan lagi kontolku yang masih ereksi kedalam
memek Bu Nani, Ku genjot terus.
"Yang dalam Nal... yang dalam ya... teruskan
sayang...? oh....enak sekali penismu... oh... terus
sayang ?!" Pinta Bu Nani.

Aku masih memuaskan Bu Nani, aku tak mau kalah,
kujilati pula lubang memeknya, duburnya dan seluruh
tubuhnya. Ternyata Bu Nani orgasme setelah aku
menjlati seluruh tubuhnya.
"Kamu pintar sekali Nal? Belajar dimana?"
"Tidak bu, refleks saja", jawabku.

Sebelum kami meninggalkan tempat itu, Bu Nani masih
sempat minta satu adegan lagi. Tapi kali ini hanya
sedikit melorotkan celana trainingnya saja. Demikian
pula aku, hanya membuka bagian penis saja. Bu Nani
minta aku melakukanya di dalam mobil, tapi ruangannya
sempit sekali. Dengan susah payang kami melakukannya
dan akhirnya toh juga mengambil posisinya berdiri
dengan tubuh Bu Nani disandarkan di mobil sambil
mengangkat sedikit kaki kanannya.

Sejak saat malam pertama kami itu, aku dan Bu Nani
sering bepergian keluar kota, ke pulau seribu, ke
pinggir pantai, ke semak-semak di sebuah desa
terpencil, yah pokoknya dia cari tempat-tempat yang
aneh-aneh. Tak kusadari kalau aku sebenarnya menjadi
gigolonya Bu nani. Dan beliau pun semakin sayang
padaku, uang mengalir terus ke kocekku, tanpa pernah
aku meminta bayaran. Dia menyanggupi untuk membiayai
kuliah hingga tamat, asal aku tetap selalu bersama Bu
Nani yang cantik itu.



TAMAT