pokerepublik
pokerlounge

Maxbet  Kaskus303
Indobokepz - Indonesian Movie and Picture Community
sarana99 855Online sarang303

 

 

RumahTaruhan88 Saranapoker idr77





Alpha4D Bola54
pokerace99 togelplus
AonCash AonCash
tglplus
pokerclub BandarJakarta
Royal188 Fairbet88
Royal188 raja303

 

Results 1 to 4 of 4

Thread: gairah teteh

  1. #1
    Virgin harin.duri's Avatar

    Join Date: Oct 2010

    Posts: 16

    Thanks: 0

    Thanked 4 Times in 2 Posts

    Default gairah teteh

    “Sampai di sini saja perjumpaan kita, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” suara merdu ummahat berkacamata yang tetap tampak manis di umurnya yang kian senja itu mengakhiri sebuah program kuliah subuh di salah satu stasiun radio swasta. Sembari tersenyum kepada operator sound di hadapannya, ia pun melepas headset yang membelit bagian atas dari jilbab kuningnya. Sembari membetulkan sedikit posisi kacamata minusnya, wanita setengah baya itu pun menggapit tas tangan kulit dengan tangan kanannya dan kemudian berjalan menuju pintu keluar. Sebelum keluar, sang operator sempat memajukan tangannya untuk mengajak ustadzah itu bersalaman. Ustadzah itu pun menyambut tangan sang operator tanpa menyentuhnya sedikitpun sambil tetap menundukkan pandangan dan bergumam,

    “Assalamualaikum.” Tapi hal itu sudah cukup membuat sang operator menelan ludahnya karena terpana akan keindahan gundukan kembar di dada sang ustadzah yang sekilas tercetak di jubahnya ketika ia menunduk.
    Baru saja keluar ruang siaran, sang ustadzah berkacamata itu langsung disambut oleh seorang laki-laki yang berumur sekitar 17 tahun. Tubuhnya begitu kekar dan tegap dibalut baju koko hijau muda, peci putih, dan celana panjang hitam dari bahan kain. Hidungnya yang mancung dan tulang pipinya yang kokoh memperkuat aura keshalihan dan kelelakiannya yang pasti menarik setiap wanita yang melihatnya termasuk ummahat berjilbab panjang di hadapannya yang tengah berdesir sedikit darahnya berhadapan dengan ikhwan yang jelas lebih tampan, lebih tegap, dan lebih muda dari suminya kini. “Assalamualaikum, Teh,” ujar lelaki itu membuka suara.
    “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, apa kabar Akh Somad?” Jawab sang ustadzah yang baru selesai siaran itu.
    “Alhamdulillah ana bi khoir, Teh. Saya baik-baik saja. Bagaimana tadi siarannya?” Lelaki tampan yang ternyata bernama Somad itu sengaja atau tidak kian mendekat ke tubuh mungil lawan bicaranya yang tampak begitu alim dan lembut itu.
    Jantung sang ustadzah itu berdetak lebih kencang dari keadaan normal menyadari gerakan ikhwan tersebut, wajahnya kian tertunduk, walau tanpa bisa dipungkiri, ketampanan dan aura kejantanan yang terpampang jelas di wajah Somad membuatnya tak bisa menahan diri untuk mencuri-curi pandang pada Somad, “Aa…aall…alhamdulillah, lancar-lancar saja Akhi.” Ia pun sampai tergagap-gagap karenanya.
    “Krriiiing….krriiiing….,” sebuah bunyi dari handphone di kantong sang ustadzah pun mengakhiri situasi yang hampir tak terkendali itu, sampai-sampai sang ustadzah itu pun menghela nafas panjang saking leganya. Ia merasa Allah telah menyelamatkannya dari hawa nafsu yang hampir tak bisa ditahannya itu. Ia bergeser dan sedikit berpaling ke sebelah kanan,”sebentar ya, Akh.”
    “Iya, Tafadhol. Silahkan, Teh.”

