Namaku Lia, biasa dipanggil "Lia" saja, asli dari Solo, pernah 4 kali menikah, tapi tidak pernah bisa
hamil, sehingga mantan-mantan suami semua meninggalkanku, bodyku sexy, kulitku kuning langsat,
tinggiku 161 cm dengan berat badan 50 kg,
"kamu persis Desy Ratnasari, Lia!", kata mantan suamiku terakhir. Banyak laki-laki lain juga
mengatakan aku persis seperti Desy Ratnasari.
Aku bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) di kota Gudeg Yogyakarta, majikanku seorang
janda berusia 50 thn, Ibu Sumiati yang masih bekerja sebagai pegawai negeri di Gubernuran. Anaknya
3 orang.Yang pertama perempuan, Aryati 28 thn, bekerja sebagai sekretaris, 2 bulan lagi menikah. Yang
kedua juga perempuan, Suryati 25 thn, bekerja sebagai guru. Yang ketiga laki-laki, satu- satunya laki-
laki di rumah ini, tampan dan halus budi-pekertinya, .ianto 22 thn, masih kuliah, kata Ibu Sum, Mas Diki
. (demikian aku memanggilnya) tahun depan lulus jadi insinyur komputer. Wah hebat, sudah
guaaanteng, pinter pula...
Setiap pagi, aku selalu bangun jam 4:30, sebelum bekerja aku sudah mandi dengan sangat bersih,
berpakaian rapi. Aku selalu memakai rok panjang hingga semata- kaki, bajuku berlengan panjang. Aku
tahu, Ibu Sum senang dengan cara berpakaianku, dia selalu memujiku bahwa aku sopan dan soleha,
baik sikap yang santun, maupun cara berpakaian. Meskipun begitu, pakaianku semuanya agak ketat,
sehingga lekuk-lekuk tubuhku cukup terlihat dengan jelas.
Mas Diki . sering melirik ke arahku sambil terkagum-kagum melihat bentuk tubuhku, aku selalu
membalasnya dengan kedipan mata dan goyangan lidah ke arahnya, sehingga membuat wajahnya yang
lugu jadi pucat seketika. Paling telat jam 7:15, mereka semua berangkat meninggalkan rumah, kecuali
Mas Diki sekitar jam 8:00.
Aku tahu, Mas Diki sangat ingin menghampiriku dan bercumbu denganku, tapi ia selalu nampak pasif,
mungkin ia takut kalau ketahuan ibunya. Padahal aku juga ingin sekali merasakan genjotan
keperjakaannya.
Pagi itu, mereka semua sudah pergi, tinggal Mas Diki dan aku yang ada di rumah, Mas Diki belum
keluar dari kamar, menurut Ibu Sum sebelum berangkat tadi bahwa Mas Diki sedang masuk angin, tak
masuk kuliah. Bahkan Ibu Sum minta tolong supaya aku memijatnya, setelah aku selesai
membersihkan rumah dan mencuci pakaian.
"Baik, Bu!", begitu sahutku pada Ibu Sum. Ibu Sum sangat percaya kepadaku, karena di hadapannya
aku selalu nampak dewasa, dengan pakaian yang sangat sopan. Setelah pasti mereka sudah jauh
meninggalkan rumah, aku segera masuk kamarku dan mengganti pakaianku dengan rok supermini dan
kaus singlet yang ketat dan sexy. Kusemprotkan parfum di leher, belakang telinga, ketiak, pusar dan
pangkal pahaku dekat lubang vagina. Rambutku yang biasanya kusanggul, kuurai lepas memanjang
hingga sepinggang. Kali ini, aku pasti bisa merenggut keperjakaan Mas Diki, pikirku.
"Mas Diki. Mas Diki!" panggilku menggoda, "tadi Ibu pesan supaya Mbak Lia memijati Mas Diki, supaya
Mas Diki cepat sembuh. Boleh saya masuk, Mas Diki?"
Pintu kamarnya langsung terbuka, dan nampak Mas Diki terbelalak melihat penampilanku,
"Aduh, kamu cantik sekali, Mbak Lia... Persis Desy Ratnasari... ck, ck, ck..."
"Ah, Mas Diki, bisa saja, jadi mau dipijat?"
"Jadi, dong..." sekarang Mas Diki mulai nampak tidak sok alim lagi, "Ayo, ayo...", ditariknya tanganku
ke arah tempat tidurnya yang wangi....
"Kok wangi, Mas Diki?" Rupanya dia juga mempersiapkan tempat tidur percumbuan ini, dia juga sudah
mandi dengan sabun wangi.