    “Assalamualaikum,” ujar sang ustadzah memberi salam pada lewan bicaranya di telepon yang telah amat dikenalnya.
    “Waalaikumsalam, Nih. Habis siaran ya? Kapan kamu kembali ke Bandung?” Tanya seorang lelaki dengan logat sunda-nya yang khas di ujung telepon.
    “Hmm…kayaknya baru malam ini, A. Nanti mau ke rumah Ummu Abdillah dulu di Radio Dalam. Memang ada apa A? Kapan pulang?” Jawab ustadzah tersebut dengan suara yang sedikit dilembut-lembutkan karena lawan bicaranya itu adalah sang suami tercinta. Namun itu sudah cukup membuat Somad yang tanpa ia sadari terus memandangi wajah putih sendunya yang beitu mempesona sedikit bergetar imannya. Sebagai lelaki, Somad pun tak bisa bohong bahwa ummahat di hadapannya masih terlihat menarik walau telah memiliki beberapa orang anak.
    “Nggak ada apa-apa kok, tapi kayaknya Aa sama Rini bakal lebih lama di sini. Masih banyak yang harus diselesaikan. Jadi tolong jaga anak-anak ya, nggak apa-apa kan, Nih?” Lelaki yang dipanggil Aa tadi menjelaskan.
    Walau hatinya sedikit perih, namun ia memaksakan diri untuk menjawab pertanyaan itu sekenanya, “Owh, nggak apa-apa kok, A. Teh Ninih nggak apa-apa di sini. Biar Teh Ninih yang urus anak-anak. Ya sudah, A, lagi buru buru nih, assalamualaikum.” Ustadzah yang ternyata bernama Teh Ninih itu langsung menutup telepon tanpa basa-basi lagi.
    Ya, ustadzah yang baru saja siaran itu adalah Teh Ninih, istri pertama Aa Gym yang alim dan begitu cantik. Saat ini, Aa Gym tengah berada di Surabaya bersama Rini, istri kedua-nya, guna suatu urusan dakwah. Dan baru saja suaminya itu menelepon karena urusan itu menuntut tambahan waktu. Walau ia sudah berusaha untuk ikhlas, namun Teh Ninih hanyalah seorang wanita biasa yang punya rasa cemburu dan butuh perhatian. Sudah seminggu Aa Gym berada di Surabaya bersama Rini, madunya itu. Dan selama seminggu pula Teh Ninih terlarut dalam kesendirian. Tak hanya fisiknya yang lelah, batinnya pun lelah, rindu belaian mesra sang suami yang dicintainya.
    Seperti tahu benar hal itu, Somad kembali menggeserkan tubuhnya mendekati Teh Ninih. Dengan penuh aura kelelakian, ia pun membisiki telinga kiri Teh Ninih,”Teteh keliatan capek, istirahat saja dulu di ruangan saya, sebentar saja.”
    Bagaikan tersihir, Teh Ninih pun menganggukkan kepalanya dengan anggun. Ummahat yang begitu indah dipandang inipun menggoyang-goyangkan bongkahan pantatnya yang tercetak jelas di bagian belakang jubah putihnya mengikuti Somad. Goyangan yang sedikit erotis dan menggairahkan itu sudah pasti mampu menggugah iman setiap lelaki yang memandangnya. Walau telah beberapa kali melahirkan anak lewat vaginanya yang mungil nan imut, tubuh Teh Ninih tetap terlihat seksi dan menggairahkan. Ia adalah sosok perempuan sunda yang mampu menjaga bentuk tubuhnya walau telah termakan usia. Walau telah berusaha menutup diri dengan jubah dan jilbab panjang berwarna kuning, tonjolan tetek Teh Ninih yang alim dan shalihah ini dapat kita lihat jelas, begitu montok dan berisi, mengundang setiap insan untuk meremas-remasnya. Apalagi pagi ini ia memakai jubah yang lebih ketat dari biasanya.
    Begitu melihat Somad memasuki sebuah ruangan, Teh Ninih pun berhenti sejenak. Sesaat ia membaca papan nama di depan ruangan tersebut, “Somad Zaidi, Kepala
    Divisi Da’wah dan Syari’at Islam.” Dengan perasaan tenang, karena yakin Somad yang baru dikenalnya di stasiun radio ini sejak sebulan yang lalu itu adalah seorang ikhwan yang baik-baik, Teh Ninih pun memasuki ruangan yang hanya berukuran 6 x 4 meter itu. Tanpa disuruh, Teh Ninih langsung duduk di sofa yang berada di dekat pintu. Seperti kata Somad tadi, Teh Ninih memang sedang lelah. Tak hanya lelah fisik, tapi juga lelah batinnya.

    “Mau minum apa, Teh?” tanya Somad berbasa-basi sambil berjalan menuju dispenser. “Teh manis, mau?”
    “Boleh, Akh. Gulanya sedikit saja ya,” ujar Teh Ninih sambil meletakkan tas tangannya di atas meja kaca di depannya. Ia tak merasa canggung sedikitpun. Walaupun ia hanya berdua saja dengan seorang lelaki yang notabene bukan mahromnya di ruangan itu, namun pintu ruangan itu dibiarkan terbuka oleh Somad. Ia pun semakin yakin bahwa Somad tak akan berbuat macam-macam pada dirinya.
    Tanpa sepengetahuan Teh Ninih, Somad mencampurkan sejenis bubuk halus berwarna putih ke dalam minuman Teh Ninih. Ia pun mengaduk-aduknya sambil memastikan bahwa Teh Ninih yang cantik itu tidak memperhatikan apa yang baru saja ia lakukan. Agar tamu istimewanya ini tak menunggu terlalu lama, Somad langsung saja membawakan cangkir putih berisikan teh manis itu dan meletakkannya di depan ummahat berparas manis nan berbodi indah itu. “Silahkan teh manisnya, Teh.”
    “Iya, syukron ya Akh. Terima Kasih,” ujar Teh Ninih. Ia langsung meraih pegangan cangkir yang dihidangkan di hadapannya itu sembari menyeruput perlahan teh manis yang begitu nikmat itu dengan bibirnya yang mungil dan berwarna merah muda. Sedikit demi sedikit, Teh Ninih menghabiskan teh manis yang terasa begitu lezat di permukaan lidahnya itu. Ia rasakan tubuhnya terasa panas seketika dan sedikit bergetar, namun ia membiarkannya. Mungkin hanya sedikit efek hangat dari teh manis ini, pikir Teh Ninih.
    “Ada apa, Teh. Kok kelihatannya gelisah begitu?” Teh Ninih mulai menyadari kalau ini bukan sekedar efek hangat dari teh manis biasa. Somad pasti telah mencampurkan sesuatu ke dalam minumannya tadi. Kurang ajar sekali ikhwan ini, pikirnya. Tubuhnya mulai berkeringat. Sekujur tubuhnya terasa lemas dan kelopak matanya begitu berat. Dengan mata setengah menutup, ia menggaruk-garuk kecil pundak kirinya dengan tangan kanannya yang lentik karena terasa sedikit gatal. Untuk mengurangi rasa kantuk yang menerpa, Teh Ninih mencoba mengalihkan pandangan pada kaligrafi surat Yaasin pada dinding di belakangnya., namun usahanya itu tidak membuahkan hasil.
    “Tidak, tidak apa-apa kok Akh Somad,” Somad yang jauh lebih muda itu kini menyadari bahwa istri pertama Kyai Haji Abdullah Gymnastiar itu telah masuk dalam jebakannya dan sebentar lai akan memasrahkan tubuh molek nan sintal miliknya untuk digagahi Somad dengan penuh keikhlasan. Somad pun semakin tak sabar dan segera mengambil tempat di sebelah kiri Teh Ninih. Ia genggam tangan kiri Teh Ninih yang halus dengan tangan kanannya yang cukup kasar. Sementara itu tangan kirinya mulai melakukan serangan fajar dengan mengelus-elus pipi sebelah kanan Teh Ninih yang lembut bukan main dan penuh aroma kewanitaan. Ia hadapkan wajah ummahat manis berjilbab yang tengah berjuang melawan sensasi aneh yang disebabkan teh manis ajaib buatan Somad tadi agar menghadap ke wajahnya. Ditatapnya mata yang tengah berpendar di balik kaca mata itu dengan penuh kemesraan.