"Ya dong, kan ada Desy Ratnasari mau datang ke sini,".
Kami mulai mengobrol ngalor-ngidul, dia tanya berapa usiaku, dari mana aku berasal, sudah kawin
atau belum, sudah punya anak atau belum, sampai kelas berapa aku sekolah. Omongannya masih
belum "to-the-point" , padahal aku sudah memijatnya dengan sentuhan-sentuhan yang sangat
merangsang. Aku sudah tak sabar ingin bercumbu dengannya, merasakan sodokan dan genjotannya,
tapi maklum sang pejantan belum berpengalaman.
"Mas Diki sudah pernah bercumbu dengan perempuan?", aku mulai mengarahkan pembicaraan kami,
dia hanya menggeleng lugu.
"Mau Mbak Lia ajari?", wajahnya merah padam dan segera berubah pucat. Kubuka kaus singletku dan
mulai kudekatkan bibirku di depan bibirnya, dia langsung memagut bibirku, kami bergulingan di atas
tempat tidurnya yang empuk dan wangi, kukuatkan pagutanku dan menggigit kecil bibirnya yang
merah delima, dia makin menggebu, batang kontolnya mengeras seperti kayu...
Wow! dia melepas beha-ku, dan mengisap puting susuku yang kiri, dan meremas- reMas Dikiputing susuku
yang kanan...
"Aaah.. sssshhhh, Mas Diki, yang lembut doooong..." desahku makin membuat nafasnya menderu...
"Mbak Lia, aku cinta kamu...." suaranya agak bergetar..
"Jangan, Mas Diki, saya cuma seorang Pembantu, nanti Ibu marah," kubisikkan desahanku lagi....
Kulucuti seluruh pakaian Mas Diki, kaos oblong dan celana pendeknya sekaligus celana dalamnya,
langsung kupagut kontolnya yang sudah menjulang bagai tugu monas, kuhisap-hisap dan kumaju-
mundurkan mulutku dengan lembut dan terkadang cepat...
"Aduuuh, enaaaak, Mbak Lia...." jeritnya...
Aku tahu air-mani akan segera keluar, karena itu segera kulepaskan kontolnya, dan segera meremasnya
bagian pangkalnya, supaya tidak jadi muncrat. Dia membuka rok-miniku sekaligus celana dalamku,
segera kubuka s*****kanganku.
"Jilat itil Mbak Lia, Mas Diki Haaaarrr..., yang lamaaa...", godaku lagi... Bagai robot, dia langsung
mengarahkan kepalanya ke nonokku dan menjilati itilku dengan sangat nafsunya....
"Sssshhhh, uu-enaaak, Mas DikiHaaaarrrr... ., sampai air mani Mbak Lia keluar, ya Mas DikiHaaar".
"Lho, perempuan juga punya air mani..?" tanyanya blo'on. Aku tak menyahut karena keenakan...
"Mas DikiHaaarrr, saya mau keluaaar..." serrrrrr.... serrrrrrrrr. ... membasahi wajahnya yang penuh birahi.
"Aduuuuh, enak banget, Mas Diki! Mbak Lia puaaaaaassss sekali bercinta dengan Mas Diki..... kontol
Mas Diki belum keluar ya? Mari saya masukin ke liang kenikmatan saya, Mas! Saya jamin Mas Diki
pasti puas-keenakan. ..."
Kugenggam batang pelernya, dan kutuntun mendekati lubang nonokku, kugosok- gosokkan pada itilku,
sampai aku terangsang lagi... Sebelum kumasukkan batang keperkasaannya yang masih ting-ting itu ke
lubang nonokku, kuambil kaos singletku dan kukeringkan dulu nonokku dengan kaos, supaya lebih
peret dan terasa uuenaaaak pada saat ditembus kontolnya Mas Diki nanti...
"Sebelum masuk, bilang 'kulonuwun' dulu, dong sayaaaaaang. ..", candaku....
Mas Diki bangkit sebentar dan menghidupkan radio- kaset yang ada di atas meja kecil di samping
ranjang..... lagunya.... mana tahaaaan....
"Kemesraan ini Janganlah Cepat Berlalu..... ."
"Kulonuwun, Mbak Lia cintakuuuuu. ..."
"Monggo, silakan masuk, Mas Diki Haaaarrr Kekasihkuuuuu. ..", segera kubuka lebar- lebar
s*****kanganku, sambil kuangkat pinggulku lebih tinggi dan kuganjel dengan guling yang agak keras,
supaya batang kenikmatannya bisa menghunjam dalam- dalam. ... Sreslepppppp. ........ blebessss... ..