    “Akh…..Somad. Jangan ya, kita kan bukan mahrom. Lagipula nanti kalau ketahuan orang bagaimana?” Somad tak menganggap itu sebagai penolakan. Teh Ninih tak sedikitpun menarik telapak tangan kirinya yang tengah diremas-remas penuh nafsu oleh tangan kanan Somad, lagipula Teh Ninih mengucapkannya dengan sedikit berbisik, penuh kelembutan dan keteduhan bagai berbicara pada suaminya sendiri. Dan ketika Somad menarik lembut kepalanya agar wajah mereka mendekat, Teh Ninih pun tak berpaling atau berontak sedikitpun. Ia mulai menikmati sensasi seksual yang begitu nikmat menggerayangi tubuhnya. Apalagi sudah sekitar 2 minggu suaminya tak sekali pun menyentuhnya. Sebelum Aa berangkat ke Surabaya, ia sedang dalam keadaan haidh sehingga tak bisa digauli. Baru kemarin darah haidhnya berhenti. Dengan kata lain, saat ini Teh Ninih sedang dalam masa subur sehingga membuat birahinya begitu meledak-ledak.
    “Tenang saja, Teh. Somad nggak akan nyakitin Teteh. Somad cuma mau ngasih Teteh kenikmatan yang nggak akan pernah Teteh lupa. Lagipula, nggak akan ada yang melihat kita di sini.” Kini bibir dua insan yang bukan mahrom ini hanya berjarak sekitar 2 cm. Teh Ninih pun telah memejamkan matanya sebagai tanda kepasrahan dirinya akan apa yang bakal terjadi setelah ini. Walaupun telah beristri dan mempunyai 2 orang anak, Somad tak pernah menghilangkan sosok ummahat bertubuh bahenol asal sunda yang sering mengisi imajinasi liarnya ketika bermasturbasi. Kini, langsung di hadapannya, telah terdiam seorang ummahat berjilbab kuning dan berjubah putih idamannya itu sedangkan ia sendiri memakai baju koko hijau muda lengkap dengan peci putihnya sebagai tanda kealiman dan keshalihan keduanya. Namun kini sang akhwat dengan nakalnya telah memejamkan mata dan sang ikhwan pun tengah asyik meremas-remsa tangan sang akhwat dengan syahwat membara. Tanpa terasa keduanya telah berada di tepi jurang perzinahan.
    Melihat Teh Ninih yang tak memberikan sedikitpun perlawanan dan malah telah begitu pasrah pada keperkasaan dirinya, Somad pu mengambil inisiatif.Sedikit demi sedikit ia menarik wajah Teh Ninih ke wajahnya dan…hmmm…hhmmmch…..hhmmmmpff…bibir seksi nan indah seorang Teh Ninih telah bersarang di bibirSomad. Somad pun tak tinggal diam, dibelahnya sedikit demi sedikitbibir ummahat yang juga merupakan ustadzah terkenal itu dengan mendorong lidahnya yang kasar dan hangat. Tanpa kesulitan berarti, di mana Teh Ninih pun telah begitu terangsang akibat gabungan efek dari obat yang diberikan Somad dan gairahnya sendiri yang sedang berada di puncak, lidah Ahmda telah mampu menembus rongga mulut Teh Ninih yang alim itu. Tak lama kemudian, kedua anak Adam yang terkenal dengan keshalihannya itu telah saling hisap bibir pasangannya diiringi pergulatan lidah di dalamnya yang begitu seru dan basah. Entah karena reflek atau memang disengaja, tangan kanan Teh Ninih ganti merangkul Somad hingga keduanya larut dalam pusaran syahwat yang begitu menggairahkan.

    Sebagai catatan, selama berbagai aktivitas itu terjadi, pintu ruangan Somad, tempat semua kemesuman itu terjadi, sama sekali tidak tertutup. Pintu itu terbuka lebar, sehingga orang-orang yang berjalan dekat ruangan itu pasti bisa melihat segalanya. Karena itu, Somad berusaha membuat suara sesedikit mungkin. Namun untungnya, ruangan Somad berada di ujung sebelah barat kantor radio tersebut, sedikit terpisah dengan ruangan kantor yang lain. Sehingga suara dari ruangan Somad tak akan bisa terdengar dari luar atau bahkan tertelan hiruk-pikuk kesibukan kantor di pagi hari. Ditambah lagi ruangan Somad juga dilapisi dengan peredam suara karena ia sering mengedit siaran radio di ruangan tersebut.
    ‘Masya Allah….”, guman Somad. Dalam hati Somad sangat kagum dengan ulah ustazah ini. Tanpa disangka sama sekali oleh Somad, Teh Ninih bergerak begitu aktif. Tampaknya Teh Ninih telah begitu kuat menahan gairah seksualnya selama ini sehingga terasa bagaikan bom waktu yang menggemparkan ketika akan dilepaskan. Bibir dan lidah ustadzah kondang yang pernah dinobatkan sebagai ibu teladan itu silih berganti memagut, memberi kenikmatan erotik pada bibir lelaki beristri di hadapannya. Tampak keduanya tak lagi mengingat status dan kedudukan diri mereka masing-masing. Keduanya telah hanyut dalam gelombang syahwat yang menenggelamkan hasrat mereka berdua dalam lautan birahi kebinalan. Somad yang merasa lebih berpengalaman membalas dengan tenang pagutan ummahat berjubah putih itu, dijulurkannya lidahnya bagai anjing kelaparan agar segera dihisap oleh ummahat di hadapannya itu,”hmmmm…hmmmm….hhmmppph….hhhmmmmpppf.”
    “Duuh, Teteh. Kontol Somad jadi tegang neh. Tetek Teteh merangsang banget, bikin horny. Boleh gak Somad pegang, sedikit saja?” Somad mulai menunjukkan niatnya secara terang-terangan. Ia mencoba memancing libido yang selalu tersimpan rapat-rapat dalam diri seorang ibu shalihah yang tengah memagut liar bibirnya itu.
    Entah setan apa yang tengah beraksi, atau memang dorongan seksual ini begitu kuat. Nafas Teh Ninih mulai tak beraturan dan jantungnya pun berdetak lebih kencang dari kecepatan normal. asa kantuk yang tadi menderanya, berubah menjadi keinginan untuk memasrahkan diri secara total kepada lelaki muda yang begitu tampan di depannya. Dengan lembut dan sedikit bergetar, ia ucapkan dengan pasti, “Iya Mas….Pegang aja tetek Teh Ninih, lakukan sesuka kamu…”
    Mendengar kata-kata penuh penyerahan diri seutuhnya dari seorang ustadzah yang mulai mendesah-desah tak karuan itu, tubuh Somad pun semakin panas. Tangan kirinya mulai menyelusup masuk ke balik jilbab panjang Teh Ninih. Ia meraba-raba tetek nan terawat milik ustadzah cantik itu secara perlahan. Ia ingin membuat Teh Ninih merasakan sendiri getaran syahwat yang menggebu-gebu setelah bagian sensitifnya ini jatuh ke tangan Somad. Benarlah, sesaat kemudian, desahan-desahan pelan diselingi erangan binal meluncur di antara bibir sang isteri kyai itu, “ssshh…akkhhhh….maasssshhh…mas Somad, enak masssshh….!!”
    “Iya Tetehku sayang, Somad tahu. Pintunya Somad tutup dulu ya, biar kita tambah bebas.” Teh Ninih tak langsung menjawab, bibirnya kelu dan hanya kembali memagut bibir Somad untuk meredakan gairahnya. Namun sebuah cubitan nakal di tangan kanan Somad-lah yang kemudian menjadi lampu hijau bagi Somad. Ia pun melepaskan kulumannya pada bibir Teh Ninih yang nampak sedikit kecewa karenanya.

    Dengan jantannya, Somad pun merebahnkan ustadzah yang sudah horny itu di atas sofa. Ukuran sofa yang kecil memaksa kaki Teh Ninih tidak bisa selonjor dengan penuh namun sedikit naik karena tertopang pegangan sofa di seberang. Dalam keadaan tubuh ‘siap entot’ itu, Somad meninggalkan ummahat seksi itu sesaat. Ia berjalan ke arah pintu ruangan dan menutup serta menguncinya. “Cklik…” bunyi itu seraya menandakan telah terkuncinya iman kedua insan yang sebenarnya telah mempunyai pasangan masing-masing ini, dan tinggallah nafsu syaithan yang menjadi hakim di ruangan itu.
    Somad pun kembali mendatangi sang bidadari surga pujaan hatinya yang telah terkapar menahan birahi di atas sofa. Subhanallah, gumamnya dalam hati. Tanpa dinyana pula, bidadari berjilbab itu mendesah dengan binalnya, “Mas Somad, sini dong!” Teh Ninih yang manis itu telah membuka jalan bagi imaji liar Somad dengan desahan lembut menggemaskan yang pasti merangsang birahi setiap pria yang mendengarnya. Somad langsung melepas kancing baju kokonya dari atas ke bawah satu per satu. Sesaat kemudian, tubuh tegap laksana anggota TNI itu telah terpampang jelas di depan Teh Ninih yang tengah membuncah nafsunya hingga memaksa ummahat itu menelan dalam-dalam ludahnya, “Mas Somad…tubuh kamu seksi banget. Teh Ninih jadi nggak tahan…”
    Komentar binal seorang ustadzah terkenal itu membuat syahwat Somad menggelegak. Ia langsung berlutut di sisi kaki Teh Ninih yang penuh kepasrahan hati menelantangkan tubuh sintal khas sundanya si atas sofa. Somad lepaskan sepatu hitam yang melekat di kaki isteri kyai besar itu, dan mengendus-endus bau kaki yang menyengat nan menggairahkan di kaos kaki Teh Ninih. Ia tanggalkan kaos kaki berwarna krem itu dan langsung mencaplok jemari kaki Teh Ninih yang lentik dengan mulutnya.

    Teh Ninih sampai terkaget-kaget dibuatnya. Tak pernah sekalipun suaminya yang shalih itu memanjakan birahinya seperti ini. Aa Gym hanya menganggap bersenggama adalah cukup dengan memasukkan kontol ke dalam memek wanita, dan setelah itu selesai. Mungkin ulama besar seperti beliau menganggap foreplay atau pemanasan seksual seperti ini hanya membuang-buang waktu belaka. Padahal Teh Ninih dan Teh Rini pun hanya wanita biasa yang butuh sensasi-sensasi baru dalam kehidupan seksual mereka. Uups, Teh Rini? ya, Teh Rini pun begitu haus akan rangsangan-rangsangan nakal seperti ini. Insya Allah nanti saya akan ceritakan kisahnya.
    Dan saat ini, seorang ikhwan yang telah mempunyai isteri dan anak, bertubuh tegap, macho, dan berwajah rupawan sedang berlutut di bawah kaki Teh Ninih dan menjilat-jilat serta menghisap-hisap jari-jemarinya yang indah. Hal itu seolah menghapuskan rasa dahaga Teh Ninih akan aktivitas seksual yang sedikit di luar kebiasaan. Tanpa terasa, vagina suci miliknya telah berdenyut-denyut kecil dan terlontar desahan dan erangan penuh luapan syahwat dari bibir indahnya, “Ssaaa…aakkkhhhh…Mas Somad, enak sekali kulumanmu….,”