"Auuuuuow... .", kami berdua berteriak bersamaan... ..
"Enaaaak banget Mbak Lia, nonok Mbak Lia kok enak gini sih....?"
"Karena Mbak Lia belum pernah melahirkan, Mas Diki... Jadi nonok Mbak Lia belum pernah melar
dibobol kepala bayi..... kalau pernah melahirkan, apalagi kalau sudah melahirkan berkali-kali, pasti
nonoknya longgar sekali, dan nggak bisa rapet seperti nonoknya Mbak Lia begini, sayaaaaang.. . lagi
pula Mbak selalu minum jamu sari- rapet, pasti SUPER-PERET. ...", kami berdua bersenggama sambil
cekikikan keenakan... Kami berguling-guling di atas ranjang-cinta kami sambil berpelukan erat
sekali....
Sekarang giliranku yang di atas... Mas Diki terlentang keenakan, aku naik-turunkan pinggulku, rasanya
lebih enak bila dibanding aku di bawah, kalau aku di atas, itilku yang bertumbukan dengan tulang
s*****kang Mas DikiPur, menimbulkan rasa nikmat yang ruaaaaarbiassssa uu-enaaaaaaknya. ....
Keringat kami mulai berkucuran, padahal kamar Mas Diki selalu pakai AC, sambil bersenggama, mulut
kami tetap berpagutan-kuat. Setelah bosan dengan tengkurap di atas tubuh Mas Diki, aku ganti gaya.
Mas Diki masih tetap terlentang, aku berjongkok sambil kunaik-turunkan bokongku. Mas Diki malah
punya kesempatan untuk menetek pada susuku, sedotannya pada tetekku makin membuatku tambah
liar, serasa seperti di-setrum sekujur tubuhku.
Setelah 10 menit aku di atas, kami berganti gaya lagi... kami berguling-gulingan lagi tanpa melepaskan
kontol dan nonok kami. Sekarang giliran Mas Diki yang di atas, waduuuuh... sodokannya mantep
sekali... terkadang lambat sampai bunyinya blep-blep-blep. .. terkadang cepat plok-plok- plok. .. benar-
benar beruntung aku bisa senggama dengan Mas Dikiianto yang begini kuaaaatnya, kalau kuhitung-
kuhitung sudah tiga kali air nonokku keluar karena orgasme, kalau ditambah sekali pada waktu itilku
dijilati tadi sudah empat kali aku orgasme... benar-benar nonokku sampai kredut-kredut karena
dihunjam dengan mantapnya oleh kontol yang sangat besar dan begitu keras, bagaikan lesung dihantam
alu..... bertubi-tubi. ... kian lama kian cepat...... waduuuuhhhhh. ..... Wenaaaaaaaaakkkkk
tenaaaaan... ...
"Mbak Lia, aku hampir keluaaaaaar nih...!!" ....
"Saya juga mau keluar lagi untuk kelima kalinya ini, Mas DikiHaaaaar.... Yuk kita bersamaan sampai di
puncak gunung kenikmatan, yaaa sayaaaaanngggg"
"Ambil nafas panjang, Mas Diki... lalu tancepkan kontolnya sedalam-dalamnya sampai kandas...... baru
ditembakkan, ya Maaaasss... ssssshhhhhh. ......."
Sambil mendesis, aku segera mengangkat pinggulku lagi, kedua kakiku kulingkarkan pada
pinggangnya, guling yang sudah terlempar tadi kuraih lagi dan kuganjelkan setinggi-tingginya pada
pinggulku, hunjaman kontol Mas Diki . semakin keras dan cepat, suara lenguhan kami berdua
hhh...hhhhh. ...hhhhhh. .... seirama dengan hunjaman kontolnya yang semakin cepat.....
"Tembakkan sekaraaaaang, Maaaasssss!" , Mas Diki menancapkan kontolnya lebih dalam lagi, padahal
sedari tadi sudah mentok sampai ke mulut rahimku.... bersamaan dengan keluarnya air nonokku yang
kelima kali, Mas Diki pun menembakkan senjata otomatis berkali-kali dengan sangat kerasnya....
CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!!
CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! Berhenti sebentar dan CROOTTTTT!!!