    Teh Ninih pun bertekad akan menundukkan diri sehina mungkin di depan lelaki yang telah bangkitkan gairah masa mudanya yang haus akan seks.
    Tanpa terasa, Somad telah mengangkangi tubuh mungil istri idaman itu di atas sofa. Ia telah menyingkapkan jubah putih Teh Ninih hingga pinggang. Kini paha mulus dan berisi serta betis yang membujur indah yang selalu dijaga dari pandangan orang itu telah terekspos bebas dan telah dibanjiri air liur bekas jilatan Somad. Ya, Somad telah selesai menyapu bersih sepasang paha dan betis indah seorang Teh Ninih, isteri Kyai Haji Abdullah Gymnastiar yang selama ini hanya ada dalam lamunan joroknya dan menghisap sejumlah besar air maninya yang habis ketika bermasturbasi menkhayalkan bersetubuh dengan akhwat sunda(l) itu.
    “Teteh kepanasan ya? Somad lepas aja ya jubahnya…” Teh Ninih tidak segera menjawab. Ia hanya memejamkan matanya sambil berdehem ringan yang langsung diartikan Somad sebagai izin. Dalam hati wanita sholehah itu tersadar akan dosa dan zina yag ia lakukan.
    Bagaikan terkejut, seolahia diingatkan akan dosa zina ini. Sesaat ia diam dan beristighfar.
    “Astaghfirullah…Astaghfirullah… ia memohon ampun atas dosa ini. Hanya sedetikia tersadar dari dosa ini.
    Karena desakan syahwat yang melanda dirinya tak mampu dilawannya. Ia tak sanggup menahan amuk birahi yang melanda. Ia pun kembali larut dalam perzinaan yang nikmat dan syahdu.
    Dalam sekejap, jubah putih ummahat itu telah tergeletak di atas lantai meninggalkan pemiliknya tanpa busana, hanya jilbab kuning, bra putih dan celana dalam putih berenda yang tersisa menutupi tubuh indah Teh Ninih. “Teh, tubuh Teteh indah banget, putih, mulus, beda banget sama punya isteri saya. Memek Teteh juga pasti lebih indah dan lebih legit!”
    “Akh…Somad, malu neh. Jilbabnya gak dilepas sekalian?” Teh Ninih mulai membuka mata dan membalas perkataan-perkataan cabul Somad.
    “Nggak usah, Teh. Somad lebih suka Teteh pakai jilbab itu. Lebih cantik dan lebih anggun. Jadi lebih semangat buat merasakan manisnya tubuh ustadzah kayak Teteh.”
    “Panggil aku Teh Ninih saja ya Somad. Mau kan”
    “Iya deh, Teh Ninih sayang. Kamu kok binal banget sih. Akhwat binal kayak kamu tuh cocoknya dientot tiap hari sama kontol gede ku. Ya, akhirnya sang ustazah itupun kehilangan sifat-sifatnya yang santun dan alim. Akhwat sunda itu telah menjelma sebagai akhwat binal dan sundal (bukan sunda lagi).

    Ruangan sempit itu, juga busana muslimah Teh Rini yang telah berserakan di lantai semua telah terjadi. Seolah busana muslimah yang sehari-hari dipakai sang ustazah itu menjadi saksi atas perzinaan pemiliknya. Begitu juga jilbab yang masih dipakai Teh Ninih, seakan menjadi saksi bisu atas perbuatan dosa ini.
    Mau lihat kontol Somad gak? Banyak bulunya lho…” Kata-kata cabul Somad membuat Teh Ninih tambah terangsang. Ia tak memperdulikan lagi bahwa Somad adalah suami orang.
    “Mas Somad….Mau dunk. KAsih lihat kontol kamu sama Teh Ninih dong.”
    “Apa NIh? Somad nggak denger. COba ulangi lagi?” Somad pun memancing rasa penasaran ummahat yang sudah setengah telanjang itu dengan menyodorkan daun telinga sebelah kanannya. Syahwat Teh Ninih pun makin berkobar melihat tingkah Somad yang seperti mempermainkan dirinya.
    Dengan birahi terbakar dan siap meledak, Teh Ninih meraih telinga Somad san berbisik lembut, “Somad sayang….kasih liat dong kontol kamu sama Teh Ninih. Nanti Teh Ninih kasih liat memek Teh Ninih deh, mau ga? Teh Ninih merasa begitu terhina dengan tindakannya sendiri. Ia merasa harga dirinya telah tercabik-cabik di depan ikhwan perkasa ini. Ia langsung terkapar lemah sedangkan Somad malah makin bersemangat mendengar bisikan luapan syahwat ustadzah alim yang telah menunjukkan kebinalannya itu telah ikhlas sepenuh hati merelakan bagian paling sensitif dan paling suci miliknya untuk dijamah Somad.
    “Iya deh Teh Ninih Sayang. Ini Somad buka kejantanan Somad, habis Teh Ninih maksa teruz sih” Tanpa butuh waktu lama, Somad, sang suami shalih yang merupakan kepala divisi dakwah di stasiun radio tersebut, telah menelanjangi dirinya sendiri. Ia hadapkan kontolnya yang telah menegang dan mengangguk-angguk seksi itu pada wajah ummahat shalihah di depannya. Ia sorongkan seonggok daging berurat yang berdiameter 5 cm dan panjang yang lebih dari 20 cm serta berkepala kemerahan bekas sunat itu pada bibir Teh Ninih.

    Somad tersenyum melihat Teh Ninih yang terkagum-kagum melihat batang kemaluannnya. Ustazah cantik itu menelan ludah, sementara kontol Somad menganggguk-angguk tepat di dekat wajah sang ustazah. Teh Ninih menjulurkantangan menggapai batang perkasa itu…. dan….Somad mendesis sshhhh………
    Teh, bolehkah aku menyentuh memek kamu ?
    Tangan Somad turun ke bawah meraih bawah perut Teh Ninih, turun lagi, dan mengusap-usap gundukan daging yang terletak di bawah perut sang ustazah.
    “Ya Allah….. Teh Ninih……empuk sekali memek kamu Teh…”
    Teh Ninih yang masih mengenakan jilbab itu memejamkan mata menikmati usapan-usapan lembut di kemaluannya.
    Cukup lama tangan Somad bermain-main di kemaluan Teh Ninih. Tangan Somad yang telah terlatih begitu lembut mengusap-usap daging empuk aurat milik sang ustazah. Dibelai-belai, dan diremas secara ritmis nan lembut, membuat Teh Ninih tak mampu lagi bertahan.
    Pertahanannya runtuh total. Iman nya pun jebol.
    Ayat-ayat suci Alqor’an yang selama ini menjadi pagar dirinyapun tak lagi diingatnya.
    Seratus persen Teh Ninih telah berniat menuntaskan perzinaan terlarang ini.
    Di ruangan yang sempit itu, seorang muslimah suci telah melepaskan jubah putih sehingga
    telanjang di hadapan seorang lelaki yang bukan suaminya. Hanya jilbab yang masih tersisa di kepalanya.
    Dan sang lelaki bernama Somad itu terus membangkitkan birahi sang ustazah, terus mengusap dan membelai-belai daging empuk di bawah perut Teh Ninih. Tangannya masuk ke dalam celana putih berenda milik sang ustazah. Dengan kelima jari yang seolah bekerja secara kompak, jari-jari itu menggelitik setiap inci daging montok itu. Sementara si wanita cantik berjilbab itu merintih-rintih menahan nikmat.
    Akhwat Sunda(l) itu telah menjadi akhwat binal yang haus akan sex, dan sang akhwat cantikjelita itu telah bertekad untuk menuntaskan perzinaan yang syahdu ini.
    “Subhanallah… Subhanallah….., memek kamu indah banget Teh?” Somad membisik
    “Mas Somad…oughh……..”, hanya desis lirih yang keluar dari mulut sang Ustazah cantik itu.
    “Teh Ninih… bolehkah kontolku bersilaturahmi ke dalam memek kamu Teh?”
    “Ouhh…apa mas Somad?”, nafsu birahi membuat Teh Ninih tak begitu jelas mendengar kata-kata Somad.
    “Bolehkah kontolku bersilaturahmi ke dalam kemaluan kamu?”, Somad mengulang kalimatnya.

    Nah teman-teman tahu kan? Apa yang dimaksud si Somad dengan ‘silaturahmi’.
    Silaturahmi yang semestinya adalah kunjungan ke teman atau saudara, telah bermakna lain.
    Tentu silaturahmi di sini adalah masuknya batang kontol Somad ke lobang kemaluan Teh Ninih.
    Silaturahmi dalam tanda petik yang berarti perzinaan da itu yag kini sedang terjadi
    Dan jilbab suci sang ustazah , menjadi saksi atas perzinaan itu. Begitu pula dengan busana muslimah yang berserakan di lantai yang sedari tadi lepas dari tubuhnya. Andaikan saja jubah putih yang tergolek dilantai itu punya mata dan telinga, pasti bisa ikut menikmati persenggamaan dan perzinaan yang sedang dan akan dilakukan oleh pemiliknya.
    (bersambung…………..DITUNGGU KOMENTARNYA……)
    Nantikan episode ke-3 nya y…..
    Teh Ninih yang telah dimabuk birahi itu begitu penasaran akan sebatang kontol yang mengangguk-angguk penuh nafsu di hadapannya. Ia pun mulai mengelus-elus kontol yang telah begitu tegang itu dengan tangannya yang lembut. Entah sadar atau tidak, tangan kanan Teh Ninih bergerak dari depan ke belakang berkali-kali dengan tempo sedang. Ini membuat semacam kocokan yang makin membangkitkan gairah Somad yang sudah telanjang bulat.
    Demi merasakan kocokan lembut ummahat berkacamata itu, Somad semakin ditenggelamkan oleh birahinya sendiri. Ia letakkan lututnya di atas sofa dan memajukan penisnya yang begitu bergejolak sehingga menyentuh bibir merah muda ustadzah shalihah itu. JIlbab kuning panjang Teh Ninih terlihat sedikit basah akibat keringat yang mulai mengucur sehingga menampakkan dengan jelas body indahnya pada Somad. “Ayo dong, Teh Ninih sayang….Masukin kontol Somad ke dalam mulut indah kamu. Somad boleh kan ngentotin mulut Teh Ninih? Akkhhh… Ayo Nih, gedean mana sih kontol Somad sama punya Aa?”Gesekan-gesekan perg*****an tangan Teh Ninih di bulu kemaluan Somad yang hitam, keriting, dan lebat itu membuat Somad gemetar bukan kepalang.
    “Iya sayang…masukin aja kontol kamu ke mulut Teh Ninih, Teh Ninih pengen banget ngemut kontol kamu. Habisnya punya kamu jauh lebih besar dan lebih panjang daripada punya Aa.”