CROOTTTTT !!! CROOTTTTT !!! lagi..... Seperti wong edan, kami berdua berteriak panjaaaaanggg
bersamaan;
"Enaaaaaaaaaakkkkk! "..... sekujur tubuhku rasanya bergetar semuanya... dari ujung kepala sampai
ujung kaki, terutama nonokku sampai seperti "bonyok" rasanya..... Mas Diki pun rebah tengkurep di
atas tubuh telanjangku. .... sambil nafas kami kejar-mengejar karena kelelahan...
"Jangan cabut dulu, ya Maaasss sayaaaang... masih terasa enaknya... tunggu sampai semua getaran dan
nafas kita reda, baru Mas Diki boleh cabut yaaa......" pintaku memelas..... kami kembali bercipokan
dengan lekatnya.... .. kontolnya masih cukup keras, dan tidak segera loyo seperti punya mantan-mantan
suamiku dulu....
"Mbak Lia sayaaaang, terima kasih banyak ya..... pengalaman pertama ini sungguh- sungguh luar
biasa... Mbak Lia telah memberikan pelayanan dan pelajaran yang maha-penting untuk saya...... saya
akan selalu mencintai dan memiliki Mbak Lia selamanya... ."
"Mas Diki cintaku, cinta itu bukan .us memiliki... tanpa kawin pun kalau setiap pagi --setalah Ibu &
mbak-mbak Mas Diki pergi kerja--, kita bisa melakukan senggama ini, saya sudah puas kok, Massss.....
Apalagi Mas Dikiianto tadi begitu kuatnya, setengah jam lebih lho kita tadi bersetubuhnya, Mas!
Sampai nonok saya endut-endutan rasanya tadi....."
"Aku .i ini tidak pergi kuliah, kebetulan memang ada acara untuk mahasiswa baru... jadi ndak ada
kuliah...", kata Mas Dikiianto.
"Nah... kalau begitu, .i ini kita kan punya banyak waktu, pokoknya sampai sebelum Ibu dan Mbak-
mbak Mas Diki pulang nanti sore, kita main teruuuusss, sampai 5 ronde, kuat nggak Mas Diki?", sahutku
semakin menggelorakan birahinya.
"Nantang ya?" Tanyanya sambil tersenyum manis, tambah guanteeeeng dia..... "aku cabut sekarang, ya
Mbak? sudah layu tuh sampai copot sendiri...." kami tertawa cekikikan dengan tubuh masih telanjang
bulat.... setelah mencabut kontolnya dari nonokku, Mas Diki ter lentang di sisiku, kuletakkan kepalaku
di atas dadanya yang lapang dan sedikit berbulu.... radio kaset yang sedari tadi terdiam, dihidupkan
lagi... lagunya masih tetap "kemesraan ini janganlah cepat berlaluuuuuu. ..."
Setelah lagunya habis, "Mas Dikisayaaang, Mbak Lia mau bangun dulu ya.... Mbak Lia .us masak sarapan
untuk Mas...."
"Untuk kita berdua, dong, Mbak Lia.... masak untuk dua porsi ya... nanti kita makan berdua sambil
suap-suapan. Setuju?", sambil ditowelnya tetekku, aku kegelian dan "auuuwwww! Mas Dikisudah mulai
pinter nggangguin Mbak Lia ya.., Mbak Lia tambah sayang deh".
Aku bangkit dari ranjang, dan berlari kecil ke kamar mandi yang jadi satu dengan kamar tidurnya,
"Mas, numpang cebokan, ya..." Kuceboki nonokku, nonok ALia yang paling beruntung .i ini, karena
bisa merenggut dan menikmati keperjakaan si ganteng Mas Diki... waduuuuhhh.. . benar-benar nikmat
persetubuhanku tadi dengannya.. meskipun nonokku sampai kewalahan disumpal dengan kontol yang
begitu gede dan kerasnya -- hampir sejengkal- tanganku panjangnya.. .. wheleh.. wheleh....
"Sebelum bikin nasi goreng, nanti Mbak bikinkan Susu-Telor-Madu- Jahe (STMJ) buat Mas Diki, biar
ronde-ronde berikutnya nanti Mas Dikitambah kuat lagi, ya sayaaaaaang. ..."
Kuambil selimut dan kututupi sekujur tubuhnya dengan selimut, sambil kubisikkan kata-kata
sayangku... "Sekarang Mas Diki istirahat dulu, ya..." kuciumi seluruh wajahnya yang mirip Andy Lau
itu...
"Terima kasih, Mbak Lia... Mbak begitu baik sama saya... saya sangat sayang sama Mbak Lia...".
Kupakai pakaianku lagi, segera aku lari ke dapur dan kubuatkan STMJ untuk kekasihku... . setelah
STMJ jadi, kuantarkan lagi ke kamarnya,
"Mas Diki sayaaaang... . mar i diminum dulu STMJ-nya, biar kontolnya keras kayak batang kayu nanti,
nanti Mbak Lia ajari lagi gaya-gaya yang lain, ada gaya kuda-kudaan, anjing-anjingan, gaya enam-
sembilan (69), dan masih ada seratus gaya lagi lainnya, Masssss," kataku membangkitkan lagi gelora
birahinya... selesai minum diciuminya bibirku dan kedua pipiku.... dan Mas Dikiianto-ku, cintaanku,
tidur lagi dengan tubuh telanjang dilapisi selimut.
Aku segera kembali ke tempat biasanya aku mencuci pakaian majikanku, menyapu rumah dan
mengepelnya. . semua kulakukan dengan cepat dan bersih, supaya tidak ada ganjelan utang kerjaan
pada saat bersenggama lagi dengan Mas Diki nanti....
Kumasakkan nasi goreng kesukaan Mas Diki dalam porsi yang cukup besar, sehingga cukup untuk
sarapan berdua dan juga makan siang berdua... hmmm.... nikmat dan mesranya... seperti penganten
baru rasanya...
Setelah nasi gorengnya jadi, kusiapkan dalam piring yang agak lebar, kutata penyajian dengan
kelengkapan tomat, timun, telur mata-sapi, dan kulengkapi pula dengan sebuah pisang Mas Diki yang agak
mungil, kusiapkan pula segelas coca-cola kesukaannya. Dengan memakai daster tipis tanpa beha dan
celana dalam, kuantarkan makanan tadi ke kamarnya. Langsung kubuka saja pintu kamarnya...
aku melayani nya layak nya suamiku sendiri ……….
Inilah pengalaman terindah yang pernah ku rasakan
Oh Mas Diki…… aku dan anak mu sekarang sangat merindukan mu Mas
punggung ranjang, akupun segera mengambil posisi jongkok membelakanginya. Kugenggam
kontolnya dan kutancapkan ke nonokku dari belakang.... BLESSS!!!, tangan Mas Diki mendekap kedua
tetekku dari belakang.... Sekarang giliranku yang .us menaik-turunkan pantatku seperti orang naik
kuda.... semuanya berlangsung dengan sangat halus.... sehingga tidak sampai menimbulkan lecet pada
kontol Mas Diki maupun nonokku.....
"Gimana Mas?", tanyaku untuk mengalihkan konsentrasi, supaya air-pejunya tidak segera muncrat..... .
"Benar-benar Mbak Lia pantas menjadi dosen percintaan saya.....", katanya sambil mendesah-desah dan
mendesis-mendesis keenakan... Itilku kembali bertumbukan nikmat dengan tulang s*****kang Mas Diki
.... Nikmatnya sudah sampai mneggeletarkan segenap perasaanku, membuat perasaanku semakin
menyatu dan terikat kuat dengan perasaan Mas Diki..... inilah arti sesungguhnya persetubuhan. ...
Kuatur kecepatan pacuan kuda-kudaan ini, sehingga kenikmatannya bisa kukendalikan, sementara Mas Diki
. ter lentang dengan tenang, makin didekapnya kedua buah dadaku, diremas-remasnya, dipilin-
pilinnya, diremas-reMas Diki lagi... membuatku kembali ingin mencapai puncak kenikmatan.. ..
kukejangkan seluruh anggota tubuhku.... Mas Diki sudah mulai menger ti bahwa aku akan mencapai
puncak.....
"Keluar lagi ya, Mbak?" tanyanya.... . Ya! serrr... serrrr... serrrrr...., kembali cairan hangat nonokku
tertumpah lagi.... kelelahan aku rasanya..... . lelah tapi enaaak....
Aku melepaskan kontolnya dari lubang nonokku, kekeringkan nonokku dengan dasterku supaya peret
lagi... Mas Diki melihat pemandangan ini dengan wajah lugu, kuberi dia senyum manis....
"Saya sudah capek, Mas.... Gantian dong... Mas Diki sekarang yang goyang, ya?"
Sekarang aku mengambil posisi menungging di pinggir ranjang..... Mas Diki kuminta berdiri dan
menembakkan rudalnya yang super-keras dari belakang,
"Yang ini gaya anjing-anjingan, Mas..... tapi jangan salah masuk ke lubang pantat ya... pas yang di
bawahnya yang merah merekah itu, lho ya...."
"Kalau di lubang pantat katanya lebih enak, Mbak Lia?" tanyanya lucuuuu.... "memang lebih enak
untuk laki-laki, tapi tidak untuk perempuan... .. itu kan namanya tidak adil, Mas.... Lagipula lubang
pantat itu kan saluran untuk tai, kotoran yang kita buang, itu tidak sehat namanya, bisa kena penyakit
aids, Mas.... Aids itu mematikan dan tidak ada obatnya lho, hiiii.... seremmmm.... "
Mas Diki memasukkan kontolnya pelan-pelan ke lubang nonokku dari belakang sambil berdiri di
pinggir ranjang, pelan-pelan sekaliiiiii. .... seolah-olah dia takut kalau sampai merusakkan lubang
nikmat ini..... aku tahu sekarang.... Mas Diki . sangat sayang padaku, sehingga tingkah-laku
persenggamaannya pun melukiskan betapa besar perasaan cintanya pada diriku....
punggung ranjang, akupun segera mengambil posisi jongkok membelakanginya. Kugenggam
kontolnya dan kutancapkan ke nonokku dari belakang.... BLESSS!!!, tangan Mas Diki mendekap kedua
tetekku dari belakang.... Sekarang giliranku yang .us menaik-turunkan pantatku seperti orang naik
kuda.... semuanya berlangsung dengan sangat halus.... sehingga tidak sampai menimbulkan lecet pada
kontol Mas Diki maupun nonokku.....
"Gimana Mas?", tanyaku untuk mengalihkan konsentrasi, supaya air-pejunya tidak segera muncrat..... .
"Benar-benar Mbak Lia pantas menjadi dosen percintaan saya.....", katanya sambil mendesah-desah dan
mendesis-mendesis keenakan... Itilku kembali bertumbukan nikmat dengan tulang s*****kang Mas Diki
.... Nikmatnya sudah sampai mneggeletarkan segenap perasaanku, membuat perasaanku semakin
menyatu dan terikat kuat dengan perasaan Mas Diki..... inilah arti sesungguhnya persetubuhan. ...
Kuatur kecepatan pacuan kuda-kudaan ini, sehingga kenikmatannya bisa kukendalikan, sementara Mas Diki
. ter lentang dengan tenang, makin didekapnya kedua buah dadaku, diremas-remasnya, dipilin-
pilinnya, diremas-reMas Diki lagi... membuatku kembali ingin mencapai puncak kenikmatan.. ..
kukejangkan seluruh anggota tubuhku.... Mas Diki sudah mulai menger ti bahwa aku akan mencapai
puncak.....
"Keluar lagi ya, Mbak?" tanyanya.... . Ya! serrr... serrrr... serrrrr...., kembali cairan hangat nonokku
tertumpah lagi.... kelelahan aku rasanya..... . lelah tapi enaaak....
Aku melepaskan kontolnya dari lubang nonokku, kekeringkan nonokku dengan dasterku supaya peret
lagi... Mas Diki melihat pemandangan ini dengan wajah lugu, kuberi dia senyum manis....
"Saya sudah capek, Mas.... Gantian dong... Mas Diki sekarang yang goyang, ya?"
Sekarang aku mengambil posisi menungging di pinggir ranjang..... Mas Diki kuminta berdiri dan
menembakkan rudalnya yang super-keras dari belakang,
"Yang ini gaya anjing-anjingan, Mas..... tapi jangan salah masuk ke lubang pantat ya... pas yang di
bawahnya yang merah merekah itu, lho ya...."
"Kalau di lubang pantat katanya lebih enak, Mbak Lia?" tanyanya lucuuuu.... "memang lebih enak
untuk laki-laki, tapi tidak untuk perempuan... .. itu kan namanya tidak adil, Mas.... Lagipula lubang
pantat itu kan saluran untuk tai, kotoran yang kita buang, itu tidak sehat namanya, bisa kena penyakit
aids, Mas.... Aids itu mematikan dan tidak ada obatnya lho, hiiii.... seremmmm.... "
Mas Diki memasukkan kontolnya pelan-pelan ke lubang nonokku dari belakang sambil berdiri di
pinggir ranjang, pelan-pelan sekaliiiiii. .... seolah-olah dia takut kalau sampai merusakkan lubang
nikmat ini..... aku tahu sekarang.... Mas Diki . sangat sayang padaku, sehingga tingkah-laku
persenggamaannya pun melukiskan betapa besar perasaan cintanya pada diriku....
















Reply With Quote