    “Duh, kamu kok ngomongnya begitu sih Nih….Kamu ustadzah dan ummahat tapi omongannya kayak pelacur. Kontol aku kan bau banget.” Somad semakin puas menghina isteri pertama Kyai kondang yang dipuja banyak orang itu. Kata-kata kotor terus keluar dari bibir Somad sementara tangannya memegangi kepala Teh Ninih yang terbungkus jilbab bagai memegangi kepala PSk pinggir jalan.
    “Nggak apa-apa Somad sayang…Teh Ninih suka kok kontol bau!” tanpa pikir panjang lagi, Teh Ninih langsng memasukkan kontol Somad yang besar bukan main dengan gerombolan urat di batangannya yang telah membiru ke dalam mulutnya. Ia telan bulat-bulat kontol yang telah berlendir di ujungnya itu, menunjukkan betapa terangsangnya pemiliknya.
    “Terus Teh Ninih…OOhhh, ternyata kamu doyan sama kontol gede ya?” Somad terus mendesah dan mengerang menikmati mulut dan lidah ummahat sekelas Teh Ninih yang sedang memanjakan kemaluannya. Sementara itu Teh Ninih pun tak bisa berbuat apa-apa saking asyiknya ia mengulum kejantanan pria shalih di hadapannya. “OOhh, Teh Ninih sayang…begini yoh rasanya ngentot mulut Teh Ninih.”
    “Begitu panasnya permainan kedua insan ini, di mana Teh Ninih tampak begitu lihai mengoral penis Somad sampai Somad terheran-heran karenanya. 10 menit kemudian, Somad merasa gejolak nafsu di kontolnya sudah tak tertahankan lagi. “Teh Ninih lonteku…..mana janjimu tadi, katanya mau kasih liat memek kamu!”
    Seperti robot yang selalu menurut apa kata tuannya, Teh Ninih langsung memelorotkan celana dalamnya yang ternyata telah dibanjiri cairan cintanya akibat rangsangan-rangsangan yang dilancarkan Somad betubi-tubi. Tak lupa ia tanggalkan pula bra putihnya hingga bagian-bagian paling vital dan sensitif itu tersingkap sudah. “Somad sayang, Teh Ninih udah telanjang neh…..Entotin Teh Ninih ya, Teh Ninih lagi subur banget neh…”
    Mendengar pengakuan jujur itu, darah Somad langsung menggelegak. Berarti pagi ini ia akan menikmati manisnya kemaluan seorang isteri yang begitu alim ini lengkap dengan butir-butir ovum yang hangat, baru saja matang, dan pastinya siap untuk dibuahi benih-benih sperma yang begitu kental miliknya.
    “Teh Ninih, kamu mau aku hamilin…?” Bisik Somad lembut di telinga Teh Ninih.
    Teh Ninih pun menjawab tak kalah lembutnya, “Mau sayang…..entotin Teh Ninih sampai hamil ya.” Somad langsung mengambil posisi mengangkangi pinggul sang Teteh pujaannya. Ia singkap sedikit bulu kemaluan ummahat yang cukup lebat itu karena belum sempat dicukurnya. Dibelahnya sedikit demi sedikit memek suci nan harum itu hingga ia melihat dengan jelas lapisan merah muda dengan butiran sebesar kacang menggantung di atasnya. “Akkhh…Somad, cepet masukin kontol kamu. Entotin aja Teh Ninih sepuasmu…”

    Seperti tak ingin cepat mengakhirikenikmatan ini begitu saja, Somad hanya mamarkir kepala kontolnya yang menggunung itu di sela-sela rerumputan hitam yang menutupi gundukan bukit menggemaskan milik seorang ustadzah terkenal itu. Sebagai gantinya, ia merapatkan dadanya ke tetek Teh Ninih dan menggesek-gesekkannya. Tak lupa tetek montok dan kencang itu walau tak begitu besar ia remas-remas sambil sesekali memelintir putingnya yang kecoklatan.
    “Aakkkhhhh….Somad sayang” Teh Ninih serasa menenggak anggur merah ketika diperlakukan seperti itu. Ia telah mabuk dalam kubangan nafsu kebinatangan yang terlarang akibat birahinya sendiri. Somad, yang sekalipun shalih dan bertubuh tegap, namun tetap saja sebenarnya ia tak boleh menikmati manis dan harum tubuh dan alat seksual ummahat itu. Namun kini, Somad tengah menumpahkan birahi jalangnya pada tubuh indah nan seksi ummahat itu. Gilanya lagi, Teh Ninih bukannya berontak atau menghindar, namun ia malah mengizinkan bahkan memaksa Somad untuk berbuat cabul pada dirinya. Bahkan gesekan-gesekan kontol Somad pada bibir vaginanya membuatnya begitu tersiksa. Bagai kesetanan, Teh Ninih langsung memeluk tubuh Somad yang mulai basah akan keringat erat-erat dan mencakar-cakari punggung ikhwan perkasa itu, “Sialan kamu Somad….cepet masuki kontol kamu ke memek aku. Entotin Teh Ninih sayaaaaaaannnggg…..!”
    “Duh, kok omongan Teh Ninih kayak pelacur gini sih. Kamu kan ummahat shalihah, jilbab kamu aja panjang banget gini.”
    “Iya aku pelacur sayang….aku perek jalang, aku budak seks kamu. Cepet yang…..ayo ngentot sama Teh Ninih, genjoti memek Teh Ninih keras-keras…”
    Tak mau membiarkan bidadari berkacamata itu lebih tersiksa lagi, Somad pun menurunkan pinggulnya perlahan. Tanpa harus diperintah lagi, kepala kontol yang cukup besar itu mulai beraksi membelah vagina yang telah melahirkan beberapa orang anak itu. “Teh…memek Teteh kok anget banget sih. BEda sama punya isteri Somad….Somad suka banget memek Teteh, OOOOhhhh…telen kontol Somad dong pake memek Teteh.”
    Entah kenapa Somad kembali memanggil Teh Ninih dengan sebutan Teteh. Mungkin menurutnya, kata ‘Teteh’ terdengar lebih erotis daripada kata ‘Teh Ninih’. Dan itu terbukti, Teh Ninih yang semula sedikit pasif, kini aktif kembali. Dengan kelamin yang sudah berkedut-kedut tak karuan, dan daraf sensualnya yang terus berkontraksi, Teh Ninih mulai menghisap-hisap kontol Somad yang berusaha menyeruak ke dalam rongga vagina yang sebenarnya haram buatnya.Teh Ninih pun kembali mendesah-desah binal seolah memberi semangat pada Somad untuk segera menyetubuhinya. Setelah beberapa saat mengempot-negmpot kepala dan batang kontol
    Somad, Teh Ninih pun dapat merasakan kejantanan yang lebih besar daripada yang biasa ia layani sebelimnya itu menerobos masuk ke dalam organ vitalnya.

    “Akkhhh…Teteh….Somad masuk, Teh. Bismillahir Rahmannir Rahiiiiiiiiiiiimmmmmm.” KOntol Somad pun langsung amblas dalam hangatnya rongga kelamin Teh Ninih. “Teteh ikhlas kan saya entot?”
    Teh Ninih langsung menggeletar ketika merasakan sebatang penis dengan kehangatan dan ukuran yang jauh berbeda dari milik suaminya tercinta, memenuhi rongga memeknya. Rasa kenikmatan itu terus menjalar ke seluruh tubuh, apalagi ketika Somad menarik kontol yang begitu ia banggakan itu disertai hentakan keras menekan dinding kemaluan suci itu setelahnya, hingga si empunya sampai menggelinjang dan mengangkat dadanya tinggi-tinggi. “Teteh ikhlas kok yang……Teteh ikhlas dientot sama kamu” Somad mulai melakukan kocokan erotis pada vagina mungil Teh Ninih itu berkali-kali hingga Teh Ninih tak mampu membuka matanya saking nikmatnya genjotan Somad. Apalagi tak henti-hentinya Somad meremas-remas peyudaranya dan melumat bibirnya yang merah muda. “OOOhhh…ampun Somad. Ennnaaakkkk bangeeeettt…..entoti Teteh truz sayaaaannngg….” Ummahat itu begitu histeris ketika Somad meningkatkan tempo genjotannya. Untungnya, teriakan binal ummahat yang begitu keras itu langsung diredam Somad dengan bibirnya agar tak terdengar keluar.
    Ternyata urat-urat di batang kontol Somad telah benar-benar membuat Teh Ninih menjadi gila. Ia pun turut menaik turunkan pinggul dan pantatnya yang montok seirama dengan goyangan erotis Somad. Keduanya telah sama-sama bercucuran keringat saat Teh Ninih melingkarkan kakinya di pinggul Somad sehingga ikhwan itu semakin mudah melesakkan kontol hitam legam nan besar miliknya ke dalam kemaluan menggemaskan milik ustadzah yang telah begitu binal itu, “OOOhhh….ooohh….yes….Teteh gila, memeknya unstadzah legit banget euy….Somad doyan ngentotin Teteh…”
    Setelah sekitar 30 menit digagahi oleh Somad dengan liarnya, gelora birahi Teh Ninih hampir sampai di puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya. Ia mulai meracau dan berteriak-teraik tak karuan, nafasnya sudah begitu memburu demi menatap kemaluannya yang cantik itu dipompa tanpa ampun oleh ikhwan yang tak henti-hentinya menghembuskan nafasnya yang panas dan penuh gairah ke wajah Teh Ninih. “OOhhh…Somad. Teteh mau keluar lagi neh…..semprot memek Teteh pake peju kamu dong yang anget n lengket…..ampuni Teteh somad……”
    Somad pun menambah intensitas genjotannya pada vagina yang masih begitu sempit dan hangat itu ia rasakan. Ia merasa nafsu iblisnya telah hampir sampai di batas maksimal. Dan begitu Somad merasakan derasnya gelombang yang menjalari batang kemaluannya……ia pun mendekap tubuh sang ummahat idaman dan melesakkan kontolnya sedalam mungkin.

    “Aaaaaaaaakkkkkkkkkkhhhhhhhhhh……rasain nih peju Somad, Dasar Teh Ninih pelacur jalang……..”
    “Crrrrroooooootttt…..cccrrrooooottt…” Semburan lava panas nan lengket itu pun menghentak-hentak menghantam dinding memek Teh Ninih sehingga mebuat benteng birahi ustadzah berjilbab panjang itu hancur lebur. Ia balas memeluk Somad dan mencakar-cakari apa saja yang ia bisa raih dari tubuh Somad. Tubuhnya berkelojotan dan menggelinjang bagai seekor anjing betina yang sedang disemprot air mani si jantan. Dan akhirnya….Teh Ninih pun melepaskan cairan cintanya yang paling suci dan paling penuh dengan ovum hingga ia terkulia lemas tak bertenaga.
    Seiring dengan terlepasnya cairan cinta keduanya, somad pun langsung roboh di atas tubuh Teh Ninih. Dengan penis yang masih bersarang di memek Teh Ninih seraya menyemprotkan kedutan kedutan kecil penghabisan, Somad pun menciumi wajah Teh Ninih sebagai ucapan terima kasih. Ia merasa sedikit bersalah karena telah merusak kehormatan dan kesucian seorang Teh Ninih yang tampak menggulirkan setetes air mata dari sudut matanya. Semsntara itu, pasangan zinanya itu kini telah tak sadarkan diri setelah dipuaskan sepuas-puasnya oleh kuda binal berkontol panjang itu. Segaris senyum tersungging di bibirnya menyiratkan perasaan hatinya yang begitu bahagia.Keduanya pun terus berpelukan bagai tak mau dipisahkan hingga adzan zhuhur membangunkan keduanya.

  2. The Following User Says Thank You to harin.duri For This Useful Post:


  3. #2
    King of Sex mafiaperadilan's Avatar

    Join Date: Jun 2011

    Posts: 20,034

    Thanks: 16

    Thanked 12,347 Times in 888 Posts

    Default

    yang penting mah bisa bikin croot gan

  4. #3
    Virgin IDAH's Avatar

    Join Date: Jul 2010

    Posts: 12

    Thanks: 0

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    Kalau orang Sunda teh bilang...ini PITNAH

    mending ganti aja...lakonnya.... SURTI ama TEJO....


    mana orang Sunda Euy... yang Bener ini FITNAH atau PITNAH....????

  5. #4
    Virgin raysangex's Avatar

    Join Date: Dec 2009

    Posts: 35

    Thanks: 2

    Thanked 0 Times in 0 Posts

    Default

    emang mesum lu dah, thx ya buat tetehnya...

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •